Showing posts with label sistem renal. Show all posts
Showing posts with label sistem renal. Show all posts

Penggunaan Furosemid (Diuretik Kuat) pada Terapi Gagal Ginjal Akut

Posted by Anonymous

Ginjal merupakan organ penting dari tubuh manusia karena ginjal mempunyai fungsi regulasi dan ekskresi, yaitu mengatur keseimbangan cairan tubuh, elektrolit, dan asam basa dengan cara menyaring darah yang melalui ginjal, reabsorbsi air, elektrolit dan nonelektrolit serta mengeksekresikan kelebihannya sebagai kemih. Ginjal juga mengeluarkan sisa metabolisme (seperti urea, kreatinin, dan asam urat) dan zat kimia asing.


Gagal ginjal akut (GGA) adalah penurunan fungsi glomerular dan tubular yang terjadi secara tiba-tiba (mendadak), berakibat pada kegagalan ginjal untuk mengekresikan produk sisa nitrogen dan menjaga homeostasis cairan dan elektrolit.

GGA dapat disebabkan karena terjadinya penurunan aliran darah, yang dapat merupakan akibat dari infeksi yang parah, serious injury, dehidrasi, daya pompa jantung menurun (kegagalan jantung), tekanan darah yang sangat rendah (shock), atau kegagalan hati (sindroma hepatorenalis). GGA juga dapat dikarenakan oleh adanya zat-zat yang menyebabkan kerusakan/trauma pada ginjal, seperti kristal, protein atau bahan lainnya dalam ginjal. Penyebab GGA lainnya yaitu terjadi penyumbatan yang menghalangi pengeluaran urin dari ginjal, misalnya karena adanya batu ginjal, tumor yang menekan saluran kemih, atau pembengkakan kelenjar prostat.

GGA dikelompokkan berdasarkan penyebabnya, yang pertama adalah prerenal azotemia. Prerenal azotemia adalah penyebab GGA yang paling sering dijumpai. Azotemia adalah keadaan dimana terjadi peningkatan sisa-sisa produk nitrogen. Prerenal azotemia merupakan kegagalan ginjal akibat hipoperfusi parenkim renal, dengan atau tanpa hipotensi arteri sistemik. Hipoperfusi renal dengan hipotensi arteri sistemik dapat disebabkan oleh penurunan volume intravaskular (perdarahan, dehidrasi, excessive diuresis, pankreatitis), perubahan resistensi vascular, maupun output jantung yang rendah. Hipoperfusi tanpa hipotensi arteri sistemik biasanya disebabkan oleh penghambatan billateral renal artery, atau penghambatan unilateral pada pasien dengan satu ginjal yang berfungsi. Namun jika prerenal azotemia dapat segera ditangani dengan mengembalikan aliran darah ke ginjal, kerusakan parenkim ginjal tidak akan terjadi.

Kelompok kedua adalah functional acute renal failure. Pada GGA jenis ini, terjadi perubahan aliran darah pada glomerulus tanpa adanya penurunan perfusi ginjal atau adanya kerusakan struktural pada ginjal. Kegagalan ginjal secara fungsional mengarah pada penurunan tekanan hidrostatik glomerular sehingga terjadi penurunan produksi ultrafiltrat glomerular tanpa mengakibatkan adanya kerusakan pada ginjal. Kondisi klinis seperti ini dijumpai pada individu yang mengalami penurunan volume darah efektif (misal pada kasus congestive heart failure, sirosis, penyakit hati yang parah, hipoalbuminemia) atau pada individu dengan penyakit renovaskular (misalnya renal artery stenosis). Kegagalan ginjal jenis ini juga umum dijumpai pada pasien gagal jantung yang menerima terapi ACEI.

Kelompok ketiga adalah acute intrinsic renal failure. GGA jenis ini terjadi akibat adanya kerusakan pada ginjal itu sendiri, yaitu pada struktur di dalam ginjal, seperti pembuluh-pembuluh darah kecil, glomeruli, tubulus ginjal, dan interstitium.

Kelompok keempat adalah postrenal obstruction. GGA terjadi dalam sistem urinaria dari tubulus ginjal ke uretra. Obstruksi pada kandung kemih merupakan penyebab umum terjadinya obstructive uropathy. GGA yang disebabkan oleh terbentuknya kristal biasa terjadi pada pasien yang mendapat banyak obat dengan kelarutan rendah.

Parameter untuk membedakan penyebab GGA

Laboratory Test



Prerenal Azotemia



Acute Intrinsic Renal Failure



Postrenal Obstruction

Urine sodium

FENa (%)

Urine osmolality

(mOsm/kg)

Urine/serum creatinine

BUN/SCr



<20

<1

1200



>40:1

>20



>40

>2

<300



<20:1

>20



>40

>1

<300



<20:1

<20

Gejala-gejala yang terjadi pada pasien GGA antara lain adalah oliguria (volume air kemih berkurang); nokturia (berkemih di malam hari); pembengkakan tungkai, kaki atau pergelangan kaki, bahkan menyeluruh; berkurangnya rasa, terutama di tangan atau kaki; kejang; tremor tangan; mual dan muntah.

Karena sasaran terapi untuk GGA adalah penyebabnya, terapi yang diberikan sangat bervariasi untuk masing-masing pasien. Tujuan terapi pada pengobatan GGA adalah menyembuhkan gejala GGA, menyokong kerja ginjal, dan mencegah komplikasi yang dapat terjadi akibat GGA.

Strategi terapi untuk GGA dapat dilakukan secara nonfarmakologi dan farmakologi. Renal replacement therapies (RRT) adalah terapi nonfarmakologi yang paling umum diberikan kepada pasien penderita GGA.
Terapi farmakologi untuk pengobatan GGA antara lain dengan dopamin, diuretik osmotik, dan diuretik kuat. Dopamin menstimulasi reseptor adrenergik dan dopaminergik. Efek hemodinamik tergantung pada dosis; dosis rendah terutama menstimulasi reseptor dopaminergik yang dapat menghasilkan vasodilatasi renal; dosis tinggi menstimulasi dopaminergik dan adrenergik yang dapat menghasilkan stimulasi jantung dan vasodilatasi renal. Mannitol (diuretik osmotik) meningkatkan tekanan osmotik pada filtrasi glomerular yang menghambat reabsorpsi air dan elektrolit pada tubular serta meningkatkan keluaran urin. Furosemid (diuretik kuat) menurunkan reabsorpsi sodium dan klorida di ascending loop Henle dan tubulus distal ginjal. Meningkatkan ekskresi sodium, air, klorida, kalsium, dan magnesium.

