Showing posts with label ilmu keperawatan. Show all posts
Showing posts with label ilmu keperawatan. Show all posts

Farmakoterapi Sistem Respirasi dan Saluran Cerna

Posted by Anonymous

SILABUS MATA KULIAH

Program Studi : FARMASI
Kode Mata Kuliah : 7083321
Nama Mata Kuliah : Farmakoterapi Sistem Respirasi dan Saluran Cerna
Jumlah SKS : Dua (2)
Semester : Tujuh (7)
Mata Kuliah Pra Syarat : Farmakoterapi Dasar ()
Deskripsi Mata Kuliah : Farmakoterapi Sistem Pencernaan dan Respirasi
merupakan mata kuliah lanjutan dari Farmakoterapi Dasar yang dimaksudkan untuk lebih memperdalam patofisiologi dan penatalaksanaan terapi yang rasional, monitoring terapi dan konseling pada penyakit-penyakit di system pencernaan dan respirasi, meliputi : diare non spesifik, konstipasi, nausea & vomitus, gastroesophagal reflux disease, Inflammatory Bowel Disease, hepatitis, portal hepatitis & sirosis, rhinitis alergi, bronchitis chronis dan COPD.
Standar Kompetensi : Mahasiswa mampu memahami tatalaksana terapi penyakit pencernaan dan respirasi secara rasional serta melakukan monitoring terapi dan konselingnya.

