Showing posts with label Sistem Gastrointestinal. Show all posts
Showing posts with label Sistem Gastrointestinal. Show all posts

Contrast MRI provides better screening of living liver donors

Posted by Anonymous


A single dose of the contrast agent gadobenate dimeglumine can help liver donors avoid multiple MRI examinations during the screening process, cutting down on time and cost without compromising accuracy, say researchers from the Yonsei University College of Medicine in Seoul, Korea.
For the study, 11 potential liver donors underwent MRI examinations after a single dose of gadobenate dimeglumine in order to screen them for donor adequacy. The researchers were able to find anatomical abnormalities in six of the patients that potentially could have affected either the selection or the surgery process. The MRI results were all corroborated at surgery.

“Preoperative imaging is crucial for both the selection of potential living liver donors and the planning of liver transplantation because it reveals the exact anatomy of the donor liver. By performing MRI on a potential donor, doctors can assess any abnormality or variation in the liver itself, its vessels or its bile duct. To improve the accuracy of MRI, contrast media is used,” said Myeong-Jin Kim, MD, one of the researchers on the study.


More aboutContrast MRI provides better screening of living liver donors

Transmission of Hepatitis C among family members

Posted by Anonymous

The prevalence of antibodies to Hepatitis C Virus (HCV) in Egypt is among the highest in the world. From the 1950s until 1982 hundreds of thousands were infected during mass campaigns to control schistosomiasis (a parasitic disease) using mass therapy with intravenous antimony compounds, but little is known about current risk factors and rates of transmission. Studies of high risk populations, such as intravenous drug users, shed little light on HCV transmission in Egypt where this high risk behavior is rare.

In a study led by G. Thomas Strickland, M.D. of the Department of Epidemiology and Preventive Medicine at the University of Maryland School of Medicine in Baltimore, MD and published in the September 2005 issue of Hepatology, Egyptian and American researchers surveyed rates of HCV infection in two rural communities having a prevalence of antibody to HCV of 24 and 9 percent.

A total of 10,112 HCV negative individuals were identified during an annual survey in 1997, with follow-up performed on an average of 1.6 years later in 6,738 subjects. Of these, 33 developed HCV antibodies, an incidence of 3.1/1000 person-years (PY), and 6.8/1000 PY in the 28 subjects in the village having the 24 percent prevalence of HCV. None of the 33 individuals was diagnosed with viral hepatitis or reported symptoms of acute hepatitis. An analysis of risk factors showed the strongest predictor of infection with HCV was having and anti-HCV positive family member. Among those that did, incidence was 5.8/1000 PY, compared to 1.0/1000 PY; 27/33 incident cases had an anti-HCV positive family member. Parenteral exposures increased the risk of HCV, but were not statistically significant; 67 percent of seroconverters were less than 20 years old, and the highest incidence rate (14.1/1000 PY) was in children under 10 living in households with an anti-HCV positive parent in the village with the high prevalence of HCV antibodies. The infection rate was also increased (13.1/1000 PY) in men married to an HCV positive woman.

More aboutTransmission of Hepatitis C among family members

ARTIKEL TERAPI ANTAGONIS RESEPTOR HISTAMIN H2 PADA PEPTIC ULCER DISEASE (PUD)

Posted by Anonymous

PENDAHULUAN
Peptic ulcer disease adalah lesi pada lambung atau duedenum yang disebabkan oleh ketidakseimbangan antara faktor agresif (sekresi asam lambung, pepsin dan infeksi bakteri Helicobacter pylori) dengan faktor defensif/faktor pelindung mukosa (produksi prostaglandin, gastric mucus, bikarbonat dan aliran darah mukosa).
Ada tiga penyebab terjadinya peptic ulcer disease, yaitu Helicobacter pylori, induksi nonsteroidal anti-inflamatory drug (NSAID) dan stress ulcer.

Infeksi dari Helicobacter pylori menyebabkan infeksi kronis gastritis pada semua individu yang akan memicu terjadinya peptic ulcer disease (PUD) dan kanker lambung (gastric cancer). Helicobacter pylori berbentuk spiral, sensitif terhadap pH, termasuk golongan bakteri Gram negatif dan merupakan bakteri mikroarofilik yang hidup berada diantara lapisan mukus dan permukaan sel epitelial di perut dan di beberapa lokasi di lambung. Bakteri ini menghasilkan sitotoksin yang mampu memecah pertahanan mukus dan kemudian menempel pada sel epitelial lambung atau pada usus halus. Bakteri ini akan menghasilkan adhesin yang mengikat membran yang terdiri dari lipid dan karbohidrat. Bakteri ini juga memproduksi urease yang akan mengkatalis peristiwa hidrolisis urea menjadi karbonmonoksida dan amonia yang bersifat toksik. Amonia dan produk lain yang dihasilkan oleh bakteri ini akan terakumulasi dan merusak integritas mukosa lambung dan menyebabkan terjadinya ulcer (tukak/luka) (Dipiro, J.T., et al., 2005).
NSAID termasuk aspirin dapat menyebabkan kerusakan mukosa lambung melalui dua mekanisme yaitu secara langsung atau mengiritasi topikal sel epitelium lambung dan secara sistemik dengan menghambat sistesis prostaglandin (Dipiro, J.T., et al., 2005).
Selain faktor-faktor penyebab diatas, peptic ulcer disease juga dapat disebabkan oleh kebiasaan merokok lebih dari 10 batang sehari. Mekanisme merokok dapat menyebabkan peptic ulcer disease masih belum jelas. Mekanisme yang mungkin yaitu adanya penundaan pengosongan lambung, menghambat sekresi bikarbonat, dan mengurangi produksi prostaglandin pada lapisan mukosal yang akan mengakibatkan berkurangnya perlindungan terhadap mukosa lambung. Selain itu merokok dapat menyebabkan peningkatan sekresi asam lambung, walaupun ini tidak terjadi pada setiap individu (Dipiro, J.T., et al., 2005).

SASARAN TERAPI
Sasaran terapi secara umum untuk peptic ulcer disease yaitu infeksi bakteri Helicobacter pylori, sekresi asam lambung berlebih dan pertahanan mukosa.

TUJUAN TERAPI
Tujuan dari terapi untuk peptic ulcer disease yaitu mengurangi sekresi berlebih asam lambung, menetralkan asam lambung, memperkuat sistem perlindungan mukosa, mengurangi atau menghilangkan nyeri epigastrik, mengurangi dan mencegah terjadinya komplikasi.