Diuretik kuat diindikasikan untuk edema, hiperkalsemia akut, hiperkalemia, GGA, dan hipertensi. Diuretik kuat terabsorpsi cepat, tereliminasi melalui ginjal dengan filtrasi glomerular dan sekresi tubular. Diuretik kuat selektif menghambat reabsorpsi NaCl di thick ascending limb (TAL) dan menginduksi sintesis prostaglandin renal sehingga terjadi vasodilatasi pada arteriola aferen (pembuluh darah yang masuk ke glomerulus). Penggunaan obat golongan AINS dapat mengurangi mekanisme diuretik ini karena obat golongan AINS menghambat sintesis prostaglandin.

Furosemid

Nama generik

Furosemide tablet 40 mg

Nama dagang di Indonesia

Arsiret (Meprofarm) tablet 40 mg

Cetasix (Soho) tablet 40 mg

Classic (Kimia Farma) tablet 40 mg

Diurefo (Pyridam) tablet 40 mg

Farsiretic (Ifars) tablet 40 mg

Farsix (Fahrenheit) cairan inj. 10 mg/ml; tablet 40 mg

Furosix (Landson) cairan inj. 10 mg/ml; tablet 40 mg

Gralixa (Graha) tablet 20 mg, 40 mg

Husamid (Gratia Husada) kaptabs 40 mg

Impugan (Alpharma) cairan inj. 20 mg/2 ml; tablet 40 mg

Lasix (Hoechst Marion Roussel Indonesia) cairan inj. 20 mg/2 ml; lar. infus 250 mg/25 ml; tablet 40 mg

Uresix (Sanbe) tablet ss. 40 mg

Yekasix (Yekatria) tablet 40 mg

Indikasi

Edema, oliguria karena gagal ginjal, hipertensi

Kontraindikasi

Hipersensitif terhadap furosemid, sulfonilurea; anuria; kekurangan elektrolit

Bentuk sediaan

Tablet, tablet salut selaput, cairan injeksi, larutan infus, kaplet

Dosis

Dosis dewasa

Oral : 20-80 mg/dosis, peningkatan dosis sampai 20-40 mg/dosis dengan interval 6-8 jam. Dosis dapat ditingkatkan sampai 600 mg/hari jika terjadi udem.

IM, IV : 20-40 mg/dosis, dapat diulangi dalam 1-2 jam jika diperlukan, dan ditingkatkan sebesar 20 mg/dosis sampai mendapatkan efek yang diinginkan.

Pada GGA, furosemid (1-3 g/hari PO atau IV) dapat digunakan, tetapi hindari penggunaannya pada pasien GGA yang menderita oliguria.

Dosis anak-anak

Oral : 1-2 mg/kg/dosis dapat ditingkatkan sebesar 1 mg/kg/dosis sampai mendapatkan efek yang diinginkan. Dosis maksimal sebesar 6 mg/kg/dosis.

IM, IV : 1 mg/kg/dosis ditingkatkan sebesar 1 mg/kg/dosis pada interval 6-12 jam sampai mendapatkan efek yang diinginkan, dapat ditingkatkan sampai 6 mg/kg/dosis.

Aturan pakai

Injeksi secara IV harus diberikan secara perlahan, kecepatan maksimum pemberian adalah 4 mg/menit.

Diberikan dengan makanan untuk mengurangi rasa tidak nyaman pada saluran cerna.

Efek samping

Rasa tidak enak di perut, hipotensi ortostatik, gangguan saluran cerna, penglihatan kabur, pusing, sakit kepala

Resiko khusus

Kehamilan

Faktor resiko C. Melewati sawar plasenta, meningkatkan produksi urin fetal, gangguan elektrolit. Biasanya penggunaan diuretik selama hamil dihindari karena adanya resiko penurunan perfusi plasenta.



Daftar Pustaka

Anonim, 2000, Informatorium Obat Nasional Indonesia, 72-73, Departemen Kesehatan Republik Indonesia Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan, Jakarta.

Anonim, 2006, MIMS Indonesia Petunjuk Konsultasi, edisi 2006-2007, 52-55, PT InfoMaster, Jakarta.

Comstock, Thomas J., 2005, Renal Disorders, in Kimble, M.A.K., Young, L.L., Kradjan, W.A., Guglielmo, B.J., Alldredge, B.K., Correli, R.L., The Clinical Use of Drugs, 8th ed., chapter 31, Lippincott Williams & Wilkins, USA.

DiPiro, J.T., Talbert, R.L., Yee, G.C., Matzke, G.R., Wells, B.G., Posey, L.M., 2005, Pharmacotherapy, 6th ed., 781-796, Appleton & Lange, USA.

Ives, Harlan E., 2007, Diuretics Agents, in Katzung, Bertram G., Basic and Clinical Pharmacology, 10th ed., McGraw-Hill Companies, Inc., USA.

Lacy, C.F., Armstrong, L.L., Goldman, M.P., dan Lance, L.L., 2006, Drug Information Handbook, 14th ed., 712-714, Lexi-Comp, Inc., USA.

Neal, Michael J, 2002, Medical Pharmacology at a Glance, 4th ed., 34-35, Blackwell Science Ltd., UK.

