PERDARAHAN UTERUS DISFUNGSIONAL DAN STRATEGI PENATALAKSANAANNYA

Posted by Anonymous

ABSTRAK

Perdarahan uterus disfungsional (dysfunctional uterine bleeding/DUB) adalah diagnosis yang dibuat setelah diagnosis lainnya disingkirkan (diagnosis eksklusi). Pemeriksaan abdomen dan pelvis serta kuretase uterus yang adekuat, histeroskopi atau setidaknya biopsi endometrium sangat penting untuk menyingkirkan penyakit organik pada uterus. Perdarahan uterus disfungsional paling sering terjadi pada awal dan akhir masa menstruasi, tetapi dapat terjadi pada usia manapun.

Tujuan pengobatan adalah untuk mengendalikan perdarahan akut, episode perdarahan dimasa datang, dan mencegah dampak anovulasi yang serius pada jangka panjang yaitu kanker endometrium. Pengobatan utama adalah terapi medis meskipun intervensi bedah dibutuhkan pada sebagian kasus. Jika perdarahan berat, dan / atau berulang, atau pengobatan medis gagal, maka diperlukan evaluasi ulang.

DUB pada remaja disebabkan oleh immaturitas hipothalamus dan pituitary, dan siklus menstruasi mungkin anovulatorik. Pada gadis remaja, penyakit organik jarang terjadi dan DUB biasanya membaik secara spontan. Itulah sebabnya mengapa ditatalaksana secara konservatif dan kuretase sering ditunda.

Pada pertengahan usia reproduksi ( 20 – 39 tahun ), penyakit organik jinak sering terjadi, dan kuretase biasanya dilakukan untuk menyingkirkan penyulit kehamilan dan penyakit lainnya. Terapi konservatif biasanya diindikasikan, meskipun histerektomi dapat dilakukan jika perdarahan berat atau berulang dan pasien tidak ingin memiliki keturunan lagi.

DUB perimenopause disebabkan oleh menurunnya jumlah folikel ovarium dan meningkatnya resistensi folikel ovarium terhadap stimulasi gonadotropin. Terdapat kemungkinan keganasan. Jadi, wanita perimenopause dengan DUB harus selalu diperiksa dengan kuretase atau histeroskopi tanpa penundaan. Meskipun terapi konservatif dapat dicoba sebagai tatalaksana sementara, seringkali diperlukna histerektomi.

Kata Kunci : Perdarahan uterus disfungsional, kuretase, histeroskopi, dan progestogen.

PENDAHULUAN

Gangguan pola menstruasi adalah tampilan klinis yang umum. Perdarahan uterus disfungsional didefinisikan sebagai perdarahan endometrium abnormal dan berlebihan tanpa adanya patologi struktural. Perdarahan ini juga didefinisikan sebagai menstruasi yang banyak dan / atau tidak teratur tanpa adanya patologi pelvik yang diketahui, kehamilan atau gangguan perdarahan umum. DUB umum terjadi pada awal dan akhir usia reproduksi, dimana sering terjadi DUB anovulatori. Selama periode ini, DUB terjadi sekunder akibat penurunan esterogen. DUB dapat disebabkan oleh ketidakseimbangan endokrin atau dapat terjadi pada siklus menstruasi normal ( DUB ovulatori ).

Biaya sosial dan ekonomi DUB cukup besar. Sekitar sepertiga histerektomi dilakukan akibat gangguan menstruasi saja. Pada artikel ini, tatalaksana klinis DUB ditelaah. Pendekatan terkini dalam pengobatan DUB akan dibahas.

Karena diagnosis DUB didasarkan pada penyingkiran penyebab patologis, maka penting untuk mengetahui diagnosis banding DUB. Hingga 40 persen wanita dengan DUB pada akhirnya akan diperoleh diagnosis lain jika diselidiki secara intensif. Morbiditas psikiatrik juga berhubungan dengan DUB. Penelitian komunitas menunjukkan bahwa wanita yang memiliki skor tinggi pada skor psikiatrik lebih sering mengeluhkan gangguan menstruasi.

DUB meliputi setiap kondisi perdarahan uterus abnormal tanpa adanya kehamilan, neoplasma, infeksi, atau lesi intra uterin lainnya. Perdarahan ini paling sering sebagai akibat disfungsi endokrinologis yang menghambat ovulasi normal.

Tabel 1. Diagnosis banding perdarahan uterus disfungsional.

Faktor Hormonal

  • Anovulasi

  • Sindroma ovarium polikistik

  • Disfungsi thyroid

  • Depot medroksiprogesteron asetat

  • Kontrasepsi oral

  • Implan levonorgestrel.

Penyulit Kehamilan

  • Abortus imminens atau spontan

  • Kehamilan ektopik

  • Abortus elektif inkompletus

  • Endometritis post abortus

Patologi Lokal ( Vagina, Serviks, Uterus )

  • Penyakit menular seksual

  • Benda asing ( seperti tampon, alat intrauterin )

  • Polip ( Serviks, uterus )

  • Trauma

  • Displasia atau keganasan

Diatesis Hemoragik

  • Trombositopenia

  • Disfungsi trombosit

  • Defisiensi faktor pembekuan turunan

  • Defisiensi vitamin K

  • Terapi antikoagulan

Koagulopati konsumsi
More about → PERDARAHAN UTERUS DISFUNGSIONAL DAN STRATEGI PENATALAKSANAANNYA

TINGKAT STRES DAN STRATEGI KOPING MENGHADAPI STRES

Posted by Anonymous

Abstract : The purpose of this research was to evaluate relationship between stress level with coping strategy and to find out factors affecting stress level among students living in dormitory of IPB. The study site were at Asrama Putri (Girls Dormitory) and Asrama Putra (Boys Dormitory) Bogor Agricultural University. The data was collected from August to October 2005. The primary data included individual characteristic, the resources of stress, level of stress, coping strategy to deal with stress and also the relation between stress level and coping strategy of the student who lived in Asrama Putra (Boys Dormitory) and Asrama Putri (Girls Dormitory) Bogor Agricultural university. The results showed the things that become the factors of stress for new student college, which are never lived out from home before, too much roommates, difficult to interact with surrounding, personal problems, health problems, homesick and financial problems. Most of respondent was experienced high stress level, which is the respondent who get the tendency of emotional stress is larger than they are who get physical stress as a symptoms. The respondent was tended to do problem-focused coping strategy than emotional-focused coping strategy.

Keywords : stress, coping strategy, personality, socialize, satisfaction

Abstrak : Adanya perbedaan latar belakang sosio-demografi, tingkat aktivitas dan tingkat kemampuan adaptasi diduga akan menyebabkan adanya keluhan stres. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan data mengenai strategi koping mahasiswa dalam menghadapi stres serta memperoleh hubungan antara tingkat stres dengan strategi koping pada mahasiswa TPB Tahun Akademik 2005/2006 yang tinggal di Asrama Putra dan Asrama Putri Kampus IPB Darmaga. Koping adalah perilaku yang terlihat dan tersembunyi yang dilakukan untuk mengurangi atau menghilangkan ketegangan psikologik dan kondisi yang penuh stres. Penelitian dilakukan sejak bulan Agustus hingga Oktober 2005. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hal-hal yang menjadi sumber stres bagi mahasiswa baru antara lain belum pernah mengalami kost sebelumnya, terlalu banyaknya teman sekamar, kesulitan beradaptasi dengan lingkungan, masalah pribadi, kesulitan berteman memahami materi kuliah, masalah kesehatan, homesick (rindu keluarga) dan masalah keuangan. Sebagian besar responden mengalami stress tingkat tinggi, persentase responden yang mengalami gejala stress emosional lebih besar dibandingkan yang mengalami gejala stress fisik. Responden cenderung melakukan strategi problem-focused coping dibandingkan emotional-focused coping. Tingkat kepuasan yang dirasakan oleh responden berada pada kategori sedang.

Kata Kunci : stres, strategi koping, kepribadian, sosialisasi, kepuasan

More about → TINGKAT STRES DAN STRATEGI KOPING MENGHADAPI STRES

Cara Tepat Memilih Alat Kontrasepsi Keluarga Berencana bagi Wanita

Posted by Anonymous

Pendahuluan
Keluarga Berencana (KB) merupakan salah satu pelayanan kesehatan preventif yang paling dasar dan utama bagi wanita, meskipun tidak selalu diakui demikian. Untuk optimalisasi manfaat kesehatan KB, pelayanan tersebut harus disediakan bagi wanita dengan cara menggabungkan dan memenuhi kebutuhan pelayanan kesehatan reproduksi utama dan yang lain. Juga responsif terhadap berbagai tahap kehidupan reproduksi wanita. Peningkatan dan perluasan pelayanan keluarga berencana merupakan salah satu usaha untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian ibu yang sedemikian tinggi akibat kehamilan yang dialami oleh wanita.
Banyak wanita harus menentukan pilihan kontrasepsi yang sulit. Tidak hanya karena terbatasnya jumlah metode yang tersedia, tetapi juga karena metode-metode tersebut mungkin tidak dapat diterima sehubungan dengan kebijakan nasional KB, kesehatan individual, dan seksualitas wanita atau biaya untuk memperoleh kontrasepsi. Dalam memilih suatu metode, wanita harus menimbang berbagai faktor, termasuk status kesehatan mereka, efek samping potensial suatu metode, konsekuensi terhadap kehamilan yang tidak diinginkan, besarnya keluarga yang diinginkan, kerjasama pasangan, dan norma budaya mengenai kemampuan mempunyai anak.
Setiap metode mempunyai kelebihan dan kekurangan. Namun demikian, meskipun telah mempertimbangkan untung rugi semua kontrasepsi yang tersedia, tetap saja terdapat kesulitan untuk mengontrol fertilitas secara aman, efektif, dengan metode yang dapat diterima, baik secara perseorangan maupun budaya pada berbagai tingkat reproduksi. Tidaklah mengejutkan apabila banyak wanita merasa bahwa penggunaan kontrasepsi terkadang problematis dan mungkin terpaksa memilih metode yang tidak cocok dengan konsekuensi yang merugikan atau tidak menggunakan metode KB sama sekali.
Perasaan dan kepercayaan wanita mengenai tubuh dan seksualitasnya tidak dapat dikesampingkan dalam pengambilan keputusan untuk menggunakan kontrasepsi. Banyak wanita tidak bersedia mengubah siklus normalnya, karena takut bahwa perdarahan yang lama dapat mengubah pola hubungan seksual dan dapat mendorong suami berhubungan seks dengan wanita lain. Siklus yang memanjang atau perdarahan intermiten dapat membatasi partisipasi dalam aktivitas keagamaan maupun budaya. Oleh karena itu, pendapat suami mengenai KB cukup kuat pengaruhnya untuk menentukan penggunaan metode KB oleh istri. Karena wanita mempunyai semacam kendali apabila mereka bertanggung jawab dalam penggunaan kontrasepsi. Dilain pihak, mereka juga dapat merasa kecewa karena harus menolak permintaan seks pasangannya dan memikul beban berat dari setiap efek samping dan risiko kesehatan. Wanita mungkin takut, karena alasan kesopanan atau rasa malu, untuk berbicara dengan pasangannya, baik tentang KB maupun menolak keinginan pasangannya untuk berhubungan ataupun mempunyai anak. Akhirnya, beberapa wanita memilih menggunakan kontrasepsi tanpa sepengetahuan pasangannya.
Dalam tulisan ini akan diuraikan beberapa cara dan pemakaian alat kontrasepsi, serta kelebihan dan kekurangan masing-masing kontrasepsi. Tulisan ini diharapakan dapat memberi masukan dan menambah pengetahuan bagi wanita untuk memilih alat kontrasepsi yang tepat.

Berbagai Cara Kontrasepsi
Kontrasepsi berasal dari kata kontra berarti ‘mencegah’ atau ‘melawan’ dan konsepsi yang berarti pertemuan antara sel telur yang matang dan sel sperma yang mengakibatkan kehamilan. Maksud dari kontrasepsi adalah menghindari/mencegah terjadinya kehamilan sebagai akibat pertemuan antara sel telur yang matang dengan sel sperma tersebut. Ada dua pembagian cara kontrasepsi, yaitu cara kontrasepsi sederhana dan cara kontrasepsi moderen (metode efektif).

Cara Kontrasepsi Sederhana
Kontrasepsi sederhana terbagi lagi atas kontrasepsi tanpa alat dan kontrasepsi dengan alat/obat. Kontarsepsi sederhana tanpa alat dapat dilakukan dengan senggama terputus dan pantang berkala. Sedangkan kontarsepsi dengan alat/obat dapat dilakukan dengan menggunakan kondom, diafragma atau cup, cream, jelly, atau tablet berbusa (vaginal tablet).

Cara Kontrasepsi Moderen/Metode Efektif
Cara kontrasepsi ini dibedakan atas kontrasepsi tidak permanen dan kontrasepsi permanen. Kontrasepsi permanen dapat dilakukan dengan pil, AKDR (Alat Kontrasepsi Dalam Rahim), suntikan, dan norplant. Sedangkan cara kontrasepsi permanen dapat dilakukan dengan metode mantap, yaitu dengan operasi tubektomi (sterilisasi pada wanita) vasektomi (sterilisasi pada pria).

Senggama Terputus
Merupakan cara kontrasepsi yang paling tua. Senggama dilakukan sebagaimana biasa, tetapi pada puncak senggama, alat kemaluan pria dikeluarkan dari liang vagina dan sperma dikeluarkan di luar. Cara ini tidak dianjurkan karena sering gagal, karena suami belum tentu tahu kapan spermanya keluar.

Pantang Berkala (Sistem Kalender)
Cara ini dilakukan dengan tidak melakukan senggama pada saat istri dalam masa subur. Cara ini kurang dianjurkan karena sukar dilaksanakan dan membutuhkan waktu lama untuk ‘puasa’. Selain itu, kadang juga istri kurang terampil dalam menghitung siklus haidnya setiap bulan.