STRATEGI TERAPI
Terapi peptic ulcer disease dapat secara farmakologis maupun non-farmakologis. Terapi non-farmakologis yang dapat dilakukan diantaranya mengurangi atau menghilangkan stress psikologis, menghentikan kebiasaan merokok, tidak menggunakan obat-obat golongan nonsteroidal anti-inflamatory drug (NSAID). Selain itu penderita peptic ulcer disease harus menghindari makanan-makanan yang dapat menyebabkan terjadinya ulcer (tukak) seperti makanan dan minuman yang mengandung kafein, pedas dan alkohol. (Dipiro, J.T., et al., 2005).
Terapi farmakologi untuk peptic ulcer disease yaitu dengan menggunakan antagonis reseptor histamin H2, pompa proton inhibitor, antasida, analog prostaglandin, sucralfate. Dalam makalah ini hanya akan dibahas terapi farmakologi menggunakan antagosis reseptor H2.
Antagonis reseptor Histamin H2
Terapi menggunakan antagonis reseptor histamin H2 merupakan terapi yang digunakan untuk mengurangi sekresi asam lambung berlebih. Mekanisme aksi obat golongan antagonis reseptor histamin H2 yaitu dengan cara mem-blok kerja dari histamin atau berkompetisi dengan histamin untuk berikatan dengan reseptor H2 pada sel parietal sehingga mengurangi sekresi asam lambung (Katzung, B.G, 2002).
Ada 4 antagonis reseptor histamin H2 yang sering digunakan dalam pengobatan peptic ulcer disease yaitu cimetidine, ranitidine, famotidine, dan nizatidine. Keempat obat tersebut dapat secara cepat di absorbsi di usus halus. Cimetidine, ranitidine dan famotidine akan mengalami first-pass hepatic metabolism yang akan mengakibatkan bioavailabilitasnya menjadi sekitar 50%. Sedangkan nizatidine hanya sedikit mengalami first-pass hepatic metabolism sehingga bioavalabilitasnya mendekati 100%. Waktu paruh (half life) dari keempat obat tersebut adalah 1 hingga 4 jam dan durasinya tergantung dari besarnya dosis yang diberikan. Obat golongan antagonis reseptor histamin H2 akan dibersihkan dari tubuh melalui kombinasi metabolisme di hati, flitrasi glomerolus dan sekresi tubulus renal. (Katzung, B.G, 2002).
Berikut akan diuraikan mengenai cimetidine dan ranitidine.

Cimetidine
Nama dagang di Indonesia: Cimetidine Hexpharm (diproduksi oleh Hexpharm), Cimetidine Prafa (Prafa), Corsamed (Corsa), Licomed (Berlico Mulia Farma), Tagamed (GlaxoSmithKline), Tidifar (Ifars), Ulcedine (United American), Ulcumed (Soho), Ulcusan (Pyridam), Ulsikur (Kalbe Farma), Xepamed (Metiska Farma).
Indikasi: Terapi jangka pendek untuk ulkus duodenum aktif, terapi pemeliharaan ulkus duodenum sesudah penyembuhan dari ulkus aktif, terapi jangka pendek ulkus gaster aktif yang jinak, terapi refluks gastroesofagus erosif, pencegahan pendarahan saluran cerna bagian atas.
Kontra indikasi: Hipersensitif dengan cimetidine
Bentuk sediaan, dosis, dan aturan pakai: tablet 200 mg dan tablet 400 mg.
Ulkus duodenum aktif 800 mg 1x sehari pada malam hari atau 300 mg 4x sehari pada waktu makan atau sebelum tidur atau 400 mg 2x sehari pada pagi hari dan sebelum tidur. Lama terapi 4-6 minggu.
Terapi pemeliharaan ulkus duodenum 400 mg 1x sehari pada malam hari sebelum tidur.
Ulkus gaster aktif jinak 800 mg 1x sehari pada malam hari sebelum tidur atau 300 mg 4x sehari pada saat makan dan sebelum tidur selama 6-8 minggu.
Refluks gastroesofagus erosif 800 mg 2x sehari atau 400 mg 4x sehari dalam dosis terbagi selama 12 minggu
Hipersekresi patologis 300 mg 4x sehari pada saat makan dan sebelum tidur.
Dosis maksimal 2,4 gram sehari.
Efek samping: diare ringan, sakit kepala, mengantuk, agitasi, dpresi, cemas, halusinasi, mual, muntah.
Resiko khusus: Wanita hamil dan menyusui. Cimetidine dapat melintasi plasenta dan dapat mencapai air susu, sehingga tidak boleh digunakan pada wanita hamil dan menyusui.

Ranitidine
Nama dagang di Indonesia: Aldin (diproduksi oleh Merck),.Anitid (Bernofarm), Chopintac (Nufarindo), Fordin (Promed), Gastridin (Interbat), Hexer (Kalbe Farma), Radin (Dexa Medica), Rancus (Mersifarma TM), Ranin (Pharos), Ranitidine Hexpharm (Hexpharm) , Ranticid (Kimia Farma), Rantin (Kalbe Farma), Ratinal (Gracia Farmindo), Ranatac (Fahrenheit), Tricker (Meprofarm), Ulceranin (Otto), Wiacid (Lansond), Xeradin (Metiska Farma), Zantac (GlaxoSmithKline), Zantadin(Soho), Zantifar (Ifars), Zumaran (Sandoz).
Indikasi: Ulkus duodenum, ulkus gaster non maligna, kondisi hipersekresi patologi.
Kontra indikasi: Hipersensitif dengan ranitidine
Bentuk sediaan, dosis, dan aturan pakai: tablet 150 mg, ampul 25 mg, ampul 50 mg.
Ulkus duodenum 150 mg 2x sehari atau 300 mg 1x sehari pada malam hari.
Pencegahan kekambuhan ulkus 150 mg sebelum tidur
Sindrom Zollinger Ellison 150 mg 3x sehari.
Efek samping: sakit kepala, pusing, ruam kulit, aritmia, vertigo.

PUSTAKA
Anonim 2007, MIMS Indonesia Petunjuk Konsultasi, Edisi 6, Info Master, Jakarta.

Dipiro, J.T., Talbert, R.L., Yee, G.C., Matzke, G.R., Wells, B.G., and Posey, L.M., 2005, Pharmacotherapy: A Pathophysiologic Approach, Sixth Edition, 629-643, The McGraw-Hill Companies, Inc.,USA.

Katzung, B.G., 2002, Basic & Clinical Pharmacology, 8th edition, Mc Graw-Hill Companies INC., New York.

Lacy, C.F., Armstrong, L.L., Goldman, M.P., and Lance, L.L., 2006, Drug Information Handbook, 14th Ed., Lexicomp, Inc., USA.

More aboutARTIKEL TERAPI ANTAGONIS RESEPTOR HISTAMIN H2 PADA PEPTIC ULCER DISEASE (PUD)

PENGGUNAAN ANTIMOTILITAS (LOPERAMIDE) PADA DIARE AKUT AKIBAT INFEKSI

Posted by Anonymous

Di Indonesia penyakit diare merupakan penyakit endemis dan tahunan yang biasa menyerang ketika musim hujan tiba. Hal ini disebabkan masih kurangnya kesadaran masyarakat akan kebersihan lingkungan disekitarnya sehingga ketika ada salah satu warga terkena diare akan menyebar ke warga yang lain. Di tiap-tiap kabupaten maupun provinsi dalam setahun masih ditemukan adanya Kejadian Luar Biasa (KLB) penyakit diare, hal ini menggambarkan bagaimana masyarakat hidup dengan resiko terkena diare yang besar bila tidak menjaga kebersihan. Penderita diare harus segera diberikan terapi pengobatan bila dibiarkan berlanjut tanpa terapi yang benar akan berakibat fatal.
Diare adalah buang air besar (defekasi) dengan tinja berbentuk cair atau setengah cair (setengah padat), kandungan air tinja lebih banyak dari biasanya lebih dari 200 g atau 200 ml/24 jam, yang berlangsung kurang atau paling lama 15 hari. Definisi lain memakai kriteria frekuensi, yaitu buang air besar encer lebih dari 3 kali per hari. Buang air besar encer tersebut dapat/tanpa disertai lendir dan darah. Diare terbagi menjadi 2 berdasarkan mula dan lamanya yaitu diare akut dan diare kronik. Dalam keadaan normal, tinja mengandung 60-90% air, pada diare airnya bisa mencapai lebih dari 90%.

