Showing posts with label sitem pernafasan. Show all posts
Showing posts with label sitem pernafasan. Show all posts

Artikel Penggunaan Antibiotika pada Sinusitis

Posted by Anonymous

Pendahuluan
Penyebab sinusitis atau radang sinus sebetulnya sepele. Tapi lantaran sering diabaikan, akibatnya dapat merugikan. Mungkin sedikit yang tahu kalau komplikasinya bisa ke otak, bola mata atau telinga tengah.
Di sekitar hidung ada beberapa rongga. Kita menyebutnya rongga sinus. Ada di bagian pipi, belakang hidung dan dahi. Semua rongga ini saling berhubungan dengan rongga hidung lewat liang-liang sinus. Sama seperti rongga hidung, dinding rongga sinus dilapisi selaput lendir juga.
Jika selaput lendir hidung meradang, yang mungkin disebabkan alergi, kemasukan bibit penyakit atau terluka, selaput sinus pun bisa mengalami hal yang sama. Bedanya, ingus produktif selaput lendir hidung dengan mudah dapat keluar melalui lubang hidung atau tenggorokan. Namun lendir atau ingus dari sinus yang jika meradang atau terinfeksi produksinya jadi meningkat, tidak selalu mudah dialirkan ke rongga hidung. Akibatnya lendir dan ingus terkumpul di rongga ingus yang normalnya cuma berisi udara.
Hal tersebut dapat terjadi sebab pada alergi, infeksi dan peradangan umumnya, selaput lendir sinus membengkak. Akibat pembengkakan selaput lendir sinus, liang sinus yang merupakan pintu satu-satunya penyalur lendir dan ingus dari saluran sinus ke rongga hidung menjadi tertutup. Ingus yang terus diproduksi akibat penyakit pada sinus tertahan tidak bisa keluar dari rongga sinus.
Peradangan pada sinus seringkali disebabkan oleh infeksi, baik infeksi virus maupun bakteri. Selain itu, faktor alergi juga memegang peranan penting dalam terjadinya sinusitis ini. Baik infeksi maupun alergi menyebabkan cairan pada sinus tidak dapat dialirkan secara baik sehingga bakteri/virus dapat tumbuh dan berkembang dalam sinus.
Pada tahap ini sebetulnya obat masih bisa mengoreksi sumber penyebab peradangannya, maupun membuka kembali liang sinus yang tertutup tadi. Dengan cara tersebut proses ingus yang terus-menerus tertimbun dan semakin menumpuk di dalam sinus dapat dihentikan.

Sasaran dan Tujuan Terapi
Terapi untuk penyakit sinusitis ini lebih pada mengatasi penyakit tersebut supaya tidak kambuh lagi dengan menghindari dan menghilangkan faktor pencetus (misalnya dengan menghindari diri supaya tidak terserang pilek, atau jika sudah terlanjur pilek sebaiknya segera berobat secara teratur, minum obatnya sesuai anjuran dokter dan tidak sembarangan minum antibiotik).

Strategi Terapi
Pengobatan sinusitis tergantung dari penyebabnya. Sinusitis yang disebabkan oleh infeksi bakteri tentu saja memerlukan terapi antibiotika. Bila dokter sudah memberikan terapi antibiotika, habiskan sesuai anjuran. Jangan sekali-kali menghentikan sendiri penggunaan antibiotika walaupun merasa sudah sehat. Minumlah sesuai dosis yang ditentukan oleh dokter.
1. Terapi non farmakologis
Untuk menghilangkan gejala sinusitis lakukan terapi uap panas. Caranya: didihkan 4-6 gelas air, tempatkan dalam mangkuk yang cukup besar, lalu tundukkan kepala (sambil diselubungi handuk) di atas mangkuk tersebut sehingga uap panas dapat di hirup secara maksimal. Terapi ini biasanya dilakukan selama 10-15 menit. Minum banyak cairan, seperti air, jus buah dan teh untuk mengencerkan lendir dalam rongga hidung. Banyak istirahat, terutama di tempat yang cukup lembab. Sedapat mungkin hindari pemicu alergi.
2. Terapi farmakologis
Antibiotika
Antibiotika merupakan zat yang dihasilkan oleh mikroba, terutama fungi, yang dapat menghambat pertumbuhan atau membasmi mikroba jenis lain. Antibiotika juga dapat dibuat secara sintesis. Penggunaan antibiotika didasarkan pada dua pertimbangan utama yaitu:
a. penyebab infeksi
Pemberian antibiotika yang paling ideal adalah berdasarkan hasil pemeriksaan mikrobiologi dan uji kepekaan kuman.
b. faktor pasien
Diantara faktor pasien yang perlu diperhatikan dalam pemberian antibiotika antara lain fungsi ginjal, fungsi hati, riwayat alergi, daya tahan terhadap infeksi, daya tahan terhadap obat, beratnya infeksi, usia, untuk wanita apakah sedang hamil atau menyusui dan lain-lain.