More aboutPenggunaan Furosemid (Diuretik Kuat) pada Terapi Gagal Ginjal Akut

ARTIKEL PENGGUNAAN ANTIHIPERTENSI PENGHAMBAT ENZIM PENGUBAH ANGIOTENSIN PADA NEFROPATI DIABETIK

Posted by Anonymous

Diabetes Melitus (DM), atau yang dikenal sebagai penyakit kencing manis, merupakan sekumpulan gangguan metabolisme karbohidrat, lemak, dan protein yang ditandai dengan hiperglikemia (peningkatan kadar gula dalam darah sehingga kadarnya melebihi normal) serta dapat mengakibatkan komplikasi kronis termasuk mikrovaskular dan makrovaskular. Seseorang dikatakan menderita penyakit DM jika dalam pemeriksaan kadar gula darah puasa menunjukkan kadar gula darah lebih dari atau sama dengan 126 mg/dl,
atau tes toleransi kadar gula dalam darah setelah 2 jam pemasukan glukosa secara oral lebih dari atau sama dengan 200 mg/dl, atau kadar glukosa dalam plasma sewaktu lebih dari atau sama dengan 200 mg/dl dengan gejala-gejala DM seperti merasa cepat lapar, rasa haus yang berlebihan, dan sering buang air kecil. Jika DM tidak ditangani dan diobati dengan baik maka akan dapat menimbulkan komplikasi pada mata, ginjal, atau pada saraf, dan dapat menyebabkan amputasi pada kaki. Komplikasi yang terjadi pada ginjal disebut dengan nefropati diabetik.

Nefropati diabetik merupakan suatu komplikasi penyakit DM yang termasuk dalam komplikasi mikrovaskular, yaitu komplikasi yang terjadi pada pembuluh darah yang lebih halus (kecil). Hal ini dikarenakan komplikasi ini terjadi pada ginjal, di mana pembuluh darah pada organ tersebut merupakan pembuluh darah yang halus. Nefropati diabetik timbul utamanya karena kerusakan fungsi glomerulus (penyaring yang ada dalam ginjal). Tingginya kadar gula dalam darah akan membuat struktur ginjal berubah sehingga fungsinyapun ikut berubah (rusak), termasuk fungsi ginjal dalam menyaring. Dalam keadaan normal protein tidak tersaring dan tidak melewati glomerulus karena ukuran protein yang besar tidak dapat melewati lubang-lubang glomerulus yang kecil. Dengan demikian adanya protein dalam urin dapat menunjukkan pasien DM mengalami komplikasi (gangguan) pada ginjalnya, dan pada awalnya ditunjukkan dengan mikroalbuminuria.

Pemeriksaan untuk mengetahui nefropati diabetik harus dimulai pada saat pasien DM tipe 2 didiagnosis menderita DM, sedangkan untuk pasien DM tipe 1 disarankan pemeriksaan dimulai 5 tahun setelah didiagnosis DM. Dalam pemeriksaan tersebut dilakukan pemeriksaan urin untuk mengetahui adanya mikroalbuminuria (disebut mikroalbuminuria jika terdapat lebih dari 30-300 mg albumin dalam pemeriksaan pengumpulan urin 24 jam atau terdapat lebih dari 30-300 mg albumin per gram kreatinin pada pengumpulan urin semalam atau pengukuran rasio albumin-kreatinin pada pengumpulan urin acak). Jika mikroalbuminuria tidak tampak pemeriksaan diulang setiap satu tahun satu kali baik untuk pasien DM tipe 1 maupun tipe 2. Bersamaan dengan atau sesaat setelah perkembangan mikroalbuminuria, hipertensi sering terjadi. Hipertensi ini akan memperburuk nefropati diabetik dan merupakan komponen penting dalam perkembangan gagal ginjal.

Setelah pemeriksaan menunjukkan adanya mikroalbuminuria sebaiknya segera dilakukan pengobatan. Pengobatan nefropati diabetik dilakukan dengan sasaran fungsi ginjal pasien, kadar gula darah, dan tekanan darah (fungsi jantung). Adapun tujuan dari pengobatan nefropati diabetik adalah untuk mencegah berkembangnya mikroalbuminuria menjadi makroalbuminuria (albumin lebih dari atau sama dengan 300 mg dalam pemeriksaan urin), menghambat penurunan fungsi ginjal pada pasien DM dengan makroalbuminuria, dan menurunkan kejadian penyakit kardiovaskular. Semakin cepat mikroalbuminuria diketahui maka akan semakin cepat pengobatan dilakukan. Semakin cepat pengobatan dilakukan maka manfaat yang didapatkan akan semakin besar pula dan pasien dapat terhindar dari gagal ginjal di mana fungsi ginjal sudah jauh menurun atau bahkan tidak dapat berfungsi lagi.

Untuk dapat mencapai tujuan tersebut maka diperlukan suatu strategi dalam pengobatan nefropati diabetik. Untuk pasien dengan normoalbuminuria (jumlah albumin dalam urin kurang dari 30 mg) pengobatan dilakukan dengan pencegahan terjadinya nefropati diabetik. Pencegahan tersebut dilakukan dengan kontrol kadar gula darah secara intensif, yang dapat dilakukan dengan menggunakan obat antidiabetik secara teratur. Penelitian klinik menunjukan bahwa dengan menggunakan obat secara teratur (ditunjukan dengan level HbA1c kurang dari 7%) dihubungkan dengan menurunnya resiko terkena nefropati diabetik pada pasien DM tipe 1 dan tipe 2. Selain itu kontrol tekanan darah secara intensif juga dapat menurunkan resiko penyakit kardiovaskular dan terjadinya komplikasi dari DM. Target tekanan darah untuk pasien DM adalah 130/80 mmHg.

Prinsip pengobatan pada pasien dengan mikroalbuminuria dan makroalbuminuria pada dasarnya sama dengan pencegahan penyakit nefropati diabetik, meskipun pada kasus ini strategi yang digunakan lebih banyak dan lebih intensif. Pada pasien dengan mikroalbuminuria dan makroalbuminuria kontrol gula darah dilakukan dengan menggunakan insulin atau obat antidiabetik oral sehingga level HbA1c kurang dari 7%. Kontrol kadar gula darah ini akan menurunkan hiperfiltrasi (peningkatan laju penyaringan glomerulus) dan menurunkan mikroalbuminuria pasien DM pada tahap awal penyakit ini.