Diare akut adalah diare yang waktu terjadinya gejala tiba-tiba dan berlangsung singkat (< 48-72 jam) disebabkan oleh infeksi (virus dan bakteri), keracunan makanan atau obat, sedang diare kronik yaitu diare yang berlangsung lebih dari 3 minggu (orang dewasa) sedangkan pada bayi dan anak 2 minggu, merupakan fase lanjut dari diare akut. Bakteri penyebab diare antara lain: Shigella, Salmonella, Campylobacter, Staphylococcus, V. cholerae serta E. Coli (ETEC dan EIEC), sedangkan virus antara lain: Adenovirus dan Rotavirus.

Secara klinis diare akut karena infeksi dibagi menjadi 2 golongan. Pertama, koleriform, dengan diare yang terutama terdiri atas cairan saja. Kedua, disentriform, pada diare didapatkan lendir kental dan kadang-kadang darah. Pasien dengan diare akut akibat infeksi akan sering mengalami mual, muntah, nyeri perut, dan demam. Kekurangan cairan akan menyebabkan pasien akan merasa haus, lidah kering, tulang pipi menonjol, kulit menjadi keriput serta suara menjadi serak. Kekurangan kalium dapat menimbulkan aritmia jantung. Perfusi ginjal dapat menurun yang menimbulkan anuria sehingga bila kekurangan cairan tak segera diatasi dapat menyebabkan dehidrasi dan nekrosis tubular akut. Tujuan pengobatan diare akibat infeksi yaitu memperbaiki kehilangan cairan dan elektrolit, menghilangkan simtom (gejala), menghilangkan penyebab utama dan menghindari terjadinya gangguan kedua.

Adapun strategi terapi diare akut akibat infeksi yaitu : rehidrasi sebagai prioritas utama pengobatan, pasien diberikan oralit atau ringer laktat, kemudian dilakukan identifikasi penyebab diare apakah termasuk jenis diare koleriform atau disentriform, selanjutnya dilakukan pemeriksaan penunjang yang terarah. Terapi simtomatik (gejala) salah satunya obat anti diare golongan antimotilitas dan sekresi usus dari golongan opiat salah satunya adalah Loperamide (ImodiumÒ) dan yang terakhir adalah melakukan terapi definitif dengan pemberian edukasi yang jelas sangat penting sebagai langkah pencegahan antara lain higiene perorangan, sanitasi lingkungan dan imunisasi melalui vakinasi.

Loperamide merupakan derivat difenoksilat (dan haloperidol, suatu anti psikotikum) dengan khasiat obstipasi yang 2-3 kali lebih kuat tetapi tanpa efek terhadap sistem saraf pusat (SSP) karena tidak bisa menyeberangi sawar-darah otak oleh karena itu kurang menyebabkan efek sedasi dan efek ketergantungan dibanding golongan opiat lainnya seperti difenoksilat dan kodein HCl. Loperamide mampu menormalkan keseimbangan resorpsi-sekresi dari sel-sel mukosa, yaitu memulihkan sel-sel yang berada dalam keadaan hipersekresi ke keadaan resorpsi normal kembali. Mulai kerja loperamide lebih cepat dan bertahan lebih lama.

Obat ini tidak boleh diberikan pada anak di bawah usia 2 tahun, karena fungsi hatinya belum berkembang dengan sempurna untuk dapat menguraikan obat ini, begitu pula untuk pasien dengan penyakit hati hati disarankan tidak menggunakan obat ini.

Loperamide dapat dikombinasikan dengan antibiotika (amoksisilin, fluoroquinolon, kotrimoksazol) untuk semua diare akibat infeksi bakteri atau virus kecuali infeksi Shigella, Salmonella, dan kolitis pseudomembran karena akan memperburuk diare yang diakibatkan bakteri enteroinvasif akibat perpanjangan waktu kontak antara bakteri dan epitel usus. Disamping itu loperamide juga tidak berinteraksi dengan antibiotika-antibiotika tersebut.

Obat pilihan :

Nama generik : Loperamide HCl

Nama paten : ImodiumÒ (Janssen-Cilag)

Nama dagang Indonesia : Alphamid (Alpharma), Amerol (Tempo), Antidia (Bernofarm),

Colidium (Solas), Diadium (Lapi), Imomed (Medikon), Imore

(Soho), Inamid (Nufarindo), Loremid (Meprofarm), Motilex

(Kalbe Farma), Normudal (Combiphar), Renamid (Fahrenheit).

Indikasi : untuk pengobatan diare akut dan diare kronik

Kontraindikasi : hipersensitivitas dengan loperamid, hambatan peristaltik, bayi

dan anak < 2 tahun, hindari penggunaan sebagai terapi utama

untuk disentri akut, ulseratif kolitis akut, bacterial enterocolitis

dan kolitis pseudomembran.

Bentuk sediaan : kaplet dan tablet salut selaput 2 mg.

Dosis dan aturan pakai : anak-anak : - diare akut maksimal 16 mg per hari

2-5 tahun (13-20 kg) : 1 mg 3 kali per hari

6-8 tahun (20-30 kg) : 2 mg 2 kali per hari

8-12 tahun (> 30 kg) : 2 mg 3 kali per hari

pemeliharaan : 0,1 mg/kg BB sesudah BAB

- diare kronis maksimal 4-12 mg per hari

< 5 tahun : 1 mg 4 kali per hari

> 5 tahun : 2 mg 4 kali per hari

pemeliharaan : 2 mg per hari sesudah BAB

dewasa : - diare akut, dosis awal 4 mg diikuti 2 mg

sesudah BAB maksimal 16 mg/hari,

- diare kronis dosis awal seperti diare akut

diikuti 4-8 mg/hari sesudah BAB maksimal

16 mg/hari.

Efek samping : nyeri abdominal (perut), mual, muntah, mulut kering,

mengantuk, pusing, ruam kulit, dan megakolon toksik.

Resiko khusus : pada pasien yang sedang hamil pada trimester pertama resiko

penggunaan obat ini adalah termasuk kategori C, di mana

penelitian pada wanita (manusia) belum tersedia.

Tidak direkomedasikan untuk wanita menyusui karena

loperamid dapat masuk ke jaringan payudara (susu).

Tidak boleh untuk pasien dengan kolitis ulserativ parah, karena

megakolon toksik dapat terjadi.

Anonim, 2006, MIMS, edisi bahasa Indonesia volume 7, PT Info Master, Jakarta, 28-30.

Dipiro, Josep T, 2005, Pharmacotherapy Pathophysiologic Approach, sixth edition, The McGraw-Hill Companies Inc., 677-683

Katzung, Bertram G, 2004, Farmakologi Dasar dan Klinik, edisi pertama, Salemba Medika, Jakarta, 553.

Mansjoer,Arif dkk.,2001, Kapita Selekta Kedokteran, edisi ketiga jilid I, Media Aesculapius Fakultas Kedokteran UI, Jakarta, 500-507.

Tjay, H. T., dan Rahardja, K., 2002, Obat-obat Penting: Khasiat, Penggunaan dan Efek-efek Sampingnya, Edisi V, Cetakan pertama, 781, Gramedia, Jakarta, 271-279.



