Showing posts with label kontrasepsi. Show all posts
Showing posts with label kontrasepsi. Show all posts

KONTRASEPSI HORMONAL

Posted by Anonymous

Kontrasepsi Hormonal
1.Pengertian
Kontrasepsi hormonal adalah alat atau obat kontrasepsi yang bertujuan untuk mencegah terjadinya kehamilan dimana bahan bakunya mengandung preparat estrogen dan progesterone.

2. Jenis Kontrasepsi
Berdasarkan jenis dan cara pemakaiannya dikenal tiga macam kontrasepsi hormonal yaitu : Kontrasepsi Suntikan, Kontrasepsi Oral (Pil) Kontrasepsi Implant.
a. Kontrasepsi Suntikan
1)Depo provera yang mengandung medroxyprogestin acetate 50 Mg.
2)Cyclofem yang mengandung medroxyprogesteron acetate dan estrogen.
3)Norethindrone enanthate (Noresterat) 200 mg yang mengandung derivate testosteron.
Mekanisme Kerja Kontrasepsi Suntikan (Hartanto H.2004)
a) Menghalangi pengeluaran FSH dan LH sehingga tidak terjadi pelepasan ovum untuk terjadinya ovulasi dengan jalan menekan pembentukan releasing faktor dari hipotalamus.
b) Mengentalkan lender serviks sehingga sulit untuk ditembus oleh spermatozoa.
c) Merubah suasana endometrium sehingga menjadi tidak sempurna untuk implantasi dari hasil konsepsi.
2.Keuntungan dan Kerugian
a. Keuntungan ( Hartanto.H,2004 )
1)Noristerat pemberiannya sederhana diberikan 200 mg sekali setiap 8 minggu untuk 6 bulan pertama 3 x suntikan pertama kemudian selanjutnya sekali tiap 12 minggu.
2)DMPA pemberiannya diberikan sekali dalam 12 minggu dengan dosis 150 mg.
3)Tingkat efektifitasnya tinggi
4)Tidak mengganggu pengeluaran laktasi dan tumbuh kembang bayi.
5)Suntikan tidak ada hubungannya dengan saat bersenggama.
6)Tidak perlu menyimpan atau membeli persediaan.
7)Kontrasepsi suntikan dapat dihentikan setelah 3 bulan dengan cara tidak disuntik ulang, sedangkan IUD dan implant yang non-bioderdable harus dikeluarkan oleh orang lain.
8)Bila perlu, wanita dapat menggunakan kontrasepsi suntikan tanpa perlu memberitahukan kepada siapapun termasuk suami atau keluarga lain.
9)Tidak ditemukan efek samping minor seperti pada POK yang disebabkan estrogen, antara lain mual atau efek samping yang lebih serius seperti timbulnya bekuan darah disamping estrogen juga dapat menekan produksi ASI.
b. Kerugian ( Hartanto,2004).
1)Perdarahan yang tidak menentu
2)terjadinya amenorhoe yang berkepanjangan
3)Berat badan yang bertambah
4)Sakit kepala
5)Kembalinya kesuburan agak terlambat beberapa bulan
6)Jika terdapat atau mengalami side efek dari suntikan tidak dapat ditarik lagi.
7)Masih mungkin terjadi kehamilan, karena mempunyai angka kegagalan 0.7%.
8)Pemberiannya harus dilakukan oleh orang yang profesional.
9)Menimbulkan rasa sakit akibat suntikan
10)Memerlukan biaya yang cukup tinggi.
3.Saat Pemberian Yang Tepat ( Wiknjosastro,2001)
a. Pasca persalinan
1). Segera diberika ketika masih di Rumah Sakit atau setelah 6 minggu post partum dan sebelum berkumpul dengan suami.
2). Tepat pada jadwal suntikan berikutnya.
b. Pasca Abortus
1). Segera setelah perawatan atau sebelum 14 hari.
2). Jadwal waktu suntikan yang diperhitungkan.
c. Interval.
1). Hari kelima menstruasi
2). Jadwal waktu suntikan diperhitungkan.
5. Kontra Indikasi ( Saifuddin,A.B,2003)
a. Tersangka hamil
b. Perdarahan ginekologi ( perdarahan melalui vagina yang tidak diketahui penyebabnya
c. Tumor/keganasan
d. Penyakit jantung, hati, hipertensi, DM, penyakit paru-paru hebat.
6. Cara Penggunaan ( Saifuddin AB,2003).
Depo provera atau Depo progestin disuntikan secara intra muscular tiap 12 minggu dengan kelonggaran batas waktu suntik, biasa diberikan kurang satu minggu.
7. Efek Samping dan Penanggulangannya ( Hartanto,H.2004)
a. Efek samping ( Hartanto,H.2004)
1) Gangguan Haid :
a). Amenorhoe yaitu tidak datang haid setiap bulan selama menggunakan kontrasepsi suntikan kecuali pada pemakaian cyclofem.
b). Spoting yaitu bercak-bercak perdarahan diluar haid yang terjadi selama menggunakan kontrasepsi suntikan.
c). metrorhagia yaitu perdarahan yang berlebihan jumlahnya
2) Keputihan
Adanya cairan putih yang berlebihan yang keluar dari jalan lahir dan terasa mengganggu ( jarang terjadi)
3) Perubahan berat badan
Berat badan bertambah beberapa kilogram dalam beberapa bulan setelah menggunakan kontrasepsi suntikan
4) Pusing dan sakit kepala
Rasa berputar /sakit kepala, yang dapat terjadi pada satu sisi, kedua sisi atau keseluruhan dari bagian kepala . Ini biasanya bersifat sementara.
5) Hematoma
Warna biru dan rasa nyeri pada daerah suntikan akibat perdarahan di bawah kulit.
b. Penanggulangannya ( Saifuddin,A.B,2003)
1) Gangguan haid
a) Konseling
Memberikan penjelasan kepada calon akseptor bahwa pada pemakaian kontrasepsi suntikan dapat menyebabkan gejala-gejala tersebut adalah akibat pengaruh hormonal suntikan dan biasanya gejala-gejala perdarahan tidak berlangsung lama
b) Pengobatan
Apabila pasien ingin mendapat haid, dapat diberikan pemberian Pil KB hari I sampai ke II masing masing 3 tablet, selanjutnya hari ke IV diberikan 1 x 1 selama 3 – 5 hari. Bila terjadi perdarahan, dapat pula diberikan preparat estrogen misalnya : Lymoral 2 x 1 sehari sampai perdarahan berhenti. Setelah perdarahan berhenti, dapat dilaksanakan “tepering off” ( 1 x 1 tablet ).
2) Keputihan
a) Konseling :
Menjelaskan kepada akseptor bahwa kontrasepsi suntikan jarang terjadi keputihan. Bila hal ini terjadi juga, harus dicari penyebabnya dan segera di berikan pengobatan.
b) Pengobatan :
Pengobatan medis biasanya tidak diperlukan. Pada kasus dimana cairan berlebihan dapat diberikan preparat Anti Cholinergis seperti extrabelladona 10 mg dosis 2 x 1 tablet untuk mengurangi cairan yang berlebihan. Perubahan warna dan bau biasanya disebabkan oleh adanya infeksi.
3) Perubahan Berat Badan
a) Konseling :
Menjelaskan kepada akseptor bahwa kenaikan berat badan adalah salah satu efek samping kontrasepsi suntikan. Kenaikan berat badan dapat juga disebabkan hal-hal lain. Hipotesa para ahli : DMPA merangsang pusat pengendalian nafsu makan di hipotalamus yang menyebabkan akseptor makan lebih banyak dari biasanya. Disamping itu dapat pula terjadi penurunan berat badan.
b) Pengobatan
Pengobatan diet merupakan pilihan utama. Dianjurkan untuk melaksanakan diet rendah kalori serta olahraga yang teratur. Bila terlalu kurus, dianjurkan untuk diet tinggi kalori, bila tidak berhasil dianjurkan untuk ganti cara kontrasepsi non hormonal.
4) Pusing dan Sakit Kepala
a) Konseling
Menjelaskan kepada akseptor bahwa efek samping tersebut mungkin ada tetapi jarang terjadi dan biasanya bersifat sementara.
b) Pengobatan
Pemberian anti prostaglandin untuk mengurangi keluhan acetosal 500mg, 3 x 1 tablet/hari
5) Hematoma
a) Konseling
Menjelaskan kepada calon akseptor mengenai kemungkinan efek samping
b) Pengobatan
Kompres dingin pada daerah yang membiru selama 2 hari. Setelah itu diubah menjadi kompres hangat sehingga warna biru/kuning menjadi hilang.
8. Komplikasi dan Penanggulangannya ( Saifuddin A.B,2003)
a. Komplikasi.
Abses
Rasa sakit dan panas didaerah suntikan. Bila terdapat abses teraba adanya benjolan yang nyeri di daerah suntikan. Biasanya diakibatkan karena pemakaian jarum suntik yang berulang dan tidak suci hama.
b. Penanggulangan
Pemberian antibiotic dosis tinggi ( Ampicilin 500 mg, 3 x 1 tablet / hari ).
Bila abses : Berikan kompres untuk mendinginkan infeksi / mematangkan abses misalnya kompres permanganas atau rivanol. Bila ada fluktuasi pada abses, dapat dilakukan insisi abses, setelah itu diberikan tampon dan drain jangan lupa berikan antibiotic sperti penatalaksanaan pada infeksi.
10. Tempat Pelayanan ( Wijono Wibisono, 2001)
a. Rumah Sakit / Rumah Sakit Bersalin / Rumah Bersalin
b. Puskesmas / Balai kesehatan Masyarakat / Poliklinik Swasta / Poliklinik Pemerintah.
c. Poliklinik Keliling
d. Dokter / Bidan Praktek Swasta
b. Kontrasepsi Oral ( Pil )
Kontrasepsi oral adalah kontrasepsi untuk wanita yang berbentuk tablet, mengandung hormon estrogen dan progestrone yang digunakan untuk mencegah hamil.
Kontrasepsi oral terdiri atas lima macam yaitu :
1). Pil kombinasi, dalam satu pil terdapat estrogen dan progestrone sintetik yang diminum 3 kali seminggu.
2). Pil sekunseal, Pil ini dibuat sedemikian rupa sehingga mirip dengan urutan hormon yang dikeluarkan ovariun pada tiap siklus. Maka berdasarkan urutan hormon tersebut,estrogen hanya diberikan selama 14 – 16 hari pertama di ikuti oleh kombinasi progestrone dan estrogen selama 5 – 7 hari terakhir.
3). Pil mini, merupakan pil hormon yang hanya mengandung progestrone dalam dosis mini ( kurang dari 0,5 mg) yang harus diminum setiap hari termasuk pada saat haid.
4). Once a moth pil, pil hormon yang mengandung estrogen yang ” Long acting ” yaitu biasanya pil ini terutama diberikan untuk wanita yang mempunyai Biological Half Life panjang
5). Morning after pil, merupakan pil hormon yang mengandung estrogen dosis tinggi yang hanya diberikan untuk keadan darurat saja, seperti kasus pemerkosaan dan kondom bocor.
Efek samping yang ditimbulkan kontrasepsi Oral ( Pil ).
1). Nousea
2). Nyeri payudara
3). Gangguan Haid
4). Hipertensi
5). Acne
6). Penambahan berat badan.
Keuntungan Kontrasepsi Oral ( Pil )
1). Mudah menggunakannya
2) Cocok untuk menunda kehamilan pertama dari pasangan usia subur muda.
3). Mengurangi rasa sakit pada saat menstruasi
4). Dapat mencegah defesiensi zat besi (Fe)
5). Mengurangi resiko kanker ovarium.
6) Tidak mempengaruhi produksi ASI pada saat pemakaian pil yang mengandung estrogen.
c. Kontrasepsi Implant.
Kontrasepsi implant mekanisme kerjanya adalah menekan ovulasi membuat getah serviks menjadi kental dan membuat endometrium tidak sempat menerima hasil konsepsi.
d. Efek samping Implant
Pada umumnya efek samping yang ditimbulkan implant tidak berbahaya. Yang paling sering ditemukan adalah gangguan haid yang kejadiannya bervariasi pada setiap pemakaian, seperti pendarahan haid yang banyak atau sedikit, bahkan ada pemakaian yang tidak haid sama sekali. Keadaan ini biasanya terjadi 3 – 6 bulan pertama sesudah beberapa bulan kemudian. Efek samping lain yang mungkin timbul, tetapi jarang adalah sakit kepala, mual, mulut kering, jerawat, payudara tegang, perubahan selera makan dan perubahan berat badan.
e. Keuntungan Implant.
1). Efektifitas tinggi setelah dipasang
2). Sistem 6 kapsul memberikan perlindungan untuk 5 tahun.
3) Tidak mengandung estrogen
4) Efek kontraseptif segera berakhir setelah implantnya dikeluarkan
5). Implant melepaskan progestin dengan kecepatan rendah dan konstant, sehingga terhindar dari dosis awal yang tinggi.
6). Dapat mencegah terjadinya anemia
f. Kerugian Implant.
1). Insersi dan pengeluaran harus dikeluarkan oleh tenaga terlatih.
2). Petugas medis memerlukan latihan dan praktek untuk insersi dan pengangkatan implant.
3). Lebih mahal
4). Sering timbul perubahan pola haid
5). Akseptor tidak dapat menghentikan implant sekehendaknya sendiri.
SUMBER:
BKKBN, 1996, Apa Yang Anda Harus Ketahui Tentang Alat Kontrasepsi,
Hartono hanifa, Keluarga Berencana dan Kontrasepsi