Selain itu terapi antihipertensi juga dapat menurunkan mikroalbuminuria. Peningkatan mikroalbuminuria berhubungan dengan peningkatan tekanan darah dan kolesterol LDL. Dengan menggunakan antihipertensi maka mikroalbuminuria dapat dikontrol. Bukti dari beberapa penelitian mendukung peran spesifik obat antihipertensi golongan penghambat enzim pengubah angiotensin dalam menurunkan tekanan intraglomerular (dalam glomerulus) sebagai tambahan peran golongan obat tersebut dalam menurunkan tekanan darah tinggi. Tekanan darah yang dituju untuk pasien dengan mikroalbuminuria dan makroalbuminuria adalah kurang dari 130/80 mmHg atau 125/75 mmHg dengan peningkatan kreatinin serum dan proteinuria lebih dari 1,0 g/24 jam.

Rekomendasi strategi pengobatan untuk pasien dengan mikroalbuminuria dan makroalbuminuria yaitu dengan pengobatan antihipertensi, meliputi penghambat enzim pengubah angiotensin dan/atau antagonis reseptor angiotensin II, dan diet rendah protein (0,6 - 0,8 g/kg berat badan tiap hari). Tujuan yang ingin dicapai pada pasien dengan mikroalbuminuria adalah penurunan atau pengurangan albuminuria atau kembali ke normoalbuminuria. Sedangkan untuk pasien dengan makroalbuminuria dilakukan untuk mencapai kadar protein dalam urin serendah mungkin atau kurang dari 0,5 g/24 jam.

Pengobatan dapat dilakukan dengan nonfarmakologi (tanpa obat). Cara ini dilakukan dengan diet di mana terapi nutrisi direkomendasikan untuk semua orang yang menderita DM. Tujuan utamanya adalah mencapai keluaran metabolik yang optimal dan sebagai pencegahan dan terapi untuk komplikasi. Mengganti daging merah dengan daging ayam dalam diet akan menurunkan ekskresi albumin dalam urin sebesar 46% dan menurunkan kolesterol total, kolesterol LDL, dan apoliprotein B pada pasien DM tipe 2 dengan mikroalbuminuria.

Pengobatan dengan obat dapat dilakukan pada kontrol kadar gula darah dan kontrol tekanan darah. Seperti yang telah dituliskan di atas, kontrol tekanan darah dapat dilakukan dengan salah satunya penghambat enzim pengubah angiotensin. Obat golongan ini bekerja dengan cara dengan cara menghambat kerja enzim pengubah angiotensin sehingga perubahan angiotensin I menjadi angiotensin II dapat diblok. Angiotensin II merupakan vasokonstriktor kuat dan juga menstimulasi sekresi aldosteron. Dengan “terhalangnya” pembentukan angiotensin II maka vasokonstriksi (pengecilan pembuluh darah) tidak terjadi dan tekanan darah tetap (tidak menjadi tinggi). Hal yang sama juga terjadi dalam pembuluh darah di ginjal. Degradasi bradikinin juga diblok oleh penghambat enzim pengubah angiotensin. Hal ini membuat pasien yang menggunakan obat ini akan mengalami batuk kering persisten dan merupakan efek samping dari penghambat enzim pengubah angiotensin.

Pada pasien DM tipe 1 dan tipe 2 normotensif (tekanan darah normal) yang memiliki mikroalbuminuria, penelitian menunjukkan bahwa pengobatan dengan penghambat enzim pengubah angiotensin menurunkan laju perkembangan mikroalbuminuria menuju insufisiensi ginjal. Selain itu, mempertahankan kadar gula darah mendekati normal dengan pengobatan secara intensif juga dapat menurunkan resiko nefropati diabetik secara signifikan. Jika penyakit ginjal stadium akhir (gagal ginjal) sudah terjadi, transplantasi ginjal merupakan terapi pengganti yang lebih ditawarkan daripada menggunakan penghambat enzim pengubah angiotensin.

Obat pilihan : antihipertensi golongan penghambat enzim pengubah angiotensin

1. Kaptopril

Nama generik : Kaptopril

Nama dagang di Indonesia : Capoten, Casipril, Dexacap, Farmoten, Metopril, Otoryl, Praten, Scantensin, Tensobon.

Indikasi : hipertensi, gagal jantung kongestif, setelah infark miokard, nefropati diabetik.

Kontraindikasi : untuk pasien yang hipersensitif terhadap kaptopril atau komponen lain dalam obat dalam komposisi obat; pasien yang memiliki riwayat angiodema dikaitkan dengan pengobatan dengan penghambat enzim pengubah angiotensin terdahulu; pasien dengan penyempitan arteri bilateral ginjal; pasien yang sedang hamil trimester kedua atau ketiga.

Bentuk sediaan : tablet 12,5 mg, 25 mg, 50 mg.

Dosis dan aturan pakai : untuk pengobatan nefropati diabetik digunakan dosis 25 mg, diminum 3 kali dalam sehari; jika diperlukan penurunan tekanan darah lebih lanjut, antihipertensi lain dapat digunakan bersama kaptopril; pada gangguan ginjal berat awalnya 12,5 mg, 2 kali sehari.

Efek samping : hipotensi, batuk kering yang persisten, pusing, sakit kepala, letih, mual, memperburuk fungsi ginjal (mungkin terjadi pada pasien dengan penyempitan arteri bilateral ginjal), ruam kulit, reaksi hipersensitif, gangguan tidur, gelisah, anemia, radang pankreas.

Resiko khusus : pada pasien yang sedang hamil pada trimester pertama resiko penggunaan obat ini adalah termasuk kategori C, di mana penelitian pada wanita (manusia) belum tersedia. Pasien yang sedang hamil pada trimester kedua dan ketiga termasuk dalam kategori D, di mana terdapat bukti positif resiko pada janin manusia, tetapi obat dapat digunakan pada wanita hamil walaupun beresiko yaitu pada kasus penyakit serius dan obat yang lebih aman tidak dapat digunakan atau inefektif.

2. Enalapril

Nama generik : Enalapril

Nama dagang di Indonesia : Meipril, Renacardon, Tenace.