OBAT PILIHAN
Nama generik: Amoksisilin.
Nama dagang: Amoksisilin memiliki beberapa nama dagang, antara lain: Amoxsan® (kapsul 250 mg dan 500 mg, sirup kering 125 mg/5 ml dan 250 mg/5 ml, tetes pediatrik 100 mg/ml, serbuk injeksi 1 g/vial). Amoxillin® (kapsul 500 mg, sirup kering 125 mg/5 ml). Amobiotic® (kapsul 250 mg dan 500 mg, sirup 125 mg/5 ml, sirup forte 250 mg/ 5 ml, tetes 100 mg/ ml, injeksi 1 g/vial). Amoxil® (kapsul 250 mg dan 500 mg, sirup 125 mg/5 ml, sirup forte 250 mg/5 ml, tetes 125 mg/1,25 ml, injeksi 1 g/vial). Bufamoxy® (kapsul 250 mg), dll.
Indikasi: amoksisilin memiliki indikasi untuk mengatasi infeksi saluran kemih, otitis media, sinusitis, bronkitis kronik, salmonelosis invasif dan gonore. Juga untuk profilaksis endokarditis dan terapi tambahan pada meningitis listeria.
Kontra-indikasi: mempunyai sejarah hipersensitifitas terhadap penisilin.
Bentuk sediaan dan dosisnya:
Dosis oral untuk dewasa 250-500 mg tiap 8 jam, pada infeksi saluran nafas berat/berulang 3 gram tiap 12 jam. Dosis untuk anak kurang dari 10 tahun 125-250 mg tiap 8 jam, pada infeksi berat dapat diberikan dua kali lebih tinggi. Dosis injeksi intramuskular untuk dewasa 500 mg tiap 8 jam dan untuk dosis anak 50-100 mg/hari dalam dosis terbagi. Dosis injeksi intravena atau infus untuk dewasa 500 mg tiap 8 jam, dapat dinaikkan sampai 1 gram tiap 6 jam. Untuk anak dosisnya 50-100 mg/hari dalam dosis terbagi.
Efek samping: penggunaan amoksisilin dapat menimbulkan efek samping berupa mual, diare, ruam, kadang-kadang terjadi kolitis karena antibiotika.
Perhatian khusus:
· Reaksi hipersensitifitas berat sampai fatal dapat terjadi. Reaksi anafilaksis lebih sering terjadi pada pemberian parenteral dibanding oral.
· Kehamilan kategori B: penggunaan selama kehamilan seharusnya dihindari.
· Laktasi: penggunaan selama menyusui dapat menyebabkan diare, kandidiasis atau alergi pada bayi yang minum ASI.

Daftar Pustaka
Anonim, 2000, Informatorium Obat Nasional Indonesia (IONI), Departemen Kesehatan Republik Indonesia.

Anonim, 2006, Obat-Obat Penting Untuk Pelayanan Kefarmasian, Laboratorium Manajemen Farmasi dan Farmasi Masyarakat Bagian Farmasetika UGM.

Anonim, 2007, MIMS Indonesia Petunjuk Konsultasi, Ed. 6, Info Master, Jakarta.

Davey, P., 2003, At a Glance MEDICINE, Erlangga, Jakarta.



More aboutArtikel Penggunaan Antibiotika pada Sinusitis

ARTIKEL Penggunaan Antibiotika Golongan Penisilin (Ampisilin) Dalam Terapi Sinusitis Akut

Posted by Anonymous

Sinusitis adalah radang sinus pranasal. Bila terjadi pada beberapa sinus maka disebut multisinusitis sedangkan bila mengenai seluruhnya disebut pansinusitis. Sinus maksila merupakan salah satu sinus yang sering diderita, kemudian etmoid, frontal, dan sfenoid. Sinus maksila adalah sinus yang terbesar, letak ostiumnya lebih tinggi dari dasar, dasarnya adalah dasar akar gigi sehingga dapat berasal dari infeksi gigi dan ostiumnya terletak di meatus medius, di sekitar hiatus semilunaris yang sempit sehingga sering tersumbat.