Kondom/Diafragma
Kondom merupakan salah satu pilihan untuk mencegah kehamilan yang sudah populer di masyarakat. Kondom adalah suatu kantung karet tipis, biasanya terbuat dari lateks, tidak berpori, dipakai untuk menutupi zakar yang berdiri (tegang) sebelum dimasukkan ke dalam liang vagina. Kondom sudah dibuktikan dalam penelitian di laboratorium sehingga dapat mencegah penularan penyakit seksual, termasuk HIV/AIDS.
Kondom mempunyai kelebihan antara lain mudah diperoleh di apotek, toko obat, atau supermarket dengan harga yang terjangkau dan mudah dibawa kemana-mana. Selain itu, hampir semua orang bisa memakai tanpa mengalami efek sampingan. Kondom tersedia dalam berbagai bentuk dan aroma, serta tidak berserakan dan mudah dibuang. Sedangkan diafragma adalah kondom yang digunakan pada wanita, namun kenyataannya kurang populer di masyarakat.

Cream, Jelly, atau Tablet Berbusa
Semua kontrasepsi tersebut masing-masing dimasukkan ke dalam liang vagina 10 menit sebelum melakukan senggama, yaitu untuk menghambat geraknya sel sperma atau dapat juga membunuhnya. Cara ini tidak populer di masyarakat dan biasanya mengalami keluhan rasa panas pada vagina dan terlalu banyak cairan sehingga pria kurang puas.

Pil
Pil adalah obat pencegah kehamilan yang diminum. Pil telah diperkenalkan sejak 1960. Pil diperuntukkan bagi wanita yang tidak hamil dan menginginkan cara pencegah kehamilan sementara yang paling efektif bila diminum secara teratur. Minum pil dapat dimulai segera sesudah terjadinya keguguran, setelah menstruasi, atau pada masa post-partum bagi para ibu yang tidak menyusui bayinya. Jika seorang ibu ingin menyusui, maka hendaknya penggunaan pil ditunda sampai 6 bulan sesudah kelahiran anak (atau selama masih menyusui) dan disarankan menggunakan cara pencegah kehamilan yang lain.
Pil dapat digunakan untuk menghindari kehamilan pertama atau menjarangkan waktu kehamilan-kehamilan berikutnya sesuai dengan keinginan wanita. Berdasarkan atas bukti-bukti yang ada dewasa ini, pil itu dapat diminum secara aman selama bertahun-tahun. Tetapi, bagi wanita-wanita yang telah mempunyai anak yang cukup dan pasti tidak lagi menginginkan kehamilan selanjutnya, cara-cara jangka panjang lainnya seperti spiral atau sterilisasi, hendaknya juga dipertimbangkan. Akan tetapi, ada pula keuntungan bagi penggunaan jangka panjang pil pencegah kehamilan. Misalnya, beberapa wanita tertentu merasa dirinya secara fisik lebih baik dengan menggunakan pil daripada tidak. Atau mungkin menginginkan perlindungan yang paling efektif terhadap kemungkinan hamil tanpa pembedahan. Kondisi-kondisi ini merupakan alasan-alasan yang paling baik untuk menggunakan pil itu secara jangka panjang.

Jenis-jenis Pil
Pil gabungan atau kombinasi Tiap pil mengandung dua hormon sintetis, yaitu hormon estrogen dan progestin. Pil gabungan mengambil manfaat dari cara kerja kedua hormon yang mencegah kehamilan, dan hampir 100% efektif bila diminum secara teratur.
Pil berturutan Dalam bungkusan pil-pil ini, hanya estrogen yang disediakan selama 14—15 hari pertama dari siklus menstruasi, diikuti oleh 5—6 hari pil gabungan antara estrogen dan progestin pada sisa siklusnya. Ketepatgunaan dari pil berturutan ini hanya sedikit lebih rendah daripada pil gabungan, berkisar antara 98—99%. Kelalaian minum 1 atau 2 pil berturutan pada awal siklus akan dapat mengakibatkan terjadinya pelepasan telur sehingga terjadi kehamilan. Karena pil berturutan dalam mencegah kehamilan hanya bersandar kepada estrogen maka dosis estrogen harus lebih besar dengan kemungkinan risiko yang lebih besar pula sehubungan dengan efek-efek sampingan yang ditimbulkan oleh estrogen.
Pil khusus – Progestin (pil mini) Pil ini mengandung dosis kecil bahan progestin sintetis dan memiliki sifat pencegah kehamilan, terutama dengan mengubah mukosa dari leher rahim (merubah sekresi pada leher rahim) sehingga mempersulit pengangkutan sperma. Selain itu, juga mengubah lingkungan endometrium (lapisan dalam rahim) sehingga menghambat perletakan telur yang telah dibuahi.
Kontra indikasi Pemakaian Pil Kontrasepsi pil tidak boleh diberikan pada wanita yang menderita hepatitis, radang pembuluh darah, kanker payudara atau kanker kandungan, hipertensi, gangguan jantung, varises, perdarahan abnormal melalui vagina, kencing manis, pembesaran kelenjar gondok (struma), penderita sesak napas, eksim, dan migraine (sakit kepala yang berat pada sebelah kepala).
Efek Samping Pemakaian Pil Pemakaian pil dapat menimbulkan efek samping berupa perdarahan di luar haid, rasa mual, bercak hitam di pipi (hiperpigmentasi), jerawat, penyakit jamur pada liang vagina (candidiasis), nyeri kepala, dan penambahan berat badan.
AKDR (Alat Kontrasepsi Dalam Rahim) AKDR atau IUD (Intra Uterine Device) bagi banyak kaum wanita merupakan alat kontrasepsi yang terbaik. Alat ini sangat efektif dan tidak perlu diingat setiap hari seperti halnya pil. Bagi ibu yang menyusui, AKDR tidak akan mempengaruhi isi, kelancaran ataupun kadar air susu ibu (ASI). Namun, ada wanita yang ternyata belum dapat menggunakan sarana kontrasepsi ini. Karena itu, setiap calon pemakai AKDR perlu memperoleh informasi yang lengkap tentang seluk-beluk alat kontrasepsi ini.

Jenis-jenis AKDR di Indonesia
Copper-T AKDR berbentuk T, terbuat dari bahan polyethelen di mana pada bagian vertikalnya diberi lilitan kawat tembaga halus. Lilitan kawat tembaga halus ini mempunyai efek antifertilisasi (anti pembuahan) yang cukup baik.
Copper-7 AKDR ini berbentuk angka 7 dengan maksud untuk memudahkan pemasangan. Jenis ini mempunyai ukuran diameter batang vertikal 32 mm dan ditambahkan gulungan kawat tembaga (Cu) yang mempunyai luas permukaan 200 mm2, fungsinya sama seperti halnya lilitan tembaga halus pada jenis Coper-T.
Multi Load AKDR ini terbuat dari dari plastik (polyethelene) dengan dua tangan kiri dan kanan berbentuk sayap yang fleksibel. Panjangnya dari ujung atas ke bawah 3,6 cm. Batangnya diberi gulungan kawat tembaga dengan luas permukaan 250 mm2 atau 375 mm2 untuk menambah efektivitas. Ada 3 ukuran multi load, yaitu standar, small (kecil), dan mini.
Lippes Loop AKDR ini terbuat dari bahan polyethelene, bentuknya seperti spiral atau huruf S bersambung. Untuk meudahkan kontrol, dipasang benang pada ekornya. Lippes Loop terdiri dari 4 jenis yang berbeda menurut ukuran panjang bagian atasnya. Tipe A berukuran 25 mm (benang biru), tipe B 27,5 mm 9 (benang hitam), tipe C berukuran 30 mm (benang kuning), dan 30 mm (tebal, benang putih) untuk tipe D. Lippes Loop mempunyai angka kegagalan yang rendah. Keuntungan lain dari pemakaian spiral jenis ini ialah bila terjadi perforasi jarang menyebabkan luka atau penyumbatan usus, sebab terbuat dari bahan plastik.
Pemasangan AKDR Prinsip pemasangan adalah menempatkan AKDR setinggi mungkin dalam rongga rahim (cavum uteri). Saat pemasangan yang paling baik ialah pada waktu mulut peranakan masih terbuka dan rahim dalam keadaan lunak. Misalnya, 40 hari setelah bersalin dan pada akhir haid. Pemasangan AKDR dapat dilakukan oleh dokter atau bidan yang telah dilatih secara khusus. Pemeriksaan secara berkala harus dilakukan setelah pemasangan satu minggu, lalu setiap bulan selama tiga bulan berikutnya. Pemeriksaan selanjutnya dilakukan setiap enam bulan sekali.

Kontra indikasi pemasangan AKDR:
Belum pernah melahirkan
Adanya perkiraan hamil
Kelainan alat kandungan bagian dalam seperti: perdarahan yang tidak normal dari alat kemaluan, perdarahan di leher rahim, dan kanker rahim.
Keluhan-keluhan pemakai AKDR Keluhan yang dijumpai pada penggunaan AKDR adalah terjadinya sedikit perdarahan, bisa juga disertai dengan mules yang biasanya hanya berlangsung tiga hari. Tetapi, jika perdarahan berlangsung terus-menerus dalam jumlah banyak, pemakaian AKDR harus dihentikan. Pengaruh lainnya terjadi pada perangai haid. Misalnya, pada permulaan haid darah yang keluar jumlahnya lebih sedikit daripada biasa, kemudian secara mendadak jumlahnya menjadi banyak selama 1--2 hari. Selanjutnya kembali sedikit selama beberapa hari. Kemungkinan lain yang terjadi adalah kejang rahim (uterine cramp), serta rasa tidak enak pada perut bagian bawah. Hal ini karena terjadi kontraksi rahim sebagai reaksi terhadap AKDR yang merupakan benda asing dalam rahim. Dengan pemberian obat analgetik keluhan ini akan segera teratasi. Selain hal di atas, keputihan dan infeksi juga dapat timbul selama pemakaian AKDR.
Ekspulsi Selain keluhan-keluhan di atas, ekspulsi juga sering dialami pemakai AKDR, yaitu AKDR keluar dari rahim. Hal ini biasanya terjadi pada waktu haid, disebabkan ukuran AKDR yang terlalu kecil. Ekspulsi ini juga dipengaruhi oleh jenis bahan yang dipakai. Makin elastis sifatnya makin besar kemungkinan terjadinya ekspulsi. Sedangkan jika permukaan AKDR yang bersentuhan dengan rahim (cavum uteri) cukup besar, kemungkinan terjadinya ekspulsi kecil.
Lama Pemakaian AKDR Sampai berapa lama AKDR dapat dipakai? Hal ini sering menjadi pertanyaan. Sebenarnya, AKDR ini dapat terus dipakai selama pemakai merasa cocok dan tidak ada keluhan. Untuk AKDR yang mengandung tembaga, hanya mampu berfungsi selama 2--5 tahun, tergantung daya dan luas permukaan tembaganya. Setelah itu harus diganti dengan yang baru.

Suntikan Kontrasepsi suntikan
Pencegah kehamilan yang pemakaiannya dilakukan dengan jalan menyuntikkan obat tersebut pada wanita subur. Obat ini berisi Depo Medorxi Progesterone Acetate (DMPA). Penyuntikan dilakukan pada otot (intra muskuler) di bokong (gluteus) yang dalam atau pada pangkal lengan (deltoid).
Cara pemakaian Cara ini baik untuk wanita yang menyusui dan dipakai segera setelah melahirkan. Suntikan pertama dapat diberikan dalam waktu empat minggu setelah melahirkan. Suntikan kedua diberikan setiap satu bulan atau tiga bulan berikutnya.
Kontra indikasi Kontrasepsi suntikan tidak diperbolehkan untuk wanita yang menderita penyakit jantung, hipertensi, hepatitis, kencing manis, paru-paru, dan kelainan darah.
Efek samping kontrasepsi suntikan
Tidak datang haid (amenorrhoe)
Perdarahan yang mengganggu
Lain-lain: sakit kepala, mual, muntah, rambut rontok, jerawat, kenaikan berat badan, hiperpigmentasi.
Norplant Norplant merupakan alat kontrasepsi jangka panjang yang bisa digunakan untuk jangka waktu 5 tahun. Norplant dipasang di bawah kulit, di atas daging pada lengan atas wanita. Alat tersebut terdiri dari enam kapsul lentur seukuran korek api yang terbuat dari bahan karet silastik. Masing-masing kapsul mengandung progestin levonogestrel sintetis yang juga terkandung dalam beberapa jenis pil KB. Hormon ini lepas secara perlahan-lahan melalui dinding kapsul sampai kapsul diambil dari lengan pemakai. Kapsul-kapsul ini bisa terasa dan kadangkala terlihat seperti benjolan atau garis-garis. ( The Boston’s Book Collective, The Our Bodies, Ourselves, 1992)
Norplant sama artinya dengan implant. Norplant adalah satu-satunya merek implant yang saat ini beredar di Indonesia. Oleh karena itu, sering juga digunakan untuk menyebut implant. Di beberapa daerah, implant biasa disebut dengan susuk.
Indonesia merupakan negara pemula dalam penerimaan norplant yang dimulai pada 1987. Sebagai negara pelopor, Indonesia belum mempunyai referensi mengenai efek samping dan permasalahan yang muncul sebagai akibat pemakaian norplant. Pada 1993, pemakai norplant di Indonesia tercatat sejumlah 800.000 orang.
Efektivitas norplant Efektivitas norplant cukup tinggi. Tingkat kehamilan yang ditimbulkan pada tahun pertama adalah 0,2%, pada tahun kedua 0,5%, pada tahun ketiga 1,2%, dan 1,6% pada tahun keempat. Secara keseluruhan, tingkat kehamilan yang mungkin ditimbulkan dalam jangka waktu lima tahun pemakaian adalah 3,9 persen. Wanita dengan berat badan lebih dari 75 kilogram mempunyai risiko kegagalan yang lebih tinggi sejak tahun ketiga pemakaian (5,1 persen).
Yang tidak diperbolehkan menggunakan norplant Wanita yang tidak diperbolehkan menggunakan norplant adalah mereka yang menderita penyakit diabetes, kolesterol tinggi, tekanan darah tinggi, migrain, epilepsi, benjolan pada payudara, depresi mental, kencing batu, penyakit jantung, atau ginjal. (The Boston Women’s Book Collective, 1992)
Pemasangan norplant Pemasangan norplant biasanya dilakukan di bagian atas (bawah kulit) pada lengan kiri wanita (lengan kanan bagi yang kidal), agar tidak mengganggu kegiatan. Norplant dapat dipasang pada waktu menstruasi atau setelah melahirkan oleh dokter atau bidan yang terlatih. Sebelum pemasangan dilakukan pemeriksaan kesehatan terlebih dahulu dan juga disuntik untuk mencegah rasa sakit. Luka bekas pemasangan harus dijaga agar tetap bersih, kering, dan tidak boleh kena air selama 5 hari. Pemeriksaan ulang dilakukan oleh dokter seminggu setelah pemasangan. Setelah itu, setahun sekali selama pemakaian dan setelah 5 tahun norplant harus diambil/dilepas.
Kelebihan dan kekurangan norplant Kelebihan norplant adalah masa pakainya cukup lama, tidak terpengaruh faktor lupa sebagaimana kontrasepsi pil/suntik, dan tidak mengganggu kelancaran air susu ibu. Sedangkan kekurangannya adalah bahwa pemasangan hanya bisa dilakukan oleh dokter atau bidan yang terlatih dan kadang-kadang menimbulkan efek samping, misalnya spotting atau menstruasi yang tidak teratur. Selain itu, kadang-kadang juga menimbulkan berat badan bertambah.

