Showing posts with label pasien. Show all posts
Showing posts with label pasien. Show all posts

MAKALAH PENGGUNAAN INSULIN PADA PASIEN DIABETES MELITUS

Posted by Anonymous

Diabetes Melitus
Diabetes Melitus (DM) atau sering dikenal sebagai kencing manis, ditandai dengan kelompok gejala hiperglikemia; perubahan metabolisme lemak, karbohidrat, dan protein; serta meningkatnya resiko komplikasi penyakit vaskuler baik makrovaskuler (penyakit kardiovaskuler) dan mikrovaskuler (nefropati, retinopati dan neuropati). Semua ini timbul akibat defisiensi sintesis dan sekresi insulin. Di Amerika, sekitar 18,2 juta penduduknya menderita DM dan hanya dua pertiganya saja yang dapat terdiagnosa. DM merupakan penyebab utama terjadinya kebutaan pada usia sekitar 20–74 tahun, penyakit ginjal, serta 75% dapat menyebabkan kematian karena DM tipe 2.


DM diklasifikasikan menjadi dua yaitu DM tipe 1 yang bergantung pada insulin (IDDM), dan DM tipe 2 yang tidak bergantung pada insulin (NIDDM). DM tipe 1 merupakan penyakit autoimun yang biasa dialami oleh anak-anak atau remaja, dimana sel beta pankreas dihancurkan sehingga tidak mampu memproduksi insulin endogen yang bertanggung jawab terhadap peningkatan glukosa darah. DM tipe 2, terjadi defisiensi insulin yang didahului oleh adanya resistensi insulin di otot, lemak dan hati (terutama pada obesitas viseral), dan bersamaan itu disertai gangguan sekresi insulin sel beta pankreas yang lambat laun menjadi defisiensi insulin yang permanen. Prevalensi terjadinya DM tipe 1 hanya sekitar 5-10% dari semua kasus diabetes jika dibandingkan dengan DM tipe 2 yang mencapai 90-95%.
Selain itu, terdapat jenis diabetes mellitus gestasional (DMG) yang juga disebabkan oleh resistansi insulin yang terjadi pada wanita hamil. DMG biasanya terjadi pada trimester kedua atau ketiga. Saat ini insulin dipergunakan untuk DM tipe 1 dan DM tipe 2 dengan berbagai macam indikasi. Umumnya, terapi insulin diberikan pada pasien DM tipe 2 apabila pengobatan dengan antidiabetik oral gagal. Pasien DMG juga diberi terapi dengan insulin, namun biasanya glukosa darah akan kembali normal setelah melahirkan.
Penyebab terjadinya DM sangat bervariasi, bisa karena faktor keturunan, usia, kegemukan, ras, serta gaya hidup. Faktor genetik dan lingkungan berperan dalam timbulnya kedua tipe DM, tetapi faktor genetik lebih nyata pada NIDDM. Pada IDDM, faktor genetik berhubungan dengan pengaturan genetik pada respon imun sehingga IDDM sering muncul pada penyakit autoimun terhadap sel beta pankreas. Penyebab terbanyak dari kehilangan sel beta pada diabetes tipe 1 adalah kesalahan reaksi autoimunitas yang menghancurkan sel beta pankreas. Reaksi autoimunitas tersebut dapat dipicu oleh adanya infeksi pada tubuh.
Komplikasi DM pada retina, ginjal, dan sistem saraf perifer, serta meningkatnya mortalitas dan resiko penyakit vaskular dapat dicegah dengan mempertahankan kadar gula darah dalam batas normal, menjaga agar kadar lipid dan tekanan darah tetap normal juga mencegah meningkatnya resiko tersebut. Insulin eksogen dan obat antidiabetik oral dapat diberikan untuk mempertahankan kadar gula darah normal. Terapi insulin yang intensif dapat mengurangi morbiditas dan mortalitas pasien DM.