Pada sinusitis akut, mukosa sinus masih reversible sehingga masih dapat disembuhkan dan dengan tindakan konservatif. Berdasarkan perjalanan penyakitnya, sinusitis akut merupakan infeksi yang berlangsung selama beberapa hari sampai beberapa minggu dan berdasarkan gejalanya disebut akut apabila terdapat tanda-tanda radang akut. Dari anamnesis biasanya didahului oleh infeksi saluran pernafasan atas (terutama pada anak kecil), berupa pilek dan batuk yang lama, lebih dari 7 hari.

Gejala subyektif terbagi atas gejala sistemik, yaitu demam dan lesu, serta gejala lokal yaitu hidung tersumbat, ingus kental, halitosis, sakit kepala yang lebih berat pada pagi hari, nyeri pada daerah sinus. Pada sinus maksila, nyeri terasa pada di bawah kelopak mata dan kadang menyebar ke alveolus dan terasa di gigi. Pada sinusitis etmoid, nyeri di pangkal hidung dan kantus medius, kadang nyeri di bagian mata terutama jika digerakkan. Pada sinusitis frontal, nyeri terpusat di dahi atau seluruh kepala. Pada sinusitis sfenoid, nyeri di verteks, oksipital, retro orbital dan di sfenoid. Gejala obyektif tampak pembengkakan di daerah muka. Pada sinusitis maksila terlihat di pipi dan kelopak mata bawah, pada sinusitis frontal terlihat di dahi dan kelopak mata atas. Pada sinusitis etmoid jarang bengkak kecuali bila ada komplikasi. Pada anak yang sedang demam tinggi diatas 39° C, ingus purulen dan sebelumnya menderita infeksi saluran nafas atas, dicurigai adanya sinusitis akut terutama jika tampak edema periorbital yang ringan. Khusus pada anak akan terdapat gejala batuk berat di siang hari dan sangat mengganggu pada malam hari, kadang disertai mengi.

Kuman penyebab sinusitis akut yang tersering adalah Streptococcus pneumoniae dan Haemophilus influenzae. Dalam terapi diberikan antibiotika selama 10-14 hari, namun dapat diperpanjang sampai semua gejala hilang. Pemilihannya hampir selalu empirik karena kultur nasal tidak dapat diandalkan dan aspirasi sinus maksila merupakan kontra indikasi. Jenis amoksisilin, ampisilin, eritromisin, sefaklor monohidrat, asetil sefuroksim, trimetoprim-sulfametoksazol, amoksisilin-asam klavulanat dan klaritromisin telah terbukti secara klinis. Jika dalam 48-72 jam tidak ada perbaikan klinis, maka dapat diganti dengan antibiotika jenis ampisilin atau amoksisilin dikombinasikan dengan asam klavulanat yang digunakan pada kuman penghasil beta laktamase. Pemberian antihistamin pada sinusitis akut purulen tidak dianjurkan karena merupakan penyakit infeksi dan dapat menyebabkan sekret menjadi kental dan menghambat drainase sinus.

Golongan penisilin merupakan antibiotik bakterisidal yang termasuk derivat natural dan semisintetis. Semua golongan penisilin memiliki inti asam 6-β-aminopenisilin dan punya mekanisme aksi yang sama. Semua jenis penisilin memberikan reaksi alergi silang. Perbedaan signifikan diantara jenis penisilin adalah resistensinya terhadap inaktivasi asam lambung, penisilinase, dan spektrum antimikroba. Ampisilin diekskresi ke dalam empedu dan urin. Obat ini terutama diindikasikan untuk pengobatan eksaserbasi bronkitis kronis dan otitis media yang biasanya disebabkan oleh Str. pneumonia dan H. influenzae. Ampisilin dapat diberikan per oral tapi yang diabsorpsi tidak lebih dari separonya. Absorpsi lebih rendah lagi jika terdapat makanan di dalam lambung.