More aboutKONTRASEPSI HORMONAL

Kesadaran Gunakan Alat Kontrasepsi di Gakin Antara Kebijakan dan Persoalan Ekonomi

Posted by Anonymous

KESADARAN masyarakat baik di pedesaan maupun perkotaan mengenai pemakaian alat kontrasepsi sebagaian didasari faktor ekonomis. Meski alasannya sama, terjadi dikotomi sebagian mencegah kehamilan dan kelahiran dengan alasan kendala ekonomi. Selebihnya mereka memilih tidak memakai alat kontrasepsi dengan alasan ekonomi. Bukan tak mampu membeli tapi lebih kepada stereotipe ‘banyak anak banyak rezeki’.

Pengamat Kependudukan Untan, Yarlina Yacoub SE M.Si dari pengamatannya ada satu kabupaten di bagian utara Kalbar ada keunikan. Kenapa unik? Karena dengan kondisi ekonomi memprihatinkan masyarakat termasuk keluarga miskin (gakin) tetap tidak mau memakai alat kontrasepsi.

Keengganan ini lebih disebabkan adanya pemahaman bahwa anak banyak yang dilahirkan dari suatu keluarga, nantinya akan membantu mencari nafkah. “Sehingga tak jarang di sana kita lihat anak-anak yang putus sekolah dalam usia teramat muda, mereka lebih memilih bekerja membantu orangtua,” paparnya.

Jadi, kata Yarlina, visi keluarga berkualitas yang dikumandangkan BKKBN di sana bisa dikatakan tidak dipahami. “Sebagaimana visi keluarga berkualitas, tidak mematok jumlah anak dalam keluarga, asalkan secara kualitas, baik kesejahteraan dan pendidikannya terjamin. Yang terjadi di sana sebaliknya,” kata Yarlina.

Sejak visi awal BKKBN itu keluarga berencana, yang jelas membuat patokan dua anak cukup, daerah itu seakan tidak tersentuh kebijakan. “Daerah ini seolah tidak pernah tersentuh kebijakan sejak visi keluarga berencana hingga kini visi itu berubah menjadi keluarga berkualitas. “Buktinya, baru atau tidak visinya, juga sosialisasi yang dilakukan tetap tidak memiliki efek apapun terhadap pola perilaku. Karena ini sudah membudaya di lapisan masyarakat tersebut,” terang wanita berkerudung ini.

Sementara, fenomena lain, sejumlah alasan penduduk kota maupun desa dari kalangan masyarakat menengah ke bawah untuk memakai alat kontrasepsi lebih kepada alasan ekonomi. “Mereka menunda kehamilan dan mencegah kelahiran karena faktor ekonomi, terkait biaya perawatan dan membesarkan anak,” katanya.

Kelompok ini dikatakan lebih berorientasi kepada kualitas kesejahteraan dan pendidikan dalam keluarga.(fITRi)

More aboutKesadaran Gunakan Alat Kontrasepsi di Gakin Antara Kebijakan dan Persoalan Ekonomi

Pria Mitra KB Yang Tertinggal

Posted by Anonymous

Sejak dicanangkannya program KB pada awal 1970 berbagai catatan keberhasilan Silih berganti mewarnai keberhasilannya hingga tiga dasawarsa ke depan. Tercatat angka kelahiran (TFR) turun dari 5,61 per PUS (pasangan usia subur) pada 1971 menjadi 2,78 per PUS (1997).

Demikian dengan jumlah peserta KB meningkat terus dari 53 ribu pada awal program hingga 27 juta akseptor pada awal 2000. Peningkatan partisipasi pria dalam berKB adalah peserta KB aktif kondom sebesar 40,998 atau 3,87 % Sedangkan pencapaian sampai dengan Agustus 2006 sedikit bergerak dibandingkan tahun-tahun sebelumnya dan masih terus diadakannya sosialisasi tentang program peningkatan partisipasi pria dalam berKB yang diupayakan BKKBN dengan mengadakan sosialisasi pemakaian kondom yang mempunyai dua manfaat yakni sebagai penjarangan kelahiran dan pencegahan penyakit menular.

Keberhasilan program KB di Indonesia tidak bisa lepas dari peran dan partisipasi perempuan sebagai pengambil keputusan untuk menggunakan alat kontrasepsi yang ada dengan tujuan mengatur jarak kelahiran.

Sangat disayangkan ketika melihat angka partisipasi pria, jumlahnya menjadi sangat minim. Lewat ICPD 1994 untuk menargetkan program KB hingga 8%, sejak itu pula tak pernah mencapai hasil yang menggembirakan. Berdasarkan SDKI (1997) hanya 1,1% peserta KB pria secara nasional. Selanjutnya tahun 2003 pencapaiannya hanya naik sedikit yakni 1,3% dan 3,87% tahun 2006.

Banyak kendala yang menghadang dalam kaitannya dengan peningkatan peran pria dalam berKB. Kendala paling utama masih seputar budaya patriarkis dalam masyarakat Indonesia. Pria dianggap paling berkuasa hingga pria pun berhak menentukan mau berKB atau tidak. Kebanyakan dari mereka menginginkan istrinya saja yang berKB.

Demikian berkuasanya pria bahkan untuk berKB istri benar-benar manut pada keinginan suami. Berdasarkan hasil survey yang dilakukan tahun 1997 terdapat sedikitnya 1% dari 667 istri justru tak menyetujui alat kontrasepsi yang dipilih suami mereka namun dipaksa untuk memakainya.

Sementara 4,5 % istri telah memutuskan alat kontrasepsi yang hendak digunakan. Namun tak disetujui suami. Bahkandi antara istri yang berusia 15-29 tahun, 16% di antaranya menyatakan takan memakai alat kontrasepsi karena ada penolakan dari suami.

Mengapa angka pencapaian keikutsertaan pria berKB bergerak sangat lamban. Penurunan target KB pria dari 8 % menjadi 7,5% apakah mungkin bisa tercapai hingga di tahun 2015.

Hal mendasar yang menjadi penyebab program KB pria masih berjalan di tempat adalah kurangnya sosialiasi ke masyarakat. Beberapa metode KB pria hanya terpatok pada dua pilihan yaitu kondom dan vasektomi yang justru kurang populer keberadaannya dikalangan pria.

Di sisi lain kegagalan di lapangan dalam merekrut kaum pria untuk berKB nampaknya tak lepas dari animo petugas kesehatan sendiri. Kenyataan menunjukkan sedikit sekali petugas kesehatan yang melibatkan suami dalam konsultasi kesehatan terutama dalam perawatan kehamilan dan kelahiran anak.

Para petugas merasa cukup hanya berinteraksi dengan istri. Demikian pula dengan pemberian pelayanan KB banyak petugas kesehatan bahkan dokter sendiri yang kurang proaktif dalam menawarkan kondom kepada pasutri (pasangan suami istri) yang menderita penyakit seks menular.

Oleh karenanya BKKBN perlu membenahi kembali akar masalah yang ada yakni dengan lebih menggalakkan sosialisasi penggunaan kondom pada pria sebagai alternatif KB. Petugas lapangan (PLKB) telah dibekali pula dengan pengetahuan lebih jauh seputar program KB pria terutama vasektomi.

Bahkan vasektomi diyakini suatu saat akan menjadi pilihan yang menggiurkan karena faktor kekuatan ekonomisnya. Soal penurunan target pencapaian KB pria tidak berarti kerja di lapangan secara profesional dikurangi. BKKB tetap punya komitmen tinggi untuk meningkatkan peran pria dalam berKB.

Intinya penantian panjang peran pria dalam berKB harus diminimalisir. Sudah saatnya mitra KB yang potensial seperti pria digalakkan dengan usaha maksimal masyarakat dan lembaga resmi seperti BKKBN baik pusat dan daerah. Soal KB selayaknya pria pun tak boleh ketinggalan.

More aboutPria Mitra KB Yang Tertinggal

1,5 Persen PUS melakukan Sanggama Terputus sebagai cara KB-nya

Posted by Anonymous

Survei Demographi dan Kesehatan Indonesia tahun 2002-2003 menunjukkan bahwa penggunanaa cara KB dengan sanggama terputus cukup banyak mencapai 1,5 persen. Hal ini menarik karena cara KB ini meningkat 0.4 persen dibandingkan pada tahun 1997 yang mencapai 1,1 persen. Untuk itu dengan ini kami sampaikan tentang hal-hal yang menyangkut sanggama terputus.

Sanggama terputus adalah metode keluarga berencana tradisional, dimana pria mengeluarkan alat kelaminnya (penis) dari vagina sebelum pria mencapai ejakulasi.

Cara Kerja

Alat kelamin (penis) dikeluarkan sebelum ejakulasi sehingga sperma tidak masuk ke dalam vagina sehingga kehamilan dapat dicegah.

Manfaat Kontrasepsi ·

  • Efektif bila digunakan dengan benar
  • Tidak mengganggu produksi ASI ·
  • Dapat digunakan sebagai pendukung metode KB lainnya
  • Tidak Ada efek samping ·
  • Dapat digunakan setiap waktu
  • Tidak membutuhkan biaya Non Kontrasepsi
  • Meningkatkan keterlibatan pria dalam keluarga berencana
  • Untuk pasangan memungkinkan hubungan lebih dekat dan pengertian yang sangat dalam.

Keterbatasan ·

  • Efektifitas bergantung pada kesediaan pasangan untuk melakukan sanggama terputus setiap melaksanakannya (angka kegagalan 4 – 18 kehamilan per 100 perempuan per tahun).
  • Efektifitas akan jauh menurun apabila sperma dalam 24 jam sejak ejakulasi masih melekat pada penis.
  • Memutus kenikmatan dalam berhubungan seksual.