Kompetensi Dasar Indikator Pengalaman Pembelajaran Materi Ajar Waktu Alat/Bahan/Sumber Belajar Penilaian
1. Memahami epidemiologi, etiologi, patofisiologi, sasaran terapi, strategi terapi dan penatalaksanaan terapi, monitoring terapi dan konseling pada diare non spesifik secara rasional
2. Mampu melakukan pemilihan obat pada terapi pasien diare non spesifik Setelah mengikuti perkuliahan diharapkan mahasiswa dapat :
1. Menjelaskan epidemiologi etiologi, patofisiologi, sasaran terapi, strategi terapi dan penatalaksanaan terapi, monitoring terapi dan konseling pada diare non spesifik secara rasional
2. memilih obat pada terapi pasien diare non spesifik 1. Mengkaji mengenai epidemiologi etiologi, patofisiologi, sasaran terapi, strategi terapi dan penatalaksanaan terapi, monitoring terapi dan konseling pada diare non spesifik
2. Mendiskusikan kasus pada penyakit diare non spesifik 1. Epidemiologi etiologi, patofisiologi, sasaran terapi, strategi terapi dan penatalaksanaan terapi, monitoring terapi dan konseling pada diare non spesifik
2. contoh kasus penyakit diare non spesifik
100 menit LCD on focus, komputer,
Buku : 1, 2 dan 3*
UTS : MCQ
1. Memahami epidemiologi, etiologi, patofisiologi, sasaran terapi, strategi terapi dan penatalaksanaan terapi, monitoring terapi dan konseling pada konstipasi secara rasional
2. Mampu melakukan pemilihan obat pada terapi pasien konstipasi Setelah mengikuti perkuliahan diharapkan mahasiswa dapat :
1. Menjelaskan epidemiologi etiologi, patofisiologi, sasaran terapi, strategi terapi dan penatalaksanaan terapi, monitoring terapi dan konseling pada konstipasi secara rasional
2. Memilih obat pada terapi pasien konstipasi 1. Mengkaji mengenai epidemiologi etiologi, patofisiologi, sasaran terapi, strategi terapi dan penatalaksanaan terapi, monitoring terapi dan konseling pada konstipasi
2. Mendiskusikan kasus pada penyakit konstipasi 1. Epidemiologi etiologi, patofisiologi, sasaran terapi, strategi terapi dan penatalaksanaan terapi, monitoring terapi dan konseling pada konstipasi
2. contoh kasus penyakit konstipasi
100 menit LCD on focus, komputer,
Buku : 1, 2 dan 3*
UTS : MCQ
1. Memahami epidemiologi, etiologi, patofisiologi, sasaran terapi, strategi terapi dan penatalaksanaan terapi, monitoring terapi dan konseling pada nausea dan vomitus secara rasional
2. Mampu melakukan pemilihan obat pada terapi pasien nausea dan vomitus Setelah mengikuti perkuliahan diharapkan mahasiswa dapat :
1. Menjelaskan epidemiologi etiologi, patofisiologi, sasaran terapi, strategi terapi dan penatalaksanaan terapi, monitoring terapi dan konseling pada nausea dan vomitus secara rasional
2. memilih obat pada terapi pasien nausea dan vomitus 1. Mengkaji mengenai epidemiologi etiologi, patofisiologi, sasaran terapi, strategi terapi dan penatalaksanaan terapi, monitoring terapi dan konseling pada nausea dan vomitus
2. Mendiskusikan kasus pada penyakit nausea dan vomitus 1. Epidemiologi etiologi, patofisiologi, sasaran terapi, strategi terapi dan penatalaksanaan terapi, monitoring terapi dan konseling pada nausea dan vomitus.
2. Contoh kasus penyakit nausea dan vomitus.
100 menit LCD on focus, komputer,
Buku : 1, 2 dan 3*
UTS : MCQ
Mini Kuis
1. Memahami epidemiologi, etiologi, patofisiologi, sasaran terapi, strategi terapi dan penatalaksanaan terapi, monitoring terapi dan konseling pada Gastroesophageal Reflux Disease secara rasional
2. Mampu melakukan pemilihan obat pada terapi pasien Gastroesophageal Reflux Disease Setelah mengikuti perkuliahan diharapkan mahasiswa dapat :
1. Menjelaskan epidemiologi etiologi, patofisiologi, sasaran terapi, strategi terapi dan penatalaksanaan terapi, monitoring terapi dan konseling pada Gastroesophageal Reflux Disease secara rasional
2. memilih obat pada terapi pasien Gastroesophageal Reflux Disease 1. Mengkaji mengenai epidemiologi etiologi, patofisiologi, sasaran terapi, strategi terapi dan penatalaksanaan terapi, monitoring terapi dan konseling pada Gastroesophageal Reflux Disease
2. Mendiskusikan kasus pada penyakit Gastroesophageal Reflux Disease 1. Epidemiologi etiologi, patofisiologi, sasaran terapi, strategi terapi dan penatalaksanaan terapi, monitoring terapi dan konseling pada Gastroesophageal Reflux Disease
2. Contoh kasus penyakit Gastroesophageal Reflux Disease
100 menit LCD on focus, komputer,
Buku : 1, 2 dan 3*
UTS : MCQ
1. Memahami epidemiologi, etiologi, patofisiologi, sasaran terapi, strategi terapi dan penatalaksanaan terapi, monitoring terapi dan konseling pada Inflammatory Bowel Disease secara rasional
2. Mampu melakukan pemilihan obat pada terapi pasien Inflammatory Bowel Disease Setelah mengikuti perkuliahan diharapkan mahasiswa dapat :
1. Menjelaskan epidemiologi etiologi, patofisiologi, sasaran terapi, strategi terapi dan penatalaksanaan terapi, monitoring terapi dan konseling pada Inflammatory Bowel Disease secara rasional
2. memilih obat pada terapi pasien Inflammatory Bowel Disease 1. Mengkaji mengenai epidemiologi etiologi, patofisiologi, sasaran terapi, strategi terapi dan penatalaksanaan terapi, monitoring terapi dan konseling pada Inflammatory Bowel Disease
2. Mendiskusikan kasus pada penyakit Inflammatory Bowel Disease 1. Epidemiologi etiologi, patofisiologi, sasaran terapi, strategi terapi dan penatalaksanaan terapi, monitoring terapi dan konseling pada Inflammatory Bowel Disease