Insulin
Insulin termasuk hormon polipeptida yang awalnya diekstraksi dari pankreas babi maupun sapi, tetapi kini telah dapat disintesis dengan teknologi rekombinan DNA menggunakan E.coli. Susunan asam amino insulin manusia berbeda dengan susunan insulin hewani; insulin rekombinan dibuat sesuai dengan susunan insulin manusia sehingga disebut sebagai human insulin. Saat ini insulin biosintetik tersedia di Indonesia.
Insulin merupakan hormon yang diproduksi oleh sel beta di dalam pankreas dan digunakan untuk mengontrol kadar glukosa dalam darah. Sekresi insulin terdiri dari 2 komponen. Komponen pertama yaitu: sekresi insulin basal kira-kira 1 unit/jam dan terjadi diantara waktu makan, waktu malam hari dan keadaan puasa. Komponen kedua yaitu: sekresi insulin prandial yang menghasilkan kadar insulin 5-10 kali lebih besar dari kadar insulin basal dan diproduksi secara pulsatif dalam waktu 0,5-1 jam sesudah makan dan mencapai puncak dalam 30-45 menit, kemudian menurun dengan cepat mengikuti penurunan kadar glukosa basal. Kemampuan sekresi insulin prandial berkaitan erat dengan kemampuan ambilan glukosa oleh jaringan perifer.
Insulin berperan dalam penggunaan glukosa oleh sel tubuh untuk pembentukan energi, apabila tidak ada insulin maka sel tidak dapat menggunakan glukosa sehingga proses metabolisme menjadi terganggu. Proses yang terjadi yaitu karbohidrat dimetabolisme oleh tubuh untuk menghasilkan glukosa, glukosa tersebut selanjutnya diabsorbsi di saluran pencernaan menuju ke aliran darah untuk dioksidasi di otot skelet sehingga menghasilkan energi. Glukosa juga disimpan dalam hati dalam bentuk glikogen kemudian diubah dalam jaringan adiposa menjadi lemak dan trigliserida. Insulin memfasilitasi proses tersebut. Insulin akan meningkatkan pengikatan glukosa oleh jaringan, meningkatkan level glikogen dalam hati, mengurangi pemecahan glikogen (glikogenolisis) di hati, meningkatkan sintesis asam lemak, menurunkan pemecahan asam lemak menjadi badan keton, dan membantu penggabungan asam amino menjadi protein.
Insulin sampai saat ini dikelompokkan menjadi beberapa jenis antara lain:
1. Kerja cepat (rapid acting)
Contoh: Actrapid, Humulin R,Reguler Insulin (Crystal Zinc Insulin)
Bentuknya larutan jernih, efek puncak 2-4 jam setelah penyuntikan, durasi kerja sampai 6 jam. Merupakan satu-satunya insulin yang dapat dipergunakan secara intra vena. Bisa dicampur dengan insulin kerja menengah atau insulin kerja panjang.
2. Kerja menengah (intermediate acting)
Contoh: Insulatard, Monotard, Humulin N, NPH, Insulin Lente
Dengan menambah protamin (NPH / Neutral Protamin Hagedom) atau zinc (pada insulin lente), maka bentuknya menjadi suspensi yang akan memperlambat absorpsi sehingga efek menjadi lebih panjang. Bentuk NPH tidak imunogenik karena protamin bukanlah protein.
3. Kerja panjang ( long acting)
Contoh: Insulin Glargine, Insulin Ultralente, PZI
Insulin bentuk ini diperlukan untuk tujuan mempertahankan insulin basal yang konstan. Semua jenis insulin yang beredar saat ini sudah sangat murni, sebab apabila tidak murni akan memicu imunogenitas, resistensi, lipoatrofi atau lipohipertrofi.
Cara pemberian insulin ada beberapa macam: a) intra vena: bekerja sangat cepat yakni dalam 2-5 menit akan terjadi penurunan glukosa darah, b) intramuskuler: penyerapannya lebih cepat 2 kali lipat daripada subkutan, c) subkutan: penyerapanya tergantung lokasi penyuntikan, pemijatan, kedalaman, konsentrasi. Lokasi abdomen lebih cepat dari paha maupun lengan. Jenis insulin human lebih cepat dari insulin animal, insulin analog lebih cepat dari insulin human.
Insulin diberikan subkutan dengan tujuan mempertahankan kadar gula darah dalam batas normal sepanjang hari yaitu 80-120 mg% saat puasa dan 80-160 mg% setelah makan. Untuk pasien usia diatas 60 tahun batas ini lebih tinggi yaitu puasa kurang dari 150 mg% dan kurang dari 200 mg% setelah makan. Karena kadar gula darah memang naik turun sepanjang hari, maka sesekali kadar ini mungkin lebih dari 180 mg% (10 mmol/liter), tetapi kadar lembah (through) dalam sehari harus diusahakan tidak lebih rendah dari 70 mg% (4 mmol/liter). Insulin sebaiknya disuntikkan di tempat yang berbeda, tetapi paling baik dibawah kulit perut.