Cocok untuk ·

  • Pria yang ingin berpartisipasi aktif dalam keluarga berencana
  • Pasangan yang tidak ingin memakai metode KB lainnya
  • Pasangan yang memerlukan kontrasepsi dengan segera
  • Pasangan yang memerlukan metode sementara, sambil menunggu metode yang lainnya
  • Pasangan yang memerlukan metode pendukung
  • Pasangan yang melakukan hubungan seksual tidak teratur.

Tidak Cocok untuk

  • Pria dengan pengalaman ejakulasi dini
  • Pria yang sulit melakukan sanggama terputus
  • Pria yang memiliki kelainan fisik atau psikologis ·
  • Perempuan yang mempunyai pasangan yang sulit bekerja sama
  • Pasangan yang kurang dapat saling berkomunikasi
  • Pasangan yang tidak bersedia melakukan sanggama terputus.

Hal-hal yang perlu di perhatikan ·

  • Meningkatkan kerja sama dan membangun saling pengertian sebelum melakukan hubungan seksual dan pasangan harus mendiskusikan dan menyepakati penggunaan metode sanggama terputus.
  • Sebelum berhubungan pria terlebih dahulu mengosongkan kandung kemih dan membersihkan ujung penis untuk menghilangkan sperma dari ejakulasi sebelumnya.
  • Apabila merasa akan ejakulasi, pria segera mengeluarkan penisnya dari vagina pasangannya dan mengeluarkan sperma di luar vagina.
  • Pastikan pria tidak terlambat melaksanakannya.
  • Tidak dianjurkan pada masa subur.

(sumber: Buku Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi)

More about1,5 Persen PUS melakukan Sanggama Terputus sebagai cara KB-nya

Sistim Kalender KB Alamiah, Aman dan Murah

Posted by Anonymous

Sistem kalender merupakan sebuah metode KB alamiah (KBA) yang paling tua. Dr. Knaus, seorang ahli kebidanan dari Vienna dan Dr. Ogino, ahli ginekologi dari Jepang adalah pencetus KBA sistem kalender. Keduanya secara terpisah menemukan bahwa ovulasi berhubungan erat dengan menstruasi berikutnya daripada dengan menstruasi sebelumnya.
Menurut Knaus, ovulasi terjadi tepat 14 hari sebelum menstruasi berikutnya. Sementara itu, Ogino berpendapat bahwa ovulasi tidak selalu terjadi tepat pada 14 hari sebelum menstruasi, tetapi dapat juga terjadi antara 16 atau 12 hari sebelum menstruasi berikutnya. Ogino yakin bahwa kemampuan sel sperma untuk hidup dalam saluran reproduksi wanita tak lebih dari 3 hari saja. Ogino juga berpendapat bahwa sel telur hanya dapat dibuahi dalam beberapa jam saja setelah ovulasi. Kedua hasil penelitian inilah yang menjadi dasar dari KBA sistem kalender.
Sistem kalender menggunakan sejarah siklus menstruasi wanita untuk menentukan masa-masa tidak subur (masa aman dalam melakukan hubungan intim). Penghitungan masa-masa tersebut berdasarkan asumsi bahwa sel sperma hanya mampu hidup di saluran reproduksi paling lama 3 hari. Ternyata penelitian lebih jauh membuktikan bahwa sel sperma ternyata mampu hidup selama 5 hari dalam saluran reproduksi wanita, asalkan wanita dalam keadaan masa subur. Kenyataan ini mengakibatkan efektifitas KBA sistem kalender menjadi rendah. Kehamilan akibat salah menghitung kemampuan hidup sperma dalam masa-masa subur menjadikan metode KBA dengan sistem kalender menjadi sebuah stigma.

Banyak orang yang merasa sangsi, benarkah KBA sistem kalender dapat menjadi suatu metode untuk mencegah kehamilan. Siklus menstruasi yang tidak teratur merupakan penghambat yang umum dilontarkan para calon akseptor KBA sistem kalender


Penghitungan Masa Tidak Subur

Kini masa tidak subur sebelum ovulasi (pre-ovulatory ini fertile) dihitung berdasarkan siklus terpendek selama 12 bulan dikurangi 21 hari. Angka 21 didapat dari 16 hari fase luteal (fase pematangan sel telur) yang paling panjang ditambah dengan 5 hari kemampuan hidup sel sperma dalam saluran reproduksi.
Tabel di bawah ini memperlihatkan bagaimana menentukan masa tidak subur sebelum ovulasi
Lama siklus menstruasi
Masa tidak subur sebelum ovulasi
28 hari atau lebih
Hari ke-1 sampai hari ke-7
27 hari
Hari ke-1 sampai hari ke-6
26 hari
Hari ke-1 sampai hari ke-5
25 hari
Hari ke-1 sampai hari ke-4
24 hari
Hari ke-1 sampai hari ke-3
23 hari
Hari ke-1 sampai hari ke-2
22 hari
Hari ke-1
21 hari
Tidak ada

Sementara itu, masa tidak subur setelah ovulasi (post ovulatory infertile) dihitung dengan formula masa menstruasi terpanjang selama 12 bulan dikurangi dengan 9 hari. Angka 9 hari didapat dari 11 hari (masa terpendek dari fase luteal) dikurangi dengan 2 hari (masa hidup sel telur).
Tabel di bawah ini memperlihatkan bagaimana menentukan masa tidak subur sesudah ovulasi.

Lama siklus menstruasi
Masa tidak subur sesudah ovulasi
Kurang dari 28 hari
Dari hari ke-19
29 hari
Dari hari ke-20
30 hari
Dari hari ke-21
31 hari
Dari hari ke-22
32 hari
Dari hari ke-23
33 hari
Dari hari ke-24
34 hari
Dari hari ke-25
35 hari
Dari hari ke-26
36 hari
Dari hari ke-27
37 hari atau lebih
Dari hari ke-28

Data tentang lama menstruasi terpanjang dan terpendek perlu terus menerus dicatat dan diperbaharui, sehingga perhitungan masa tidak subur sebelum dan sesudah ovulasi lebih akurat.

Efektivitas KBA Sistem Kalender

Efektivitas KBA sistem kalender sangat tergantung pada kelengkapan data siklus menstruasi seorang wanita. Semakin lengkap datanya, semakin akurat pula perhitungannya. Tak ada seorang wanita pun di dunia ini yang tahu pasti kapan ia akan ovulasi. Disamping itu, tidak ada jaminan bahwa siklus menstruasi seseorang sudah pasti teratur datangnya. Oleh sebab itu, komitmen untuk mencatat siklus menstruasi sangat berpengaruh terhadap efektivitas sistem kalender.
Berikut ini adalah faktor-faktor yang membuat KBA sistem kalender menjadi tidak efektif.
· Penentuan masa tidak subur didasarkan pada kemampuan hidup sel sperma dalam saluran reproduksi wanita adalah 3 hari
· Perdarahan yang kadang datang bersamaan dengan ovulasi dapat diinterpretasikan sebagai menstruasi. Akibatnya, perhitungan masa tidak subur sebelum ovulasi dan masa tidak subur setelah ovulasi menjadi tidak tepat
· Penentuan masa tidak subur tidak berdasarkan pada siklus menstruasi sendiri
· Kurangnya pemahaman tentang hubungan antara ovulasi dan perubahan jenis mukus yang menyertainya.
· Adanya anggapan bahwa hari pertama siklus menstruasi dihitung dari berakhirnya perdarahan menstruasi sehingga semua perhitungan penentuan masa tidak subur otomatis menjadi salah.

Penelitian di Sydney yang dilakukan oleh Dr. Johnson beserta rekan-rekannya (1978) selama satu tahun menunjukan bahwa efektivitas KBA akan naik tiga kali lipat ketika pasangan suami istri memakai KBA dengan metode Simpto-Thermal. Metode ini diuraikan pada artikel lainnya.

Keterbatasan dari sistem kalender ini adalah suami istri tidak dapat melakukan hubungan seks setiap saat bila tidak menginginkan kehamilan. Padahal kebutuhan biologis tidak ada batasan waktu. Istri justru libidonya meningkat pada saat masa subur. Untuk itu KB sistem kalender ini harus dikombinasikan dengan pemakaian alat KB kondom. Pada saat masa subur suami istri tetap bisa melakukan hubungan suami istri tetapi dengan menggunakan kondom. (Farida)

Sumber : Riono Notodiharjo, 2002 Reproduksi, Kontrasepsi, dan Keluarga Berencana : Metode KB tanpa bantuan obat-obatan dan peralatan
More aboutSistim Kalender KB Alamiah, Aman dan Murah

Sistem Kalender Metode Ber-KB Tanpa Biaya

Posted by Anonymous

Pantang Berkala atau lebih dikenal dengan sistem kalender merupakan salah satu cara/metode kontrasepsi sederhana yang dapat dikerjakan sendiri oleh pasangan suami istri dengan tidak melakukan sanggama pada masa subur. Metode ini efektif bila dilakukan secara baik dan benar. Dengan penggunaan sistem kalender setiap pasangan dimungkinkan dapat merencanakan setiap kehamilannya.

Sebelum menggunakan metode ini, tentunya pasangan suami istri harus mengetahui masa subur. Siklus masa subur pada tiap wanita tidak sama. Untuk itu perlu pengamatan minimal 6 kali siklus menstruasi. Berikut ini cara mengetahui dan menghitung masa subur :


Bila siklus haid teratur (28 hari) :
  • Hari pertama dalam siklus haid dihitung sebagai hari ke-1
  • Masa subur adalah hari ke-12 hingga hari ke- 16 dalam siklus haid
Contoh :

Seorang isteri mendapat haid mulai tanggal 9 Januari. Tanggal 9 Januari ini dihitung sebagai hari ke-1. Maka hari ke-12 jatuh pada tanggal 20 januari dan hari ke 16 jatuh pada tanggal 24 Januari. Jadi masa subur yaitu sejak tanggal 20 Januari hingga tanggal 24 Januari. Pada tanggal-tanggal tersebut suami isteri tidak boleh bersanggama. Jika ingin bersanggama harus memakai kondom atau sanggama terputus (bisa dilihat di artikel tentang sanggama terputus).


Bila siklus haid tidak teratur :
· Catat jumlah hari dalam satu siklus haid selama 6 bulan (6 siklus). Satu siklus haid dihitung mulai dari hari pertama haid saat ini hingga hari pertama haid berikutnya.
· Jumlah hari terpendek dalam 6 kali siklus haid dikurangi 18. Hitungan ini menentukan hari pertama masa subur. Jumlah hari terpanjang selama 6 siklus haid dikurangi 11. Hitungan ini menentukan hari terakhir masa subur.
· Rumus :

Hari pertama masa subur = Jumlah hari terpendek – 18

Hari terakhir masa subur = Jumlah hari terpanjang - 11

Contoh :

Seorang isteri mendapat haid dengan keadaan : siklus terpendek 26 hari dan siklus terpanjang 32 hari (mulai hari pertama haid sampai haid berikutnya)

Perhitungannya : 26-18 = 8 dan 32–11 = 21. jadi masa suburnya adalah mulai hari ke-8 sampai ke 21 dari hari pertama haid. Pada masa ini suami isteri tidak boleh bersanggama. Jila ingin bersanggama harus memakai kondom atau sanggama terputus.

Kontrasepsi dengan menggunakan sistem kalender dapat menghindari risiko kesehatan yang berhubungan dengan kontrasepsi. Bagi keluarga yang kesulitan untuk mendapatkan alat kontrasepsi sangat cocok untuk menggunakan metode kontrasepsi ini selain tidak memerlukan biaya juga tidak perlu mencari tempat pelayanan kontrasepsi.