2. Contoh kasus penyakit Inflammatory Bowel Disease
100 menit LCD on focus, komputer,
Buku : 1, 2 dan 3*
UTS : MCQ
1. Memahami epidemiologi, etiologi, patofisiologi, sasaran terapi, strategi terapi dan penatalaksanaan terapi, monitoring terapi dan konseling pada hepatitis secara rasional
2. Mampu melakukan pemilihan obat pada terapi pasien hepatitis Setelah mengikuti perkuliahan diharapkan mahasiswa dapat :
1. Menjelaskan epidemiologi etiologi, patofisiologi, sasaran terapi, strategi terapi dan penatalaksanaan terapi, monitoring terapi dan konseling pada hepatitis secara rasional
2. memilih obat pada terapi pasien hepatitis 1. Mengkaji mengenai epidemiologi etiologi, patofisiologi, sasaran terapi, strategi terapi dan penatalaksanaan terapi, monitoring terapi dan konseling pada hepatitis
2. Mendiskusikan kasus pada penyakit hepatitis 1. Epidemiologi etiologi, patofisiologi, sasaran terapi, strategi terapi dan penatalaksanaan terapi, monitoring terapi dan konseling pada hepatitis
2. contoh kasus penyakit hepatitis
200 menit LCD on focus, komputer,
Buku : 1, 2 dan 3*
UTS : MCQ
1. Memahami epidemiologi, etiologi, patofisiologi, sasaran terapi, strategi terapi dan penatalaksanaan terapi, monitoring terapi dan konseling pada portal hepatitis dan sirosis secara rasional
2. Mampu melakukan pemilihan obat pada terapi pasien portal hepatitis dan sirosis Setelah mengikuti perkuliahan diharapkan mahasiswa dapat :
1. Menjelaskan epidemiologi etiologi, patofisiologi, sasaran terapi, strategi terapi dan penatalaksanaan terapi, monitoring terapi dan konseling pada portal hepatitis dan sirosis secara rasional
2. memilih obat pada terapi pasien portal hepatitis dan sirosis 1. Mengkaji mengenai epidemiologi etiologi, patofisiologi, sasaran terapi, strategi terapi dan penatalaksanaan terapi, monitoring terapi dan konseling pada portal hepatitis dan sirosis
2. Mendiskusikan kasus pada penyakit portal hepatitis dan sirosis 1. Epidemiologi etiologi, patofisiologi, sasaran terapi, strategi terapi dan penatalaksanaan terapi, monitoring terapi dan konseling pada portal hepatitis dan sirosis
2. Contoh kasus penyakit portal hepatitis dan sirosis 200 menit LCD on focus, komputer,
Buku : 1, 2 dan 3*
UAS: MCQ
1. Memahami epidemiologi, etiologi, patofisiologi, sasaran terapi, strategi terapi dan penatalaksanaan terapi, monitoring terapi dan konseling pada Rhinitis alergi secara rasional
2. Mampu melakukan pemilihan obat pada terapi pasien Rhinitis alergi Setelah mengikuti perkuliahan diharapkan mahasiswa dapat :
1. Menjelaskan epidemiologi etiologi, patofisiologi, sasaran terapi, strategi terapi dan penatalaksanaan terapi, monitoring terapi dan konseling pada Rhinitis alergi secara rasional
2. memilih obat pada terapi pasien Rhinitis alergi 1. Mengkaji mengenai epidemiologi etiologi, patofisiologi, sasaran terapi, strategi terapi dan penatalaksanaan terapi, monitoring terapi dan konseling pada Rhinitis alergi
2. Mendiskusikan kasus pada penyakit Rhinitis alergi 1. Epidemiologi etiologi, patofisiologi, sasaran terapi, strategi terapi dan penatalaksanaan terapi, monitoring terapi dan konseling pada Rhinitis alergi
2. Contoh kasus penyakit Rhinitis alergi
100 menit LCD on focus, komputer,
Buku : 1, 2 dan 3*
UAS: MCQ
1. Memahami epidemiologi, etiologi, patofisiologi, sasaran terapi, strategi terapi dan penatalaksanaan terapi, monitoring terapi dan konseling pada Bronchitis chronis secara rasional
2. Mampu melakukan pemilihan obat pada terapi pasien Bronchitis chronis Setelah mengikuti perkuliahan diharapkan mahasiswa dapat :
1. Menjelaskan epidemiologi etiologi, patofisiologi, sasaran terapi, strategi terapi dan penatalaksanaan terapi, monitoring terapi dan konseling pada Bronchitis chronis secara rasional
2. memilih obat pada terapi pasien Bronchitis chronis 1. Mengkaji mengenai epidemiologi etiologi, patofisiologi, sasaran terapi, strategi terapi dan penatalaksanaan terapi, monitoring terapi dan konseling pada Bronchitis chronis
2. Mendiskusikan kasus pada penyakit Bronchitis chronis 1. Epidemiologi etiologi, patofisiologi, sasaran terapi, strategi terapi dan penatalaksanaan terapi, monitoring terapi dan konseling pada Bronchitis chronis
2. Contoh kasus penyakit Bronchitis chronis 100 menit LCD on focus, komputer,
Buku : 1, 2 dan 3*
UAS:
MCQ
Mini Kuis
1. Memahami epidemiologi, etiologi, patofisiologi, sasaran terapi, strategi terapi dan penatalaksanaan terapi, monitoring terapi dan konseling pada COPD secara rasional
2. Mampu melakukan pemilihan obat pada terapi pasien COPD Setelah mengikuti perkuliahan diharapkan mahasiswa dapat :
1. Menjelaskan epidemiologi etiologi, patofisiologi, sasaran terapi, strategi terapi dan penatalaksanaan terapi, monitoring terapi dan konseling pada COPD secara rasional
2. memilih obat pada terapi pasien COPD 1. Mengkaji mengenai epidemiologi etiologi, patofisiologi, sasaran terapi, strategi terapi dan penatalaksanaan terapi, monitoring terapi dan konseling pada COPD
2. Mendiskusikan kasus pada penyakit COPD 1. Epidemiologi etiologi, patofisiologi, sasaran terapi, strategi terapi dan penatalaksanaan terapi, monitoring terapi dan konseling pada COPD
2. Contoh kasus penyakit COPD
200 menit LCD on focus, komputer,
Buku : 1, 2 dan 3*
UAS: MCQ