Dosis dan frekuensi penyuntikan ditentukan berdasarkan kebutuhan setiap pasien akan insulin. Untuk tujuan pengobatan, dosis insulin dinyatakan dalam unit (U). Setiap unit merupakan jumlah yang diperlukan untuk menurunkan kadar gula darah kelinci sebanyak 45 mg% dalam bioassay. Sediaan homogen human insulin mengandung 25-30 IU/mg.
Salah satu insulin yang dapat menjadi pilihan untuk terapi DM yaitu LANTUS®(nama dagang) dengan nama generik insulin glargine, indikasi dari LANTUS® yaitu untuk DM tipe 1 dan tipe 2. LANTUS® dikontraindikasikan bagi pasien yang hipersensitif terhadap insulin glargine, efek samping yang mungkin terjadi yaitu nyeri pada sisi injeksi dan hipoglikemia. LANTUS® (PT Sanofi-Aventis) bisa menjadi pilihan karena insulin glargine telah diuji dan dinyatakan efektif dan aman untuk diberikan kepada kasus-kasus DM tipe 1 dan tipe 2 oleh FDA dan oleh ’the European Agency for the Evaluation of Medical Products’. LANTUS® juga memiliki keuntungan karena memberikan kenyamanan untuk pasien dengan satu kali suntikan per hari dan pasien dapat dengan mudah dan aman mentitrasi LANTUS®.
Bentuk sediaan LANTUS® yaitu (1) Cartridges: 3 ml untuk digunakan OptiPen Pro (300 IU insulin glargine), box cartridges 5 x 3 ml, (2) Vials: 10 ml vials (1000 IU insulin glargine), (3) Pre-filled pens: 3 ml Optiset pre-filled, disposable pen (pen sekali pakai) dengan nama OptiSet®, optiset 5×3 ml, incremental dose = 2 IU, max dose/inj = 40 IU. Dosis LANTUS® yaitu pasien tipe 2 yang telah diobati dengan obat hiperglikemia oral, memulai dengan insulin glargine dengan dosis 10 IU sekali sehari. Dosis selanjutnya diatur menurut kebutuhan pasien,dengan dosis total harian berkisar dari 2-100 IU.Pasien yang mau menukar insulin kerja sedang atau panjang sekali sehari menjadi insulin glargine sekali sehari, tak perlu melakukan perubahan dosis awal. Tapi jika pemberian sebelumnya dua kali sehari, maka dosis awal insulin glargine dikurangi sekitar 20% untuk menghindari kemungkinan hipoglikemia. Untuk selanjutnya dosis diatur sesuai kebutuhan pasien.
Insulin glargine adalah ’long-acting basal insulin analouge’ yang pertama kali dipergunakan dalam pengobatan DM baik tipe-1 maupun tipe-2, disuntikkan subkutan malam hari menjelang tidur. Insulin glargine tidak diberikan secara intra vena karena dapat menyebabkan hipoglikemia. Preparat ini dibuat dari modifikasi struktur biokimiawi ’native human insulin’ yang menghasilkan khasiat klinik yang baru yaitu ’delayed onset of action and a constant, peakless effect’, yang mencapai hampir 24 jam efektif. Memiliki potensi yang setara dengan insulin NPH dalam menurunkan HbA1c dan kadar glukosa darah, namun lebih aman oleh karena ’peakless effect’ tersebut dapat mengurangi kejadian hipoglikemi malam hari. Preparat ini dinyatakan efektif dan aman untuk diberikan kepada kasus-kasus diabetes melitus tipe-1 maupun tipe-2, dan mampu memenuhi kebutuhan insulin basal.
Target pengendalian glukosa darah pada penggunaan monoterapi insulin glargine pada kasus-kasus DMG mengacu pada ’American Collage of Obstetricians and Gynecologist for Women with GDM’, yaitu glukosa puasa ≤ 95 mg/dl, 2 jam pp ≤ 120 mg/dl. Hasil penelitian pada dasarnya menjelaskan bahwa insulin glargine berhasil mengendalikan glukosa darah pada kasus-kasus DMG sesuai target seperti tersebut di atas, tanpa terjadi hipoglikemi, dengan beberapa catatan sebagai berikut: (a) glukosa 2 jam pp sebelum perlakuan tidak lebih dari 150 mg/dl, (b) dosis awal bervariasi 10-50 unit, disuntikkan pagi hari sebelum makan pagi, ditingkatkan 3-5 unit bertahap untuk mencapai target pengendalian glukosa darah, (c) dosis waktu partus bervariasi 18-78 unit, (d) waktu dilahirkan tidak ada bayi dengan berat badan lebih dari normal, dan tidak ada yang mengalami hipoglikemi, (e) dosis perhari dalam trimester pertama adalah 0,4-0,5 unit/kg, trimester kedua 0,5-0,6 unit/kg, dan trimester ketiga 0,7-0,8 unit/ kg.