Tubektomi (Sterilisasi pada Wanita)
Tubektomi adalah setiap tindakan pada kedua saluran telur wanita yang mengakibatkan wanita tersebut tidak akan mendapatkan keturunan lagi. Sterilisasi bisa dilakukan juga pada pria, yaitu vasektomi. Dengan demikian, jika salah satu pasangan telah mengalami sterilisasi, maka tidak diperlukan lagi alat-alat kontrasepsi yang konvensional. Cara kontrasepsi ini baik sekali, karena kemungkinan untuk menjadi hamil kecil sekali. Faktor yang paling penting dalam pelaksanaan sterilisasi adalah kesukarelaan dari akseptor. Dengan demikia, sterilisasi tidak boleh dilakukan kepada wanita yang belum/tidak menikah, pasangan yang tidak harmonis atau hubungan perkawinan yang sewaktu-waktu terancam perceraian, dan pasangan yang masih ragu menerima sterilisasi. Yang harus dijadikan patokan untuk mengambil keputusan untuk sterilisasi adalah jumlah anak dan usia istri. Misalnya, untuk usia istri 25--30 tahun, jumlah anak yang hidup harus 3 atau lebih.

Penggunaan Kontrasepsi Menurut Umur
Umur ibu kurang dari 20 tahun:
Penggunaan prioritas kontrasepsi pil oral.
Penggunaan kondom kurang menguntungkan, karena pasangan muda frekuensi bersenggama tinggi sehingga akan mempunyai kegagalan tinggi.
Bagi yang belum mempunyai anak, AKDR kurang dianjurkan.
Umur di bawah 20 tahun sebaiknya tidak mempunyai anak dulu.

Umur ibu antara 20--30 tahun
Merupakan usia yang terbaik untuk mengandung dan melahirkan.
Segera setelah anak pertama lahir, dianjurkan untuk memakai spiral sebagai pilihan utama. Pilihan kedua adalah norplant atau pil.

Umur ibu di atas 30 tahun
Pilihan utama menggunakan kontrasepsi spiral atau norplant. Kondom bisa merupakan pilihan kedua.

Dalam kondisi darurat, metode mantap dengan cara operasi (sterlilisasi) dapat dipakai dan relatif lebih baik dibandingkan dengan spiral, kondom, maupun pil dalam arti mencegah.
Beberapa Metode Kontasepsi Baru Dengan adanya metode kontrasepsi yang baru, berarti pula memberikan lebih banyak pilihan, dapat membantu mengatasi beberapa kendala pemakaian kontrasepsi. Meskipun demikian, pengembangan kontrasepsi baru untuk menambah yang sudah ada sangat terasa kurang membawa perubahan yang positif dan inovatif. Beberapa metode yang sedang diuji klinik antara lain:
Cincin kontrasepsi
Cincin ini dimasukkan ke dalam vagina, bentuknya seperti kue donat, dan mengandung steroid, yaitu progestin atau progestin ditambah estrogen, yang dilepas ke dalam aliran darah. Cincin kontrasepsi mengandung dosis hormon yang lebih rendah dibanding dengan kontrasepsi oral. Wanita dapat memasukkan dan mengeluarkan cincin ini sendiri.

Vaksin antifertilitas reversibel
Vaksin ini menyebabkan antibodi berinteraksi dengan human chrrionic gonadotropin (HCG), suatu hormon yang memelihara kehamilan. Tanpa HCG, lapisan uterus lepas dengan membawa telur yang sudah dibuahi sehingga terjadi menstruasi.

Norplant II
Norplant II memiliki kelebihan dibanding dengan norplant yang ada sekarang, karena norplant II hanya memerlukan dua implantasi subdermal. Dengan demikian, lebih mudah memasukkan dan mengeluarkannya.
Suntikan Kontrasepsi ini menggunakan mikrosfero atau mikrokapsul. Injeksi terbuat dari satu atau lebih hormon di dalam kapsul yang dapat dibiodegrasi, yang melepaskan hormon dan menghambat ovulasi. Satu suntikan dapat melindungi satu, tiga, atau enam bulan, tergantung dari jenis komposisi kimianya.

Implantasi Transdermal
Implantasi transdermal menyebabkan pelepasan kontrasepsi steroid yang lambat dan teratur ke aliran darah melalui kulit. Wanita dapat menempatkan implant tersebut pada tubuh dan melepaskannya sesuai keinginan. Pada salah satu jenis implantasi transdermal, seorang wanita menggunakan tiga implantasi selama tiga minggu. Setiap implantasi efektif selama tujuh hari. Pada minggu berikutnya, digunakan implantasi plasebo sehingga terjadi menstruasi.

IUD bentuk T yang baru
IUD ini melepaskan lenovorgegestrel dengan konsentrasi yang rendah selama minimal lima tahun. Dari hasil penelitian menunjukkan efektivitas yang tinggi dalam mencegah kehamilan yang tidak direncanakan maupun perdarahan menstruasi. Kerugian metode ini adalah tambahan terjadinya efek samping hormonal dan amenore.

Kondom wanita
Kondom ini dikendalikan oleh wanita dan mengurangi risiko terkena penyakit menular seksual. Dari uji klinik menunjukkan bahwa kelicinan, kebocoran, kerusakan, dan hambatan efektivitasnya lebih baik dibandingkan kondom pria.

Kesimpulan dan Saran
Dalam memilih alat kontrasepsi yang tepat, sebaiknya calon akseptor diberi penjelasan tentang keuntungan dan kerugian masing-masing alat kontrasepsi, sehingga diharapkan dapat memperkecil terjadi kehamilan serta mengurangi efek samping dari alat kontrasepsi tersebut.
Penelitian yang didasarkan pada hasil mengenai manfaat dan kepercayaan akseptor yang berkaitan dengan seksualitas serta penggunaan kontrasepsi, harus dilakukan terlebih dahulu sebelum suatu metode kontrasepsi dipasarkan dan dianggap sebagai pilihan tambahan.
Untuk peningkatan dan perluasan pelayanannya, keluarga berencana dapat dimasukkan ke dalam pelayanan kesehatan reproduksi serta pelayanan kesehatan primer yang lain agar tanggap terhadap seluruh kebutuhan kesehatan reproduksi wanita. Di dalam suatu program yang terintegrasi, harus terdapat metode kontrasepsi yang dapat diterima, aman, dan efektif serta dapat dipakai wanita pada berbagai tahap kehidupan reproduksi. Metode kontrasepsi juga harus dapat diterima secara seksual maupun sosial tanpa adanya pengaruh negatif terhadap kesehatan dan kesejahteraan secara umum.
Apabila tersedia pilihan metode kontrasepsi yang lebih bervariasi dan pelayanan yang lebih responsif terhadap keinginan serta kebutuhan pelayanan kesehatan reproduksi wanita maka tujuan keluarga berencana akan mulai tercapai. Dengan demikian, diharapkan wanita merasa terpanggil untuk meningkatkan kesadaran hak seksual dan reproduksinya sebagai langkah utama menuju kesehatan yang utuh.

Daftar Pustaka
Sarwono, Sarlito Wirawan, 1979. Herman Memilih Sterilisasi, Perkumpulan untuk Sterilisasi Sukarela Indonesia, Jakarta.
Myrnawati, 1979. Mengapa Mereka Memilih Sterilisasi, Perkumpulan untuk Sterilisasi Sukarela Indonesia, Jakarta.
Sosrohadikoesoemo, Soemiani , 1984. Pil, Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional Propinsi Jawa Tengah Bidang Kependudukan.
Koblinsky, Marge; Timyan, Judith; Gay, Jill, 1997. Kesehatan Wanita Sebuah Perspektif Global, Gajah Mada University Press.
Yuarsi, Susi Eja, 1997. Norplant, Penerimaan Program dan Layanan Lanjutan, Pusat Penelitian Kependudukan, Universitas Gajah Mada.
Jakarta, Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional,1980. Pedoman Praktis Pelayanan Kontrasepsi Petugas Paramedis.
Jakarta, Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional,1980. Alat Kontrasepsi Dalam Rahim.
Melati, Mawar, 1985. Alat Kontrasepsi Dalam Rahim, MajalahWarta Konsumen, Edisi Tahun ke XII , No.138, hal 5-6.
NN, 1980. Alat Kontrasepsi Dalam Rahim, Majalah Bina Sejahtera, No.77, hal 20-23.
More about → Cara Tepat Memilih Alat Kontrasepsi Keluarga Berencana bagi Wanita

artikel Depresi Postpartum

Posted by Anonymous

1. Pengertian Kecenderungan depresi postpartum
Menurut Sudarsono (1997), kecenderungan adalah hasrat, keinginan yang selalu timnbul berulang-ulang. Sedangkan Anshari (1996), berpendapat bahwa kecenderungan merupskan susunan atau disposisi untuk berkelakuan dalam cara yang benar.
haplin (1995), mengartikan kecenderungan sebagai satu set atau satu susunan sikap untuk bertingkah laku dengan cara tertentu. Soekanto (1993), menyatakan kecenderungan merupakan suatu dorongan yang muncul dari dalam individu secara inharen menuju suatu arah tertentu untuk menunjukkan suka atau tidak suka kepada suatu objek.
Manusia dalam kehidupannya tidak pernah terlepas dari berbagai permasalahan, baik yang tergolong sederhana sampai yang kompleks. Semua itu membutuhkan kesiapan mental untuk menghadapinya. Pada kenyataannya terdapat gangguan mental yang sangat mengganggu dalam hidup manusia, yang salah satunya adalah depresi. Gangguan mental emosional ini bisa terjadi pada siapa saja, kapan saja, dari kelompok mana saja, dan pada segala rentang usia. Bagi penderita depresi ini selalu dibayangi ketakutan, kengerian, ketidakbahagiaan serta kebencian pada mereka sendiri. Hadi (2004), menyatakan secara sederhana dapat dikatakan bahwa depresi adalah suatu pengalaman yang menyakitkan, suatu perasaan tidak ada harapan lagi.
Kartono (2002), menyatakan bahwa depresi adalah keadaan patah hati atau putus asa yang disertai dengan melemahnya kepekaan terhadap stimulus tertentu, pengurangan aktivitas fisik maupun mental dan kesulitan dalam berpikir, Lebih lanjut Kartono menjelaskan bahwa gangguan depresi disertai kecemasan , kegelisahan dan keresahan, perasaan bersalah, perasaan menurunnya martabat diri atau kecenderungan bunuh diri.
Trisna (Hadi, 2004), menyimpulkan bahwa depresi adalah suatu perasaan sendu atau sedih yang biasanya disertai dengan diperlambatnya gerak dan fungsi tubuh. Mulai dari perasaan murung sedikit sampai pada keadaan tidak berdaya. Individu yakin tidak melakukan apa pun untuk mengubahnya dan merasa bahwa respon apa pun yang dilakukan tidak akan berpengaruh pada hasil yang muncul.
Individu yang mengalami depresi sering merasa dirinya tidak berharga dan merasa bersalah. Mereka tidak mampu memusatkan pikirannya dan tidak dapat membuat keputusan. Individu yang mengalami depresi selalu menyalahkan diri sendiri, merasakan kesedihan yang mendalam dan rasa putus asa tanpa sebab. Mereka mempersepsikan diri sendiri dan seluruh alam dunia dalam suasana yang gelap dan suram. Pandangan suram ini menciptakan perasaan tanpa harapan dan ketidakberdayaan yang berkelanjutan (Albin, 1991).
Depresi menurut Kaplan dan Sadock (1998), merupakan suatu masa terganggunya fungsi manusia yang berkaitan dengan alam perasaan yang sedih dan gejala penyertanya, termasuk perubahan pada pola tidur dan nafsu makan, psikomotor, konsentrasi, anhedonia, kelelahan, rasa putus asa dan tidak berdaya, serta gagasan bunuh diri.
Sebagian perempuan menganggap bahwa masa–masa setelah melahirkan adalah masa–masa sulit yang akan menyebabkan mereka mengalami tekanan secara emosional. Gangguan–gangguan psikologis yang muncul akan mengurangi kebahagiaan yang dirasakan, dan sedikit banyak mempengaruhi hubungan anak dan ibu dikemudian hari. Hal ini bisa muncul dalam durasi yang sangat singkat atau berupa serangan yang sangat berat selama berbulan–bulan atau bertahun – tahun lamanya.
Secara umum sebagaian besar wanita mengalami gangguan emosional setelah melahirkan. Clydde (Regina dkk, 2001), bentuk gangguan postpartum yang umum adalah depresi, mudah marah dan terutama mudah frustasi serta emosional.
angguan mood selama periode postpartum merupakan salah satu gangguan yang paling sering terjadi pada wanita baik primipara maupun multipara. Menurut DSM-IV, gangguan pascasalin diklasifikasikan dalam gangguan mood dan onset gejala adalah dalam 4 minggu pascapersalinan.

da 3 tipe gangguan mood pascasalin, diantaranya adalah maternity blues, postpartum depression dan postpartum psychosis (Ling dan Duff, 2001).

Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh Paltiel (Koblinsky dkk, 1997), bahwa ada 3 golongan gangguan psikis pascasalin yaitu postpartum blues atau sering disebut juga sebagai maternity blues yaitu kesedihan pasca persalinan yang bersifat sementara. Postpartum depression yaitu depresi pasca persalinan yang berlangsung sampai berminggu – minggu atau bulan dan kadang ada diantara mereka yang tidak menyadari bahwa yang sedang dialaminya merupakan penyakit. Postpartum psychosis, dalam kondisi seperti ini terjadi tekanan jiwa yang sangat berat karena bisa menetap sampai setahun dan bisa juga selalu kambuh gangguan kejiwaannya setiap pasca melahirkan.
Depresi postpartum pertama kali ditemukan oleh Pitt pada tahun 1988. Pitt (Regina dkk, 2001), depresi postpartum adalah depresi yang bervariasi dari hari ke hari dengan menunjukkan kelelahan, mudah marah, gangguan nafsu makan, dan kehilangan libido (kehilangan selera untuk berhubungan intim dengan suami). Masih menurut Pitt (Regina dkk, 2001) tingkat keparahan depresi postpartum bervariasi. Keadaan ekstrem yang paling ringan yaitu saat ibu mengalami “kesedihan sementara” yang berlangsung sangat cepat pada masa awal postpartum, ini disebut dengan the blues atau maternity blues. Gangguan postpartum yang paling berat disebut psikosis postpartum atau melankolia. Diantara 2 keadaan ekstrem tersebut terdapat kedaan yang relatif mempunyai tingkat keparahan sedang yang disebut neurosa depresi atau depresi postpartum.
Menurut Duffet-Smith (1995), depresi pascasalin bisa berkaitan dengan terjadinya akumulasi stres. Ada stres yang tidak dapat dihindari, seperti operasi. Depresi adalah pengalaman yang negatif ketika semua persoalan tamapak tidak terpecahkan. Persoalan juga tidak akan terpecahkan dengan berpikir lebih positif, tetapi sikap itu akan membuat depresi lebih dapat dikendalikan.
Masih menurut Duffet-Smith, faktor kunci dalam depresi pasca persalinan adalah kecapaian yang menjadi kelelahan total. Kepercayaan diri ibu dapat luntur jika ibu merasa tidak mampu menanganinya dan menjadi frustasi karena kelemahan fisiknya.
Inwood (Regina dkk, 2001) menghubungkan fenomena depresi postpartum dengan gangguan perasaan mayor seperti kesedihan, perasaan tidak mampu, kelelahan, insomnia dan anhedonia. Hal ini seperti yang diungkapkan oleh Sloane dan Bennedict (1997), depresi postpartum merupakan tekanan jiwa sesudah melahirkan, mungkin seorang ibu baru akan merasa benar – benar tidak berdaya dan merasa serba kurang mampu, tertindih oleh beban tanggung jawab terhadap bayi dan keluarganya, tidak bisa melakukan apapun untuk menghilangkan perasaan itu.
Depresi pascalahir dapat berlangsung sampai 3 bulan atau lebih dan berkembang menjadi depresi lain yang lebih berat atau lebih ringan. Gejalanya sama saja tetapi disamping itu ibu mungkin terlalu memikirkan kesehatan bayinya dan kemampuannya sebagai seorang ibu (Wilkinson, 1995).
Monks dkk (1988), menyatakan bahwa depresi postpartum merupakan problem psikis sesudah melahirkan seperti labilitas afek, kecemasan dan depresi pada ibu yang dapat berlangsung berbulan – bulan. Sloane dan Bennedict (1997) menyatakan bahwa depresi postpartum biasanya terjadi pada 4 hari pertama masa setelah melahirkan dan berlangsung terus 1 – 2 minggu.
Llewellyn–Jones (1994), menyatakan bahwa wanita yang didiagnosa secara klinis pada masa postpartum mengalami depresi dalam 3 bulan pertama setelah melahirkan. Wanita yang menderita depresi postpartum adalah mereka yang secara sosial dan emosional merasa terasingkan atau mudah tegang dalam setiap kejadian hidupnya.

erdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa depresi postpartum adalah gangguan emosional pasca persalinan yang bervariasi, terjadi pada 10 hari pertama masa setelah melahirkan dan berlangsung terus – menerus sampai 6 bulan bahkan sampai satu tahun.

2. Faktor – faktor penyebab depresi postpartum

Cycde (Regina dkk, 2001) mengemukakan bahwa depresi postpartum tidak berbeda secara mencolok dengan gangguan mental atau gangguan emosional. Suasana sekitar kehamilan dan kelahiran dapat dikatakan bukan penyebab tapi pencetus timbulnya gangguan emosional.
Nadesul (1992), penyebab nyata terjadinya gangguan pasca melahirkan adalah adanya ketidakseimbangan hormonal ibu, yang merupakan efek sampingan kehamilan dan persalinan. Sarafino (Yanita dan Zamralita, 2001), faktor lain yang dianggap sebagai penyebab munculnya gejala ini adalah masa lalu ibu tersebut, yang mungkin mengalami penolakan dari orang tuanya atau orang tua yang overprotective, kecemasan yang tinggi terhadap perpisahan, dan ketidakpuasaan dalam pernikahan. Perempuan yang memiliki sejarah masalah emosional rentan terhadap gejala depresi ini, kepribadian dan variabel sikap selama masa kehamilan seperti kecemasan, kekerasan dan kontrol eksternal berhubungan dengan munculnya gejala depresi.
Hal ini sesuai dengan yang diungkapkan oleh Llewellyn–Jones (1994), karakteristik wanita yang berisiko mengalami depresi postpartum adalah : wanita yang mempunyai sejarah pernah mengalami depresi, wanita yang berasal dari keluarga yang kurang harmonis, wanita yang kurang mendapatkan dukungan dari suami atau orang–orang terdekatnya selama hamil dan setelah melahirkan, wanita yang jarang berkonsultasi dengan dokter selama masa kehamilannya misalnya kurang komunikasi dan informasi, wanita yang mengalami komplikasi selama kehamilan.

Pitt (Regina dkk, 2001), mengemukakan 4 faktor penyebeb depresi postpartum sebagai berikut :

a. Faktor konstitusional. Gangguan post partum berkaitan dengan status paritas adalah riwayat obstetri pasien yang meliputi riwayat hamil sampai bersalin serta apakah ada komplikasi dari kehamilan dan persalinan sebelumnya dan terjadi lebih banyak pada wanita primipara. Wanita primipara lebih umum menderita blues karena setelah melahirkan wanita primipara berada dalam proses adaptasi, kalau dulu hanya memikirkan diri sendiri begitu bayi lahir jika ibu tidak paham perannya ia akan menjadi bingung sementara bayinya harus tetap dirawat.
b. Faktor fisik. Perubahan fisik setelah proses kelahiran dan memuncaknya gangguan mental selama 2 minggu pertama menunjukkan bahwa faktor fisik dihubungkan dengan kelahiran pertama merupakan faktor penting. Perubahan hormon secara drastis setelah melahirkan dan periode laten selama dua hari diantara kelahiran dan munculnya gejala. Perubahan ini sangat berpengaruh pada keseimbangan. Kadang progesteron naik dan estrogen yang menurun secara cepat setelah melahirkan merupakan faktor penyebab yang sudah pasti.
c. Faktor psikologis. Peralihan yang cepat dari keadaan “dua dalam satu” pada akhir kehamilan menjadi dua individu yaitu ibu dan anak bergantung pada penyesuaian psikologis individu. Klaus dan Kennel (Regina dkk, 2001), mengindikasikan pentingnya cinta dalam menanggulangi masa peralihan ini untuk memulai hubungan baik antara ibu dan anak.
d. Faktor sosial. Paykel (Regina dkk, 2001) mengemukakan bahwa pemukiman yang tidak memadai lebih sering menimbulkan depresi pada ibu – ibu, selain kurangnya dukungan dalam perkawinan.
Menurut Kruckman (Yanita dan zamralita, 2001), menyatakan terjadinya depresi pascasalin dipengaruhi oleh faktor :
1. Biologis. Faktor biologis dijelaskan bahwa depresi postpartum sebagai akibat kadar hormon seperti estrogen, progesteron dan prolaktin yang terlalu tinggi atau terlalu rendah dalam masa nifas atau mungkin perubahan hormon tersebut terlalu cepat atau terlalu lambat.

2. Karakteristik ibu, yang meliputi :

a. Faktor umur. Sebagian besar masyarakat percaya bahwa saat yang tepat bagi seseorang perempuan untuk melahirkan pada usia antara 20–30 tahun, dan hal ini mendukung masalah periode yang optimal bagi perawatan bayi oleh seorang ibu. Faktor usia perempuan yang bersangkutan saat kehamilan dan persalinan seringkali dikaitkan dengan kesiapan mental perempuan tersebut untuk menjadi seorang ibu.
b. Faktor pengalaman. Beberapa penelitian diantaranya adalah pnelitian yang dilakukan oleh Paykel dan Inwood (Regina dkk, 2001) mengatakan bahwa depresi pascasalin ini lebih banyak ditemukan pada perempuan primipara, mengingat bahwa peran seorang ibu dan segala yang berkaitan dengan bayinya merupakan situasi yang sama sekali baru bagi dirinya dan dapat menimbulkan stres. Selain itu penelitian yang dilakukan oleh Le Masters yang melibatkan suami istri muda dari kelas sosial menengah mengajukan hipotesis bahwa 83% dari mereka mengalami krisis setelah kelahiran bayi pertama.
c. Faktor pendidikan. Perempuan yang berpendidikan tinggi menghadapi tekanan sosial dan konflik peran, antara tuntutan sebagai perempuan yang memiliki dorongan untuk bekerja atau melakukan aktivitasnya diluar rumah, dengan peran mereka sebagai ibu rumah tangga dan orang tua dari anak–anak mereka (Kartono, 1992).

d. Faktor selama proses persalinan. Hal ini mencakup lamanya persalinan, serta intervensi medis yang digunakan selama proses persalinan. Diduga semakin besar trauma fisik yang ditimbulkan pada saat persalinan, maka akan semakin besar pula trauma psikis yang muncul dan kemungkinan perempuan yang bersangkutan akan menghadapi depresi pascasalin.

e. Faktor dukungan sosial. Banyaknya kerabat yang membantu pada saat kehamilan, persalinan dan pascasalin, beban seorang ibu karena kehamilannya sedikit banyak berkurang.

erdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa faktor penyebab depresi postpartum adalah faktor konstitusional, faktor fisik yang terjadi karena adanya ketidakseimbangan hormonal, faktor psikologi, faktor sosial dan karakteristik ibu.

3. Gejala – gejala depresi postpartum

Depresi merupakan gangguan yang betul–betul dipertimbangkan sebagai psikopatologi yang paling sering mendahului bunuh diri, sehingga tidak jarang berakhir dengan kematian. Gejala depresi seringkali timbul bersamaan dengan gejala kecemasan. Manifestasi dari kedua gangguan ini lebih lanjut sering timbul sebagai keluhan umum seperti : sukar tidur, merasa bersalah, kelelahan, sukar konsentrasi, hingga pikiran mau bunuh diri.
enurut Vandenberg (dalam Cunningham dkk, 1995), menyatakan bahwa keluhan dan gejala depresi postpartum tidak berbeda dengan yang terdapat pada kelainan depresi lainnya. Hal yang terutama mengkhawatirkan adalah pikiran – pikiran ingin bunuh diri, waham–waham paranoid dan ancaman kekerasan terhadap anak–anaknya.
Hal senada juga diungkapkan oleh Ling dan Duff (2001), bahwa gejala depresi postpartum yang dialami 60 % wanita hampir sama dengan gejala depresi pada umumnya. Tetapi dibandingkan dengan gangguan depresi yang umum, depresi postpartum mempunyai karakteristik yang spesifik antara lain :

a. Mimpi buruk. Biasanya terjadi sewaktu tidur REM. Karena mimpi – mimpi yang menakutkan, individu itu sering terbangun sehingga dapat mengakibatkan insomnia.

b. Insomnia. Biasanya timbul sebagai gejala suatu gangguan lain yang mendasarinya seperti kecemasan dan depresi atau gangguan emosi lain yang terjadi dalam hidup manusia.
. Phobia. Rasa takut yang irasional terhadap sesuatu benda atau keadaan yang tidak dapat dihilangkan atau ditekan oleh pasien, biarpun diketahuinya bahwa hal itu irasional adanya. Ibu yang melahirkan dengan bedah Caesar sering merasakan kembali dan mengingat kelahiran yang dijalaninya. Ibu yang menjalani bedah Caesar akan merasakan emosi yang bermacam–macam. Keadaan ini dimulai dengan perasaan syok dan tidak percaya terhadap apa yang telah terjadi. Wanita yang pernah mengalami bedah Caesar akan melahirkan dengan bedah Caesar pula untuk kehamilan berikutnya. Hal ini bisa membuat rasa takut terhadap peralatan peralatan operasi dan jarum (Duffet-Smith, 1995).
d. Kecemasan. Ketegangan, rasa tidak aman dan kekhawatiran yang timbul karena dirasakan akan terjadi sesuatu yang tidak menyenangkan, tetapi sumbernya sebagian besar tidak diketahuinya.
e. Meningkatnya sensitivitas. Periode pasca kelahiran meliputi banyak sekali penyesuaian diri dan pembiasaan diri. Bayi harus diurus, ibu harus pulih kembali dari persalinan anak, ibu harus belajar bagaimana merawat bayi, ibu perlu belajar merasa puas atau bahagia terhadap dirinya sendiri sebagai seorang ibu. Kurangnya pengalaman atau kurangnya rasa percaya diri dengan bayi yang lahir, atau waktu dan tuntutan yang ekstensif akan meningkatkan sensitivitas ibu (Santrock, 2002).

f. Perubahan mood.

enurut Sloane dan Bennedict (1997), menyatakan bahwa depresi postpartum muncul dengan gejala sebagai berikut : kurang nafsu makan, sedih – murung, perasaan tidak berharga, mudah marah, kelelahan, insomnia, anorexia, merasa terganggu dengan perubahan fisik, sulit konsentrasi, melukai diri, anhedonia, menyalahkan diri, lemah dalam kehendak, tidak mempunyai harapan untuk masa depan, tidak mau berhubungan dengan orang lain. Di sisi lain kadang ibu jengkel dan sulit untuk mencintai bayinya yang tidak mau tidur dan menangis terus serta mengotori kain yang baru diganti. Hal ini menimbulkan kecemasan dan perasaan bersalah pada diri ibu walau jarang ditemui ibu yang benar–benar memusuhi bayinya.
Menurut Nevid dkk (1997), depresi postpartum sering disertai gangguan nafsu makan dan gangguan tidur, rendahnya harga diri dan kesulitan untuk mempertahankan konsentrasi atau perhatian.