Pustaka:
Dipiro, J.T., Talbert, R.L., Yee, G.C., Matzke, G.R., Wells, B.C., and Posey, L.M., 2005, Pharmacotherapy: a pathophysiologic approach, 6 th Ed., Appleton & Lange Stamford.
Herfindal, E.T., and Gourley, D.R., (Eds.), Texbook of Therapeutics Drug and Disease Management, 7 th Ed., Lippincot Williams and Wilkins, Philadelphia.
McPhee S., Lingappa, V.R., Ganong, W.F., Lange, J.D., 2000, Pathophysiology of Disease : An Introction to Clinical Medicine, 3 rd, The McGraw-Hill Companies Inc, New York.

Evaluasi
Penilaian hasil belajar mahasiswa meliputi :
Ujian tengah semester 35%.
Berupa tes tertulis (Essay test) yang diberikan pada kurang lebih pertengahan perkuliahan dalam satu semester. Materi diambil dari perkulihan yang telah diberikan sampai sebelum Mid-semester.
Ujian akhir semester 35%.
Berupa tes tertulis (Essay Test) yang dilaksanakan pada akhir semester. Materi diambil dari perkulihan yang telah diberikan setelah Mid-semester.
Mini kuis 10%
Presentasi dan diskusi 20%.



More aboutFarmakoterapi Sistem Respirasi dan Saluran Cerna

Enterovirus 71 (EV 71)