Pustaka
Anonim, 2007. Diabetes Mellitus, http://wapedia.mobi/id/Diabetes_mellitus. Diakses pada 21 Desember 2007.
Anonim, 2006, MIMS Indonesia Petunjuk Konsultasi, edisi 6, 251, CMP Medika, Jakarta.
Anonim, 2000, Informatorium Obat Nasional Indonesia, 263, Departemen Kesehatan Republik Indonesia Direktorat Jendral Pengawasan Obat dan Makanan, Jakarta.
Curtis L. Triplitt, Charles A. Reasner, and William L. Isley, 1999, Diabetes Mellitus in Dipiro, J.T., Talbert, R.l., Yee, G.C., Matzke, G.R., Wells, B.G., and Posey, L.M., (Eds.), Pharmacotherapy A Pathophysiologic Approach, 3th edition, 1333-1363, Appleton & Lange, Stamford.
Mayfield, J.A., 2004, Insulin Therapy for Type 2 Diabetes: Rescue, Augmentation, and Replacement of Beta-Cell Function, http://www.postgradmed.com/issues/ 1997/02_97/skyler.htm. Diakses pada 21 Desember 2007.
Tjokorda Gde Dalem Pemanyun, 2007, Rasionalisasi Terapi Kombinasi Insulin dengan OHO, dalam Simposium “Insulin Sahabat Diabetisi” Dalam Rangka Memperingati Hari Diabetes Nasional IV (12 Juli 2007).
Darmono, 2007, Pengobatan Insulin Glargine (Long-Acting Insulin Analouge) Pada Penderita Diabetes Melitus, dalam Simposium “Insulin Sahabat Diabetisi” Dalam Rangka Memperingati Hari Diabetes Nasional IV (12 Juli 2007).
More aboutMAKALAH PENGGUNAAN INSULIN PADA PASIEN DIABETES MELITUS