Obat

Nama Generik : Ampicilin

Nama Dagang : Ambiopi (Mersifarma), Ambripen (Infarmind), Amcillin (Dumex Alpharma Indonesia), Ampex (Pharmac Apex), Ampi (Interbat), Arcocillin (Armoxindo), Bannsipen (Darya Varia), Bimapen (Bima Mitra), Binotal (Bayer Farma Indonesia), Bintapen (Bintang Toedjoe), Biopenam (Micosin), Cetacillin (Soho), Dancillin (Dankos), Decapen (Harsen), Dexypen (Dexa Medica), Itrapen (Itrasal), Kalpicillin (Kalbe Farma), Opicillin (Otto), Parpicillin (Prafa), Penbiotic (Bernofarm), Pharocillin (Pharos), Primacillin (Medikon), Ronexol (Zenith), Sanpicillin (Sanbe), Standacillin (Novartis Indonesia), Viccillin (Meiji Indonesia).

Indikasi :

Pada saluran nafas : infeksi karena Haemophylus influenzae nonpenisilinase, staphylococcus nonpenisilinase dan produksi penisilinase, streptococcus termasuk Streptococcus pneumoniae.

Pada saluran Gastro Intestinal (GI) : infeksi karena Shigella, Salmonella typhosa dan lainnya, E coli, Proteus mirabilis dan enterococcus.

Pada saluran Genito Urinari (GU) : infeksi karena E coli, P. Mirabilis, enterococcus, Shigella, S. Tiphosa, dan salmonella lain, serta Neisseria gonorrhoeae nonpenisilinase.

Meningitis (injeksi) : infeksi karena Neisseria meningitides, E. coli, Streptococcus grup B, dan Listeria monocytogenes.

Septikemi dan endokarditis (injeksi) : infeksi karena Streptococcus, staphylococcus, enterococcus, E. coli, P. mirabilis, dan Salmonella sp.

Kontraindikasi : sejarah hipersensitivitas terhadap penisilin

Bentuk sediaan : Kapsul 250 mg, 500 mg; Kaptab 250 mg, 500 mg; Serbuk Inj.250 mg/vial, 500 mg/vial, 1g/vial, 2 g/vial; Sirup 125 mg/5 ml, 250 mg/5 ml; Tablet 250 mg, 500 mg.

Dosis dan aturan pakai : Rute parenteral ( im atau iv) digunakan untuk infeksi moderat sampai berat dan bagi pasien yang tidak bisa minum obat. Dalam pemakaian oral, obat sebaiknya diminum 30 menit sebelum makan atau 2 jam setelah makan agar absorbsi dapat meningkat.

Endokarditis karena enterococcus : 12 g/hari iv dalam dosis terbagi tiap 4 jam ditambah gentamisin 1 mg/kg im atau iv tiap 8 jam selama 4-6 minggu.

Infeksi saluran nafas dan jaringan lunak : pasien ≥ 40 kg 250-500 mg tiap 6 jam, < 40 kg 25-50 mg/kg/hari dalam dosis terbagi, interval 6-8 jam.

Meningitis bakterial : dewasa/anak 150 -200 mg/kg/hari dalam dosis terbagi tiap 3-4 jam

Septikemi : dewasa/anak 150-200 mg/kg/hari, berikan iv selama 3 hari, dilanjutkan im tiap 3-4 jam

Infeksi GI dan GU selain N gonorrhoeae : oral > 20 kg 500 mg tiap 6 jam; < 20 kg 100 mg/kg/hari tiap 6 jam.

N gonorrhoeae : oral 3,5 g diberikan bersama 1g probenesid; parenteral ≥ 40 kg 500 mg iv atau im tiap 6 jam, < 40 kg 50 mg/kg/hari iv atau im dalam dosis terbagi dengan interval 6-8 jam

Adverse reaction :

Kardiovaskuler : cardiac arrest, takikardi palpitasi, hipertensi pulmoner, emboli paru, sinkop, reaksi vasovagal, hipotensi, vasodilatasi.

CNS : neurotoksisitas ( manifestasi : lethargy, hiperiritasi neuromuskuler, halusinasi, konvulsi dan seizure ).

Gastro Intestinal : glossitis, stomatitis, gastritis, mulut kering, rasa lidah tidak enak, mual, muntah, nyeri perut, diare, kolitis pseudomembran.