Posted by Anonymous

Kementerian Kesehatan Cina mengeluarkan perintah siaga nasional Sabtu (3/5) karena merebaknya virus maut yang telah merenggut jiwa 23 anak-anak di satu kota dengan cepat.
Peningkatan kesiagaan dilakukan karena melonjaknya kasus penyakit yang disebabkan virus Enterovirus 71 atau EV-71, satu jenis penyakit kaki, mulut dan tangan. Fenomena ini tampaknya harus diantisipasi dengan cermat dan cepat oleh masyarakat khususnya pihak departemen kesehatan. Bukankah penyakit SARS dan flu burung juga diawali terjadinya di daratan Asia tersebut ? Tetapi justru selanjutnya di Indonesia penyakit yang berpotensi pandemi itu sering lebih sulit dikendalikan di Indonesia.
Bagi masyarakat Indonesia kejadian luar biasa tersebut sebenarnya mungkin merupakan hal yang biasa. Karena, infeksi kaki, tangan dan mulut adalah suatu yang sering terjadi di Indonesia. Yang menjadi tidak biasa adalah penyebabnya enterovirus 71, yang cukup mematikan. Dalam era globalisasi dimana tranportasi serta perpindahan penduduk antar negara yang demikian pesat bukan tidak mungkin penyakit yang sangat cepat penyebarannya itu nantinya berpotensi mengancam masyarakat Indonesia. Kejadian luar biasa yang ditemukan di bagian selatan Cina memicu kekhawatiran bahwa virus itu kemungkinan akan menyebar, karena bulan Juni dan Juli dianggap sebagai musim puncak penyakit ini
Infeksi Kaki tangan dan Mulut
Dalam masyarakat infeksi virus tersebut sering disebut sebagai “Flu Singapura”. Dalam dunia kedokteran dikenal sebagai Hand, Foot, and Mouth Disease (HFMD) atau penyakit Kaki, Tangan dan Mulut ( KTM ). Penyakit KTM ini adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus RNA yang masuk dalam famili Picornaviridae, Genus Enteroviru. Genus yang lain adalah Rhinovirus, Cardiovirus, Apthovirus. Didalam Genus enterovirus terdiri dari Coxsackie A virus, Coxsackie B virus, Echovirus dan Enterovirus. Penyebab KTM yang paling sering pada pasien rawat jalan adalah Coxsackie A16, sedangkan yang sering memerlukan perawatan karena keadaannya lebih berat atau ada komplikasi sampai meninggal adalah Enterovirus 71.
Satu kelompok dengan infeksi KTM adalah vesicular stomatitis dengan eksantema (KTM)- Cox A 16, EV 71, vesikular faringitis (Herpangina) - EV 70 dan Acute Lymphonodular Pharyngitis - Cox A 10.
Penyakit ini sangat menular dan sering terjadi dalam musim panas. KTM adalah penyakit umum yang biasa terjadi pada kelompok masyarakat yang sangat padat dan menyerang anak-anak usia 2 minggu sampai 5 tahun. Orang dewasa umumnya kebal terhadap enterovirus. Penularannya melalui kontak langsung dari orang ke orang yaitu melalui droplet, pilek, air liur, tinja, cairan dari vesikel atau ekskreta. Penularan kontak tidak langsung melalui barang, handuk, baju, peralatan makanan, dan mainan yang terkontaminasi oleh sekresi itu. Tidak ada vektor tetapi ada pembawa penyakit seperti lalat dan kecoa. Penyakit KTM ini mempunyai imunitas spesifik, namun anak dapat terkena KTM lagi oleh virus strain Enterovirus lainnya. Penyakit tangan, kaki dan mulut adalah penyakit umum dan penyebarannya dapat terjadi di antara kelompok anak, misalnya di sekolah atau di tempat penitipan anak. Penyakit tangan, kaki dan mulut biasanya tersebar melalui hubungan sesama manusia. Virus ini tersebar dari kotoran seorang yang terkena ke mulut orang lain lewat tangan tercemar, tapi bisa juga disebarkan lewat lendir mulut atau sistem pernapasan dan sentuhan langsung dengan cairan di dalam lepuhnya. Sesudah berhubungan dengan orang yang terkena, biasanya makan waktu di antara 3-5 hari baru lepuhnya timbul. Selama masih ada cairannya, lepuh ini bisa menulari. Virus ini bisa berminggu-minggu berada di dalam kotoran.
Manifestasi klinis.
Penyakit tangan, kaki dan mulut yang ringan biasanya disebabkan oleh Coxsackievirus. Anak usia di bawah 5 tahun sering terkena infeksi virus ini, meskipun pada orang dewasa dapat juga terjadi. Infeksi Coxsackievirus mungkin sama sekali tidak menunjukkan gejala atau hanya ringan