Indikasi : hipertensi ringan sampai berat, pengobatan CHF, disfungsi ventrikel kiri setelah miokard infark, nefropati diabetik.

Kontraindikasi : untuk pasien yang hipersensitif terhadap enalapril atau enalaprilat; pasien yang memiliki riwayat angiodema terkait dengan pengobatan dengan penghambat enzim pengubah angiotensin terdahulu; pasien dengan penyempitan arteri bilateral ginjal; pasien yang sedang hamil trimester kedua atau ketiga.

Bentuk sediaan : tablet 2,5 mg, 5 mg, 10 mg, 20 mg.

Dosis dan aturan pakai : awalnya 5 mg/hari. Penyesuaian dosis pada gangguan ginjal : klirens kreatinin 30-80 ml/menit beri 5 mg/hari dititrasi sampai maksimum 40 mg; klirens kreatinin kurang dari 30 ml/menit beri 2,5 mg/hari dititrasi (ditingkatkan) sampai tekanan darah terkontrol.

Efek samping : batuk kering yang persisten, pusing, sakit kepala, lelah, lesu, mual, diare, ruam, hipotensi, memperburuk fungsi ginjal (mungkin terjadi pada pasien dengan penyempitan arteri bilateral ginjal), ruam kulit, reaksi hipersensitif.

Resiko khusus : pada pasien yang sedang hamil pada trimester pertama resiko penggunaan obat ini adalah termasuk kategori C, di mana penelitian pada wanita (manusia) belum tersedia. Pasien yang sedang hamil pada trimester kedua dan ketiga termasuk dalam kategori D, di mana terdapat bukti positif resiko pada janin manusia, tetapi obat dapat digunakan pada wanita hamil walaupun beresiko yaitu pada kasus penyakit serius dan obat yang lebih aman tidak dapat digunakan atau inefektif.

Anonim, 2000, Infomatorium Obat Nasional Indonesia 2000, Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta.

Lacy, C.F., Armstrong, L.L., Goldman, M.P., and Lance, L.L., 2006, Drug Information Handbook, 14th Ed., Lexi-Comp Inc., United States of America.

Genuth, S., 2003, Diabetes Mellitus, in Pale, D.C., Federman, D.D., (Eds.), Scientific American Medline, 2003 Ed., Vol.1, 582-584,606, WebMD Inc., United States of America.

Gross, J.L., de Azevedo, M.J., Silveiro, S.P., Canani, L.H., Caramori, M.L. and Zelmanovitz, T., 2005, Diabetic Nephropathy: Diagnosis, Prevention, and Treatment, http://care.diabetesjournals.org/cgi/content/full/28/1/.

McPhee, S.J., Lingappa, V.R., Ganong, W.F., and Lange, W.F., 1995, Pathophysiology of Disease an Introduction to Clinical Medicine, First (1st) Ed., 384-387, Prentice-Hall International Inc., London.

Masharani, U., 2006, Diabetes Mellitus and Hypoglycemia, dalam Tierney, L.M., McPhee, S.J., dan Papadakis, M.A., (Eds.), Current Medical Diagnosis and Treatment, 45th Ed., 1221-1222, The Mc Graw-Hill Companies, New York.

Triplitt, C.L., Reasner, C.A., and Isley, W.L., 2005, Diabetes Mellitus, dalam Dipiro, J.T., Talbert, R.L., Yee, G.C., Matzke, G.R., Wells, B.G., dan Posey, L.M., (Eds.), Pharmacotherapy A Patophysiologic Approach, Sixth (6th) Ed., 1333-1363, The Mc Graw-Hill Companies, New York.


More aboutARTIKEL PENGGUNAAN ANTIHIPERTENSI PENGHAMBAT ENZIM PENGUBAH ANGIOTENSIN PADA NEFROPATI DIABETIK

ARTIKEL PENGGUNAAN DIURETIK (TIAZID) PADA PENGOBATAN BATU GINJAL

Posted by Anonymous

Batu ginjal adalah batu yang terdapat dalam saluran urinaria, khusunya di dalam ginjal. Berdasarkan penyebabnya, batu ginjal dibedakan menjadi empat jenis yaitu batu kalsium oksalat, batu asam urat, batu sistin dan batu strufit. Batu ginjal yang sering terjadi adalah batu kalsium oksalat, dimana batu yang ada terbentuk karena urin menjadi jenuh oleh kalsium oksalat. Terjadinya infeksi atau buang air kecil kurang teratur juga dapat mempengaruhi pembentukan batu ginjal. Terkadang munculnya batu ginjal terjadi di saat kadar kalsium dalam darah meninggi secara tidak normal, juga jika kelenjar paratiroid kelebihan memproduksi air seni. Batu tersebut dapat tinggal di ginjal atau hancur dan kemudian keluar melalui saluran urinaria. Batu yang berukuran kecil (kurang dari 4 mm) dapat dengan mudah keluar dari saluran urinaria tanpa terasa sakit. Sedangkan batu yang berukuran besar akan tertahan di ginjal maupun kandung kemih, dan akan menimbulkan rasa sakit. Sekitar 90% batu ginjal dapat keluar melalui saluran urinaria secara spontan dalam waktu tiga sampai enam minggu, dengan bantuan banyak air putih (10 – 12 gelas tiap hari).

Batu ginjal lebih banyak terjadi pada pria. Sekitar 80% pria berusia 20 – 50 tahun diketahui menderita batu ginjal. Pada wanita, batu ginjal umumnya terjadi pada fase-fase akhir kehamilan. Sedangkan pada anak, batu ginjal umumnya disebabkan oleh faktor genetik (keturunan). Seseorang yang memiliki keluarga dengan riwayat batu ginjal mempunyai resiko paling besar untuk terkena batu ginjal. Makanan tertentu juga dapat meningkatkan resiko batu ginjal. Hal lain yang menjadi faktor resiko terjadinya batu ginjal adalah stress, overweight, dan posisi tidur yang selalu tetap. Beberapa penyakit juga menjadi faktor resiko batu ginjal, antara lain gout (reumatik), hipertensi (tekanan darah tinggi), infeksi saluran kencing, dan inflammatory bowel diseases. Selain penyakit, obat-obatan seperti obat-obat AIDS (Indinavir, Zidovudine, Lamivudine, antibiotik kotrimoksazol), obat-obat hormonal, dan antasid (penggunaan jangka panjang), juga dapat menjadi faktor resiko batu ginjal.