More aboutPENGGUNAAN ANTIMOTILITAS (LOPERAMIDE) PADA DIARE AKUT AKIBAT INFEKSI

ARTIKEL PENGGUNAAN ORALIT DAN LOPERAMID PADA DIARE

Posted by Anonymous

Diare merupakan salah satu masalah kesehatan di indonesia. Diare pada umumnya terjadi akibat dari sanitasi lingkungan yang buruk. Diare adalah suatu penyakit yang ditandai dengan meningkatnya frekuensi buang air besar (BAB) lebih dari tiga kali sehari disertai dengan adanya perubahan bentuk dan konsistensi tinja. Menurut lama waktu terjadinya, diare dibagi menjadi dua yaitu diare akut dan diare kronis. Diare akut timbul dengan tiba-tiba dan berlangsung beberapa hari, sedangkan diare kronis berlangsung lebih dari tiga minggu. Apabila seseorang terkena diare, maka ada beberapa gejala yang tampak, seperti sering buang air besar, sakit pada bagian abdominal, sering merasa haus dan kehilangan berat badan. Apabila diare disebabkan karena adanya infeksi bakteri atau virus maka demam dapat menjadi salah satu gejala yang timbul.
Sebagian besar diare akut akan sembuh dengan sendirinya tanpa perawatan khusus, namun apabila diare tidak segera sembuh dalam beberapa hari dan semakin bertambah parah maka diare ini harus diobati. Sasaran dari pengobatan diare yaitu faktor penyebab diare, dehidrasi dan kerja usus. Pengobatan bertujuan untuk mengeliminasi faktor penyebab diare (apabila diare disebabkan karena infeksi), mencegah dehidrasi dan menormalkan kerja usus.



Apakah diare berbahaya….?

Bahaya utama diare adalah kematian yang disebabkan karena tubuh banyak kehilangan air dan garam terlarut yang disebut dehidrasi. Dehidrasi terjadi karena usus tidak bekerja sempurna sehingga sebagian besar air dan zat-zat yang terlarut dibuang bersama tinja sampai akhirnya tubuh kekurangan cairan. Pada anak-anak dan orang tua, sangat besar kemungkinan mengalami dehidrasi. Karena bahaya diare terletak pada dehidrasi maka penanggulangan utama penyakit diare adalah mencegah timbulnya dehidrasi dan rehidrasi intensif bila telah terjadi dehidrasi.

Bagaimana mencegah dan mengatasi dehidrasi…?

Terapi non farmakologi dengan menggunakan larutan yang mengandung elektrolit-glukosa sangat efektif dalam mengatasi dehidrasi pada diare, terutama diare akut. Larutan ini sering disebut rehidrasi oral. Larutan ini mempunyai komposisi campuran Natrium klorida, kalium klorida, glukosa anhidrat dan natrium bikarbonat. Larutan rehidrasi oral ini mempunyai nama generik oralit dan larutan ini sekarang dijual dengan berbagai merek dagang seperti Alphatrolit®, Aqualyte®, Bioralit® dan Corsalit®. Oralit tersedia dalam bentuk serbuk untuk dilarutkan dan dalam bentuk larutan diminum perlahan-lahan. Serbuk dilarutkan dalam 200 ml atau 1 (satu) gelas air matang hangat.Takaran pemakaian oralit pada diare dapat dilihat pada tabel 1.





Tabel 1. takaran pemberian oralit



umur < 1 tahun 1-4 tahun 5-12 tahun dewasa

tidak ada dehidrasi setiap BAB beri oralit

mencegah dehidrasi

100 ml 200 ml 300 ml 400 ml

(0,5 gelas) (1 gelas) (1,5 gelas) (2 gelas)

dengan dehidrasi 3 jam pertama beri oralit

mengatasi dehidrasi:

300 ml 600 ml 1,2 liter 2,4 liter

(1,5 gelas) (3 gelas) (6 gelas) (12 gelas)

selanjutnya setiap BAB beri oralit

100 ml 200 ml 300 ml 400 ml

(0,5 gelas) (1 gelas) (1,5 gelas) (2 gelas)



Antimotilitas

Obat antimotilitas bekerja dengan mengurangi gerakan peristaltik usus sehingga diharapkan akan memperpanjang waktu kontak dan penyerapan di usus. Obat antimotilitas digunakan apabila diare berlangsung terus menerus selama 48 jam. Pada pasien yang mengalami demam dan di dalam tinjanya terdapat darah, maka sangat mungkin sekali diare yang terjadi disebabkan karena adanya infeksi bakteri. Perlu diingat!! bahwa diare sendiri merupakan suatu mekanisme pertahanan tubuh untuk mengeluarkan kontaminasi (termasuk bakteri) dari dalam tubuh. Pada kasus ini, antimotilitas tidak boleh digunakan karena hanya akan memperlama keberadaan bakteri di dalam tubuh.





Apakah itu loperamid…?

Loperamid hidroklorida merupakan nama generik dari salah satu obat antimotilitas yang sering digunakan untuk terapi diare. Terapi dengan menggunakan obat, disebut juga sebagai terapi farmakologi. Terapi farmakologi ini tidak serta merta menyembuhkan diare namun hanya akan meredakan diare.

Masih banyak kontroversi tentang penggunaan obat loperamid, karena dianggap kurang efektif dalam mengatasi diare dan ada efek samping yang ditimbulkan, terutama penggunaan antimotilitas loperamid pada anak-anak < 2 tahun. Saat ini loperamid banyak dijual dengan berbagai merek dagang, diantaranya Imodium®, Bidium ®, Diadium®, dan Midix®. Loperamid digunakan sebagai tambahan terapi selain rehidrasi pada diare akut dan traveler diarrhea (diare yang terjadi pada saat perjalanan jauh akibat makanan atau minuman yang tidak higienis), obat ini bekerja dengan menghambat gerakan peristaltik usus. Di Indonesia, loperamid dijual dalam dua (2) bentuk sediaan yaitu tablet 2 mg dan kapsul 2 mg.

Dosis. Pengaturan dosis loperamid sebagai berikut :

Untuk anak-anak : diare akut à dosis awal : (2-5 tahun) 1 mg, 3 kali/hari. (6-8 tahun) 2 mg 2 kali/hari; (8-12 tahun) 2 mg 3 kali/hari. Selanjutnya setelah BAB diberikan 0,1 mg/kgBB, tapi tidak boleh mencapai dosis awal. traveler diarrhea à (2-5 tahun) tidak direkomendasikan; dosis awal (6-8 tahun) 2 mg setelah BAB, diikuti 1 mg tiap setelah BAB maksimal 4mg/hari; dosis awal (9-11 tahun) 2 mg setelah BAB, diikuti 1 mg tiap setelah BAB maksimal 6mg/hari; umur ≥ 12 tahun mengikuti dosis dewasa.

Untuk orang dewasa : diare akut à dosis awal 4 mg diikuti 2mg setelah tiap BAB, maksimal 16 mg/hari. Diare kronis à dosis awal sama dengan diare akut, selanjutnya maksimal 4-8 mg/hari. Traveler diarrhea à dosis awal 4 mg setelah BAB, diikuti 2 mg setelah tiap BAB, maksimal 8 mg/hari.

Efek samping. Apabila menggunakan loperamid, maka efek samping yang dapat terjadi antara lain kram pada daerah perut, konstipasi, pusing, merasa lelah, mengantuk dan mulut terasa kering. Loperamid dikontraindikasikan untuk pasien yang hipersensitif pada loperamid, anak diusia 2 tahun, diare dengan tinja berdarah, diare dengan suhu tubuh diatas 38oC, diare yang disebabkan oleh bakteri.

Peringatan. Wanita yang sedang menyusui dilarang menggunakan loperamid. Hati-hati penggunaan loperamid pada pasien dengan disfungsi hati.





Daftar pustaka

Anonim, 2000, Informatorium Obat Nasional Indonesia, 28, Departemen Kesehatan Republik Indonesia Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan, Jakarta.