Geniro Urinari : vaginitis, neurogenik bladder, hematuri, proteinuri, gagal ginjal, impotensi.

Hematologi : pendarahan abnormal lebih sering terjadi pada pasien gagal ginjal.

Lokal : nyeri pada tempat injeksi, atropi, ulser kulit, ganngren, sianosis pada ekstrimitas dan kerusakan neuromuskuler.

Renal : nefritis interstisial (misal oliguri, proteinuri, hematuri, pyuri) jarang terjadi.

Resiko khusus :

Reaksi hipersensitivitas : reaksi hipersensitivitas berat sampai fatal terjadi. Reaksi anafilaksis lebih sering terjadi pada pemberian parenteral dibanding oral.

Kehamilan : kategori B. Tidak cukup bukti pada pemberian wanita hamil. Penisilin lewat plasenta. Penggunaan selama kehamilan sebaiknya dihindari.

Laktasi : penisilin diekskresi di asi pada kadar rendah. Dapat menyebabkan diare, kandidiasis atau alergi pada bayi yang minum asi.

Daftar Pustaka

Anonim, 2000, Informatorium Obat Nasional Indonesia 2000, Dirjend POM, Departemen Kesehatan, Jakarta.

Anonim, 2006, Obat-Obat Penting Untuk Pelayanan Kefarmasian, edisi revisi, Fakultas Farmasi Universitas Gajah Mada, Yogyakarta.

Hayes, C, Peter., Mackay, W, Thomas., 1997, Diagnosis dan Terapi, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.

Mansjoer, Arif, dkk., 2001, KAPITA SELEKTA KEDOKTERAN, edisi ketiga jilid pertama, Media Aesculapius FKUI, Jakarta.


More aboutARTIKEL Penggunaan Antibiotika Golongan Penisilin (Ampisilin) Dalam Terapi Sinusitis Akut

ARTIKEL PENGGUNAAN KORTIKOSTEROID INHALASI DALAM TERAPI ASMA

Posted by Anonymous

PENDAHULUAN

Asma merupakan penyakit yang disebabkan karena adanya inflamasi/ peradangan kronis pada saluran pernafasan dengan ciri-ciri seperti serangan akut secara berkala, sesak nafas, mudah tersengal-sengal, disertai batuk dan hipersekresi dahak, serta ‘mengi’ pada pasien asma yang sudah parah. Jumlah penderita asma dari tahun ke tahun mengalami peningkatan yang cukup tinggi, sehingga diperlukan pengobatan yang tepat dan benar agar tidak sampai menyebabkan kematian.
Asma dapat terjadi karena meningkatnya kepekaan otot polos di sekitar saluran nafas seseorang dibandingkan saluran nafas normal terhadap stimuli tidak spesifik yang dihirup dari udara, yang pada orang sehat tidak memberikan reaksi pada saluran pernafasan seperti perubahan suhu, dingin, polusi udara (asap rokok), dll. Selain itu dapat pula terjadi karena reaksi alergi, atau karena infeksi saluran pernafasan yang dapat menyebabkan radang/ inflamasi sehingga saluran nafas pada pasien asma lebih menyempit lagi.

PENTATALAKSANAAN TERAPI

Sasaran terapi pada pasien asma dengan menggunakan kortikosteroid inhalasi yaitu peradangan saluran nafas dan gejala asma. Terapi asma disini bertujuan untuk menghambat atau mengurangi peradangan saluran pernafasan serta mencegah dan atau mengontrol gejala asma, sehingga gejala asma berkurang/ hilang dan pasien tetap dapat bernafas dengan baik.

Strategi terapi asma dapat dibagi menjadi dua yaitu terapi non farmakologi (tanpa menggunakan obat) dan terapi farmakologi (dengan obat).

Terapi Non Farmakologi

Untuk terapi non farmakologi, dapat dilakukan dengan olah raga secara teratur, misalnya saja renang. Sebagian orang berpendapat bahwa dengan berenang, gejala sesak nafas akan semakin jarang terjadi. Hal ini mungkin karena dengan berenang, pasien dituntut untuk menarik nafas panjang-panjang, yang berfungsi untuk latihan pernafasan, sehingga otot-otot pernafasan menjadi lebih kuat. Selain itu, lama kelamaan pasien akan terbiasa dengan udara dingin sehingga mengurangi timbulnya gejala asma. Namun hendaknya olah raga ini dilakukan secara bertahap dan dengan melihat kondisi pasien.