Kriteria diagnosis spesifik depresi postpartum tidak dimasukkan di dalam DSM-IV, dimana tidak terdapat informasi yang adekuat untuk membuat diagnosis spesifik. Diagnosis dapat dibuat jika depresi terjadi dalam hubungan temporal dengan kelahiran anak dengan onset episode dalam 4 minggu pasca persalinan.

Menurut DSM IV, simptom–simptom yang biasanya muncul pada episode postpartum antara lain perubahan mood, labilitas mood dan sikap yang berlebihan terhadap bayi. Wanita yang menderita depresi postpartum sering mengalami kecemasan yang sangat hebat dan sering panik.

Meskipun belum ada kriteria diagnosis spesifik dalam DSM-IV, secara karakteristik penderita depresi postpartum mulai mengeluh kelelahan, perubahan mood, memiliki episode kesedihan, kecurigaan dan kebingungan serta tidak mau berhubungan dengan orang lain. Selain itu, penderita depresi postpartum memiliki perasaan tidak ingin merawat bayinya, tidak mencintai bayinya, in

More about → artikel Depresi Postpartum

Sehat jiwa, penting!

Posted by Anonymous

PERINGATAN hari kesehatan jiwa dunia yang jatuh pada tanggal 10 Oktober dan peringatan hari kesehatan jiwa nasional tanggal 9 November yang lalu, menunjukkan betapa pentingnya kesehatan jiwa bagi semua orang. Pada tanggal 12 November kita juga memperingati Hari Kesehatan Nasional (HKNS ke-41). Momentum peringatan ini mempunyai makna menyadarkan masyarakat akan pentingnya kesehatan. Seseorang dikatakan sehat jiwa jika mampu menyesuaikan diri dengan diri sendiri, orang lain, masyarakat dan lingkungan. Penyesuaian diri yang baik berdampak pada terwujudnya keharmonisan fungsi jiwa, sanggup menghadapi masalah, merasa bahagia dan mampu diri. Banyak kali penderita sakit jiwa terlambat berobat sebab masyarakat selalu menghubungkan penyebab sakit dengan pengaruh setan, ilmu gelap atau hal-hal mistik/gaib lainnya. Selama masyarakat belum mengetahui tentang sehat dan sakit/gangguan jiwa dan bagaimana mendapatkan pertolongan medis, selama itu juga tindakan pencegahan sakit jiwa penting.

Menurut studi yang dilakukan Direktorat Kesehatan Jiwa, Departemen Kesehatan, penderita gangguan jiwa saat ini cenderung usia dini. Penyebab gangguan jiwa dilaporkan antara lain narkoba (44%), mental retardasi (34,9%), disfungsi mental (16,2%) dan disintegrasi mental (5,8%). Data survey the Indonesian psychiatris epidemiologic network, tahun 2004, angka gangguan jiwa orang dewasa 18,5% dari jumlah penduduk. Berdasarkan survai satu dari lima orang dewasa mengalami gangguan jiwa atau satu dari anggota keluarga mengalami gejala-gejala gangguan jiwa (Media Indonesia, 21 September 2005). Data ini menyadarkan kita pentingnya menjaga kesehatan jiwa di masa penuh tantangan, akibat berbagai kondisi seperti kenaikan BBM, terorisme, fundamentalisme dan pemboman, penyakit-penyakit baru yang menyerang manusia seperti flu burung, dan lain-lain. Slogan "mens sana in corpore sano" masih tetap up to date sebagai bahan refleksi bersama saat ini.

Bagaimana menjaga kesehatan jiwa

Semua orang mengenal tingkah laku wajar dan tak wajar pada dirinya dan orang lain. Tingkah laku seseorang dipelajari sepanjang proses kehidupannya ketika menghadapi krisis dan kecemasan akibat stressor. Menurut teori keperawatan, sehat dan sakit jiwa merupakan suatu rentangan yang sangat dinamis dari kehidupan seseorang. Pada ujung yang satu ada kondisi sehat jiwa, pada ujung lain ada kondisi sakit/gangguan jiwa. Sehat jiwa ditunjukkan seseorang oleh kemampuannya beradaptasi secara konstruktif terhadap stressor yang menimpa dirinya. Sakit jiwa ditunjukkan oleh seseorang yang maladaptif atau beradaptasi secara destruktif terhadap stressor yang menimpa dirinya. Kemampuan adaptasi dipelajari sepanjang hidup manusia, disebut sebagai mekanisme koping. Mekanisme koping yang konstruktif merupakan zat imunitas bagi jiwa seseorang. Seseorang yang menggunakan mekanisme ego yang negatif, cenderung mengembangkan perilaku maladaptif, sedang seseorang yang mengembangkan mekanisme koping task oriented akan mengembangkan perilaku adaptif.

Perilaku seseorang dipelajari dari interaksi dengan orang lain. Orang yang selalu berespon adaptif akan menetap menjadi perilaku yang olehnya dianggap wajar, tapi tidak dapat diterima oleh orang lain. Jika mengikuti sinetron TV yang kebanyakan berbau mistik atau gaib, dukun, tenaga dalam, dan lain-lain. Di media massa dapat dibaca kasus-kasus korupsi, pencurian, penipuan, perkosaan anak dan wanita, kekerasan terhadap wanita, pembunuhan, manipulasi politik, dan lain-lain. Keadaan lain seperti kemiskinan, kebodohan, penyakit-penyakit baru dalam masyarakat. Semua fenomena ini dapat mempengaruhi proses internalisasi perilaku maladaptif oleh masyarakat. Sesuatu yang tidak realistik seperti ini membahayakan kesehatan jiwa masyarakat. Hal ini ditunjang lagi oleh kurangnya pengetahuan masyarakat tentang gangguan jiwa. Ketidaktahuan ini menyebabkan keterlambatan mencari bantuan medis, tanpa penderita sakit jiwa dianggap disebabkan oleh setan, kekuatan gaib, mistik, kuasa gelap yang hanya bisa ditolong oleh dukun, tim doa untuk mengusir setan. Akibatnya perilaku maladaptif tidak diubah melainkan menetapkan lebih kuat dalam diri seseorang yang sakit jiwa.

Ciri sehat jiwa menurut WHO adalah dapat menyesuaikan diri secara konstruktif, merasakan kepuasan dari usaha nyata, lebih puas memberi daripada menerima, hubungan antarmanusia yang saling menolong, menerima kekecewaan untuk pelajaran yang akan datang, mengarahkan rasa bermusuhan pada penyesalan yang kreatif dan konstruktif, serta mempunyai kasih sayang. Sehat jiwa menurut Jahoda adalah bersikap positif terhadap diri, mengalami pertumbuhan dan perkembangan sampai aktualisasi diri, memiliki integritas diri, otonomi, persepsi realitas dan environmental mastery (menguasai lingkungan). Cara memelihara kesehatan jiwa antara lain bersikap assertive, mampu solitude (menyepi), sehat fisik dan memiliki mekanisme koping (mekanisme pertahanan diri) yang adekuat.

Mens sana in corpore sano

Dalam keperawatan jiwa digunakan ilmu perilaku manusia dan diri sendiri secara terapeutik. Menjaga, mempertahankan dan meningkatkan kesehatan jiwa, menurut beberapa model keperawatan dimulai sejak bayi. Model psikoanalisa dari S Freud mengatakan, penyimpangan perilaku pada usia dewasa berhubungan dengan perkembangan pada masa awal kehidupan. Fiksasi yang dialami pada salah satu fase perkembangan manusia akan menimbulkan konflik. Konflik berkembang jadi cemas atau stres. Model interpersonal dari Sulivan mengatakan perilaku berkembang dari hubungan interpersonal. Kecemasan awal dialami bayi ketika merasakan kecemasan ibunya. Kecemasan dihubungkan dengan penolakan, maka anak akan mengembangkan sistem diri negatif. Model sosial oleh T Szasz dan Caplan mengatakan, perilaku yang tidak dapat diterima ditentukan oleh masyarakat dan berhubungan dengan sistem sosial dan politik. Kemiskinan, pendidikan kurang, situasi tak stabil, kurang suport sistem merupakan pencetus. Model eksistensi dari Rogers dkk menjelaskan bahwa penyimpangan perilaku terjadi jika seseorang putus berhubungan dengan diri dan lingkungannya. Intinya, kehidupan seseorang sangat berarti jika sepenuhnya mengalami dan menerima dirinya. Model komunikasi, oleh Berne dan Watzlawick menyatakan penyimpangan perilaku terjadi oleh karena pesan yang disampaikan tidak jelas diterima. Model perilaku/behavior yang dikembangkan HJ Eysenck menyatakan bahwa perilaku dipelajari, penyimpangan perilaku terjadi karena seseorang membiasakan perilaku tertentu dan perilaku tersebut mendapat reinforcement

terus-menerus. Ada lagi model medikal dan model keperawatan yang khusus dipelajari oleh dokter dan perawat.

Ada tiga aspek utama penentu pertahanan kesehatan jiwa seseorang masing-masing individu, interpersonal dan sosial budaya. Aspek individu, memiliki harga diri positif, vitalitas, hidup berarti, hidup yang harmonis, identitas yang positif dan faktor-faktor biologis terpenuhi. Aspek interpersonal, komunikasi yang efektif, keintiman, menolong orang lain dan keseimbangan antara ketergantungan dan kemandirian. Aspek budaya, rasa memiliki kelompok, suport antara anggota masyarakat, cukupnya sumber-sumber pemenuhan kebutuhan dalam masyarakat dan tidak ada tindakan kekerasan dalam masyarakat. Ketidakharmonisan pada ketiga aspek ini merupakan faktor predisposisi, jika ada stressor seperti kegagalan dalam hidup, akan timbul perilaku sebagai mekanisme koping mengatasi stressor.

Paradigma pencegahan gangguan jiwa yang dapat dipakai oleh setiap orang adalah paradigma pencegahan perilaku dan strategi pencegahan. Kelompok utama yang memerlukan pencegahan gangguan jiwa adalah anak-anak dan remaja, keluarga baru, kehidupan berkeluarga, wanita, dewasa pertengah/matang dan usila. Pencegahan perilaku diarahkan agar tidak terbentuk respon maladaptif. Perilaku khusus yang perlu dicegah adalah menolak diri sendiri, melukai orang lain, kebiasaan tidak sehat seperti makan berlebihan, mabuk-mabukan, menyalahkan orang lain, menunda-nunda sesuatu, banyak berdalih, kegagalan dalam berperan sebagai mahasiswa, orangtua, pekerja, terputusnya hubungan seperti suami-istri, orangtua-anak, pekerja-boss, dan lain-lain. Perasaan overreaksi/reaksi yang berlebihan seperti mudah panik, cemas pada situasi baru, mudah ngamuk-ngamuk, mudah melarikan diri dari sesuatu. Ketidakmampuan psikologis, seperti tidak bisa menerima sakit-penyakit, tidak punya kompensasi, mudahh frustrasi walau peristiwa normal. Strategi pencegahan sakit jiwa, melalui pendidikan kesehatan, perubahan lingkungan, dan sistem suport sosial yang ada. Pendidikan kesehatan dapat meningkatkan kompetensi respon adaptif, kemampuan kontrol diri, strategi koping yang efektif dan peningkatan harga diri. Perubahan lingkungan meliputi pemantapan ekonomi dan keuangan keluarga, mendapatkan pekerjaan atau pendidikan yang memadai, tempat kerja atau rumah baru, dan lain-lain. Sistem suport sosial yang diberikan dapat menghilangkan atau meminimalkan stressor pencetus dan faktor risikonya. Mensupport klien jiwa bertujuan menguatkan koping yang dimiliki, merujuk pada sistem suport sosial yang ada di masyarakat, seperti puskesmas, kelompok-kelompok yang ada, dll.

Seseorang yang sehat jiwa biasanya lebih tahan terhadap berbagai penyakit, stressor, konflik dan sebaliknya. Fungsi fisik dan psikis/jiwa saling mempengaruhi lewat jalur fisiologis tubuh dan perilaku sehat. Jalur fisiologis yang utama melalui sistem hormon, persarafan serta imunitas/kekebalan tubuh. Jalur perilaku sehat mencakut pola perilaku adaptif seperti olahraga, makan-minum-istirahat, hindari merokok, melakukan aktivitas seksual yang aman dan sehat serta pertolongan medis segera bila ada tanda-tanda atau gejala dini sesuai kondisi penyakit. Oleh karena itu, selayaknya disadari bahwa sehat jiwa suatu yang esensial dan merupakan bagian tak terpisahkan dari kesehatan individu, sebagai manusia yang holistik (Kompas, 7 Oktober 2005).

More about → Sehat jiwa, penting!

Mengenal Hidrosepalus (Hydrocephalus)

Posted by Anonymous

Kita mengenal “Hydrocephalus” sebagai suatu kelainan yang biasanya terjadi pada bayi, dan ditandai dengan membesarnya kepala melebihi ukuran normal. Namun apa sebenarnya hydrocephalus dan bagaimana penanganannya ?

Dalam keadaan normal, tubuh memproduksi cairan otak (Cairan Serebro Spinal = CSS) dalam jumlah tertentu, untuk kemudian didistribusikan dalam ruang-ruang ventrikel otak, sampai akhirnya diserap kembali. Dalam keadaan dimana terdapat ketidakseimbangan antara produksi dan penyerapan kembali, terjadi penumpukan cairan otak di ventrikel. Kondisi inilah yang dalam istilah medis dikenal sebagai “hydrocephalus”.

Meskipun banyak ditemukan pada bayi dan anak, sebenarnya hydrocephalus juga bisa terjadi pada dewasa. Hanya saja, pada bayi gejala klinisnya tampak lebih jelas, sehingga lebih mudah dideteksi dan didiagnosis. Hal ini dikarenakan pada bayi ubun-ubunnya masih terbuka, sehingga adanya penumpukan cairan otak dapat dikompensasi dengan melebarnya tulang-tulang tengkorak. Terlihat pembesaran diameter kepala yang makin lama makin membesar seiring bertambahnya tumpukan CSS. Sedangkan pada orang dewasa, tulang tengkorak tidak lagi mampu melebar. Akibatnya berapapun banyaknya CSS yang tertumpuk, takkan mampu menambah besar diameter kepala.