Diemert, David., J., 2006, Prevention and Self-Treatment of Traveler’s Diarrhea, http://cmr.asm.org/cgi/reprint/19/3/583, diakses tanggal 16 desember 2007

Larson, C., P., Saha., U., R., Islam., R., and Roy., I., 2006, Childhood diarrhoea management practices in Bangladesh: private sector dominance and continued inequities in care,http://www.ncbi.nlm.nih.gov/sites/entrez, diakses tanggal 16 Desember 2007



Lacy, Charles. F., dkk, 2006, Drug Informatorium Handbook, 14th ed, 949-951, Lexi-Comp. inc, United States.

Mycek, Mary., J., and Harvey, A., R., 2000, Pharmacology, 2nd ed, 243-244, lippincott Williams & Wilkins, New jersey

Spruill, William, J., and Wade, William, E., Pharmacotherapy: A Pathophysiologic Approach, Sixth Edition, 677-681, Mcgraw-Hill Medical Publishing Division, New York.


More aboutARTIKEL PENGGUNAAN ORALIT DAN LOPERAMID PADA DIARE

TERAPI KOMBINASI UNTUK ERADIKASI HELICOBACTER PYLORI PADA PEPTIC ULCER DISEASE

Posted by Anonymous

Apakah Anda sering mengalami nyeri pada saluran cerna? Apakah Anda mempunyai riwayat sakit maag? Ataukah Anda sering merasa mual dan muntah serta sering terbangun di malam hari karena mengalami rasa nyeri yang hebat di bagian lambung atau di ulu hati? Jika iya, sebaiknya Anda perlu lebih waspada mulai dari sekarang. Nyeri merupakan suatu pertanda telah terjadi sesuatu yang tidak beres dalam tubuh Anda. Kemungkinan telah terjadi sesuatu di dalam saluran pencernaan Anda. Jangan pernah menganggap remeh rasa nyeri itu sebelum semuanya menjadi terlambat untuk diatasi.


Seringkali kita menganggap sakit atau nyeri yang sering terjadi di saluran cerna sebagai sakit maag yang disebabkan oleh asam lambung yang berlebihan. Asam lambung merupakan salah satu faktor yang biasanya menjadi kambing hitam untuk gangguan pada saluran cerna. Akibatnya, setiap ada nyeri pada bagian lambung atau usus, obat yang diberikan adalah obat antasid (anti acid atau anti asam). Hal tersebut memang tidak sepenuhnya salah, tetapi ada faktor lain yang perlu dicurigai sebagai penyebab sakit di saluran pencernaan, terutama di bagian lambung dan usus. Selain asam lambung yang berlebih, stress dan infeksi bakteri Helicobacter pylori juga memicu terjadinya luka pada mukosa lambung dan usus(3). Luka inilah yang dikenal sebagai tukak lambung dan tukak duodenum (peptic ulcer disease)(2). Faktor-faktor penyebab nyeri pada lambung atau usus harus diketahui untuk menentukan terapi pengobatan yang akan dilakukan.

Apa yang menjadi sasaran utama terapi tukak lambung dan tukak duodenum? Sasaran terapi ini adalah bakteri Helicobacter pylori dan asam lambung. Helicobacter pylori ditetapkan sebagai tersangka utama nomor dua sebagai penyebab utama terjadinya tukak lambung dan tukak duodenum setelah asam lambung. Pada tahun 1982, ketika Barry Marshall dan Robin Warren menemukan bakteri ini, stress dan gaya hidup masih dianggap sebagai penyebab utama tukak. Marshall dan Warren terus menerus meneliti bakteri ini dan akhirnya mendapatkan hubungan antara bakteri ini dengan tukak. Helicobacter pylori ditemukan pada lebih dari 90% pasien yang mengalami tukak duodenum dan 70% pasien yang mengalami tukak lambung(4). H.pylori merupakan bakteri Gram negatif yang berbentuk spiral yang membentuk koloni pada bagian bawah lambung (pada bagian pylorus atau pada daerah perbatasan dengan usus)(4). Berkat jasanya menemukan bakteri H.pylori sebagai penyebab baru tukak lambung dan tukak duodenum, Marshall dan Warren mendapatkan hadiah nobel dalam bidang kesehatan (Noble Prize in Physiology or Medicine) pada tahun 2005.

Bagaimana bakteri ini mampu menyebabkan luka pada dinding lambung? Jawabannya terdapat pada enzim urease yang dihasilkan oleh bakteri ini. Enzim ini akan menghasilkan amonia yang bersifat toksik dan merusak pertahanan mukosa lambung(4). Kerusakan mukosa diperparah dengan hadirnya asam lambung berlebih yang juga ikut ambil bagian untuk menyerang pertahanan di daerah ini. Sel-sel mukosa tak mampu menahan serangan dari asam lambung dan akhirnya sel-sel ini pun mati. Regenerasi sel mukosa tak mampu mengimbangi perlawanan asam lambung dan invasi bakteri H.pylori sehingga semakin lama dinding lambung dan usus akan terus menerus terkikis, dan menipis. Luka menjadi semakin melebar dan dalam, sehingga suatu saat akan terjadi pendarahan pada dinding lambung dan usus (bleeding). Selain pendarahan, jika semakin parah akan terbentuk lubang (dinding lambung mengalami perforasi) sehingga makanan di dalam lambung dapat tumpah ke rongga perut.

Tujuan dari terapi adalah menghilangkan atau mengeradikasi bakteri H.pylori dan mengontrol jumlah asam lambung berlebih yang dapat memperparah tukak. Terapi tunggal antibiotik atau terapi tunggal obat penurun kadar asam telah terbukti tidak optimal untuk mengobati tukak yang disebabkan karena infeksi bakteri H.pylori. Oleh sebab itu, diperlukan suatu kombinasi terapi yang terdiri dari antibiotika ditambah dengan obat-obat yang mampu menurunkan kadar asam lambung (misalnya penghambat pompa proton atau antagonis reseptor H2) untuk pasien yang positif H.pylori(4).

Bagaimana kita mengetahui telah terjadi infeksi bakteri H.pylori? Cara untuk mengetahuinya adalah dengan serangkaian tes di laboratorium. Tes yang dilakukan meliputi tes yang invasif yaitu dengan endoskopi; tes napas untuk mengetahui apakah terdapat urea dalam napas; tes serum darah dan tes feses, keduanya untuk mendeteksi antibodi IgG terhadap bakteri ini(2). Antibodi IgG merupakan zat yang dikeluarkan oleh tubuh sebagai mekanisme pertahanan diri jika terdapat infeksi bakteri. Terdeteksinya antibodi IgG dalam serum darah dan feses menunjukkan terdapat infeksi bakteri H.pylori. Walaupun agak memakan biaya, tetapi tes ini sangat penting dilakukan untuk menentukan strategi terapi yang tepat. Jika tidak terdapat bakteri H.pylori maka cukup digunakan obat penekan jumlah asam lambung dan tidak perlu digunakan antibiotika.