artikel Penggunaan Carbamazepine pada Pasien Pediatri

Posted by Anonymous

Epilepsi adalah suatu gangguan pada susunan saraf pusat yang timbul secara spontan dalam episode singkat dengan gejala utama kesadaran menurun sampai hilang dan biasanya disertai kejang (konvulsi). Kejang yang dialami oleh pasien epilepsi disebabkan adanya perubahan aktivitas syaraf yang berupa pelepasan muatan listrik secara berlebihan. Beberapa kejadian seperti trauma fisik (benturan atau memar) pada otak, berkurangnya aliran darah yang membawa oksigen ke otak, pendesakan karena tumor, sclerosis jaringan otak dipercaya sebagai penyebab terjadinya perubahan anatomis (meliputi bentuk dan struktur) dan perubahan biokimiawi pada sel-sel atau lingkungan sekitarnya. Perubahan anatomis dan biokimiawi ini yang nantinya akan menyebabkan perubahan aktivitas syaraf yang kemudian menyebabkan kejang.

Serangan epilepsi pada dasarnya dibedakan menjadi dua, yaitu serangan kejang sebagian, (partial seizure) dimana jenis kejang ini melibatkan sebagian kecil daerah di otak, dan serangan kejang merata (generalized seizure) dimana jenis ini melibatkan seluruh otak sejak otak aktif. Serangan atonik, klonik, tonik, tonik-klonik, dan unilateral adalah tipe serangan epilepsi generalized seizure yang sering terjadi pada anak-anak. Tipe serangan klonik adalah campuran gelombang cepat dan lambat dengan hilangnya ketegangan dan ketegapan sikap diikuti klonik bilateral.Ciri serangan tipe klonik adalah aktivitas cepat, voltase rendah atau irama cepat.

Data WHO menunjukkan bahwa lebih dari 50 juta penderita epilepsi di seluruh dunia dimana 85% dari total penderita hidup di negara berkembang, dan salah satunya adalah Indonesia. Penderita epilepsi selalu bertambah setiap tahunnya dan diperkirakan pertambahan 2,4 juta kasus setiap tahunnya. Setengah dari total kasus epilepsi telah diderita semenjak pasien masih anak-anak atau remaja. Penyebab epilepsi yang sering dialami oleh pasien anak adalah karena bawaan lahir, inflamasi yang didapat, kecenderungan genetik, trauma, ketidakseimbangan neuro chemical, subselluler neurotransmitter, infeksi, dan proses neoplastik.

Ada banyak pertimbangan dalam memilih obat yang sesuai untuk pasien epilepsi, diantaranya tipe seizure (kejang), umur pasien, jenis kelamin, faktor ekonomi, pola hidup, dan faktor keluarga. Pengobatan epilepsi pada anak sangat perlu diperhatikan karena berkaitan dengan perkembangan otak pada masa pertumbuhan. Beberapa anak yang mendapatkan pengobatan dengan antiepilepsi dilaporkan mengalami kesulitan untuk berbicara.

Sasaran terapi untuk penderita epilepsi dengan mengurangi frekuensi terjadinya serangan dan mencegah keparahan penyakit. Tujuan terapinya adalah aktivitas listrik syaraf yang berlebihan.

Strategi dalam pengobatan epilepsi strategi terapi yang dapat digunakan ada dua, yaitu farmakologi dan non farmakologi. Secara farmakologi dengan memberikan obat yang mempunyai mekanisme kerja dengan memodifikasi penghantaran ion, menghambat transmisi GABAergik, dan menghambat aktivitas eksitatori (glutamatergik). Menurut Kalra obat antiepilepsi yang digunakan pada pediatri sebaiknya obat tunggal dengan peningkatan dosis yang bertahap. Penggunaan carbamazepine pada bayi sebaiknya dihindari karena akan memacu keparahan terjadinya kejang tipe kompleks. Selama dua sampai tiga minggu dosis terapi yang digunakan adalah dosis rendah. Jika kejang yang terjadi semakin parah maka dosis ditingkatkan hingga mencapai dosis terapi maksimum. Jika keadaan tidak membaik maka obat dapat diganti dengan obat antiepilepsi yang lain. Penggantian dengan obat antiepilepsi yang baru harus dilakukan monitoring. Jika kejang tetap terjadi dan tidak ada perbaikan, maka digunakan politerapi. Terapi secara non farmakologi dengan memperhatikan makanan yang dikonsumsi (pada pasien pediatric disarankan untuk melakukan diet ketogenik), pembedahan syaraf, dan menghindari stress karena akan memacu terjadinya serangan.

OBAT PILIHAN

Carbamazepine

Indikasi

Carbamazepin diindikasikan untuk kejang sebagian dengan gejala yang kompleks (psychomotor, temporal lobe), kejang tonik-klonik (grand mal), pola kejang campuran, neuralgia trigeminal. Unlabelled use: mengobati schizophrenia resisten, penghentian alcohol, gangguan atau stress traumatis.

Kontraindikasi

Carbamazepine dikontraindikasikan untuk pasien yang hipersensitivitas terhadap carbamazepine, antidepressant trisiklik, depresi sumsum tulang belakang, dalam terapi dengan inhibitor MAO selama 14 hari, kehamilan.