Menggunakan sistem kalender perlu kerjasama yang baik antara suami istri karena metode ini perlu kemauan dan disiplin pasangan dalam menjalankannya. Masa berpantang yang cukup lama akan mengakibatkan pasangan tidak bisa menanti sehingga melakukan hubungan pada waktu masih berpantang. Tapi bukan masalah bila saja pasangan membiasakan menggunakan kondom pada saat subur

More aboutSistem Kalender Metode Ber-KB Tanpa Biaya

Tepatkah Cara KB Anda ???

Posted by Anonymous

Dh,
Mohon diberikan informasi mengenai jenis alat kontrasepsi berserta kelebihan dan kekurangannya. Hal ini karena saya masih bingung setelah melahirkan putra 1, mau memakai alat kontrasepsi jenis apa saja. Atas jawabannya terima kasih.
Diatas ini adalah salah satu bentuk kebingungan pasangan suami istri tentang cara KB yang cocok bagi mereka, dan ini dialami oleh banyak pasangan sebelum memutuskan menggunakan cara KB yang mereka inginkan. Mencari informasi terlebih dahulu tentang cara-cara KB adalah tindakan yang sangat bijak namun seringkali kita dalam memutuskan sesuatu tidak berdasarkan informasi yang lengkap, akurat dan benar, bahkan hanya berdasarkan saran dari teman, tetangga bahkan petugas KB saja.
Data memperlihatkan bahwa pemilihan dan penggunaan kontrasepsi oleh pasangan suami isteri sering kali tidak didasarkan pada pilihan yang rasional, serta tidak mempertimbangkan efektivitas dan efisiensinya. Padahal setiap pasangan suami isteri mempunyai hak untuk memilih dan menentukan sendiri alat kontrasepsi yang akan mereka gunakan secara bebas dan bertanggung jawab. Untuk itu dalam memutuskan suatu cara kontrasepsi sebaiknya setiap pasangan mempertimbangkan penggunaan kontrasepsi yang rasional, efektif dan efisien.

Pilihan yang rasional

Informasi lengkap tentang metode kontrasepsi perlu diperoleh sebelum pasangan memilih untuk menggunakan kontrasepsi tertentu sesuai dengan pilihannya. Pada umumnya, setiap pasangan yang menggunakan kontrasepsi dilandasi keinginan yang jelas, apakah untuk menunda kelahiran anak pertama (postponing), menjarangkan anak (spacing), atau membatasi (limiting) jumlah anak yang diinginkan?
Kejelasan maksud tersebut terkait dengan tersedianya teknologi kontrasepsi sesuai dengan keamanan medis serta kemungkinan kembalinya fase kesuburan (fecundity), efektifitas dan efisiensinya. Pilihan yang didasarkan dari informasi yang lengkap tersebut pada akhirnya akan menghasilkan pilihan metode kontrasepsi yang bersifat rasional.

Pilihan kontrasepsi secara rasional pada dasarnya adalah merupakan pilihan klien secara sukarela tanpa adanya unsur paksaan, yang didasarkan pada pertimbangan secara rasional dari sudut tujuan/teknis penggunaan, kondisi kesehatan medis, dan kondisi sosial-ekonomis dari masing-masing pasangan. Sebagai contoh, apabila penggunaan kontrasepsi ditujukan untuk menjarangkan kelahiran anak dalam beberapa bulan saja (spacing), maka bukan metode Susuk/Implan, IUD, Sterilisasi tetapi pil yang dianggap rasional. Alasannya karena metode Implan, IUD, dan sterilisasi bersifat jangka panjang. Dan pada implan kembalinya kesuburan relatif lebih lama dibandingkan pil. Demikian pula bila pasangan yang sudah tidak mengharapkan anak lagi (limiting), maka sebaiknya tidak menggunakan pil atau pantang berkala, karena angka kegagalannya tinggi bila tidak digunakan secara disiplin dan benar. Demikian juga dengan IUD untuk menunda kelahiran anak pertama (postponing) untuk beberapa bulan saja, umumnya tidak menjadi pilihan yang dianggap rasional. Selain itu, perlu diingat bahwa kontrasepsi rasional bukan hanya mempertimbangkan tujuan penggunaan kontrasepsi (postponing, spacing, limiting), tetapi harus juga mempertimbangkan secara rasional kriteria penerimaan dari aspek medis (medical eligibility criteria), Sebagai contoh, wanita usia 35 tahun keatas (apalagi perokok), menderita penyakit tekanan darah tinggi > dari 180/110 mmHg hendaknya tidak menggunakan pil kombinasi estrogen dan progesteron karena meningkatkan resiko menderita penyakit pembuluh darah. Demikian juga dengan perempuan yang sedang menderita penyakit infeksi alat kelamin sebaiknya tidak menggunakan AKDR/IUD karena akan memperberat infeksinya. Banyak contoh-contoh kondisi medis lainnya yang secara rasional perlu di pertimbangkan dalam pemilihan kontrasepsi, meskipun pada akhirnya keputusan terakhir pemilihan kontrasepsi tetap berada di tangan pengguna kontrasepsi. Oleh karena itu, dalam hal ini informed consent sangat diperlukan, terlebih lagi bila kontrasepsi yang akan dipilih dan digunakan oleh pengguna memiliki resiko tinggi bagi diri pengguna kontrasepsi.

Pilihan yang efektif

Selain pertimbangan secara rasional, dalam pemilihan kontrasepsi harus juga mempertimbangkan aspek efektifitasnya. Yang dimaksud dengan pemilihan kontrasepsi yang efektif adalah pemilihan kontrasepsi yang didasari pada pertimbangan efektifitas masing-masing jenis kontrasepsi berdasarkan angka kegagalannya. Jadi efektifitas masing-masing kontrasepsi dapat dilihat dari angka efektifitasnya secara teoritis (theoritical effectivenes/ dalam kondisi ideal) dan efektifitas penggunaan secara praktis di lapangan (used effektivenes). Dengan mengetahui angka-angka tersebut maka setiap pasangan dapat mempertimbangkan penggunaan jenis-jenis kontrasepsi berdasarkan angka kegagalannya. Sebagai contoh, Implan, AKDR/IUD, Sterilisasi/Tubektomi termasuk jenis kontrasepsi yang efektivitas tinggi(most efektif) sebab angka kegagalan untuk Implan (0,2-1 kehamilan per 100 perempuan), AKDR (0,6-0,8 kehamilan per 100 perempuan), dan Sterilisasi/ Tubektomi (0,2-4 kehamilan per 100 perempuan). Sedangkan jenis kontrasepsi yang termasuk kriteria efektif antara lain Pil, Suntikan, Metode Amenore Laktasi/ Pemberian ASI. Dan yang termasuk kriteria last efektif antara lain, kondom, diafragma vaginal, dan sanggama terputus.

Pilihan yang efisien

Pertimbangan terakhir yang perlu diperhatikan dalam pemilihan alat kontrasepsi adalah kriteria efisiensi. Efisiensi dapat dinilai dari biaya kontrasepsi dalam memproteksi kehamilan per tahun penggunaan dari seorang pasangan (Couple Years Protection atau CYP). Angka alat kontrasepsi per CYP dapat dijadikan pertimbangan dalam menentukan efisiensi setiap alat kontrasepsi.

Ada banyak hal dalam pemilihan kontrasepsi yang perlu dipertimbangkan secara rasional, meskipun pada akhirnya keputusan terakhir pemilihan jenis kontrasepsi harus tetap ditangan pengguna itu sendiri. (dr. Sheilla)

Sumber: Kebijakan, Program, dan Kegiatan KB dan KR 2005-2009

More aboutTepatkah Cara KB Anda ???

Promosikan Kondom

Posted by Anonymous

Drs. H. Sukma Wijaya, MM (Bupati Sukabumi), melakukan promosi penggunaan kondom sebagai alat kontrasepsi dan pencegahan penyakit Infeksi menular seksual kepada masyarakat yang datang di Salabintana pada hari rabu tanggal 31 Januari 2007. Promosi ini dilakukan untuk meningkatkan kesertaan pria dalam ber KB yang didasarkan dengan masih rendahnya angka peserta KB pria di Kabupaten Sukabumi. Kondom sebagai alat kontrasepsi yang murah, praktis pemakaiannya dan mudah mendapatkannya diharapkan oleh Bupati akan menjadi alat kontrasepsi pilihan bagi Pasangan Usia Subur (PUS) yang telah mengerti bahwa KB dan Kesehatan Reproduksi merupakan tanggung jawab suami dan isteri.
Hadir pada promosi kondom tersebut Dr. Sugiri Syarief,MPA Kepala BKKBN Pusat, Dr. Siswanto Agus Wilopo Deputi Bidang KB BKKBN Pusat, Sudibyo Alimoeso Sestama BKKBN dan Jajaran Pemda Kabupaten Sukabumi dan Kepala BKKBN Jawa Barat. Pelaksanaan ini dilakukan pada waktu peninjauan lapangan pelayanan KB yang bertepatan dengan pelaksanaan penutupan bhakti IBI tahun 2006 dan pencanangan bhakti IBI tahun 2007. Pada kesempatan itu Bapak Sukma Wijaya membagi-bagikan kondom kepada mayarakatnya yang hadir ditempat pelayanan KB tersebut. Kondom sangat tepat digunakan bagi pasangan yang baru menikah yang ingin menunda kehamilannya untuk itu beliau minta agar kondom mudah diperoleh dengan harga murah. Promosi kondom dilakukan bertepatan dengan launching toples kondom di Kabupaten Sukabumi sekaligus menjawab keinginan Bupati tersebut.
Toples kondom di Kabupaten Sukabumi direncanakan akan ditempatkan di bidan praktek swasta dan dapat diambil secara gratis. Hal ini dimaksudkan agar bila ada pasangan suami isteri yang datang untuk memeriksakan kandungan maupun isteri akan memakai alat kontrasepsi seperti pil, suntik dan IUD, maka kepada suami dapat diberikan pilihan cara KB pria dan diharapkan merekan memperoleh informasi mengenai efektifitas dan manfaat dari kondom.
Kondom sangat efektif bila dipakai secara benar setiap kali berhubungan seksual, dan manfaat yang dapat diperoleh antara lain dapat membantu terjadinya ejakulasi dini dan pencegahan penularan IMS yang disebabkan oleh jamur, bakteri dan masalah kebersihan (hygienist).