Berikut ini adalah obat-obat yang digunakan untuk eradikasi bakteri H.pylori dan mengobati tukak :

ANTIBIOTIK. H.pylori sensitif dengan antibiotik tertentu misalnya amoxicillin (Amoxillin(R)-Pharos, kapsul 500 mg)(1) dan antibiotik golongan makrolida misalnya clarithromycin (Comtro(R)-Combiphar, tablet salut selaput 250 mg) (1). Antibiotik lini kedua yang digunakan yaitu tetrasiklin (Tetrin(R)-Interbat, kapsul 250 mg dan 500 mg) (1), metronidazole (Farizol(R)-Ifars, kaplet 250 mg dan 500 mg) (1), dan ciprofloxacin (Cetafloxo(R)-Soho, kapsul 250 mg dan kaplet 500 mg) (1). Salah satu indikasi semua obat golongan ini adalah untuk mengeradikasi bakteri H.pylori di saluran cerna. Kontraindikasi : pasien yang mengalami hipersensitivitas terhadap antibiotik, ibu hamil dan menyusui (tetrasikiln) (5). Efek samping yang paling umum terjadi dari penggunaan antibiotik adalah permasalahan di saluran pencernaan misalnya mual, muntah dan diare(5). Reaksi alergi dapat terjadi dengan semua antibiotik tetapi yang paling sering terjadi adalah alergi antibiotik golongan penisilin atau sulfa. Reaksi alergi yang terjadi mulai dari bercak merah pada kulit, biasanya jarang, namun parah dan mengancam jiwa karena menyebabkan shock anafilaksis(5).

OBAT PENEKAN JUMLAH ASAM LAMBUNG. Obat-obat golongan ini meliputi penghambat pompa proton (PPI/ proton pump inhibitor); antagonis reseptor H2 (H2RA/ H2 reseptor antagonist); dan antasid. PPI (Proton Pump Inhibitor) bekerja dengan cara menghambat atau memblok langsung tempat yang menghasilkan asam(3). Beberapa macam obat ini yaitu omeprazole (OMZ(R)-Ferron, kapsul 20 mg)(1), esomeprazole (Nexium(R)-AstraZeneca, tablet salut selaput 20 dan 40 mg)(1), lansoprazole (Nufaprazol(R)-Nufarindo, kapsul 30 mg)(1), rabeprazole (Pariet(R)-Eisai, tablet salut enterik 10 mg dan 20 mg)(1), dan pantoprazole (Pantozol(R)-Pharos, tablet 20 dan 40 mg)(1). Efek samping obat golongan ini jarang, meliputi sakit kepala, diare, konstipasi, muntah, dan ruam merah pada kulit(3). Ibu hamil dan menyusui sebaiknya menghindari penggunaan PPI. Antagonis Reseptor H2 mengurangi sekresi asam lambung dengan cara berkompetisi dengan histamin untuk berikatan dengan reseptor H2 pada sel parietal lambung. Bila histamin berikatan dengan reseptor H2, maka akan dihasilkan asam(3). Dengan diblokirnya tempat ikatan antara histamin dan reseptor, digantikan dengan obat-obat ini, maka asam tidak akan dihasilkan. Beberapa macam obat ini yaitu cimetidine (Corsamet(R)-Corsa, tablet 200 mg dan 400 mg) (1), famotidine (Ifamul(R)-Guardian Pharmatama, tablet 20 mg)(1), ranitidine (Tricker(R)-Meprofarm, tablet salut selaput 150 mg)(1), dan nizatidine (Axid(R)-Eli Lily, kapsul 150 mg)(1). Efek samping obat golongan ini yaitu diare, sakit kepala, kantuk, lesu, sakit pada otot, dan konstipasi.

BISMUT. Bismut biasanya dikombinasikan dengan obat penekan jumlah asam pada terapi tukak yang disertai infeksi bakteri H.pylori. Bismut aktif melawan H.pylori dengan konsentrasi hambat minimal yaitu 16 mg/ml (4). Beberapa macam obat yang mengandung bismut yaitu Diotame(R) dan Pepto-Bismol(R), keduanya dalam bentuk tablet kunyah 262 mg (5). Bismut dikontraindikasikan untuk pasien yang hipersensitif terhadap bismut.

Berikut ini adalah terapi kombinasi beserta dosis obat yang direkomendasikan dan telah disetujui oleh Food And Drugs Association (FDA) untuk melawan bakteri H.pylori dan menjaga agar tidak terjadi sekresi asam berlebih yang dapat memperparah tukak (4):

PPIAC. Kombinasi ini terdiri dari PPI, amoksisilin, dan clarithromycin yang mempunyai keefektifan 90-95% dalam eradikasi H.pylori. Ketika menggunakan terapi ini, PPI diminum dua kali sehari sebelum makan selama 14 hari; amoksisilin 1000 mg dua kali sehari bersama dengan makanan selama 14 hari; dan clarithromycin 500 mg dua kali sehari diminum bersama dengan makanan selama 14 hari. FDA sudah membuktikan bahwa terapi selama 10 hari juga sudah efektif. Terapi 7 hari tidak disarankan oleh FDA karena kurang efektif dibandingkan terapi selama 10-14 hari. Antagonis reseptor H2 sebaiknya tidak ditambahkan pada kombinasi yang menggunakan PPI.

PPIMC. Kombinasi ini terdiri dari PPI, metronidazole, dan clarithromycin. Metronidazole 500 mg dapat digunakan sebagai pengganti amoksisilin karena memiliki daya eradikasi yang sama. Efektivitas kombinasi ini yaitu antara 88-95% untuk memeberantas bakteri H.pylori.

BMT-H2. Kombinasi ini terdiri dari bismut, metronidazole, dan terasiklin, ditambah dengan antagonis reseptor H2. Terapi ini agak rumit karena menggunakan empat macam obat yang diberikan empat kali sehari selama dua minggu dan masih dilanjutkan terapi dengan obat antagonis reseptor H2 selama 16 hari. Bismut yang diberikan adalah bismuth salisilat 262 mg, dua tablet empat kali sehari dengan cara dikunyah selama 14 hari diminum bersama makanan dan sebelum tidur. Metronidazole 250 mg diminum empat kali sehari selama dua minggu diminum bersama makanan dan sebelum tidur. Tetrasiklin 500 mg diberikan empat kali sehari selama 14 hari diminum bersama makanan dan sebelum tidur. Antagonis reseptor H2 diberikan selama 30 hari untuk meningkatkan kesembuhan. PPI yang diminum dua kali sehari dapat digunakan untuk mengganti antagonis reseptor H2.

RBC-C. Kombinasi ini terdiri dari ranitidine, bismut citrat, dan clarithromycin. Ranitidine 150 mg ditambah bismut sitrat 240 mg diminum dua kali sehari selama empat minggu dikombinasikan dengan clarithromycin 500 mg diminum tiga kali sehari untuk dua minggu pertama. Kombinasi ini kurang efektif dibanding kombinasi lainnya di atas. Selain itu, waktu pemberiannya juga agak merepotkan, durasinya lama (empat minggu), ditambah lagi hanya satu antibiotik yang digunakan. RBC merupakan pilihan untuk pasien yang alergi terhadap penisilin.



Terapi kombinasi tersebut akan mampu membunuh bakteri H.pylori yang menyebabkan tukak dan memperparah tukak. Mengapa kita harus waspada terhadap bakteri H.pylori? Bakteri ini banyak ditemukan di negara-negara berkembang, dan angka kejadian tukak karena infeksi bakteri ini sangat tinggi di negara berkembang yang padat penduduknya, ekonomi lemah dan sanitasi lingkungannya yang buruk. Kita tinggal di Indonesia, negara yang sanitasi lingkungannya cukup amburadul. Dengan kata lain, kita pun akan mudah terserang infeksi bakteri ini. Satu-satunya cara adalah dengan tetap menjaga kebersihan lingkungan dan perubahan gaya hidup dan pola makan Anda. Jangan abaikan rasa nyeri di dalam tubuh Anda sebelum terjadi sesuatu yang lebih parah dalam tubuh Anda. Jangan sampai masa tua Anda menjadi sengsara karena serangan asam lambung yang berlebihan dan ulah jahat bakteri H.pylori yang tinggal dengan enaknya, membentuk keluarga bakteri yang hidup dengan nyaman di dalam saluran cerna Anda. Bukan bermaksud menakut-nakuti, tetapi harga yang harus dibayar di waktu kemudian bisa tak terhingga mahalnya jika semuanya sudah terlambat untuk diatasi. Obati sebelum terlambat!