Dosis

Penggunaan dosis berdasarkan respons pasien dan konsentrasi carbazepine dalam serum.

Epilepsi:

Anak <> 12 tahun dan dewasa, dosis awal: 200 mg dua kali sehari (tablet) atau 400 mg sehari terbagi menjadi 4 kali pemberian. Dosis maksimum yang direkomendasikan, anak (12-15 tahun) 1000 mg/hari, anak (> 15 tahun): 1200 mg/hari, dewasa 1600 mg/hari dan beberapa pasien membutuhkan 1.6-2,4 g/hari.

Efek Samping, frekuensi terjadinya efek samping tidak dilaporkan

Kardiovaskular: Arrhytmia, bradikardi, nyeri dada, CHF, edema, hiper/hypotension, lymphadenopathy, tromboembolisme, tromboplebitis. CNS: Amnesia, ansietas, ataksia, kebingungan, sakit kepala, sedasi. Dermatologi: perubahan pigmentasi kulit, erythema multiforme, steven-johnson syndrome, reaksi fotosensitivitas, urtikaria. Gastrointestinal: nyeri pada perut, anoreksia, konstipasi, diare, dyspepsia, nausea, pankreatitis, vomiting. Hati: jaundice, uji fungsi hati menunjukkan abnormal. Neuromuskular & tulang: nyeri punggung, nyeri. Mata: pandangan kabur, konjungtivitis, nystagmus. Telinga: hiperakusis, tinnitus.

Resiko khusus:

Pada wanita hamil dengan factor resiko D. Carbamazepine dapat melewati sawar plasenta sehingga menyebabkan kerusakan tulang tengkorak, kerusakan jantung,

Penggunaan pada ibu menyusui perlu diperhatikan karena carbazepine dapat memasuki ASI.

Pada pasien dengan riwayat gagal jantung, hati, atau ginjal berpotensi menyebabkan abnormalitas sel darah yang fatal.

Bentuk Sediaan:

Tablet, tablet kunyah

Tablet lepas control : jangan digunakan jika terdapat kerusakan.

Kapsul salut selaput : dapat diberikan dengan atau tanpa makanan, jangan dihancurkan atau dikunyah.

Sirup : Penggunaan bentuk sediaan sirup carbamazepine sebaiknya hindari penggunaan bersamaan dengan obat cair atau diluen yang lain. Jika digunakan bentuk sediaan sirup maka dosis awal yang diberikan sebaiknya dalam dosis yang rendah dan naik bertahap secara perlahan untuk menghindari efek samping yang tidak diharapkan. Penggunaannya sebaiknya bersamaan dengan makan.

Informasi tambahan

Carbamazepine dapat menyebabkan ketidaknyamanan pada saluran pencernaan, oleh karena itu minum air yang banyak atau makanan dalam jumlah yang cukup untuk menghindari ketidaknyamanan pada saluran pencernaan.

Nama Dagang

* Bamgetol® (Mersifarma TM) kapsul salut selaput 200 mg.
* Carbamazepine Indofarma® tablet 200 mg.
* Tegretol ® (Novartis) tablet 200 mg, tablet kunyah 100 mg, tablet lepas control 200 mg, sirup 100 mg/5 ml.
* Teril® (Merck) tablet 200 mg

DAFTAR PUSTAKA

Anonim 2007, MIMS Indonesia Petunjuk Konsultasi, Edisi 6, Info Master, Jakarta.

DiPiro, T.J., Talbert, R.L., Yee, G.C., Matzke, G.R., Wells, B.G., Pasey, L.M., 2005, Pharmacoteraphy: A Pathophysiological Approach, 6th Edition, McGraw Hill Inc, USA

Kalra, V., Indian Journal of Pediatrics, Volume 70, 2003, Management of Childhood Epilepsi, http: www.ijppediatricsindia.org

Lacy, C.F., Armstrong, L.L., Goldman, M.P., dan Lance, L.L., 2006, Drug Information Handbook, 14th Edition, Lexicomp, Inc., USA

More aboutartikel Penggunaan Carbamazepine pada Pasien Pediatri