Dengan pemberian informasi yang lengkap mengenai efektifitas dan berbagai macam manfaat yang dimiliki oleh kondom, maka kondom diharapkan menjadi pilihan alat kontrasepsi yang praktis dan mudah digunakan. Para suami yang menjadi sasaran pengguna kondom akan mudah didapatkan karena mereka mengantar isteri ke bidan. Bidan dapat lebih mudah memberikan konseling KB dan Kesehatan Reproduksi bila baik suami dan isteri ikut serta. Mudahnya akses untuk memperoleh kondom bagi PUS yang membutuhkan akan makin memberikan semangat untuk menggunakan kondom sebagai alat kontrasepsi.
Adapun tempat-tempat untuk mendapatkan kondom adalah :
- Pos Alat Keluarga Berencana Desa ( PAKBD ), Pembantu Pembina Keluarga Berencana Desa ( PPKBD ), Tim Keluarga Berencana Keliling ( TKBK ).
- Rumah sakit, Puskesmas, klinik KB
- Apotik
- Dokter/Bidan swasta
- Vending Machine
- Toples kondom.
Dengan adanya sosialisasi kondom yang dicanangkan langsung oleh Tokoh masyarakat seperti yang dilakukan oleh Bupati Sukabumi, diharapkan daerah-daerah yang lain akan terdorong untuk mengikuti langkah yang telah dipelopori oleh Bupati sukabumi. Hasil sosialisasi yang diharapkan adalah meningkatnya peserta KB Pria.
Pada peninjauan lapangan tersebut, Bapak Bupati kesempatan melihat pelayanan kontap pria (vasektomi) di Kabupaten Sukabumi diikuti oleh 18 orang dan mengingatkan mereka untuk tidak lupa menggunakan kondom selama 3 bulan atau selama 20- 25 kali ejakulasi setelah pelayanan kontap pria ini.
Bupati Sukabumi, Drs. H. Sukma Wijaya, MM juga menyatakan bahwa sukabumi masih memerlukan sekitar 127 orang bidan desa untuk melayani kebutuhan masyarakat Kabupaten Sukabumi yang jumlahnya semakin bertambah sehingga setiap desa mempunyai bidan. Upaya yang telah dilakukan adalah Pemda menyediakan bea siswa mereka yang ingin melanjutkan pendidikan bidan dengan syarat mereka mau ditempatkan di desa. Hal ini disampaikan dalam pidato beliau dalam rangka pelaksanaan penutupan bhakti IBI tahun 2006 dan pencanangan bhakti IBI tahun 2007 serta kunjungan Kepala BKKBN Pusat ke Kabupaten Sukabumi tanggal 30-31 Januari 2007.
Kebutuhan akan tenaga bidan dirasakan mendesak karena dengan kurang tersedianya bidan maka banyak masyarakat yang tidak dapat terlayani kebutuhannya akan alat kontrasepsi seperti kondom, pil, suntik dan IUD sekaligus meningkatkan cakupan pelayanan persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan. Pemenuhan rasio bidan per desa ini diharapkan akan memberikan dampak penurunan angka kematian ibu melahirkan (MMR) di Kabupaten Sukabumi.

More aboutPromosikan Kondom

Beberapa Metode Kontrasepsi atau KB

Posted by Anonymous

IUD (spiral)

IUD atau spiral adalah alat kontrasepsi yang diletakkan didalam rahim.

Bekerja dengan cara mencegah terjadinya implantasi embrio didalam rahim.

Keuntungannya anda tidak eprlu minum pil setiap hari dan efek samping dari hormonal dapat dihindari. Pemasangan ini dapat untuk 3-5 tahun dan dapat dilepaskan setiap saat bila anda berkeinginan untuk mempunyai anak.

Efek sampingnya adalah perdarahan dan kram selama minggu-minggu pertama setelah pemasangan, pemasangan IUD mungkin menimbulkan rasa tidak nyaman, dan dihubungkan dengan resiko infeksi rahim.

IUD tidak boleh digunakan pada wanita dengan riwayat kehamilan ektopik dan riwayat infeksi rahim.

Natural atau alamiah

Disebut juga sebagai system kalender atau pantang berkala. Pada beberapa wanita ini menjadi satu-satunya metode yang dapat diterima.

Cara ini adalah dengan memperkirakan saat masa subur (ovulasi ) dan tidak melakukan hubungan seksual pada saat tersebut.

Metode ini tidak terlalu efektif dan diperlukan kedisiplinan dari wanita untuk selalu mengetahui waktu sat ovulasi atau masa subur.

Dan sebaiknya pada wanita dengan siklus menstruasi yang tidak teratur akan sulit untuk menggunakan metode ini.

Ada beberapa cara untuk mengetahui masa subur. Yaitu :

Dengan cara menghitung tanggal / kalender, cara ini cocok untuk yang punya siklus haid teratur.

Perhitungan ini didasarkan saat ovulasi terjadi pada hari ke 14 dari menstruasi yang akan datang dan dikurangi 2 hari karena sperma dapat hidup selama 48 jam setelah ejakulasi dan ditambahkan 2 hari karena sel telur dapat hidup 24 jam setelah ovulasi.

Jadi Misalnya siklus haidnya 28 hari dan haid terakhirnya terjadi tanggal 1, tanggal haid bulan berikutnya adalah tanggal 28. Dengan demikian, perkiraan waktu ovulasi anda , yaitu di tengah - tengah periode haid yakni tanggal 14. Jadi, masa subur berada pada rentang tanggal 12 hingga 16.

Dengan menilai peningkatan suhu badan, biasanya suhu badan meningkat menjelang dan sesudah masa ovulasi karena pengaruh hormon progesteron.

Dengan menilai lendir rahim. Hormon estrogen mencapai puncaknya pada saat ovulasi terjadi dan memengaruhi lendir rahim.

Menjelang ovulasi biasanya lendir rahim jadi agak encer dan bila diraba dengan dua jari membentuk benang dan berwarna bening.

Ketiga hal ini dapat menjadi petunjuk masa ovulasi/masa subur anda.


Dalam memilih metode kontrasepsi atau KB yang akan digunakan sebaiknya anda merundingkan dengan pasangan anda dan berkonsultasilah dengan dokter anda sehingga dapat memberi saran metode KB apa yang dapat anda pilih dan bekerja baik pada anda.
More aboutBeberapa Metode Kontrasepsi atau KB

Apa KB atau Kontrasepsi Yang Cocok Untuk Saya

Posted by Anonymous

Kontrasepsi adalah suatu cara atau alat yang digunakan untuk mencegah kehamilan. Biasanya wanita menggunakan kontrasepsi untuk menunda kehamilan pertamanya dahulu atau menjarangkan kelahiran dengan anak berikutnya.

Ada beberapa metode kontrasepsi yang tersedia, dan dalam memilih apa metode yang cocok untuk anda itu tergantung dari beberapa factor seperti berapa usia anda, riwayat kesehatan anda, berapa lama anda akan menunda kehamilan anda ini, bagaimana tanggapan suami anda, dan bagaimana pemikiran dan kepercayaan anda sendiri terhadap kontrasepsi ini.

Tapi dari semua factor diatas yang terpenting adalah apakah anda merasa aman dan nyaman dengan pilihan anda juga pasangan anda. Anda dapat berkonsultasi dengan dokter anda lebih dahulu bila anda masih tidak yakin dengan pilihan anda.

Ada beberapa metode dari kontrasepsi / KB yang tersedia dan tidak setiap wanita mempunyai kecocokan yang sama.

Jadi dalam memilih kontrasepsi apa yang akan cocok untuk anda, sebaiknya anda mengetahui keuntungan dan kelemahan dari masing-masing metode yang ada, dan berdiskusilah dengan pasangan anda karena yang terpenting adalah anda dan pasangan merasa aman dan nyaman dengan pilihan kontrasepsi anda berdua.

Bila anda masih ragu jangan pernah malu untuk bertanya dan berkonsultasi dengan dokter anda untuk memilih jenis metode kontrasepsi apa yang terbaik untuk anda.
More aboutApa KB atau Kontrasepsi Yang Cocok Untuk Saya

HUBUNGAN KONTRASEPSI SUNTIK DENGAN PENINGKATAN BERAT BADAN AKSEPTOR

Posted by Anonymous

ABSTRAKSI
Memasuki awal tahun pertama pembangunan jangka panjang tahap II. Pembangunan Gerakan Keluarga Berencana Nasional ditujukan terutama untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Keluarga sebagai kelompok sumber daya manusia terkecil yang mempunyai ikatan batiniah dan lahiriah. Dimana merupakan pengembangan sasaran dalam mengupayakan terwujudnya visi Keluarga Berencana Nasional yang kini telah diubah visinya menjadi “Keluarga Berkualitas Tahun 2005” keluarga yang berkualitas adalah keluarga yang sejahtera, sehat, maju, mandiri, memiliki jumlah anak yang ideal, berwawasan kedepan, bertanggung jawab, harmonis dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Misinya sangat menekankan pentingnya upaya menghormati hak – hak reproduksi, sebagai upaya integral dalam meningkatkan kualitas keluarga. (Sarwono, 2003)
Berbicara tentang kesehatan reproduksi banyak sekali yang harus dikaji, tidak hanya tentang organ reproduksi saja tetapi ada beberapa aspek, salah satunya adalah kontrasepsi. Saat ini tersedia banyak metode atau alat kontrasepsi meliputi IUD, suntik, pil, implant, kontap, kondom. (BKKBN, 2004)

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Memasuki awal tahun pertama pembangunan jangka panjang tahap II. Pembangunan Gerakan Keluarga Berencana Nasional ditujukan terutama untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Keluarga sebagai kelompok sumber daya manusia terkecil yang mempunyai ikatan batiniah dan lahiriah. Dimana merupakan pengembangan sasaran dalam mengupayakan terwujudnya visi Keluarga Berencana Nasional yang kini telah diubah visinya menjadi “Keluarga Berkualitas Tahun 2005” keluarga yang berkualitas adalah keluarga yang sejahtera, sehat, maju, mandiri, memiliki jumlah anak yang ideal, berwawasan kedepan, bertanggung jawab, harmonis dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Misinya sangat menekankan pentingnya upaya menghormati hak – hak reproduksi, sebagai upaya integral dalam meningkatkan kualitas keluarga. (Sarwono, 2003)
Berbicara tentang kesehatan reproduksi banyak sekali yang harus dikaji, tidak hanya tentang organ reproduksi saja tetapi ada beberapa aspek, salah satunya adalah kontrasepsi. Saat ini tersedia banyak metode atau alat kontrasepsi meliputi IUD, suntik, pil, implant, kontap, kondom. (BKKBN, 2004)
Salah satu kontrasepsi yang populer di Indonesia adalah kontrasepsi suntik. Kontrasepsi suntik yang digunakan adalah Noretisteron Enentat (NETEN), Depo Medroksi Progesteron Acetat (DMPA) dan cyclofem. (Sarwono, 1998)
Kontrasepsi suntik memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelemahan dari kontrasepsi suntik adalah terganggunya pola haid diantaranya adalah amenorhoe, menoragia dan muncul bercak (spotting), terlambatnya kembali kesuburan setelah penghentian pemakaian, pertambahan berat badan 2 kg dari berat badan pada kunjungan pertama (Saifuddin, 2003). Pertambahan berat badan disebabkan oleh retensi cairan, bertambahnya lemak pada tubuh, dan meningkatkan selera makan (Hartanto, 2004)
Pencapaian peserta KB aktif semua metode kontrasepsi pada bulan Desember 2003 di Jawa Timur sebanyak 5.380.243 peserta atau 107,8 % dari PPM sebesar 4.989.050 yang terdiri atas 1.082.934 peserta IUD (81,60 % dari PPM sekitar 1.327.100), 18.941 peserta MOP (109,17 % dari PPM sebesar 17.350), 337.937 peserta MOW (101,60 % dari PPM sebesar 332.600), 472.500 peserta implant (78,11 % dari PPM sebesar 604.900), 2.281.238 peserta suntikan (163,06 %) dari PPM sebesar 1.030.400), 22.025 peserta kondom dan obat vaginal (7,93 % dari PPM sebesar 277.700). Pencapaian tertinggi pada suntikan sebesar 163,06 %, terendah pertama adalah kondom dan obat vaginal (7,93 %). (BKKBN, 2003)
Kegiatan pelayanan kasus efek samping pada bulan Desember 2003 di Jawa Timur, pelayanan kasus efek samping yang tertinggi dari peserta KB suntikan yaitu sebesar 2.672 kasus atau 54,8 %, berikutnya diikuti peserta IUD sebesar 951 kasus atau 19,5 %. Sedangkan jumlah kasus terendah terdapat pada peserta KB kondom yaitu sebesar 0,0 %. (BKKBN, 2003)
Berdasarkan studi pendahuluan di BPS Enny Juniati Sutorejo Surabaya didapat jumlah KB pada bulan Januari sampai dengan bulan Desember 3054 akseptor dengan data sebagai berikut : kontrasepsi suntik (85,8%), kontrsepsi pil (13,8%), kontrasepsi IUD (0,2%), kontrasepsi Implant (0,06%), kontrasepsi suntik yang mengalami peningkatan berat badan (68,6 %), spotting (19,1%), amenorhoe (21,3%), kontrasepsi pil yang mengalami peningkatan berat badan (47,3%), spotting (31,2%), amenorhoe (21,3 %), kontrasepsi IUD yang mengalami peningkatan berat badan (42,8%), spotting (28,6%), amenorhoe (28,6%), dan kontrasepsi Implant yang mengalami peningkatan berat badan (50%), spotting (50%), amenorhoe (0%)
Melihat dari uraian diatas masalah yang ada adalah tingginya penggunaan alat kontrasepsi suntik dan tingginya efek sampingnya dibanding penggunaan alat kontrasepsi yang lainnya. Efek samping kontrasepsi suntik yang paling tinggi frekuensinya yaitu peningkatan berat badan. Dan untuk mendapatkan gambaran nyata tentang kejadian peningkatan berat badan yang dialami akseptor kontrasepsi suntik maka perlu dilakukan suatu penelitian untuk mengetahui sejauh mana hubungan antara kontrasepsi suntik dengan peningkatan berat badan