Penderita batu ginjal umumnya merasakan nyeri pada bagian pinggang, saluran kencing, perut bagian bawah (daerah sekitar bawah pusar), sakit saat berkemih (anyang-anyangèn – bahasa jawa) dan kehilangan nafsu makan. Pemeriksaan batu ginjal dapat dilakukan melalui beberapa cara, antara lain ultrasound, CT-scans, X-ray dan urin tampung 24 jam untuk memastikan jenis batu penyebab dan bagaiman strategi terapinya.

Terapi batu ginjal dapat dilakukan dengan mengubah pola makan, penggunaan obat-obatan seperti diuretik, kalium sitrat maupun fosfat serta pembedahan. Batu ginjal tidak dapat larut hanya dengan mengatur asupan makanan dan minum obat tertentu. Obat-obatan yang digunakan hanya akan mencegah agar batu tersebut tidak bertambah besar dan membantu pengeluaran batu ginjal secara spontan. Untuk itu dapat dipilih obat-obatan yang dapat menurunkan kadar kalsium dalam urin dan meningkatkan ferkuensi buang air kecil (diuresis). Salah satu obat yang sering digunakan dalam pengobatan batu ginjal adalah diuretik. Diuretik umumnya digunakan pada pengobatan hipertensi dan gangguan lain yang berhubungan dengan pengeluaran cairan dan natrium dari tubuh. Diuretik lemah (golongan tiazid) akan meningkatkan reabsorbsi kalsium di nefron, mencegah pembentukan batu ginjal dengan mengurangi jumlah kalsium di urin. Diuretik juga meningkatkan ekskresi natrium, klorida dan sejumlah air dengan menghambat reabsorbsinya. Hal ini menyebabkan meningkatnya frekuensi pengeluaran urin (beser – bahasa jawa). Tiazid digunakan jika terapi non farmakologis, yaitu mengubah pola makan, yang dilakukan tidak dapat membantu. Penggunaan tiazid akan menurunkan ukuran atau memperkecil ukuran batu ginjal hingga kurang dari setengahnya. Efek samping dari obat-obatan golongan ini adalah hipositraturia (penurunan kadar sitrat dalam darah), memperbesar frekuensi buang air kecil, disfungsi seksual (terutama pada pria), meningkatkan kadar trigliserid dalam darah, serta memperburuk gout dan diabetes. Yang termasuk obat-obat golongan ini antara lain hydrochlorothiazide (HCT), chlorothiazide, chlorthalidone, methychlotiazide, dan polythiazide. Diuretic tiazid yang umum digunakan sebagai pengobatan batu ginjal adalah klortalidon. Di pasaran, klortalidon tersedia dalam bentuk sediaan tablet dengan berbagai merk yaitu Hygroton (Novartis), Tenoret 50* dan Teroretic (Astra Zeneca). Dosis awal klortiadon untuk dewasa yang digunakan adalah 50 – 100 mg/hari dengan dosis maksimal 200 mg/hari. Dosis untuk anak (tidak direkomendasikan) yaitu 2 mg/kgBB/kali, tiga kali seminggu atau 2 mg/kgBB/hari, sedangkan dosis awal untuk lanjut usia (geriatri) adalah 12,5 – 25 mg/hari. Penggunaan diuretik golongan tiazid tidak dianjurkan pada anak-anak dan lanjut usia serta beresiko tinggi pada wanita hamil dan menyusui. Penggunaan tiazid pada geriatri diketahui dapat menyebabkan pusing dan hipositraturia yang parah. Pada wanita hamil, penggunaan tiazid dapat menyebabkan jaundice, pendarahan dan rendahnya kadar kalium pada bayi yang akan dilahirkan. Tiazid dapat melewati sawar susu, sehingga akan mempengaruhi kualitas ASI yang diminum bayi. Oleh karena itu penggunaan tiazid pada bulan-bulan pertama menyusui harus dihindari.

Bagaimanapun, mencegah lebih baik daripada mengobati. Beberapa cara dapat dilakukan untuk mencegah terbentuknya batu ginjal. Antara lain minum banyak air putih, kurang lebih 12 gelas dalam satu hari. Selain air putih, jahe, lemon, jeruk nipis dan jus buah juga dapat dikonsumsi sebagai upaya pencegahan. Namun demikian, air putih tetaplah yang terbaik. Mengkonsumsi makanan berserat seperti gandum, nasi, kedelai serta minyak ikan dapat mencegah resiko terkena batu ginjal. Batasi konsumsi kopi, teh dan cola (1 sampai 2 gelas per hari) karena kafein akan menyebabkan tubuh kehilangan cairan dengan cepat. Batasi juga konsumsi garam karena akan menurunkan efek tiazid. Jika batu ginjal yang ada terbentuk dari kalsium oksalat, perlu dibatai konsumsi makanan dengan kandungan oksalat tinggi seperti lobak, bayam dan coklat.




PUSTAKA

Anonim, 2003, Kidney Stones, http://www.healthandage.com/html/well_connected/pdf/doc81.pdf. Diakses pada tanggal 14 Desember 2007.

Anonim, 2005, Kidney Stone, http://www.fccj.org/campuses/north/lac/endocrine_system/kidney.html. Diakses pada tanggal 21 Desember 2007.

Anonim, 2007, Adam Healthcare: Kidney Stone-Risk Factor, www.about.com. Diakses pada tanggal 14 Desember 2007.Anonim, 2007, Fact Sheet: Kidney Stone, www.betterhealth.vic.gov.au. Diakses pada tanggal 21 Desember 2007.

Anonim, 2007, Adam Healthcare: Kidney Stone-Medication, www.about.com. Diakses pada tanggal 14 Desember 2007.