Selain itu dapat diberikan penjelasan kepada pasien agar menghindari atau menjauhkan diri dari faktor-faktor yang diketahui dapat menyebabkan timbulnya asma, serta penanganan yang harus dilakukan jika serangan asma terjadi.

Terapi Farmakologi

Sedangkan untuk terapi farmakologi, dapat dibagi menjadi dua jenis pengobatan yaitu:

* Quick-relief medicines, yaitu pengobatan yang digunakan untuk merelaksasi otot-otot di saluran pernafasan, memudahkan pasien untuk bernafas, memberikan kelegaan bernafas, dan digunakan saat terjadi serangan asma (asthma attack). Contohnya yaitu bronkodilator.
* Long-term medicines, yaitu pengobatan yang digunakan untuk mengobati inflamasi pada saluran pernafasan, mengurangi udem dan mukus berlebih, memberikan kontrol untuk jangka waktu lama, dan digunakan untuk membantu mencegah timbulnya serangan asma (asthma attack). Contohnya yaitu kortikosteroid bentuk inalasi.

Obat-obat asma yang digunakan antara lain bronkodilator (simpatomimetika: salbutamol, metilsantin: teofilin, antikolinergik: apratropium bromide), kortikosteroid (prednisolon, budesonida,dll) dan obat-obatan lain seperti ekspektoran (guaifenesin), mukolitik (bromheksin), antihistamin (ketotifen), dan antileukotrien (zafirlukast). Untuk memaksimalkan pengobatan asma biasanya digunakan kombinasi beberapa obat. Obat-obat asma tersedia dalam berbagai macam bentuk sediaan, yaitu oral, parenteral, dan inhalasi. Namun yang akan dibahas lebih lanjut disini yaitu kortikosteroid bentuk inhalasi.

KORTIKOSTEROID INHALASI

Kortikosteroid terdapat dalam beberapa bentuk sediaan antara lain oral, parenteral, dan inhalasi. Ditemukannya kortikosteroid yang larut lemak (lipid-soluble) seperti beclomethasone, budesonide, flunisolide, fluticasone, and triamcinolone, memungkinkan untuk mengantarkan kortikosteroid ini ke saluran pernafasan dengan absorbsi sistemik yang minim. Pemberian kortikosteroid secara inhalasi memiliki keuntungan yaitu diberikan dalam dosis kecil secara langsung ke saluran pernafasan (efek lokal), sehingga tidak menimbulkan efek samping sistemik yang serius. Biasanya, jika penggunaan secara inhalasi tidak mencukupi barulah kortikosteroid diberikan secara oral, atau diberikan bersama dengan obat lain (kombinasi, misalnya dengan bronkodilator). Kortikosteroid inhalasi tidak dapat menyembuhkan asma. Pada kebanyakan pasien, asma akan kembali kambuh beberapa minggu setelah berhenti menggunakan kortikosteroid inhalasi, walaupun pasien telah menggunakan kortikosteroid inhalasi dengan dosis tinggi selama 2 tahun atau lebih. Kortikosteroid inhalasi tunggal juga tidak efektif untuk pertolongan pertama pada serangan akut yang parah.Dosis untuk masing-masing individu pasien dapat berbeda, sehingga harus dikonsultasikan lebih lanjut dengan dokter, dan jangan menghentikan penggunaan kortikosteroid secara langsung, harus secara bertahap dengan pengurangan dosis.

MEKANISME AKSI

Kortikosteroid bekerja dengan memblok enzim fosfolipase-A2, sehingga menghambat pembentukan mediator peradangan seperti prostaglandin dan leukotrien. Selain itu berfungsi mengurangi sekresi mukus dan menghambat proses peradangan. Kortikosteroid tidak dapat merelaksasi otot polos jalan nafas secara langsung tetapi dengan jalan mengurangi reaktifitas otot polos disekitar saluran nafas, meningkatkan sirkulasi jalan nafas, dan mengurangi frekuensi keparahan asma jika digunakan secara teratur.

INDIKASI

Kortikosteroid inhalasi secara teratur digunakan untuk mengontrol dan mencegah gejala asma.

KONTRAINDIKASI

Kontraindikasi bagi pasien yang hipersensitifitas terhadap kortikosteroid.