1.2 Identifikasi Masalah
Sesuai dengan yang tercantum pada latar belakang, banyak faktor yang dapat mempengaruhi pemakaian KB suntik. Adapun faktor – faktor yang dapat mempengaruhi pemakaian KB suntik meliputi :
1.2.1 Umur
Merupakan usia individu yang terhitung mulai saat melahirkan sampai saat berulang tahun (Elisabeth, B.H, 1995). Pada wanita yang berusia antara 20 – 30 tahun, kontrasepsi suntik merupakan pilihan kedua setelah IUD, pada usia ini merupakan fase untuk menjarangkan kehamilan dibutuhkan suatu alat kontrasepsi yang mempunyai daya kerja lama dan salah satunya kontrasepsi suntik. Karena seorang wanita yang telah mengakhiri pemakaian kontrasepsi suntik lebih dari 60 % sudah hamil dalam waktu 1 tahun dan 90% dalam waktu 2 tahun. (hartanto, H, 1996)
Seperti dikemukakan Hargono (1985) menyatakan ±40% wanita usia 20 – 24 tahun menggunakan alat kontrasepsi pil dan suntik dan dengan semakin meningkatnya usia semakin sedikit yang menggunakan kontrasepsi pil dan suntik

1.2.2 Pendidikan
Faktor pendidikan seseorang sangat menentukan dalam pola pengambilan keputusan dan menerima informasi dari pada seseorang yang berpendidikan rendah (Broewer, 1993). Pendidikan merupakan salah satu faktor yang sangat menentukan pengetahuan dan persepsi seseorang terhadap pentingnya sesuatu hal, termasuk pentingnya keikutsertaan dalam KB. Ini disebabkan seseorang yang berpendidikan tinggi akan lebih luas pandangannya dan lebih mudah menerima ide dan tata cara kehidupan baru (BKKBN, 1980)
Dalam hubungan dengan pemakaian kontrasepsi pendidikan akseptor dapat mempengaruhi dalam hal pemilihan jenis kontrasepsi yang secara tidak langsung akan mempengaruhi kelangsungan pemakaiannya.

1.2.3 Pekerjaan
Bekerja umumnya merupakan kegiatan yang menyita waktu, bekerja bagi ibu – ibu akan mempunyai pengaruh terhadap keluarga. (Markum, AH, 1991). Pekerjaan dari peserta KB dan suami akan mempengaruhi pendapatan dan status ekonomi keluarga. Suatu keluarga dengan status ekonomi atas terdapat perilaku fertilitas yang mendorong terbentuknya keluarga besar (Singarimbun, 1996).
Status pekerjaan dapat berpengaruh terhadap keikutsertaan dalam KB karena adanya faktor pengaruh lingkungan pekerjaan yang mendorong seseorang untuk ikut dalam KB, sehingga secara tidak langsung akan mempengaruhi status dalam pemakaian kontrasepsi.

1.3 Pembatasan dan Perumusan Masalah
1.3.1 Pembatasan

Melihat dan identifikasi beberapa permasalahan yang terkait dengan status pemakaian kontrasepsi suntik sangatlah kompleks dan bervariasi, karena adanya keterbatasan waktu sehingga tidak mempelajari secara keseluruhan. Penelitian ini membatasi pada hubungan kontrasepsi dengan peningkatan berat badan sehingga data yang diperoleh dapat memberikan informasi mengenai keadaan yang sebenarnya.

1.3.2 Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan maka rumusan masalah adalah :
Apakah ada hubungan antara kontrasepsi suntik 1 bulan atau 3 bulan dengan peningkatan berat badan akseptor KB di BPS Enny Juniati tahun 2006 ?


More aboutHUBUNGAN KONTRASEPSI SUNTIK DENGAN PENINGKATAN BERAT BADAN AKSEPTOR

Cara Tepat Memilih Alat Kontrasepsi Keluarga Berencana bagi Wanita

Posted by Anonymous

Pendahuluan
Keluarga Berencana (KB) merupakan salah satu pelayanan kesehatan preventif yang paling dasar dan utama bagi wanita, meskipun tidak selalu diakui demikian. Untuk optimalisasi manfaat kesehatan KB, pelayanan tersebut harus disediakan bagi wanita dengan cara menggabungkan dan memenuhi kebutuhan pelayanan kesehatan reproduksi utama dan yang lain. Juga responsif terhadap berbagai tahap kehidupan reproduksi wanita. Peningkatan dan perluasan pelayanan keluarga berencana merupakan salah satu usaha untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian ibu yang sedemikian tinggi akibat kehamilan yang dialami oleh wanita.
Banyak wanita harus menentukan pilihan kontrasepsi yang sulit. Tidak hanya karena terbatasnya jumlah metode yang tersedia, tetapi juga karena metode-metode tersebut mungkin tidak dapat diterima sehubungan dengan kebijakan nasional KB, kesehatan individual, dan seksualitas wanita atau biaya untuk memperoleh kontrasepsi. Dalam memilih suatu metode, wanita harus menimbang berbagai faktor, termasuk status kesehatan mereka, efek samping potensial suatu metode, konsekuensi terhadap kehamilan yang tidak diinginkan, besarnya keluarga yang diinginkan, kerjasama pasangan, dan norma budaya mengenai kemampuan mempunyai anak.
Setiap metode mempunyai kelebihan dan kekurangan. Namun demikian, meskipun telah mempertimbangkan untung rugi semua kontrasepsi yang tersedia, tetap saja terdapat kesulitan untuk mengontrol fertilitas secara aman, efektif, dengan metode yang dapat diterima, baik secara perseorangan maupun budaya pada berbagai tingkat reproduksi. Tidaklah mengejutkan apabila banyak wanita merasa bahwa penggunaan kontrasepsi terkadang problematis dan mungkin terpaksa memilih metode yang tidak cocok dengan konsekuensi yang merugikan atau tidak menggunakan metode KB sama sekali.
Perasaan dan kepercayaan wanita mengenai tubuh dan seksualitasnya tidak dapat dikesampingkan dalam pengambilan keputusan untuk menggunakan kontrasepsi. Banyak wanita tidak bersedia mengubah siklus normalnya, karena takut bahwa perdarahan yang lama dapat mengubah pola hubungan seksual dan dapat mendorong suami berhubungan seks dengan wanita lain. Siklus yang memanjang atau perdarahan intermiten dapat membatasi partisipasi dalam aktivitas keagamaan maupun budaya. Oleh karena itu, pendapat suami mengenai KB cukup kuat pengaruhnya untuk menentukan penggunaan metode KB oleh istri. Karena wanita mempunyai semacam kendali apabila mereka bertanggung jawab dalam penggunaan kontrasepsi. Dilain pihak, mereka juga dapat merasa kecewa karena harus menolak permintaan seks pasangannya dan memikul beban berat dari setiap efek samping dan risiko kesehatan. Wanita mungkin takut, karena alasan kesopanan atau rasa malu, untuk berbicara dengan pasangannya, baik tentang KB maupun menolak keinginan pasangannya untuk berhubungan ataupun mempunyai anak. Akhirnya, beberapa wanita memilih menggunakan kontrasepsi tanpa sepengetahuan pasangannya.
Dalam tulisan ini akan diuraikan beberapa cara dan pemakaian alat kontrasepsi, serta kelebihan dan kekurangan masing-masing kontrasepsi. Tulisan ini diharapakan dapat memberi masukan dan menambah pengetahuan bagi wanita untuk memilih alat kontrasepsi yang tepat.

Berbagai Cara Kontrasepsi
Kontrasepsi berasal dari kata kontra berarti ‘mencegah’ atau ‘melawan’ dan konsepsi yang berarti pertemuan antara sel telur yang matang dan sel sperma yang mengakibatkan kehamilan. Maksud dari kontrasepsi adalah menghindari/mencegah terjadinya kehamilan sebagai akibat pertemuan antara sel telur yang matang dengan sel sperma tersebut. Ada dua pembagian cara kontrasepsi, yaitu cara kontrasepsi sederhana dan cara kontrasepsi moderen (metode efektif).

Cara Kontrasepsi Sederhana
Kontrasepsi sederhana terbagi lagi atas kontrasepsi tanpa alat dan kontrasepsi dengan alat/obat. Kontarsepsi sederhana tanpa alat dapat dilakukan dengan senggama terputus dan pantang berkala. Sedangkan kontarsepsi dengan alat/obat dapat dilakukan dengan menggunakan kondom, diafragma atau cup, cream, jelly, atau tablet berbusa (vaginal tablet).

Cara Kontrasepsi Moderen/Metode Efektif
Cara kontrasepsi ini dibedakan atas kontrasepsi tidak permanen dan kontrasepsi permanen. Kontrasepsi permanen dapat dilakukan dengan pil, AKDR (Alat Kontrasepsi Dalam Rahim), suntikan, dan norplant. Sedangkan cara kontrasepsi permanen dapat dilakukan dengan metode mantap, yaitu dengan operasi tubektomi (sterilisasi pada wanita) vasektomi (sterilisasi pada pria).

Senggama Terputus
Merupakan cara kontrasepsi yang paling tua. Senggama dilakukan sebagaimana biasa, tetapi pada puncak senggama, alat kemaluan pria dikeluarkan dari liang vagina dan sperma dikeluarkan di luar. Cara ini tidak dianjurkan karena sering gagal, karena suami belum tentu tahu kapan spermanya keluar.

Pantang Berkala (Sistem Kalender)
Cara ini dilakukan dengan tidak melakukan senggama pada saat istri dalam masa subur. Cara ini kurang dianjurkan karena sukar dilaksanakan dan membutuhkan waktu lama untuk ‘puasa’. Selain itu, kadang juga istri kurang terampil dalam menghitung siklus haidnya setiap bulan.

Kondom/Diafragma
Kondom merupakan salah satu pilihan untuk mencegah kehamilan yang sudah populer di masyarakat. Kondom adalah suatu kantung karet tipis, biasanya terbuat dari lateks, tidak berpori, dipakai untuk menutupi zakar yang berdiri (tegang) sebelum dimasukkan ke dalam liang vagina. Kondom sudah dibuktikan dalam penelitian di laboratorium sehingga dapat mencegah penularan penyakit seksual, termasuk HIV/AIDS.
Kondom mempunyai kelebihan antara lain mudah diperoleh di apotek, toko obat, atau supermarket dengan harga yang terjangkau dan mudah dibawa kemana-mana. Selain itu, hampir semua orang bisa memakai tanpa mengalami efek sampingan. Kondom tersedia dalam berbagai bentuk dan aroma, serta tidak berserakan dan mudah dibuang. Sedangkan diafragma adalah kondom yang digunakan pada wanita, namun kenyataannya kurang populer di masyarakat.