Berdasarkan waktu terjadinya, dikenal hydrocephalus congenital dan didapat (acquired). Congenital berarti hydrocephalus terjadi karena proses patologis sejak bayi berada dalam kandungan. Bayi lahir dengan diameter kepala yang lebih besar dari normal (disproporsi craniofacial). Kondisi ini seringkali menimbulkan persalinan yang macet akibat sulitnya kepala bayi melewati jalan lahir. Tidak jarang bayi akhirnya harus dilahirkan dengan Sectio Caesaria.

Acquired berarti hydrocephalus terjadi pasca kelahiran, baik pada masa bayi, kanak-kanak maupun dewasa. Penyebabnya antara lain infeksi atau Inflamasi yang mengenai otak dan jaringan sekitarnya termasuk selaput pembungkus otak (meninges). Penyebab lain adalah tumor, perdarahan otak, maupun obstruksi (bendungan) vena.

Baik Congenital maupun acquired, memberikan tanda dan gejala yang sama. Hanya waktu timbulnya saja yang berbeda. Hydrocephalus pada bayi lebih mudah dikenali. Tampak lingkar fronto-occipital (lingkar kepala) yang meningkat abnormal. Ukuran kepala bayi yang melebihi normal ini mengakibatkan kulit kepala tampak licin, tegang, dan pembuluh-pembuluh darah di kulit kepala tampak lebih jelas (prominent). Pada kedua mata tampak seperti gambaran matahari tenggelam (“Sunset phenomenon”). Penumpukan cairan yang terus menerus, mendesak kompartemen otak sehingga tekanan intracranial meningkat, ditandai munculnya keluhan mual-muntah,pusing sampai kejang. Diatas semuanya, bayi dengan hydrocephalus terganggu proses tumbuh kembangnya karena proses perjalanan penyakitnya, maupun karena asupan gizi yang berkurang.

Pada penderita dewasa tanda klinis tidak sejelas pada bayi. Patokan yang digunakan adalah tanda-tanda kenaikan tekanan intracranial. Untuk membantu penegakan diagnosis, dapat dilakukan pemeriksaan penunjang radiologis dan laboratoris. Baik pada penderita bayi maupun dewasa, pemeriksaan radiologis yang menjadi gold standard adalah CT SCAN. Sedangkan pemeriksaan laboratoris meliputi pemeriksaan darah dan CSS untuk mendeteksi adanya infeksi.

Setelah diagnosis hydrocephalus tegak, tindakan harus diambil sesegera mungkin, sebab bila dibiarkan dapat mengakibatkan kerusakan otak yang permanent. Pada prinsipnya terapi hydrocephalus ditujukan untuk memperlancar drainage (aliran pembuangan) CSS melalui prosedur pembedahan. Tujuan drainage adalah untuk mengalirkan CSS ke ruang lain dan untuk menurunkan tekanan intracranial. Dikenal beberapa metode drainage, antara lain external ventricular drainage, dimana CSS dikeluarkan dari intracranial melalui suatu lubang. Metode lainnya adalah shunting, ialah mengalirkan CSS ke ruangan lain melalui suatu selang yang menghubungkan ventrikel otak dengan organ tubuh lain. Dikenal Ventrikulo-peritoneal Shunt, yaitu pengaliran CSS dari ventrikel otak ke peritoneum di rongga abdomen, ada pula shunting dari ventrikel otak ke atrium jantung (Ventrikulo-atrial shunt).

More about → Mengenal Hidrosepalus (Hydrocephalus)

AUTIS TIDAK AKAN OPTIMAL TANPA DIET “INTERVENSI DIET SEBAGAI TERAPI PADA PENDERITA AUTIS”

Posted by Anonymous

Dr Widodo Judarwanto SpA




BACKGROUND

  • Autis adalah gangguan perkembangan pervasif pada anak yang ditandai dengan adanya gangguan dan keterlambatan dalam bidang kognitif, bahasa, perilaku, komunikasi dan interaksi sosial. Autis hingga saat ini masih belum jelas penyebabnya. Dari berbagai penelitian klinis hingga saat ini masih belum terungkap dengan pasti penyebab autis. Secara ilmiah telah dibuktikan bahwa Autis adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh muktifaktorial dengan banyak ditemukan kelainan pada tubuh penderita.
  • PENANGANAN AUTIS HARUS BERSIFAT HOLISTIK (SECARA MENYELURUH), DIANATARANYA TERAPI OKUPASI, BIOMEDIS DAN PENDEKATAN DIET. BILA DILAKUKAN HANYA SEBAGIAN SERINGKALI TIDAK OPTIMAL.
  • BANYAK PENELITIAN BIDANG SEROTONIK, IMUNOLOGI DAN ENDOKRINOLOGI TERBARU DAN MUTAKHIR MENUNJUKKAN BAHWA DENGAN PENDEKATAN DIET UNTUK MEMPERBAIKI GANGGUAN SALURAN CERNA SEBAGAI PENYEBAB GANGGUAN FUNGSI OTAK PADA AUTIS DAPAT DIMINIMALKAN. PENDEKATAN DIET DAPAT MEMINIMALKAN GANGGUAN PERLAKU PADA AUTIS.
  • SAYANGNYA KEMAJUAN PENELITIAN YANG ADA INI SERING BAHKAN MASIH MENJADI KONTROVERSI DIKALANGAN MEDIS SENDIRI SEHINGGA BANYAK PENDERITA AUTIS SERING MENGALAMI KETERLAMBATAN PENANGANAN ATAU KETIDAKOPTIMALAN PENANGANAN. KARENA BANYAK DOKTER ATAU KLINISI DI BIDANG AUTIS YANG MASIH BELUM MAU MENERAPKAN PENDEKATAN DIET TERHADAP PASIENNYA. BAHKAN BANYAK TERJADI ORANGTUA PENDERITA AUTIS MELAKUKAN PENDEKATAN DIET SETELAH BERUSIA 5 TAHUN LEBIH, PADAHAL BILA DILAKUKAN LEBIH DINI AKAN SEMAKIN BAIK.
  • KESALAHAN LAIN YANG SERING TERJADI DALAM SEHARI-HARI PENDERITA MELARANG DAN MEMBOLEHKAN BERDASARKAN TES KULIT ATAU TES DARAH. PADAHAL UNTUK MENCARI DAN MEMASTIKAN PENYEBAB HIPERSENSITIVITAS MAKANAN BUKAN BERDASARKAN PEMERIKSAAN DARAH ATAU TES KULIT.
  • KEJANGGALAN LAIN YANG TERJADI DALAM PRAKTEK SEHARI-HARI :
    SEBENARNYA UNTUK MEMASTIKAN DIAGNOSIS AUTIS DAN HIPERSENSITIVITAS MAKANAN ADALAH DIAGNOSIS KLINIS (MELAKUKAN WAWANCARA DAN PENGAMATAN TERHADAP RIWAYAT DAN GEJALA KLINIS), PEMERIKSAAN LABORATORIUM YANG BERMACAM-MACAM ITU (SEPERTI MRI, EEG, TES RAMBUT, TES DARAH ALERGI, TES LOGAM BERAT DLL) BUKAN UNTUK MEMASTIKAN DIAGNOSIS AUTIS DAN BUKAN YANG UTAMA DALAM PENANGANAN AUTIS. SAYANG SEKALI, DENGAN BIAYA YANG SANGAT MAHAL TERSEBUT TERNYATA MANFAAT KLINIS TIDAK TERLALU BESAR. PEMERIKSAAN TERSEBUT MUNGKIN HANYA PENTING DIGUNAKAN UNTUK KEPENTINGAN PENELITIAN.
  • POLA PENDEKATAN DIET SANGAT BANYAK DAN BERVARIASI, YANG MANA YANG PALING BAIK ?
  • Deteksi gejala alergi atau hipersensitivitas makanan dan gangguan perkembangan dan perilaku sejak dini pada anak harus dilakukan. Sehingga pengaruh alergi makanan terhadap autism atau gangguan perilaku lainnya dapat dicegah atau diminimalkan sejak dini. SANGATLAH PENTING UNTUK MENGETAHUI DAN MENGENALI GANGGUAN “SALURAN CERNA KRN HIPERSENSITIVITAS MAKANAN” DAN GEJALA AUTIS SEJAK DINI.

MENGAPA PENDERITA AUTIS HARUS MELAKUKAN DIET ?

  • BANYAK PENELITIAN MENUNJUKKAN TERNYATA KELAINAN SALURAN CERNA YANG TERJADI PADA HAMPIR SEMUA PENDERITA AUTIS SANGAT BERPERANAN DENGAN GANGGUAN FUNGSI OTAK YANG MENGAKIBATKAN GANGGUAN PERILAKU
  • BERBAGAI PENELITIAN MENUNJUKKAN SEBAGIAN BESAR PENDERITA AUTIS MENGALAMI GANGGUAN FUNGSI SALURAN CERNA ATAU MENGALAMI LEAKY GUT (KEBOCORAN SALURAN CERNA).
  • SEBAGIAN AHLI BERPENDAPAT BAHWA GANGGUAN INI SANGAT BERKAITAN DENGAN “GASTROINTESTINAL FOOD HYPERSENSITIVITY” ARTINYA PENGARUH REAKSI MAKANAN TERTENTU YANG MENGGANGGU SALURAN CERNA TUBUH SENDIRI.
  • MEMPERBAIKI GANGGUAN SALURAN CERNA TERSEBUT BUKAN HANYA SEKEDAR PEMBERIAN ENSIM DAN OBAT-OBATAN.
  • PEMBERIAN OBAT-OBATAN DAN TERAPI OKUPASI TIDAK AKAN BERPENGARUH OPTIMAL BILA PENGARUH MAKANAN YANG MENGGANGGU SALURAN CERNA PADA PENDERITA AUTISM TIDAK DIKENDALIKAN.


    MENGAPA DIET ATAU GANGGUAN SALURAN CERNA BERPENGARUH PADA OTAK ATAU AUTIS ?

    Mekanisme bagaimana alergi atau hipersensitivitas makanan mengganggu sistem susunan saraf pusat khususnya fungsi otak masih belum banyak terungkap. Namun ada beberapa teori mekanisme yang bisa menjelaskan, diantaranya adalah teori gangguan organ sasaran, pengaruh metabolisme sulfat, teori gangguan perut dan otak (Gut Brain Axis) dan pengaruh reaksi hormonal pada alergi. Tetapi pada umumnya proses mekanisme terjadinya gangguan tersebut melalui proses penyimpangan proses metabolisme di saluran cerna dan sering terjadi pada penderita “GASTROINTESTINAL FOOD HYPERSENSITIVITY”.


    ALERGI MENGGANGGU ORGAN SASARAN.
    Alergi adalah suatu proses inflamasi yang tidak hanya berupa reaksi cepat dan lambat tetapi juga merupakan proses inflamasi kronis yang kompleks. Berbagai zat hasil, proses alergi seperti sel mast, basofil, eosinofil, limfosit dan molekul seperti IgE, mediator sitokin, kemokin merupakan komponen yang berperanan dalam peradangan di organ tubuh manusia. Rendahnya TH1 akan mengakibatkan kegagalan kemampuan untuk mengontrol virus dan jamur, menurunkan aktifitas NK cell (sel Natural Killer) dan merangsang autoantibodies dengan memproduksi berbagai macam antibody antibrain (menggangu ke otak) dan organ tubuh lainnya.
    Gejala klinis terjadi karena reaksi imunologik melalui pelepasan beberapa mediator tersebut dapat mengganggu organ tertentu yang disebut organ sasaran. Organ sasaran tersebut misalnya paru-paru maka manifestasi klinisnya adalah batuk atau asma, bila sasarannya kulit akan terlihat sebagai urtikaria, bila organ sasarannya saluran pencernaan maka gejalanya adalah diare dan sebagainya. Sistem Susunan Saraf Pusat atau otak juga dapat sebagai organ sasaran, apalagi otak adalah merupakan organ tubuh yang sensitif dan lemah. Sistem susunan saraf pusat adalah merupakan pusat koordinasi tubuh dan fungsi luhur. Maka bisa dibayangkan kalau otak terganggu maka banyak kemungkinan manifestasi klinik ditimbulkannya termasuk gangguan perilaku pada anak. Apalagi pada alergi sering terjadi proses peradangan lama yang kompleks.
  • TEORI METABOLISME SULFAT
    Pada penderita hipersensitvitas makanan, mungkin juga pada alergi makanan terdapat gangguan metabolisme sulfat pada tubuh. Gangguan Metabolisme sulfat juga diduga sebagai penyebab gangguan ke otak. Bahan makanan mengandung sulfur yang masuk ke tubuh melalui konjugasi fenol dirubah menjadi sulfat dibuang melalui urine. Pada penderita alergi yang mengganggu saluran cerna diduga juga terjadi proses gangguan metabolisme sulfur. Gangguan ini mengakibatkan gangguan pengeluaran sulfat melalui urine, metabolisme sulfur tersebut berubah menjadi sulfit. Sulfit inilah yang menggakibatkan gangguan kulit (gatal) pada penderita. Diduga sulfit dan beberapa zat toksin inilah yang dapat menganggu fungsi otak. Gangguan tersebut mengakibatkan zat kimiawi dan beracun tertentu yang tidak dapat dikeluarkan tubuh sehingga dapat mengganggu otak.
  • TEORI HUBUNGAN PENCERNAAN DAN OTAK (ENTERIC NERVOUS SYSTEM, GUT-BRAIN AXIS DAN ABDOMINAL BRAIN THEORY)
    Teori gangguan pencernaan berkaitan dengan Sistem susunan saraf pusat saat ini sedang menjadi perhatian utama. Teori inilah juga yang menjelaskan tentang salah satu mekanisme terjadinya gangguan perilaku seperti autism melalui Hipermeabilitas Intestinal atau dikenal dengan Leaky Gut Syndrome. Secara patofisiologi kelainan Leaky Gut Syndrome tersebut salah satunya disebabkan karena alergi makanan. Beberapa teori yang menjelaskan gangguan pencernaaan berkaitan dengan gangguan otak adalah :
  • KEKURANGAN ENSIM DIPEPTIDILPEPTIDASE
    Kekurangan ensim Dipeptidalpeptidase IV (DPP IV). pada gangguan pencernaan ternyata menghasilkan zat caseo morfin dan glutheo morphin (semacam morfin atau neurotransmiter palsu) yang mengganggu dan merangsang otak.
  • TEORI PELEPASAN OPIOID
    Teori pelepasan opioid (zat semacam opium) ikut berperanan dalam proses di atas. Hal tersebut juga sudah dibuktikan penemuan seorang ahli pada binatang anjing. Setelah dilakukan stimulasi tertentu pada binatang anjing, ternyata didapatkan kadar opioid yang meningkat disertai perubahan perilaku pada binatang tersebut. ]
  • TEORI ABDOMINAL EPILEPSI. Teori Enteric nervous brain juga mungkin yang mungkin bisa menjelaskan adanya kejadian abdominal epilepsi, yaitu adanya gangguan pencernaan khususnya nyeri perut yang dapat mengakibatkan epilepsi (kejang) pada anak atau orang dewasa. Beberapa laporan ilmiah menyebutkan bahwa gangguan pencernaan atau nyeri perut berulang pada penderita berhubungan dengan kejadian epilepsi.
  • TEORI KETERKAITAN HORMONAL DENGAN ALERGI
    Keterkaitan hormon dengan peristiwa alergi dilaporkan oleh banyak penelitian. Sedangkan perubahan hormonal itu sendiri tentunya dapat mengakibatkan manifestasi klinik tersendiri. Para peneliti melaporkan pada penderita alergi terdapat penurunan hormon seperti kortisol, metabolik. Hormon progesteron dan adrenalin tampak cenderung meningkat bila proses alergi itu timbul. Perubahan hormonal tersebut ternyata dapat mempengaruhi fungsi susunan saraf pusat atau otak . Diantaranya dapat mengakibatkan keluhan gangguan emosi, gampang marah, kecemasan, panik, sakit kepala, migraine dan keluhan lainnya.