Gejala penyakit diawali dengan demam tidak tinggi 2-3 hari, diikuti nyeri tengorokan atau infeksi tengorokan (faringitis), sulit makan dan minum karena nyeri akibat luka di mulut dan lidah. Kadang disertai sedikit pilek atau gejala seperti flu. Timbul vesikel yang kemudian pecah, ada 3-10 ulcus atau luka dimulut seperti sariawan di sekitar lidah, gusi, pipi sebelah dalam, terasa nyeri sehingga sukar untuk menelan. Bersamaan dengan itu timbul rash atau ruam atau vesikel (lepuh kemerahan/blister yang kecil dan rata), papulovesikel yang tidak gatal ditelapak tangan dan kaki. Kadang-kadang rash atau ruam (makulopapel) ada dibokong.
Pada bayi atau anak usia di bawah 5 tahun yang timbul gejala berat harus dirujuk ke rumah sakit. Gejala yang dianggap berat adalah hiperpireksia (suhu lebih dari 39oC) atau demam tidak turun-turun, denyut jantung sangat cepat (Tachicardia), sesak, malas makan minum, muntah atau diare dengan dehidrasi, badan sangat lemas, kesadaran turun atau kejang-kejang.
Komplikasi yang dapat terjadi pada penyakit ini adalah infeksi selaput otak atau meningitis (aseptic meningitis, meningitis serosa atau non bakterial), infeksi otak atau encefalitis (bulbar), infeksi otot jantung atau miokarditis (Coxsackie Virus Carditis) dan perikarditis, paralisis akut flasid (Polio-like illness), infeksi paru atau pneumonia. Resiko untuk terjadi ancaman jiwa lebih sering terjadi pada infeksi enterovirus 71, sedangkan virus Coxsackie sangat jarang terjadi ancaman jiwa kecuali pada penderita dengan kondisi daya tahan tubuh yang menurun.
Diagnosis laboratorium adalah dengan mendeteksi virus melalui Immuno histochemistry (insitu) Imunofluoresensi antibodi (indirek), Isolasi dan identifikasi virus. Pemeriksaan lain dengan mendeteksi RNA seperti RT-PCR Primer, partial DNA sekuensing (PCR Product). Sebenarnya secara klinis atau tanpa pemeriksaan laboratorium sudah cukup untuk mendiagnosis KTM. Sedangkan melalui pemeriksaan penunjang tersebut dapat diketahui apakah penyebabnya Coxsackie A-16 atau Enterovirus 71.
Penanganan penyakit ini tidak ada yang khusus, karena merupakan penyakit “self limiting disease” atau penyakit yang sembuh sendiri dalam 7-10 hari. Penderita perlu istirahat karena daya tahan tubuh menurun. Obat golongan paracetamol atau penurun panas digunakan dalam penganan demam yang terjadi. Dalam keadaan tertentu dapat diberikan Immunoglobulin IV (IGIV) pada pasien dengan daya tahan tubuh yang menurun seperti pada bayi. Pemberian cairan cukup untuk dehidrasi yang disebabkan sulit minum dan demam.
Pencegahan dan Antisipasi
Perilaku hidup sehat dan bersih adalah pencegahan dan perlindungan terbaik. Sebaiknya mencuci tangan dengan sabun dan air sesudah ke WC, sebelum makan, sesudah membuang ingus dan sesudah mengganti popok atau pakaian kotor. Pinjam-meminjam cangkir, sendok garpu, alat kebersihan pribadi misalnya handuk, lap muka, sikat gigi dan pakaian, terutama sepatu dan kaus kaki adalah perilaku yang berpotensi mempercepat penyebaran penyakit ini. Mencuci pakaian kotor harus dengan baik dan higienis. Perilaku batuk dan bersin, sebaiknya harus menutup mulut dan hidung dengan baik. Bersihkanlah hidung serta mulut dengan tisu wajah, sesudah dipakai sekali buanglah, kemudian cucilah tangan. Anak yang terkena penyakit tangan, kaki dan mulut seyogyanya jangan dulu ke sekolah atau tempat penitipan anak sampai lepuhnya mengering. Penyakit ini sebaiknya dilaporkan kepada pengurus tempat penitipan anak atau kepala sekolah untuk dilakukan pencegahan dengan baik.
Seperti halnya infeksi virus pandemi lainnya seperti SARS atau flu burung, fenomena infeksi enterovirus 71 di bagian selatan Cina tersebut sangat berpotensi menyebar di Negara Indonesia bila tidak dilakukan antisipasi dengan baik. Meskipun diakui untuk melakukan skrening atau deteksi manusia yang masuk dari negera tersebut ke Indonesia sulit dilakukan. Paling tidak departemen kesehatan dan berbagai jajarannya termasuk tenaga medis di Indonesia nantinya harus cepat dalam mengantisipasinya. Tindakan yang mungkin segera dapat dilakukan oleh pemerintah adalah melakukan “traveller warning” kepada masyakat Indonesia dalam berkunjung ke daerah yang berpotensi terjadi penularan. Nantinya harus lebih dicermati apakah infeksi KTM yang terjadi di dalam masyarakat adalah Coxsackie A 16 atau Enterovirus 71. Untuk itu diperlakukan penemuan kasus dan pelaporan yang baik dan terkoordinasi bila terjadi. Jangan sampai infeksi enterovitrus 71 sudah banyak mengancam nyawa anak Indonesia, tetapi tindakan antisipasi baru dilakukan.