Cream, Jelly, atau Tablet Berbusa
Semua kontrasepsi tersebut masing-masing dimasukkan ke dalam liang vagina 10 menit sebelum melakukan senggama, yaitu untuk menghambat geraknya sel sperma atau dapat juga membunuhnya. Cara ini tidak populer di masyarakat dan biasanya mengalami keluhan rasa panas pada vagina dan terlalu banyak cairan sehingga pria kurang puas.

Pil
Pil adalah obat pencegah kehamilan yang diminum. Pil telah diperkenalkan sejak 1960. Pil diperuntukkan bagi wanita yang tidak hamil dan menginginkan cara pencegah kehamilan sementara yang paling efektif bila diminum secara teratur. Minum pil dapat dimulai segera sesudah terjadinya keguguran, setelah menstruasi, atau pada masa post-partum bagi para ibu yang tidak menyusui bayinya. Jika seorang ibu ingin menyusui, maka hendaknya penggunaan pil ditunda sampai 6 bulan sesudah kelahiran anak (atau selama masih menyusui) dan disarankan menggunakan cara pencegah kehamilan yang lain.
Pil dapat digunakan untuk menghindari kehamilan pertama atau menjarangkan waktu kehamilan-kehamilan berikutnya sesuai dengan keinginan wanita. Berdasarkan atas bukti-bukti yang ada dewasa ini, pil itu dapat diminum secara aman selama bertahun-tahun. Tetapi, bagi wanita-wanita yang telah mempunyai anak yang cukup dan pasti tidak lagi menginginkan kehamilan selanjutnya, cara-cara jangka panjang lainnya seperti spiral atau sterilisasi, hendaknya juga dipertimbangkan. Akan tetapi, ada pula keuntungan bagi penggunaan jangka panjang pil pencegah kehamilan. Misalnya, beberapa wanita tertentu merasa dirinya secara fisik lebih baik dengan menggunakan pil daripada tidak. Atau mungkin menginginkan perlindungan yang paling efektif terhadap kemungkinan hamil tanpa pembedahan. Kondisi-kondisi ini merupakan alasan-alasan yang paling baik untuk menggunakan pil itu secara jangka panjang.

Jenis-jenis Pil
Pil gabungan atau kombinasi Tiap pil mengandung dua hormon sintetis, yaitu hormon estrogen dan progestin. Pil gabungan mengambil manfaat dari cara kerja kedua hormon yang mencegah kehamilan, dan hampir 100% efektif bila diminum secara teratur.
Pil berturutan Dalam bungkusan pil-pil ini, hanya estrogen yang disediakan selama 14—15 hari pertama dari siklus menstruasi, diikuti oleh 5—6 hari pil gabungan antara estrogen dan progestin pada sisa siklusnya. Ketepatgunaan dari pil berturutan ini hanya sedikit lebih rendah daripada pil gabungan, berkisar antara 98—99%. Kelalaian minum 1 atau 2 pil berturutan pada awal siklus akan dapat mengakibatkan terjadinya pelepasan telur sehingga terjadi kehamilan. Karena pil berturutan dalam mencegah kehamilan hanya bersandar kepada estrogen maka dosis estrogen harus lebih besar dengan kemungkinan risiko yang lebih besar pula sehubungan dengan efek-efek sampingan yang ditimbulkan oleh estrogen.
Pil khusus – Progestin (pil mini) Pil ini mengandung dosis kecil bahan progestin sintetis dan memiliki sifat pencegah kehamilan, terutama dengan mengubah mukosa dari leher rahim (merubah sekresi pada leher rahim) sehingga mempersulit pengangkutan sperma. Selain itu, juga mengubah lingkungan endometrium (lapisan dalam rahim) sehingga menghambat perletakan telur yang telah dibuahi.
Kontra indikasi Pemakaian Pil Kontrasepsi pil tidak boleh diberikan pada wanita yang menderita hepatitis, radang pembuluh darah, kanker payudara atau kanker kandungan, hipertensi, gangguan jantung, varises, perdarahan abnormal melalui vagina, kencing manis, pembesaran kelenjar gondok (struma), penderita sesak napas, eksim, dan migraine (sakit kepala yang berat pada sebelah kepala).
Efek Samping Pemakaian Pil Pemakaian pil dapat menimbulkan efek samping berupa perdarahan di luar haid, rasa mual, bercak hitam di pipi (hiperpigmentasi), jerawat, penyakit jamur pada liang vagina (candidiasis), nyeri kepala, dan penambahan berat badan.
AKDR (Alat Kontrasepsi Dalam Rahim) AKDR atau IUD (Intra Uterine Device) bagi banyak kaum wanita merupakan alat kontrasepsi yang terbaik. Alat ini sangat efektif dan tidak perlu diingat setiap hari seperti halnya pil. Bagi ibu yang menyusui, AKDR tidak akan mempengaruhi isi, kelancaran ataupun kadar air susu ibu (ASI). Namun, ada wanita yang ternyata belum dapat menggunakan sarana kontrasepsi ini. Karena itu, setiap calon pemakai AKDR perlu memperoleh informasi yang lengkap tentang seluk-beluk alat kontrasepsi ini.

Jenis-jenis AKDR di Indonesia
Copper-T AKDR berbentuk T, terbuat dari bahan polyethelen di mana pada bagian vertikalnya diberi lilitan kawat tembaga halus. Lilitan kawat tembaga halus ini mempunyai efek antifertilisasi (anti pembuahan) yang cukup baik.
Copper-7 AKDR ini berbentuk angka 7 dengan maksud untuk memudahkan pemasangan. Jenis ini mempunyai ukuran diameter batang vertikal 32 mm dan ditambahkan gulungan kawat tembaga (Cu) yang mempunyai luas permukaan 200 mm2, fungsinya sama seperti halnya lilitan tembaga halus pada jenis Coper-T.
Multi Load AKDR ini terbuat dari dari plastik (polyethelene) dengan dua tangan kiri dan kanan berbentuk sayap yang fleksibel. Panjangnya dari ujung atas ke bawah 3,6 cm. Batangnya diberi gulungan kawat tembaga dengan luas permukaan 250 mm2 atau 375 mm2 untuk menambah efektivitas. Ada 3 ukuran multi load, yaitu standar, small (kecil), dan mini.
Lippes Loop AKDR ini terbuat dari bahan polyethelene, bentuknya seperti spiral atau huruf S bersambung. Untuk meudahkan kontrol, dipasang benang pada ekornya. Lippes Loop terdiri dari 4 jenis yang berbeda menurut ukuran panjang bagian atasnya. Tipe A berukuran 25 mm (benang biru), tipe B 27,5 mm 9 (benang hitam), tipe C berukuran 30 mm (benang kuning), dan 30 mm (tebal, benang putih) untuk tipe D. Lippes Loop mempunyai angka kegagalan yang rendah. Keuntungan lain dari pemakaian spiral jenis ini ialah bila terjadi perforasi jarang menyebabkan luka atau penyumbatan usus, sebab terbuat dari bahan plastik.
Pemasangan AKDR Prinsip pemasangan adalah menempatkan AKDR setinggi mungkin dalam rongga rahim (cavum uteri). Saat pemasangan yang paling baik ialah pada waktu mulut peranakan masih terbuka dan rahim dalam keadaan lunak. Misalnya, 40 hari setelah bersalin dan pada akhir haid. Pemasangan AKDR dapat dilakukan oleh dokter atau bidan yang telah dilatih secara khusus. Pemeriksaan secara berkala harus dilakukan setelah pemasangan satu minggu, lalu setiap bulan selama tiga bulan berikutnya. Pemeriksaan selanjutnya dilakukan setiap enam bulan sekali.

Kontra indikasi pemasangan AKDR:
Belum pernah melahirkan
Adanya perkiraan hamil
Kelainan alat kandungan bagian dalam seperti: perdarahan yang tidak normal dari alat kemaluan, perdarahan di leher rahim, dan kanker rahim.
Keluhan-keluhan pemakai AKDR Keluhan yang dijumpai pada penggunaan AKDR adalah terjadinya sedikit perdarahan, bisa juga disertai dengan mules yang biasanya hanya berlangsung tiga hari. Tetapi, jika perdarahan berlangsung terus-menerus dalam jumlah banyak, pemakaian AKDR harus dihentikan. Pengaruh lainnya terjadi pada perangai haid. Misalnya, pada permulaan haid darah yang keluar jumlahnya lebih sedikit daripada biasa, kemudian secara mendadak jumlahnya menjadi banyak selama 1--2 hari. Selanjutnya kembali sedikit selama beberapa hari. Kemungkinan lain yang terjadi adalah kejang rahim (uterine cramp), serta rasa tidak enak pada perut bagian bawah. Hal ini karena terjadi kontraksi rahim sebagai reaksi terhadap AKDR yang merupakan benda asing dalam rahim. Dengan pemberian obat analgetik keluhan ini akan segera teratasi. Selain hal di atas, keputihan dan infeksi juga dapat timbul selama pemakaian AKDR.
Ekspulsi Selain keluhan-keluhan di atas, ekspulsi juga sering dialami pemakai AKDR, yaitu AKDR keluar dari rahim. Hal ini biasanya terjadi pada waktu haid, disebabkan ukuran AKDR yang terlalu kecil. Ekspulsi ini juga dipengaruhi oleh jenis bahan yang dipakai. Makin elastis sifatnya makin besar kemungkinan terjadinya ekspulsi. Sedangkan jika permukaan AKDR yang bersentuhan dengan rahim (cavum uteri) cukup besar, kemungkinan terjadinya ekspulsi kecil.
Lama Pemakaian AKDR Sampai berapa lama AKDR dapat dipakai? Hal ini sering menjadi pertanyaan. Sebenarnya, AKDR ini dapat terus dipakai selama pemakai merasa cocok dan tidak ada keluhan. Untuk AKDR yang mengandung tembaga, hanya mampu berfungsi selama 2--5 tahun, tergantung daya dan luas permukaan tembaganya. Setelah itu harus diganti dengan yang baru.