EFEK SAMPING

Efek samping kortikosteroid berkisar dari rendah, parah, sampai mematikan. Hal ini tergantung dari rute, dosis, dan frekuensi pemberiannya. Efek samping pada pemberian kortikosteroid oral lebih besar daripada pemberian inhalasi. Pada pemberian secara oral dapat menimbulkan katarak, osteoporosis, menghambat pertumbuhan, berefek pada susunan saraf pusat dan gangguan mental, serta meningkatkan resiko terkena infeksi. Kortikosteroid inhalasi secara umum lebih aman, karena efek samping yang timbul seringkali bersifat lokal seperti candidiasis (infeksi karena jamur candida) di sekitar mulut, dysphonia (kesulitan berbicara), sakit tenggorokan, iritasi tenggorokan, dan batuk. Efek samping ini dapat dihindari dengan berkumur setelah menggunakan sediaan inhalasi. Efek samping sistemik dapat terjadi pada penggunaan kortikosteroid inhalasi dosis tinggi yaitu pertumbuhan yang terhambat pada anak-anak, osteoporosis, dan karatak.

RESIKO KHUSUS

Pada anak-anak, penggunaan kortikosteroid inhalasi dosis tinggi menunjukkan pertumbuhan anak yang sedikit lambat, namun asma sendiri juga dapat menunda pubertas, dan tidak ada bukti bahwa kortikosteriod inhalasi dapat mempengaruhi tinggi badan orang dewasa.

Hindari penggunaan kortikosteroid pada ibu hamil, karena bersifat teratogenik.

CARA PENGGUNAAN INHALER

* Sebelum menarik nafas, buanglah nafas seluruhnya, sebanyak mungkin
* Ambillah inhaler, kemudian kocok
* Peganglah inhaler, sedemikian hingga mulut inhaler terletak dibagian bawah
* Tempatkanlah inhaler dengan jarak kurang lebih dua jari di depan mulut (jangan meletakkan mulut kita terlalu dekat dengan bagian mulut inhaler)
* Bukalah mulut dan tariklah nafas perlahan-lahan dan dalam, bersamaan dengan menekan inhaler (waktu saat menarik nafas dan menekan inhaler adalah waktu yang penting bagi obat untuk bekerja secara efektif)
* Segera setelah obat masuk, tahan nafas selama 10 detik (jika tidak membawa jam, sebaiknya hitung dalam hati dari satu hingga sepuluh)
* Setelah itu, jika masih dibutuhkan dapat mengulangi menghirup lagi seperti cara diatas, sesuai aturan pakai yang diresepkan oleh dokter
* Setelah selesai, bilas atau kumur dengan air putih untuk mencegah efek samping yang mungkin terjadi.

PENUTUP

Pengobatan asma harus dilakukan secara tepat dan benar untuk mengurangi gejala yang timbul. Pengobatan asma memerlukan kerja sama antara pasien, keluarga, dan dokternya. Oleh karena itu pasien asma dan keluarganya harus diberi informasi lengkap tentang obat yang dikonsumsinya; kegunaan, dosis, aturan pakai, cara pakai dan efek samping yang mungkin timbul. Pasien hendaknya juga menghindari faktor yang menjadi penyebab timbulnya asma. Selain itu, pasien harus diingatkan untuk selalu membawa obat asma kemanapun dia pergi, menyimpan obat-obatnya dengan baik, serta mengecek tanggal kadaluarsa obat tersebut. Hal ini perlu diperhatikan agar semakin hari kualitas hidup pasien semakin meningkat.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 1998, Buku Saku Kedokteran Dorland edisi 25, Penerbit ECG, Jakarta

Anonim, 2000, Informatorium Obat Nasional Indonesia, Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta

Boushey H.A., 2001, Obat-obat Asma dalam Katzung, B.G., Farmakologi Dasar & Klinik, Ed.I, diterjemahkan oleh Sjbana, D., dkk, Salemba Medika, Jakarta

Brenner, MD, 2005, Current Clinical Strategies , Laguna Hills, California

Dipiro,JT., dkk, 2005, Pharmacotherapy: A Pathophysiologic Approach, Sixth Edition, The McGraw-Hill Companies, Inc.., USA


More aboutARTIKEL PENGGUNAAN KORTIKOSTEROID INHALASI DALAM TERAPI ASMA