PUSTAKA

1). Anonim, 2006, MIMS Indonesia Petunjuk Konsultasi 2006/2007, Edisi 6, Info Master, Jakarta.

2). DiPiro, T.J., Talbert, R.L., Yee, G.C., Matzke, G.R., Wells, B.G., Pasey, l.M., 2005, Pharmacotherapy : A Pathophysiological Approach, 6th Ed., The McGraw-Hill Inc., USA.

3). Hardman, J.G., Limbird, L.E., Molinof, P.B., Ruddon, R.w., 2006, The Pharmacological Basic of Therapeutics, 9th Ed., The McGraw-Hill Companies Inc., USA.

4). Kimble, M.A., Young, L.E., Kradjan, W.A., Guglielmo, B.J., Alldredge, B.K., Corelli, R.L., 2005, Applied Therapeutics : The Clinical Use of Drugs, 8th Ed., Lippincot Williams & Wilkins, USA.

5). Lacy, C.F., Armstrong, L.L., Goldman, M.P., dan Lance, L.L., Drug Information Handbook, 14th Ed., Lexicomp Inc., USA.


More aboutTERAPI KOMBINASI UNTUK ERADIKASI HELICOBACTER PYLORI PADA PEPTIC ULCER DISEASE

MAKALAH Penggunaan Antasid Pada Pasien Tukak Lambung

Posted by Anonymous

Pernahkah anda merasa mual, perut sebah, kembung, dan panas seperti terbakar saat terlambat makan? Lebih lanjut, apakah rasa tidak enak pada perut itu hilang setelah mengkonsumsi makanan atau antasid atau rasa tidak enak itu tetap bertahan walaupun perut sudah diisi makanan? Bisa jadi yang anda rasakan ini merupakan gejala awal terjadinya tukak lambung. Untuk lebih memastikan memang tukak lambung, biasanya penderita akan terbangun pada malam hari karena rasa nyeri di ulu hati. Sebenarnya apa sih tukak lambung itu? Apa penyebab tukak lambung? Bagaimana terjadinya? Gejala apa saja yang dirasakan? Siapa saja yang bisa terserang? Apa saja obatnya? Pertanyaan-pertanyaan yang menyangkut tukak lambung akan dibahas lebih lanjut dalam artikel ini.

Apa penyebab tukak lambung?

Infeksi bakteri H. pylori dan penggunaan obat anti inflamasi non steroid (NSAID) menjadi penyebab utama terjadinya tukak lambung. H. pylori merupakan bakteri gram negatif berbentuk spiral yang hidupnya pada bagian gastrum antrum. Bakteri ini bersifat patogen. H. pylori menghasilkan sitotoksin yang dapat memecah pertahanan mukus kemudian menempel di sel epitel lambung atau usus 12 jari. Di lambung, bakteri akan menghasilkan karbondioksida, amonia dan produk lain seperti protease, katalase, dan fosfolipase yang bersifat toksik. Produk-produk yang dihasilkan akan terakumulasi sehingga merusak pertahanan mukosa lambung dan menyebabkan ulcerasi atau tukak. Selain H. pylori, penggunaan obat NSAID (contohnya aspirin, piroxicam, ibuprofen, meloxicam, celecoxib, trisalicylate, dll) menjadi penyebab lain dari tukak lambung. Menurut Dipiro, obat NSAID dapat menyebabkan tukak lambung melalui 2 cara, mengiritasi epitelium lambung secara langsung atau melalui penghambatan sintesis prostaglandin. Namun, penghambatan sintesis prostaglandin merupakan faktor dominan penyebab tukak lambung oleh NSAID. Prostaglandin merupakan senyawa yang disintesis di mukosa lambung yang melindungi fungsi fisiologis tubuh seperti fungsi ginjal, homeostasis, dan mukosa lambung. Faktor lain yang memicu tukak lambung adalah kebiasaan merokok dan stress. Bagaimana rokok memicu tukak lambung? Berdasarkan pustaka, mekanisme yang terjadi belum diketahui pasti namun diduga produksi prostaglandin pada lambung dihambat sehingga perlindungan terhadap mukosa lambung berkurang dan resiko tukak meningkat. Stress dapat memicu tukak lambung karena dalam kondisi stress sangat dimungkinkan orang akan melakukan tindakan yang beresiko terjadinya tukak lambung seperti merokok, mengkonsumsi obat NSAID atau alkohol. Selain itu diperkirakan dalam kondisi stress, hormon adrenalin akan meningkat produksinya mengakibatkan produksi asam oleh reseptor asetilkolin meningkat pula, efeknya asam lambung pun juga meningkat.

Gejala apa saja yang dirasakan?

Secara umum, gejala tukak lambung yang dialami sama seperti yang sudah dijelaskan di atas antara lain rasa panas pada perut, sebah, mual, tidak tahan makanan berlemak, nyeri pada bagian ulu hati yang akan hilang setelah mengkonsumsi makanan. Selain terbangun di malam hari karena nyeri yang dirasakan, rasa nyeri di ulu hati yang hilang setelah mengkonsumsi makanan merupakan gejala spesifik pada tukak lambung yang dapat mempermudah diagnosis. Tanda-tanda seperti anemia, anoreksia maupun penurunan berat badan yang terjadi menunjukkan adanya komplikasi atau terdapat suatu penyakit berbahaya yang membutuhkan tes endoskopi segera.

Siapa saja yang bisa terserang tukak lambung?

Berdasarkan penelitian di Amerika, kira-kira 500.000 orang tiap tahunnya menderita tukak lambung dan 70% diantaranya berusia 25-64 tahun. Sebanyak 48% penderita tukak lambung disebabkan karena infeksi H. pylori dan 24% karena penggunaan obat NSAID. Infeksi bakteri H. pylori jarang terjadi pada anak-anak namun kebanyakan tukak lambung yang menyerang anak-anak terjadi pada usia antara 8 dan 17 tahun. Di Indonesia sendiri belum ada data mengenai infeksi bakteri ini.

Apa saja obat yang bisa digunakan untuk terapi?