Suntikan Kontrasepsi suntikan
Pencegah kehamilan yang pemakaiannya dilakukan dengan jalan menyuntikkan obat tersebut pada wanita subur. Obat ini berisi Depo Medorxi Progesterone Acetate (DMPA). Penyuntikan dilakukan pada otot (intra muskuler) di bokong (gluteus) yang dalam atau pada pangkal lengan (deltoid).
Cara pemakaian Cara ini baik untuk wanita yang menyusui dan dipakai segera setelah melahirkan. Suntikan pertama dapat diberikan dalam waktu empat minggu setelah melahirkan. Suntikan kedua diberikan setiap satu bulan atau tiga bulan berikutnya.
Kontra indikasi Kontrasepsi suntikan tidak diperbolehkan untuk wanita yang menderita penyakit jantung, hipertensi, hepatitis, kencing manis, paru-paru, dan kelainan darah.
Efek samping kontrasepsi suntikan
Tidak datang haid (amenorrhoe)
Perdarahan yang mengganggu
Lain-lain: sakit kepala, mual, muntah, rambut rontok, jerawat, kenaikan berat badan, hiperpigmentasi.
Norplant Norplant merupakan alat kontrasepsi jangka panjang yang bisa digunakan untuk jangka waktu 5 tahun. Norplant dipasang di bawah kulit, di atas daging pada lengan atas wanita. Alat tersebut terdiri dari enam kapsul lentur seukuran korek api yang terbuat dari bahan karet silastik. Masing-masing kapsul mengandung progestin levonogestrel sintetis yang juga terkandung dalam beberapa jenis pil KB. Hormon ini lepas secara perlahan-lahan melalui dinding kapsul sampai kapsul diambil dari lengan pemakai. Kapsul-kapsul ini bisa terasa dan kadangkala terlihat seperti benjolan atau garis-garis. ( The Boston’s Book Collective, The Our Bodies, Ourselves, 1992)
Norplant sama artinya dengan implant. Norplant adalah satu-satunya merek implant yang saat ini beredar di Indonesia. Oleh karena itu, sering juga digunakan untuk menyebut implant. Di beberapa daerah, implant biasa disebut dengan susuk.
Indonesia merupakan negara pemula dalam penerimaan norplant yang dimulai pada 1987. Sebagai negara pelopor, Indonesia belum mempunyai referensi mengenai efek samping dan permasalahan yang muncul sebagai akibat pemakaian norplant. Pada 1993, pemakai norplant di Indonesia tercatat sejumlah 800.000 orang.
Efektivitas norplant Efektivitas norplant cukup tinggi. Tingkat kehamilan yang ditimbulkan pada tahun pertama adalah 0,2%, pada tahun kedua 0,5%, pada tahun ketiga 1,2%, dan 1,6% pada tahun keempat. Secara keseluruhan, tingkat kehamilan yang mungkin ditimbulkan dalam jangka waktu lima tahun pemakaian adalah 3,9 persen. Wanita dengan berat badan lebih dari 75 kilogram mempunyai risiko kegagalan yang lebih tinggi sejak tahun ketiga pemakaian (5,1 persen).
Yang tidak diperbolehkan menggunakan norplant Wanita yang tidak diperbolehkan menggunakan norplant adalah mereka yang menderita penyakit diabetes, kolesterol tinggi, tekanan darah tinggi, migrain, epilepsi, benjolan pada payudara, depresi mental, kencing batu, penyakit jantung, atau ginjal. (The Boston Women’s Book Collective, 1992)
Pemasangan norplant Pemasangan norplant biasanya dilakukan di bagian atas (bawah kulit) pada lengan kiri wanita (lengan kanan bagi yang kidal), agar tidak mengganggu kegiatan. Norplant dapat dipasang pada waktu menstruasi atau setelah melahirkan oleh dokter atau bidan yang terlatih. Sebelum pemasangan dilakukan pemeriksaan kesehatan terlebih dahulu dan juga disuntik untuk mencegah rasa sakit. Luka bekas pemasangan harus dijaga agar tetap bersih, kering, dan tidak boleh kena air selama 5 hari. Pemeriksaan ulang dilakukan oleh dokter seminggu setelah pemasangan. Setelah itu, setahun sekali selama pemakaian dan setelah 5 tahun norplant harus diambil/dilepas.
Kelebihan dan kekurangan norplant Kelebihan norplant adalah masa pakainya cukup lama, tidak terpengaruh faktor lupa sebagaimana kontrasepsi pil/suntik, dan tidak mengganggu kelancaran air susu ibu. Sedangkan kekurangannya adalah bahwa pemasangan hanya bisa dilakukan oleh dokter atau bidan yang terlatih dan kadang-kadang menimbulkan efek samping, misalnya spotting atau menstruasi yang tidak teratur. Selain itu, kadang-kadang juga menimbulkan berat badan bertambah.

Tubektomi (Sterilisasi pada Wanita)
Tubektomi adalah setiap tindakan pada kedua saluran telur wanita yang mengakibatkan wanita tersebut tidak akan mendapatkan keturunan lagi. Sterilisasi bisa dilakukan juga pada pria, yaitu vasektomi. Dengan demikian, jika salah satu pasangan telah mengalami sterilisasi, maka tidak diperlukan lagi alat-alat kontrasepsi yang konvensional. Cara kontrasepsi ini baik sekali, karena kemungkinan untuk menjadi hamil kecil sekali. Faktor yang paling penting dalam pelaksanaan sterilisasi adalah kesukarelaan dari akseptor. Dengan demikia, sterilisasi tidak boleh dilakukan kepada wanita yang belum/tidak menikah, pasangan yang tidak harmonis atau hubungan perkawinan yang sewaktu-waktu terancam perceraian, dan pasangan yang masih ragu menerima sterilisasi. Yang harus dijadikan patokan untuk mengambil keputusan untuk sterilisasi adalah jumlah anak dan usia istri. Misalnya, untuk usia istri 25--30 tahun, jumlah anak yang hidup harus 3 atau lebih.

Penggunaan Kontrasepsi Menurut Umur
Umur ibu kurang dari 20 tahun:
Penggunaan prioritas kontrasepsi pil oral.
Penggunaan kondom kurang menguntungkan, karena pasangan muda frekuensi bersenggama tinggi sehingga akan mempunyai kegagalan tinggi.
Bagi yang belum mempunyai anak, AKDR kurang dianjurkan.
Umur di bawah 20 tahun sebaiknya tidak mempunyai anak dulu.

Umur ibu antara 20--30 tahun
Merupakan usia yang terbaik untuk mengandung dan melahirkan.
Segera setelah anak pertama lahir, dianjurkan untuk memakai spiral sebagai pilihan utama. Pilihan kedua adalah norplant atau pil.

Umur ibu di atas 30 tahun
Pilihan utama menggunakan kontrasepsi spiral atau norplant. Kondom bisa merupakan pilihan kedua.

Dalam kondisi darurat, metode mantap dengan cara operasi (sterlilisasi) dapat dipakai dan relatif lebih baik dibandingkan dengan spiral, kondom, maupun pil dalam arti mencegah.
Beberapa Metode Kontasepsi Baru Dengan adanya metode kontrasepsi yang baru, berarti pula memberikan lebih banyak pilihan, dapat membantu mengatasi beberapa kendala pemakaian kontrasepsi. Meskipun demikian, pengembangan kontrasepsi baru untuk menambah yang sudah ada sangat terasa kurang membawa perubahan yang positif dan inovatif. Beberapa metode yang sedang diuji klinik antara lain:
Cincin kontrasepsi
Cincin ini dimasukkan ke dalam vagina, bentuknya seperti kue donat, dan mengandung steroid, yaitu progestin atau progestin ditambah estrogen, yang dilepas ke dalam aliran darah. Cincin kontrasepsi mengandung dosis hormon yang lebih rendah dibanding dengan kontrasepsi oral. Wanita dapat memasukkan dan mengeluarkan cincin ini sendiri.

Vaksin antifertilitas reversibel
Vaksin ini menyebabkan antibodi berinteraksi dengan human chrrionic gonadotropin (HCG), suatu hormon yang memelihara kehamilan. Tanpa HCG, lapisan uterus lepas dengan membawa telur yang sudah dibuahi sehingga terjadi menstruasi.

Norplant II
Norplant II memiliki kelebihan dibanding dengan norplant yang ada sekarang, karena norplant II hanya memerlukan dua implantasi subdermal. Dengan demikian, lebih mudah memasukkan dan mengeluarkannya.
Suntikan Kontrasepsi ini menggunakan mikrosfero atau mikrokapsul. Injeksi terbuat dari satu atau lebih hormon di dalam kapsul yang dapat dibiodegrasi, yang melepaskan hormon dan menghambat ovulasi. Satu suntikan dapat melindungi satu, tiga, atau enam bulan, tergantung dari jenis komposisi kimianya.

Implantasi Transdermal
Implantasi transdermal menyebabkan pelepasan kontrasepsi steroid yang lambat dan teratur ke aliran darah melalui kulit. Wanita dapat menempatkan implant tersebut pada tubuh dan melepaskannya sesuai keinginan. Pada salah satu jenis implantasi transdermal, seorang wanita menggunakan tiga implantasi selama tiga minggu. Setiap implantasi efektif selama tujuh hari. Pada minggu berikutnya, digunakan implantasi plasebo sehingga terjadi menstruasi.

IUD bentuk T yang baru
IUD ini melepaskan lenovorgegestrel dengan konsentrasi yang rendah selama minimal lima tahun. Dari hasil penelitian menunjukkan efektivitas yang tinggi dalam mencegah kehamilan yang tidak direncanakan maupun perdarahan menstruasi. Kerugian metode ini adalah tambahan terjadinya efek samping hormonal dan amenore.

Kondom wanita
Kondom ini dikendalikan oleh wanita dan mengurangi risiko terkena penyakit menular seksual. Dari uji klinik menunjukkan bahwa kelicinan, kebocoran, kerusakan, dan hambatan efektivitasnya lebih baik dibandingkan kondom pria.

Kesimpulan dan Saran
Dalam memilih alat kontrasepsi yang tepat, sebaiknya calon akseptor diberi penjelasan tentang keuntungan dan kerugian masing-masing alat kontrasepsi, sehingga diharapkan dapat memperkecil terjadi kehamilan serta mengurangi efek samping dari alat kontrasepsi tersebut.
Penelitian yang didasarkan pada hasil mengenai manfaat dan kepercayaan akseptor yang berkaitan dengan seksualitas serta penggunaan kontrasepsi, harus dilakukan terlebih dahulu sebelum suatu metode kontrasepsi dipasarkan dan dianggap sebagai pilihan tambahan.
Untuk peningkatan dan perluasan pelayanannya, keluarga berencana dapat dimasukkan ke dalam pelayanan kesehatan reproduksi serta pelayanan kesehatan primer yang lain agar tanggap terhadap seluruh kebutuhan kesehatan reproduksi wanita. Di dalam suatu program yang terintegrasi, harus terdapat metode kontrasepsi yang dapat diterima, aman, dan efektif serta dapat dipakai wanita pada berbagai tahap kehidupan reproduksi. Metode kontrasepsi juga harus dapat diterima secara seksual maupun sosial tanpa adanya pengaruh negatif terhadap kesehatan dan kesejahteraan secara umum.
Apabila tersedia pilihan metode kontrasepsi yang lebih bervariasi dan pelayanan yang lebih responsif terhadap keinginan serta kebutuhan pelayanan kesehatan reproduksi wanita maka tujuan keluarga berencana akan mulai tercapai. Dengan demikian, diharapkan wanita merasa terpanggil untuk meningkatkan kesadaran hak seksual dan reproduksinya sebagai langkah utama menuju kesehatan yang utuh.

Daftar Pustaka
Sarwono, Sarlito Wirawan, 1979. Herman Memilih Sterilisasi, Perkumpulan untuk Sterilisasi Sukarela Indonesia, Jakarta.
Myrnawati, 1979. Mengapa Mereka Memilih Sterilisasi, Perkumpulan untuk Sterilisasi Sukarela Indonesia, Jakarta.
Sosrohadikoesoemo, Soemiani , 1984. Pil, Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional Propinsi Jawa Tengah Bidang Kependudukan.
Koblinsky, Marge; Timyan, Judith; Gay, Jill, 1997. Kesehatan Wanita Sebuah Perspektif Global, Gajah Mada University Press.
Yuarsi, Susi Eja, 1997. Norplant, Penerimaan Program dan Layanan Lanjutan, Pusat Penelitian Kependudukan, Universitas Gajah Mada.
Jakarta, Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional,1980. Pedoman Praktis Pelayanan Kontrasepsi Petugas Paramedis.
Jakarta, Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional,1980. Alat Kontrasepsi Dalam Rahim.
Melati, Mawar, 1985. Alat Kontrasepsi Dalam Rahim, MajalahWarta Konsumen, Edisi Tahun ke XII , No.138, hal 5-6.
NN, 1980. Alat Kontrasepsi Dalam Rahim, Majalah Bina Sejahtera, No.77, hal 20-23.
More aboutCara Tepat Memilih Alat Kontrasepsi Keluarga Berencana bagi Wanita