APA SAJAKAH GANGGUAN YANG BISA TERJADI AKIBAT PENGARUH MAKANAN?
Bila makanan mengganggu saluran cerna secara langsung dan tidak langsung mempengaruhi fungsi otak, gejala yang bisa timbul adalah :

  • Gangguan neuroanatomis seperti sakit kepala, migraine, vertigo, tick (mata sering berkedip), lumpuh sesaat (salah satu kaki seperti jalan pincang hanaya sesaat), breath holding spel, short memory lost (mudah lupa) atau kejang tanpa disertai gangguan EEG dan CT scan/MRI.
  • Gangguan neurofungsional yang bisa terjadi adalah gangguan perilaku pada anak seperti gangguan konsentrasi, gangguan emosi, keterlambatan bicara, impulsive, depresi, gangguan konsentrasi, gangguan belajar dan memperberat gejala autism dan ADHD.


    MELIHAT BEBERAPA TEORI DAN FAKTA TERSEBUT TAMPAKNYA PARA ORANGTUA HARUS MEWASPADAI GANGGUAN SALURAN CERNA PADA ANAK TERNYATA DAPAT MEMPENGARUHI OTAK DAN PERILAKU ANAK TERMASUK MEMPERBERAT GANGGUAN PERILAKU YANG SUDAH TERJADI PADA AUTISM DAN ADHD ATAU GANGGUAN PERILAKU LAINNYA

    APAKAH “GASTROINTESTINAL FOOD HYPERSENSITIVITY” ?
  • “GASTROINTESTINAL FOOD HYPERSENSITIVITY“ atau hipersensitifitas makanan pada saluran cerna adalah suatu kumpulan gejala yang mengenai sistem saluran cerna yang ditimbulkan oleh reaksi simpang terhadap makanan. ]
  • Reaksi yang tidak diinginkan terhadap makanan seringkali terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Reaksi tersebut dapat diperantarai oleh mekanisme yang bersifat imunologi, farmakologi, toksin, infeksi, idiosinkrasi, metabolisme serta neuropsikologis terhadap makanan. Dari semua reaksi yang tidak diinginkan terhadap makanan dan zat aditif makanan sekitar 20% disebabkan karena alergi makanan. Tidak semua reaksi yang tidak diinginkan terhadap makanan merupakan reaksi alergi murni, tetapi banyak dokter atau masyarakat awam menggunakan istilah alergi makanan untuk semua reaksi yang tidak diinginkan dari makanan, baik yang imunologik atau non imunologis.

  • REAKSI SIMPANG MAKANAN TERSEBUT TERDIRI DARI :
  1. ALERGI MAKANAN (bereaksi terhadap susu sapi, udang, telor, buah dan sebagainya.
  2. INTOLERANSI MAKANAN (bereaksi terhadap zat warna, pengawet dan zat kimiawi tertentu di dalam makanan)
  3. CELIAC (bereaksi terhadap terigu dan sebagainya)
  4. ATAU REAKSI HIPERSENSITIVITAS LAINNYA

Menurut cepat timbulnya reaksi terhadap makanan dapat berupa reaksi cepat (Immediate Hipersensitivity/rapid onset reaction) dan reaksi lambat (delayed onset reaction). Reaksi cepat, reaksi terjadi berdasarkan reaksi kekebalan tubuh tipe tertentu. Terjadi beberapa menit sampai beberapa jam setelah makan atau terhirup pajanan makanan. Reaksi Lambat, terjadi lebih dari 8 jam setelah makan bahan penyebab reaksi simpang tersebut.


APAKAH TANDA DAN GEJALA “GASTROINTESTINAL FOOD HYPERSENSITIVITY” ?

  • GANGGUAN SALURAN CERNA SECARA PRAKTIS SULIT DIKETAHUI, MUNGKIN DENGAN CARA BIOPSI DISERTAI PEMERIKSAAN BIOMOLEKULER PADA SALURAN CERNA PENDERITA AKAN DAPAT DIKETAHUI GANGGUAN TERSEBUT. TETAP PEMERIKSAAN TERSEBUT HANYA DALAM KEGIATAN PENELITIAN. DALAM PRAKTEK SEHARI-HARI SULIT DILAKUKAN.
  • SECARA MUDAH BISA DIAMATI POLA GANGGUAN BUANG AIR BESAR ANAK : BERAK SULIT (NGEDEN ATAU TIDAK TIAP HARI), FESES WARNA GELAP, KERAS DAN BERBAU TAJAM ATAU CAIR.
  • GEJALA SALURAN CERNA (TERMASUK GIGI/MULUT) LAIN YANG HARUS DIWASPADAI :

  1. PADA BAYI : SALURAN CERNA:Gastrooesephagealrefluks/GER): Sering MUNTAH/gumoh), kembung,“cegukan”, buang angin keras dan sering, sering rewel gelisah (kolik) terutama malam hari, BAB > 3 kali perhari, BAB TIDAK TIAP HARI. Feses warna hijau,hitam dan berbau. Sering “ngeden & beresiko Hernia Umbilikalis (pusar), Scrotalis, inguinalis. Air liur berlebihan. Lidah sering timbul putih, bibir kering
  2. PADA ANAK YANG LEBIH BESAR : Mudah MUNTAH bila menangis, berlari atau makan banyak. MUAL pagi hari. SERING BAB 3 kali/hari atau lebih, SULIT BAB, TIDAK BAB TIAP HARI, berat ngeden, kotoran bulat hitam seperti kotoran kambing, keras, sering buang angin, berak di celana. Sering KEMBUNG, sering buang angin,bau tajam. Sering NYERI PERUT.
  3. GIGI DAN MULUT : Nyeri gigi, gigi berwarna kuning kecoklatan, gigi rusak, gusi mudah bengkak/berdarah. Bibir kering dan mudah berdarah, sering SARIAWAN, lidah putih & berpulau, MULUT BERBAU, air liur berlebihan.

GEJALA LAIN YANG MENYERTAI :

  1. GANGGUAN KULIT : KULIT : KULIT KERING DAN KASAR, TIMBUL BINTIL kemerahan dan bekas hitam seperti tergigit nyamuk, Warna putih pada kulit seperti ”panu”. Sering menggosok mata, hidung, telinga, sering menarik/memegang alat kelamin karena gatal. Kotoran telinga berlebihan, sedikit berbau, sakit telinga bila ditekan (otitis eksterna). Anus dan ujung penis sering merah gatal
  2. GANGGUAN ALERGI LAINNYA SEPERTI : SERING PILEK, BATUK, SESAK ATAU ASMA

APAKAH HIPERSENSITIF SALURAN CERNA TERSEBUT BERSIFAT TURUNAN ?

  • HIPERSENSITIFITAS MAKANAN SANGAT BERAGAM, MESKIPUN TIDAK SEMUA TAPI DIDUGA SEBAGIAN BESAR MENURUN DARI SALAH SATU ORANG TUA TERUTAMA PADA KASUS ALERGI.
  • DALAM PRAKTEK SEHARI-HARI PENULIS SERING MENEMUKAN SALAH SATU ORANG TUANYA TERUTAMA YANG MEMPUNYAI FISIK (WAJAH) ATAU GOLONGAN DARAH SAMA DENGAN PENDERITA JUGA MEMPUNYAI RIWAYAT PENCERNAAN YANG SENSITIF. GANGGUAN TERSEBUT ADALAH “GEJALA MAG”, SERING MUAL ATAU “MASUK ANGIN”, NYERI PERUT, SULIT BUANG AIR BESAR ATAU MALAH TERLALU GAMPANG BUANG AIR BESAR. DAN YANG MENARIK ORANGTUA TERSEBUT BIASANYA JUGA MEMPUNYAI KELUHAN FUNGSI NEUROFUNGSIONAL OTAK JUGA SEPERTI : MIGRAIN, SERING SAKIT KEPALA ATAU VERTIGO.

BAGAIMANA MENGETAHUI ATAU MEMASTIKAN MAKANAN YANG MENGGANGGU

  • KESULITAN YANG SERING DIALAMI DALAM PRAKTEK SEHARI-HARI ADALAH MENENTUKAN MAKANAN MANA YANG MENGGANGGU. BANYAK KONTROVERSI TERJADI : sebagian pendapat bahwa anak autis tidak bolah makan apel, orang tua lainnya bilang boleh makan apel, ahli lain menyarankan tidak boleh minum susu sapi, sedangkan dokter mengadviskan boleh makan semua atau bahkan dokter lain melarang hampir semua makanan. HAL INI MEMBUAT ORANG TUA SEMAKIN BINGUNG.
  • BILA MELIHAT TEORI TERSEBUT DI ATAS TAMPAKNYA HAMPIR SEMUA MAKANAN DAPAT MENGGANGGU SALURAN CERNA PENDERITA AUTIS, TETAPI SEBENARNYA TIDAK SEMUA MAKANAN MENGGANGGU PENDERITA AUTIS. SETIAP ANAK BERBEDA DALAM MENGHADAPI REAKSI YANG DITIMBULKAN TERHADAP MAKANAN. Contoh : ada seorang anak yang bereaksi terhadap apel tetapi anak lainnya mengkonsumsi apel tidak masalah.
  • UNTUK MEMASTIKAN ADANYA REAKSI HIPERSENSITIVITAS MAKANAN ADALAH DENGAN berdasarkan diagnosis klinis, yaitu anamnesa (mengetahui riwayat penyakit penderita) dan pemeriksaan yang cermat tentang riwayat keluarga, riwayat pemberian makanan, tanda dan gejala reaksi makanan sejak bayi dan dengan dengan eliminasi dan provokasi makanan secara buta (Double Blind Placebo Control Food Chalenge = DBPCFC).
  • Mengingat cara DBPCFC tersebut sangat rumit dan membutuhkan biaya dan waktu yang tidak sedikit. Beberapa pusat layanan alergi anak melakukan modifikasi terhadap metode pemeriksaan tersebut. Allergy Astma Clinic dan Allergy behaviour Clinic Jakarta melakukan modifikasi dengan melakukan “Eliminasi Provokasi Makanan Terbuka Sederhana”. Dalam diet sehari-hari dilakukan eliminasi atau dihindari beberapa makanan penyebab hipersensitifitas makanan selama 2-3 minggu, penderita hanya boleh berbagai makanan yang relatif aman. Setelah 3 minggu bila keluhan saluran cerna dan gangguan perilaku berkurang maka dilanjutkan dengan provokasi makanan yang dicurigai. Setelah itu dilakukan diet provokasi 1 bahan makanan dalam 1 minggu bila timbul gejala dicatat dalam buku harian. Disebut sebagai penyebab hipersensitifitas bila dalam 2-3 kali provokasi menimbulkan gejala saluran cerna dan perilaku anak. ELIMINASI PROVOKASI MAKANAN DAPAT SEBAGAI ALAT DIAGNOSIS DAN SEKALIGUS TERAPI (TERAPI TANPA OBAT)
  • PEMERIKSAAN LAINNYA TIDAK MEMASTIKAN PENYEBAB MAKANAN !!!! :

    TERDAPAT BERBAGAI PEMERIKSAAN YANG DIKATAKAN DAPAT MENGETAHUI PENYEBAB MAKANAN YANG MENGGANGGU ATAU MENGETAHUI ALERGI MAKANAN. TERNYATA UNTUK MEMASTIKAN PENYEBAB REAKSI SIMPANG MAKANAN BERBAGAI PEMERIKSAAN TERSEBUT AKURASINYA TIDAK TINGGI ATAU MEMPUNYAI SPESIFITAS DAN SENSITIFITAS YANG TIDAK TINGGI, SEHINGGA SERING TERJADI “FALSE NEGATIF” DAN “FALSE POSITIF”. Artinya negatif : belum tentu tidak alergi atau cocok, positif : belum tentu alergi atau tidak cocok.
  • Pemeriksaan yang dilakukan untuk mencari penyebab reaksi simpang makanan sangat banyak dan beragam. Baik dengan cara yang ilmiah hingga cara alternatif, mulai yang dari yang sederhana hingga yang canggih.
  1. CARA ILMIAH : diantaranya adalah uji kulit alergi (skin test alergi), pemeriksaan darah (IgE, RASt) pemeriksaan ini hanya memastikan adanya bakat alergi atau tidak tetapi tidak bisa memastikan makanan penyebab alergi.
  2. Pemeriksaan IgG (harus dikirim ke Amerika Serikat), pemeriksaan antibodi Gliadin, lemak tinja, Antibody monoclonal dalam sirkulasi, Pelepasan histamine oleh basofil (Basofil histamine release assay/BHR), Kompleks imun dan imunitas seluler, Intestinal mast cell histamine release (IMCHR), Provokasi intra gastra melalui endoskopi, biopsi usus setelah dan sebelum pemberian makanan. Pemeriksaan ini tidak terbukti secara ilmiah,
  3. Pemeriksaan alternative atau ”unproven” untuk mencari penyebab alergi makanan diantaranya adalah kinesiology terapan (pemeriksaan otot), Alat Vega (pemeriksaan kulit elektrodermal, bioresonansi, biotensor), Metode Refleks Telinga Jantung, Cytotoxic Food Testing, ELISA/ACT, Analisa Rambut, Iridology dan Tes Nadi. PEMERIKSAAN INI SEBENARNYA TIDAK DIREKOMENDASIKAN OLEH BEBERAPA ORGANISASI ALERGI DUNIA, SELAIN MAHAL JUGA SERING MENYESATKAN. TETAPI FAKTANYA MASIH SERING DIPAKAI OLEH KLINISI DAN PARA DOKTER.