More aboutEnterovirus 71 (EV 71)

METODA PEMECAHAN MASALAH

Posted by Anonymous

Prinsip utama untuk menetapkan suatu masalah adalah mengetahui fakta, kemudian memisahkan fakta tersebut dan melakukan interpretasi data menjadi fakta objektif dan menentukan luasnya masalah tersebut. Manajer membutuhkan kemampuan untuk menetapkan prioritas pemecahan masalah. Umumnya untuk pemecahan masalah selalu menggunakan metoda coba-coba dan salah, eksperimen, dan atau tidak berbuat apa-apa (“do nothing”). Pembuatan keputusan dapat dipandang sebagai proses yang menjembatani hal yang lalu dan hal yang akan datang pada saat manajer hendak mengadakan suatu perubahan.
Proses pemecahan masalah dan pengambilan keputusan seperti pada gambar di bawah ini :



Masalah


Pengumpulan Data


Analisa Data


Mengembangkan pemecahan


Memilih alternatif


Implementasi


Evaluasi

Proses pemecahan masalah dan pengambilan keputusan diatas adalah salah satu penyelesaian yang dinamis. Penyebab umum gagalnya penyelesaian masalah adalah kurang tepat mengidentifikasi masalah. Oleh karena itu identifikasi masalah adalah langkah yang paling penting. Kualitas hasil tergantung pada keakuratan dalam mengidentifikasi masalah.

Identifikasi masalah dipengaruhi oleh informasi yang tersedia, nilai, sikap dan pengalaman pembuat keputusan serta waktu penyelesaian masalah. Terutama waktu yang cukup untuk mengumpulkan dan mengorganisir data.

Langkah-Langkah Pemecahan Masalah
PENGAMBILAN KEPUTUSAN UNTUK KEPERAWATAN
  1. Mengetahui hakekat dari masalah dengan mendefinisikan masalah yang dihadapi.

  2. Mengumpulkan fakta-fakta dan data yang relevan.

  3. Mengolah fakta dan data.PENGAMBILAN KEPUTUSAN UNTUK KEPERAWATAN

    1. Menentukan beberapa alternatif pemecahan masalah.

    2. Memilih cara pemecahan dari alternatif yang dipilih.

    3. Memutuskan tindakan yang akan diambil.

    4. Evaluasi.

    PENGAMBILAN KEPUTUSAN UNTUK KEPERAWATAN
    • Mendefinisikan Masalah

    Untuk mengetahui hakekat suatu masalah tidaklah mudah, karena masalah yang sebenarnya dihadapi sering terselubung dan tidak terlihat jelas. Oleh karena itu diperlukan keahlian, pendidikan dan pengalaman untuk membuat diagnosa yang tepat. Untuk itu manajer perawat dan bidan agar selalu mengembangkan kemampuannya dan belajar dari pengalaman di masa lalu untuk mempelajari perubahan yang terjadi.


    • Pengumpulan Data

    Pengumpulan data atau informasi dikerjakan secara berkesinambungan melalui proses yang sistematis, sehingga upaya untuk mengantisipasi keadaan/masalah yang mungkin timbul akan lebih mudah dilaksanakan seperti ;

      1. Apakah masalah yang dihadapi diketahui dengan jelas?

      2. Apakah keadaan yang dihadapi merupakan masalah sebenarnya?

      3. Apakah sistem pelaporan di dalam organisasi sudah memungkinkan untuk prediksi secara tepat?


    • Analisa Fakta dan Data

    Fakta-fakta dan data yang telah terkumpul dengan baik diolah secara sistematis yang akhirnya akan merupakan suatu informasi yang akan digunakan sebagai bahan untuk pengambilan keputusan. Analisa fakta dan data perlu dihubungkan dengan serangkaian pertanyaan sebagai berikut :

      1. Situasi yang bagaimanakah yang menimbulkan masalah?

      2. Apa latar belakang dari masalah?

      3. Apa pengaruh dan hubungan antara masalah yang dihadapi dengan tujuan, rencana dan kebijakan organisasi?

      4. Apa konsekuensi atas keputusan yang diambil?

      5. Apakah pemecahan masalah sesuai dengan kapasitas organisasi?

      6. Apakah waktu pengambilan tepat?

      7. Siapa yang akan ditugaskan mengambil tindakan?


    • Penentuan Alternatif

    Baik buruknya sesuatu keputusan yang diambil sangat tergantung atas kemampuan menganalisa kekuatan dan kelemahan alternatif-alternatif yang dihadapi. Dalam usaha menganalisa alternatif yang ada seseorang perlu memperhitungkan :