Anonim, 2007, What I Need To Know About Kidney Stone, www.kidney.niddk.nih.gov. Diakses pada tanggal 14 Desember 2007.

Anonim, 2007, Thiazides For Kidney Stone, http://www.webmd.com/kidney-stones/thiazides-for-kidney-stones#hw204647. Diakses pada tanggal 21 Desember 2007.

Lacy, C.F., Armstrong, L.L., Goldman, M.P., and Lance, L.L., 2006, Drug Information Handbook, 14th edition, 333, Lexi-Comp Inc., United States.

Sunaryo, 1995, Diuretik dan Antidiuretik, dalam Ganiswara, S.G., Farmakologi dan Terapi, edisi 4, 385-386, Gaya Baru, Jakarta.

More aboutARTIKEL PENGGUNAAN DIURETIK (TIAZID) PADA PENGOBATAN BATU GINJAL

LOOP DIURETICS PADA GAGAL GINJAL AKUT: PRERENAL AZOTEMIA

Posted by Anonymous

A. PENDAHULUAN

Gagal ginjal akut (GGA) merupakan penurunan fungsi ginjal secara tiba-tiba yang ditandai dengan ketidakmampuan renal (ginjal) untuk mengeluarkan ’sampah’ sisa metabolit (air dan ’sampah’ nitrogen) dan menjaga keseimbangan asam basa. Peningkatan ’sampah’ nitrogen dalam darah (misalnya kreatinin dan nitrogen urea) disebut azotemia. Seseorang dikatakan mengalami GGA bila terjadi peningkatan kadar kreatinin (SrCr) >0,5 mg/dL (untuk SrCr dasar <2,5 mg/dL) dan peningkatan SrCr >1 mg/dL (untuk SrCr dasar >2,5 mg/dL). (Kimble & Anne, 2005)
GGA biasanya dialami oleh pasien rawat inap di RS dan jumlahnya hampir 2 per 3 dari seluruh keluhan yang berkaitan dengan ginjal. GGA yang terjadi sebelum masuk RS (community acquired acute renal failure) sekitar 1% dan ± 75% diantaranya disebabkan berkurangnya aliran darah ginjal (prerenal azotemia). Dari semua pasien GGA, 20-60% memerlukan dialisis sebagai terapi pertama dan 25% diantaranya memerlukan terapi dialisis jangka panjang karena penyakit ginjalnya bertambah parah.

Berdasarkan perkembangan penyakitnya (patogenesis), GGA dipengaruhi oleh beberapa keadaan fisiologis produksi dan eliminasi urin diantaranya:

1. Darah yang mengalir ke glomeruli.
2. Pembentukan dan pengolahan ultrafiltrat oleh glomeruli dan sel tubular.
3. Pengeluran urin melalui ureter, kandung kemih, dan uretra.

Berdasarkan faktor-faktor diatas, GGA dapat dikelompokkan menjadi prerenal azotemia, gagal ginjal akut intrinsik, gagal ginjal akut fungsional dan obstruksi postrenal. Artikel ini hanya membahas GGA bagian prerenal azotemia.

B. PRERENAL AZOTEMIA

Prerenal azotemia disebabkan kurangnya aliran darah ke ginjal (hipoperfusi) dengan atau tanpa hipotensi (tekanan darah kurang dari normal). Hipoperfusi renal disertai hipotensi dapat disebabkan penurunan jumlah cairan tubuh (misalnya dehidrasi) atau penurunan volume darah efektif. Contoh penyakit dimana terjadi penurunan volume darah efektif tanpa pengurangan jumlah cairan tubuh adalah gagal ginjal kongestif dan gagal hati. Hipoperfusi renal tanpa hipotensi umumnya dikarenakan tersumbatnya kedua pembuluh arteri ginjal atau satu pembuluh arteri pada pasien dengan satu ginjal yang berfungsi. Sumbatan ini dapat diakibatkan oleh kolesterol maupun maupun thrombus (sumbatan karena ada darah yang membeku).

Keadaan diatas tidak menyebabkan kerusakan pada ginjal. Akan tetapi, kondisi hipoperfusi yang terus menerus menyebabkan ginjal kekurangan darah (iskemik) yang berakhir pada kematian sel tubulus (acute tubular necrosis). Sel tubulus berfungsi untuk menjaga keadaan normal tubuh dengan cara reabsorbsi (penyerapan kembali). Hal tersebut akan memperparah penyakit ginjal.

C. SASARAN, TUJUAN DAN STRATEGI TERAPI

Sasaran dari terapi GGA adalah penyebabnya. Penyebab dari prerenal azotemia adalah hipoperfusi renal. Dengan demikian, tujuan terapinya adalah menghilangkan hipoperfusi renal sembari menunggu ginjal pulih dan berfungsi dengan baik serta mencegah keparahan yang mungkin terjadi. Strategi yang diterapkan untuk menghadapinya adalah terapi tanpa obat (non farmakologis) dan terapi obat (terapi farmakologis). Terapi non farmakologis berupa terapi hidrasi. Terapi ini merupakan terapi pertama yang harus dilakukan dan cairan yang digunakan adalah NaCl 0,45% atau 0,9%. Terapi hidrasi yang cukup dapat meningkatkan perfusi renal dan menurunkan kerja dari sel tubulus. Harus diperhatikan agar pasien tidak mengalami over hidrasi khususnya pasien yang mengalami disfungsi ventrikular kiri atau preexisting liver. Hindari juga penggunaan obat-obat yang bersifat nefrotoksik (racun bagi ginjal) yaitu penisilin, ciprofloksasin, amfoterisin B, golongan aminoglikosida dan sulfonamid. Terapi farmakologis akan dibahas pada bagian selanjutnya.