FAKTA YANG TERJADI SKIN TEST ATAU RAST (PERIKSA DARAH UNTUK ALERGI) :

  • Seorang penderita autis setelah dilakukan eliminasi provokasi makanan, banyak didapatkan kemajuan. Tetapi orang tua sempat frustasi karena mendengar berbagai informasi akhirnya berobat ke Singapura. Dengan cekatan tim dokter di sana melakukan pemeriksaan mulai MRI atau CT scan, skin test allergy dan test darah alergi (RAST dan Ig). Kesimpulannya semua normal, advis tim dokter semua boleh makan bebas. Kalau menghindari makanan akan kurang gizi. Tapi apa lajur, 1-2 minggu setelah makan bebas ternyata perilaku anak menjelek lagi, tidur malamnya gelisah lagi, pencernaannya kacau lagi.

FAKTA YANG TERJADI PADA PEMERIKSAAN IgG yang dikirim ke Amerika Serikat (yang saat ini banyak dilakukan penderita autis) :

  1. FAKTA PERTAMA : SEORANG PENDERITA MELAKUKAN PEMERIKSAAN IgG DENGAN DARAH YANG SAMA DAN DALAM WAKTU YANG SAMA KE TIGA TEMPAT DI AMERIKA SERIKAT, HASILNYA : KETIGANYA BERBEDA , kesimpulannya tempat pertama melarang minum susu sapi, tempat ke dua membolehkan minum susu sapi tempat ke tiga boleh minum hanya sedikit. BINGUNG KHAN ?
  2. FAKTA KE DUA : pada usia 15 bulan hasil pemeriksaan IgG di Amerika Serikat menyimpulkan banyak makanan yang dinyatakan negatif dan anak dibolehkan mengkonsumsi semua makanan tersebut, tetapi ternyata 1 tahun kemudian gejala autism semakin memburuk. Setelah dicek ulang usia 21/2 tahun hampir semua makanan dinyatakan alergi. BINGUNG KHAN?

PENANGANAN AUTIS DENGAN PENDEKATAN DIET

  • Masih banyak perbedaan dan kontroversi dalam intervensi makanan pada penderita autis sesuai dengan pengalaman klinis dan wawasan ilmiah tiap klinisi. Sehingga banyak tercipta pola dan variasi pendekatan diet yang dilakukan oleh para ahli dalam menangani hipersensitivitas makanan pada autis. Banyak kasus pengendalian alergi makanan tidak berhasil optimal, karena penderita menghindari beberapa penyebab hopersensitivitas makanan hanya berdasarkan pemeriksaan yang bukan merupakan baku emas atau “Gold Standard” atau ELIMINASI PROVOKASI.
  • Pendekatan diet pada autis terdiri dari berbagai macam, seperti DIET FEINGOLD, DIET ALERGI, DIET ROTASI, DIET BEBAS GLUTEN DAN KASEIN, DIET BEBAS GULA DAN BERBAGAI POLA PENDEKATAN DIET LAINNYA. MANA YANG TERBAIK? SECARA BUKTI ILMIAH MASIH SULIT DIKATAKAN MANA YANG TERBAIK. SEMUA MEMPUNYAI KELEMAHAN DAN KELEBIHAN. CONTOH : DIET ROTASI : kelemahannya pengaturan diet berdasarkan pemeriksaan darah yang akurasinya tidak tinggi dan belum tentu benar,dan makanan yang mengganggu juga tetap diberikan. DIET FEINGOLD : kelemahan hanya menghindari zat pengawet dan zat warna, tidak memperhatikan alergi makanan. DIET ALERGI MAKANAN : kelemahan dasarnya tes kulit dan darah belum memastikan dan tidak memperhitungkan intolransi makanan lainnya seperti gluten dan zat warna (gluten dan zat warna bukan reaksi alergi). DIET BEBAS GLUTEN DAN CASEIN : kelemahan tidak mempertimbangkan alergi makanan dan intoleransi makanan lainnya.
  • POLA PENDEKATAN DIET YANG PALING IDEAL TAMPAKNYA ADALAH DENGAN MENGIDENTIFIKASI SECARA PASTI SEMUA MAKANAN YANG BERPOTENSI MENGGANGGU SALURAN CERNA BAIK UNTUK ALERGI MAKANAN, INTOLERANSI MAKANAN, CELIAC ATAU REAKSI HIPERSENSITIFITAS LAINNYA. PENANGANAN SEPERTI ITU TIDAK ADA CARA LAIN KECUALI DENGAN MENGGUNAKAN “ELIMINASI PROVOKASI HIPERSENSITIVITAS MAKANAN” YANG BERTUJUAN MENCARI SATU PERSATU DENGAN CERMAT DAN TELITI MELALUI BUKU HARIAN MAKANAN MANA YANG MENGGANGGU (TRIAL AND ERROR).
  • ELIMINASI PROVOKASI MAKANAN BUKAN BERARTI TIDAK BOLEH MAKAN MAKANAN TERTENTU SETERUSNYA, TETAPI SUATU ALAT DIAGNOSIS UNTUK MENGIDENTIFIKASI MAKANAN YANG MENGGANGGU DAN MAKANAN YANG AMAN SECARA BERTAHAP.
  • Penanganan autism dengan disertai adanya hipersensitivitas makanan haruslah dilakukan secara benar, paripurna dan berkesinambungan. Pemberian obat terus menerus bukanlah jalan terbaik dalam penanganan alergi makanan. Paling ideal adalah menghindari penyebab yang bisa menimbulkan keluhan alergi tersebut. Pemberian obat anti alergi, anti jamur dan anti bakteri jangka panjang berarti terdapat kegagalan dalam mengendalikan penyebab hipersensitifitas makanan.

KURANG GIZIKAH BILA MELAKUKAN ELIMINASI PROVOKASI MAKANAN
Memang beberapa makanan yang sering mengganggu mempunyai kadar gizi yang baik. Banyak orangtua dan sebagian klinisi kawatir resiko kekurangan gizi pada anak autis. Kekawatiran tersebut tidak perlu terjadi karena semua makanan yang dihindari ada pengganti makanan yang juga tak kalah gizinya. Misalnya : udang, cumi diganti ikan air tawar atau salmon, telor diganti daging sapi, susu sapi diganti susu kedelai atau susu beras. Bahkan bila mengkonsumsi makanan yang aman gangguan saluran cerna akan membaik maka nafsu makan akan membaik sehingga berat badan justru malah bertambah.

”EVEN THE BEST FOOD CAN MAKE YOUR CHILDREN SICK”.

PILIH MANA MAKAN ENAK ATAU ANAK SAKIT ? ANDA YANG MENENTUKAN,TAPIJANGAN KORBANKAN ANAK.



BAGAIMANA MENYIKAPI KONTROVERSI DIKALANGAN MEDIS

  • KONTROVERSI DI BIDANG MEDIS ADALAH HAL BIASA KHUSUSNYA DALAM MELAKUKAN PENDEKATAN TERHADAP PENGOBATAN SUATU PENYAKIT, TERGANTUNG PENGALAMAN KLINIS, WAWASAN ILMIAH DAN PENELITIAN YANG DILAKUKAN SANG KLINISI ATAU DOKTER. DEMIKIAN PULA KONTROVERSI YANG TERJADI DI KALANGAN MEDIS DALAM MENYIKAPI PENDEKATAN DIET PADA PASIEN AUTIS. Satu dokter membolehkan makan semua makanan yang bergizi pada anak autis, dokter lainnya melarang semua makanan, sedangkan dokter lainnya melakukan dengan cermat dan teliti makanan mana yang boleh dan tidak. Hal inilah sering menjadi orangtua bingung harus mengikuti yang mana.
  • Bila ini terjadi orang tua bisa membuka wawasan dengan melihat internet dengan membuka fakta ilmiah penelitian yang ada baik di Indonesia (meskipun sangat minim) dan di luar negeri. Atau, melakukan sharing dengan orangtua lainnya setelah melakukan pendekatan diet yang ideal (dengan elminasi provokasi bukan dengan pola diet lainnya seperti rotasi dll), ATAU kemudian melakukan sendiri terhadap anaknya dengan melakukan pendekatan eliminasi provokasi.
  • SETELAH MENGALAMI SENDIRI MUNGKIN KITA BARU PERCAYA FAKTA, BAHWA MEMANG BEBERAPA MAKANAN SANGAT JAHAT DAN SELAMA INI MENGGANGGU ANAK KITA.

APAKAH HARUS DIET SEUMUR HIDUP

  • Bila dalam proses eliminasi provokasi ditemukan makanan yang mengganggu maka penderita harus menunda atau menghindari makanan tersebut sementara. Kenapa hanya sementara karena dengan pertambahan usia sensitif tersebut bisa berkurang.
  • Meskipun tidak bisa hilang sepenuhnya, tetapi hipersenitifitas makanan biasanya akan membaik pada usia tertentu. Setelah usia 2 – 7 tahun biasanya imaturitas saluran cerna akan membaik. Sehingga setelah usia tersebut gangguan saluran cerna karena hipersensifitas makanan juga secara bertahap akan ikut berkurang. Bila gangguan fungsi saluran cerna akan membaik maka biasanya gangguan perilaku yang terjadipun akan berkurang.
  • Perbaikan gejala hipersensitifitas makanan dengan bertambahnya usia inilah yang menggambarkan bahwa gejala autis biasanya akan tampak mulai berkurang sejak periode usia di atas 2-7 tahun. Meskipun hipersensitivitas makanan tertentu biasanya akan menetap sampai dewasa, seperti udang, coklat, kepiting atau kacang tanah.

END POINT

  1. Permasalahan gangguan saluran cerna pada anak tampaknya tidak sesederhana seperti yang diketahui. Sering berulangnya penyakit, demikian luasnya sistem tubuh yang terganggu dan bahaya komplikasi yang terjadi termasuk pengaruh ke otak dan perilaku pada anak. Pengaruh hipersensitifitas makanan ke otak tersebut ternyata sebagai salah satu faktor yang memperberat penyakit Autis.
  2. KONTROVERSI YANG TERJADI DI KALANGAN MEDIS DALAM MENYIKAPI PENDEKATAN DIET SERING TERJADI. SETELAH MENGALAMI SENDIRI KITA HARUS PERCAYA FAKTA INI, BUKAN PERCAYA YANG LAIN BAHWA MEMANG MAKANAN TERSEBUT SELAMA INI JAHAT DAN MENGGANGGUN ANAK KITA.
  3. Eliminasi makanan tertentu dapat mengurangi gangguan perilaku pada penderita Autis. Diagnosis pasti hipersensitifitas makanan hanya dipastikan dengan Double Blind Placebo Control Food Chalenge (DBPCFC). Penghindaran makanan penyebab alergi tidak dapat dilakukan hanya atas dasar hasil tes kulit alergi atau tes alergi lainnya. Seringkali hasil yang didapatkan tidak optimal karena keterbatasan pemeriksaan tersebut dan bukan merupakan baku emas atau gold Standard dalam menentukan penyebab alergi makanan.
  4. Penanganan terbaik pada penderita hipersensitifitas makanan adalah dengan menghindari makanan penyebabnya. Pemberian obat-obatan ensim, obat alergi dan sejenisnya dalam jangka panjang adalah bukti kegagalan dalam mengidentifikasi makanan penyebab alergi. Mengenali secara cermat gejala gastrointestinal food hypersensitivity dan mengidentifikasi secara tepat penyebabnya, maka gejala alergi dan gangguan autisme dapat dikurangi.
  5. SEBENARNYA UNTUK MENDIAGNOSIS AUTIS TIDAK MEMERLUKAN PEMERIKSAAN LABORATORIUM YANG BERMACAM-MACAM DENGAN BIAYA YANG SANGAT BESAR DAN PEMERIKSAAN ITU TIDAK BISA MEMASTIKAN MENCARI PENYEBAB MAKANAN. YANG UTAMA ADALAH DIAGNOSIS KLINIS ATAU KEJELIAN DOKTER DALAM MENILAI RAWAYAT DAN PENAMPILAN PERILAKU PASIEN.
  6. Dengan melakukan deteksi gejala saluran cerna dan gangguan perkembangan dan perilaku sejak dini maka pengaruh hipersensitivitas makanan terhadap autism atau gangguan perilaku lainnya dapat dicegah atau diminimalkan. Sehingga sangatlah penting untuk mengetahui dan mengenali tanda dan gejala gangguan saluran cerna dan autism sejak dini.
  7. SECARA JANGKA PANJANG KITA HARUS MENCERMATI DAN MEMINIMALKAN GANGGUAN SALURAN CERNA PADA PENDERITA AUTIS. BILA HAL TERSEBUT CERMAT DILAKUKAN BERARTI DAPAT MEMINIMALKAN GANGGUAN PERILAKU PADA AUTIS SECARA JANGKA PANJANG. AWASI KELUHAN GANGGUAN SALURAN CERNA DAN AMATI CERMAT POLA FESES ANAK.
  8. JANGAN ANGGAP REMEH GANGGUAN SALURAN CERNA, HARUS DI DETEKSI DAN DIMINIMALKAN SEJAK DINI. GANGGUAN INI TERNYATA JUGA DAPAT MENINGKATKAN GANGGUAN PERILAKU PADA PENDERITA AUTIS DAN NON-AUTIS. MESKIPUN GANGGUAN YANG TERJADI PADA PENDERITA NON-AUTIS TIDAK LEBIH BERAT.
More about → AUTIS TIDAK AKAN OPTIMAL TANPA DIET “INTERVENSI DIET SEBAGAI TERAPI PADA PENDERITA AUTIS”