      1. Siapa yang terlibat/dipengaruhi setiap alternatif ?

      2. Tindakan apa yang diperlukan ?

      3. Reaksi apa yang mungkin timbul ?

      4. Dimana sumber reaksi tersebut ?

      5. Interaksi apa yang diperlukan ?


    • Penentuan Pilihan yang Terbaik

    Pada setiap pengambilan keputusan selalu disertai dengan pengambilan resiko. Pada umumnya pilihan diambil dari beberapa alternatif jika diduga bahwa pilihan itu akan memberikan manfaat yang paling besar baik untuk jangka panjang maupun jangka pendek. Namun demkian perlu dipertimbang juga bahwa resiko yang menyertai bersifat moderat.


    • Evaluasi

    Untuk mengadakan penilaian yang baik, diperlukan obyektivitas dalam melakukan penilaian atau evaluasi. Biasanya suatu hal yang sangat sukar bagi seseorang untuk menilai dirinya sendiri secara obyektif. Oleh karena itu pelaksanaan penilaian dapat diserahkan kepada pihak ketiga yang tidak terlibat langsung dalam proses pengambilan keputusan untuk memperoleh tingkat obyektivitas setinggi mungkin.



More aboutMETODA PEMECAHAN MASALAH

PENGAMBILAN KEPUTUSAN

Posted by Anonymous

PENGAMBILAN KEPUTUSAN UNTUK KEPERAWATAN

kritik akan mengakibatkan hal positif seperti; semakin terjaminnya kemampuan analisa seseorang terhadap fakta dan data yang dihadapi dan akan meningkatkan kemampuan untuk mengatasi kelemahan.

Sebelum memecahkan masalah, manajer perlu mengajukan pertanyaan kunci sebagai berikut :

  1. Apakah hal ini penting ?

  2. Apakah saya ingin mengerjakan sesuatu untuk hal itu ?

  3. Apakah saya cukup handal untuk menangani masalah itu ?

  4. Apakah saya mempunyai kewenangan untuk mengerjakan sesuatu ?

  5. Apakah saya mempunyai pengetahuan, minat, waktu dan sumber yang tepat untuk itu ?

  6. Dapatkah saya mendelegasikan hal tersebut kepada seseorang ?

  7. Apakah ada manfaat yang didapatkan dari penyelesaian masalah tersebut ?


pengertiaan pengambilan keputusan
  • PENGAMBILAN KEPUTUSAN UNTUK KEPERAWATAN

    Pengambilan keputusan adalah suatu pendekatan yang sistematis terhadap hakekat suatu masalah dengan pengumpulan fakta-fakta dan data, menentukan alternatif yang matang untuk mengambil suatu tindakan yang tepat.

PENGAMBILAN KEPUTUSAN UNTUK KEPERAWATAN

Ada lima hal yang perlu diperhatikan dalam pengambilan keputusan :

  1. Dalam proses pengambilan keputusan tidak terjadi secara kebetulan.

  2. Pengambilan keputusan tidak dilakukan secara sembrono tapi harus berdasarkan pada sistematika tertentu :

    1. Tersedianya sumber-sumber untuk melaksanakan keputusan yang akan diambil.

    2. Kualifikasi tenaga kerja yang tersedia

    3. Falsafah yang dianut organisasi.

    4. Situasi lingkungan internal dan eksternal yang akan mempengaruhi administrasi dan manajemen di dalam organisasi.

  3. Masalah harus diketahui dengan jelas.

  4. Pemecahan masalah harus didasarkan pada fakta-fakta yang terkumpul dengan sistematis.

  5. Keputusan yang baik adalah keputusan yang telah dipilih dari berbagai alternatif yang telah dianalisa secara matang.

PENGAMBILAN KEPUTUSAN UNTUK KEPERAWATAN

Apabila jawaban pada pertanyaan nomor 1 sampai 5 adalah “tidak”, maka pemecahan masalah tersebut tidak efektif, artinya membuang waktu, sumber dan tenaga secara personal. Tapi sebaliknya bila jawabannya semua “ya”, pengambilan keputusan merupakan pilihan untuk menerima masalah dan bertanggung jawab.


PENGAMBILAN KEPUTUSAN UNTUK KEPERAWATAN
More aboutPENGAMBILAN KEPUTUSAN