D. OBAT PILIHAN : Diuretika Kuat (Loop Diuretic)

1. Nama generik: Furosemid

Nama dagang di Indonesia: Afrosic (produksi Heroic), Arsiret (Meprofarm), Diurefo (Pyridam), Farsiretic (Ifars), Farsix (Fahrenheit), Furosix (Landson), Gralixa (Graha Farma), Husamid (Gratia Husada Farma), Impugan (Alpharma), Lasix (Aventis), Laveric (Harsen), Mediresix (First Medipharma), Uresix (Sanbe Farma), Yekasix (Yekatria Farma)

Indikasi: edema, oliguria (urin yang dihasilkan < 400 ml/hari) karena gagal ginjal

Kontraindikasi: keadaan prakoma karena sirosis (pengerasan) hati, gagal ginjal dengan anuria (urin yang dihasilkan < 50 ml/hari)

Bentuk sediaan: Tablet 40 mg; Injeksi 10 mg/ml

Dosis, aturan pakai:

Dosis oral (tablet) pada oliguria

Dosis awal : 250 mg sehari; jika diperlukan dosis lebih besar, tingkatkan bertahap dengan 250 mg, dapat diberikan setiap 4-6 jam sampai dosis maksimal tunggal 2 g (jarang digunakan).

Dosis (injeksi) intramuscular atau intravena lepas lambat

Dosis awal 20-50 mg; Anak-anak 0,5 -1,5 mg/kg dengan dosis harian maksimal 20 mg

Dosis (injeksi) intravena pada oliguria

Dosis awal 250 mg selama 1 jam (kecepatan tidak lebih dari 4 mg/menit), jika tidak tercapai output urin yang diinginkan lanjutkan dengan dosis 500 mg selama 2 jam. Jika belum tercapai, lanjutkan lagi dengan dosis 1 g selama 4 jam; jika respon masih tidak memuaskan, mungkin diperlukan dialisis; dosis efektif (sampai dengan 1 g) dapat diulang setiap 24 jam

Efek samping: hiponatremia, hipomagnesia, hipokalemia (kekurangan ion natrium, kalium dan magnesium), alkalosis hipokloremik, ekskresi kalsium meningkat; jarang terjadi mual, gangguan pencernaan, hiperuricemia dan gout (penyakit asam urat); hiperglikemia (jarang terjadi jika dibandingkan golongan thiazid), kadar kolesterol dan trigliserid meningkat yang bersifat sementara; jarang terjadi ruam kulit, fotosensitivitas dan depresi sumsum tulang (hentikan pengobatan), pankreatitis (terjadi pada dosis besar injeksi), tinitus dan ketulian (biasanya karena pemberian dosis injeksi yang besar dan cepat, serta pada gangguan ginjal)

Resiko khusus (harus diperhatikan pada pasien dengan kondisi berikut): Hipotensi; kehamilan dan menyusui; dapat menyebabkan hipokalemia dan hiponatremia; memperburuk Diabetes Mellitus; gagal hati, pembesaran prostat

2. Nama generik: Bumetanid

Nama dagang di Indonesia: Burinex (Leo Pharmaceutical)

Indikasi: edema, oliguria (urin yang dihasilkan < 400 ml/hari) karena gagal ginjal

Kontraindikasi: keadaan prakoma karena sirosis (pengerasan) hati, gagal ginjal dengan anuria (urin yang dihasilkan < 50 ml/hari)

Bentuk sediaan: Tablet 1 mg; Injeksi 0,5 mg/2 ml

Dosis, aturan pakai:

Dosis oral (tablet) Satu mg pada pagi hari, ulangi setelah 6-8 jam jika perlu; kasus yang parah 5 mg sehari dengan pilihan meningkatkan sejumlah 5 mg setiap 12-24 jam tergantung respon; Usia Lanjut, 0,5 mg sehari mungkin cukup

Dosis (injeksi) intravena 1-2 mg, ulangi setelah 20 menit; Usia Lanjut, 0,5 mg sehari mungkin cukup

Dosis (infus) intravena 2-5 mg selama 30-60 menit; Usia Lanjut, 0,5 mg sehari mungkin cukup

Dosis (infus) intravena Dosis awal 1 mg kemudian disesuaikan terhadap respon; Usia Lanjut, 0,5 mg sehari mungkin cukup

Efek samping: lihat pada Furosemid; sakit kepala, lelah, myalgia (nyeri otot)

Resiko khusus (harus diperhatikan pada pasien dengan riwayat berikut): Hipotensi; kehamilan dan menyusui; dapat menyebabkan hipokalemia dan hiponatremia; memperburuk Diabetes Mellitus; gagal hati, pembesaran prostat

3. Nama generik: Torasemid

Nama dagang di Indonesia: Unat (Boehringer Mannheim)

Indikasi: edema, hipertensi

Kontraindikasi: keadaan prakoma karena sirosis (pengerasan) hati, gagal ginjal dengan anuria (urin yang dihasilkan < 50 ml/hari)

Bentuk sediaan: Tablet 2,5 mg, 5 mg, 10 mg; Injeksi 5 mg/ml

Dosis, aturan pakai:

Edema Lima mg sekali sehari, lebih baik pada pagi hari, tingkatkan jika diperlukan sampai 20 mg sekali sehari; maksimal 40 mg sehari

Hipertensi 2,5 mg sehari, tingkatkan jika diperlukan sampai 5 mg sekali sehari

Efek samping: lihat pada Furosemid; mulut kering

Resiko khusus (harus diperhatikan pada pasien dengan riwayat berikut): Hipotensi; hindarkan pada kehamilan dan menyusui; dapat menyebabkan hipokalemia dan hiponatremia; memperburuk Diabetes Mellitus; gagal hati, pembesaran prostat

DAFTAR PUSTAKA

_______, 2000, Informatorium Obat Nasional Indonesia 2000, Departemen Kesehatan RI, Jakarta

_______, 2006, British National Formulary, BMJ Publishing Group Ltd and RPS Publishing 2006, London

_______, 2006, Informasi Spesialite Obat Indonesia Volume 41, PT Anem Kosong Anem (AKA), Jakarta

Dipiro, Joseph T., 1997, Pharmacotherapy: A Pathophysiologic Approach 3rd edition, Apleton & Lange, London

Kimble K., dkk., 2005, Applied Therapeutics: The Clinical Use of Drugs 8th edition, Lippincott Williams & Wilkins, USA


More aboutLOOP DIURETICS PADA GAGAL GINJAL AKUT: PRERENAL AZOTEMIA