Tujuan dari terapi tukak lambung adalah untuk mengurangi serta menetralkan asam lambung, menghilangkan faktor penyebab, meringankan atau menghilangkan nyeri epigastrik, mencegah kekambuhan, memperkuat sistem perlindungan mukosa, dan mencegah terjadinya komplikasi yang serius (hemoragi, perforasi, obstruksi). Sasaran dari terapi tukak lambung adalah faktor penyebab terjadinya tukak yaitu bakteri H. pylori dan asam lambung berlebih. Selain itu pertahanan mukosa juga menjadi sasaran terapi. Untuk mencapai tujuan terapi tersebut dapat dilakukan beberapa strategi dalam terapi, antara lain penggunaan obat untuk hipersekresi dan penetralan asam lambung, penggunaan obat yang memperkuat sistem perlindungan mukosa, penggunaan obat yang dapat mencegah senyawa pencetus dan faktor penyebab, penggunaan obat untuk menghilangkan nyeri epigastrik, penggunaan obat untuk mencegah kekambuhan dan penggunaan obat untuk mencegah komplikasi. Terapi yang digunakan ada 2 cara, yaitu terapi nonfarmakologis dan farmakologis. Untuk terapi nonfarmakologis dengan cara mengurangi atau menghilangkan stress, berhenti merokok dan menggunakan obat NSAID, menghindari makanan pencetus tukak seperti makanan pedas, kafein, dan alkohol. Apabila terjadi komplikasi dilakukan operasi. Sedangkan terapi farmakologisnya dapat menggunakan beberapa golongan obat yaitu, golongan Pompa Proton Inhibitor (PPI), Antagonis Reseptor Histamin H2, Sucralfate, Antasida, Analog Prostaglandin. Selain itu, kombinasi dua antibiotik dengan PPI untuk eradikasi (pembasmian) H. pylori. Sesuai dengan judulnya, artikel ini akan membahas lebih lanjut mengenai obat golongan antasid. Sebelum lahirnya obat PPI dan Antagonis Reseptor Histamin H2, antasid digunakan untuk mengobati tukak lambung dan dispepsia (gangguan pencernaan). Hingga saat ini antasid masih digunakan untuk menghilangkan rasa panas dalam perut serta dispepsia. Antasid merupakan basa lemah yang bereaksi dengan asam lambung membentuk garam dan air. Selain menetralkan asam lambung, antasid juga meningkatkan pertahanan mukosa lambung dengan memicu produksi prostaglandin pada mukosa lambung. Obat antasid dapat digolongkan menjadi antasid dengan kandungan alumunium dan magnesium (alumunium hidroksida, magnesium hidroksida, trisilikat), antasid dengan kandungan natrium bikarbonat, antasid dengan kandungan bismuth dan kalsium. Simetikon ditambahkan pada antasid untuk meringankan rasa kembung.

Obat pilihan

Nama Generik : Antasida DOEN

Nama Dagang di Indonesia : Mylanta®/Mylanta Forte®

Indikasi : Gangguan pencernaan, rasa panas pada ulu hati, lambung perih, meredakan hiperasiditas yang berhubungan dengan tukak lambung, gastritis, esofagitis peptik & hernia hiatal; meredakan gejala kembung, nyeri perut akibat penimbunan gas pasca operasi. Untuk pemeriksaan endoskopi.

Kontra Indikasi : Pasien dengan gangguan ginjal

Dosis & Aturan Pakai : Tablet = 1-2 tablet, larutan = 1-2 sendok teh.

Larutan forte= 1-2 sendok teh.

Diberikan 4 kali sehari, 1 jam sesudah makan & sebelum tidur. Penggunaan tablet dengan cara dikunyah.

Efek Samping : Jarang terjadi (konstipasi, diare), hipofosfatemia (pemakaian jangka panjang).

Perhatian : Hiperkalsemia dapat terjadi pada pasien gagal ginjal yang mengkonsumsi > 4 gram/hari. Pasien dengan Clearance Creatinine < 30 ml/menit tidak boleh mengkonsumsi antasid yang mengandung magnesium karena ekskresi magnesium terganggu.

Interaksi antara Antasid dengan obat lain seperti suplemen yang mengandung besi, warfarin, digoksin, quinidin, isoniazid, ketokonazol, atau obat golongan fluoroquinolon dapat meningkatkan absorpsi dan ekskresi obat lain saat diberikan bersamaan. Untuk mencegahnya dilakukan pemisahan pemberian antasid dengan obat lain dengan selang waktu 2 jam.



More aboutMAKALAH Penggunaan Antasid Pada Pasien Tukak Lambung

PENGGUNAAN PROTON PUMP INHIBITOR PADA PENDERITA GASTROESOPHAGEAL REFLUX

Posted by Anonymous

Refluks Gastroesofagus/ Gastro-esophageal reflux (GERD atau GORD menggunakan British oesophageal) didefinisikan sebagai gejala atau kerusakan mukosa esofagus akibat masuknya isi lambung ke esofagus.Hal ini biasanya disebabkan oleh perubahan sementara atau permanen pada barier antara esofagus dan perut. Perubahan pada barier ini dapat disebabkan karena tidak berfungsinya lower esophageal sphincter (LES), efek iritan dari refluxate, klirens esofagus yang abnormal, hiatal hernia dan penundaan pengosongan lambung.
Gejala utama yang biasa muncul adalah heartburn, rasa panas dan terbakar yang biasa terjadi 30-60 menit setelah makan dan berbaring. Pada GERD juga ditemukan esofagitis, inflamasi/pembengkakan pada permukaan esofagus (mukosa); sumbatan, kesulitan dalam menelan/meneguk; dan nyeri dada. Pasien bisa saja hanya mengalami satu dari gejala-gejala di atas. Gejala lain yang terjadi diantaranya batuk, suara serak, suara berubah, sakit telinga, rasa terbakar di dada, mual dan sinusitis.

Komplikasi GERD diantaranya pembentukan sumbatan, Barrett’s esophagus, esophageal spasms, esophageal ulcers, dan dapat menyebabkan kanker esofagus, terutama pada pasien di atas 60 tahun.

SASARAN, TUJUAN DAN STRATEGI TERAPI

Tujuan terapi GERD adalah menghilangkan gejala, menyembuhkan esofagitis (jika terjadi) dan untuk mencegah terjadinya komplikasi. Sasaran terapinya adalah asam lambung, lapisan mukosa lambung. Strategi terapinya dengan menurunkan sekresi asam di lambung, mengurangi keasaman pada lambung. Melapisi mukosa lambung, menaikkan pH dan mengurangi terjadinya reflux, mempercepat pengosongan lambung, memperkuat LES, faktor barier antirefluks terpenting.
Terapi untuk GERD dapat dibedakan menjadi dua yaitu terapi tanpa obat atau nonfarmakologis (pola hidup sehat, terapi endoskopi, operasi) dan terapi menggunakan obat atau farmakologis.
Terapi non farmakologi dapat dilakukan dengan modifikasi gaya hidup seperti menurunkan berat badan, tidur dengan posis kepala lebih tinggi dari posisi tubuh, mencegah makan 2 jam sebelum tidur, menghindari makanan yang dapat memicu GERD seperti kopi, alkohol, suplemen vitamin C dosis tinggi, makanan tinggi lemak, merokok, minuman berkarbonasi, cokelat, peppermint, makanan yang asam, mencegah minum susu sebelum tidur.
Terapi farmakologinya menggunakan obat proton-pump inhibitor yang efektif menurunkan sekresi asam, antasida yang dapat menetralkan keasaman lambung, Asam alginat (Gaviscon) yang dapat melapisi mukosa sebaik menaikkan pH dan menurunkan reflux, antagonis H2 receptor seperti ranitidin, famotidin yang mengurangi sekresi asam lambung, prokinetik yang mempercepat pengosongan lambung dan memperkuat LES; dan sucralfat yang berguna sebagai tambahan untuk menyembuhkan dan mencegah kerusakan esofagus karena GERD.
Pada sebagian besar pasien, pengobatan dapat dilakukan dengan beberapa tahap tergantung keparahan gejala GERD yaitu GERD gejala ringan, gejala sedang; gejala parah dan mengalami kejadian erosif. Pada pasien yang mengalami gejala GERD sedang dimana gejala muncul beberapa kali dalam seminggu atau tiap hari sebaiknya diterapi dengan proton pump inhibitor atau antagonis H2 reseptor. Dengan efikasinya yang baik dan dosis sekali minum sehari, proton pump inhibitor semakin sering diresepkan sebagai terapi lini pertama untuk GERD dengan gejala ringan sampai sedang. Untuk pasien yang gejalanya tetap muncul setelah pengobatan dengan dosis standar antagonis H2¬¬ reseptor selama 6 minggu, sebaiknya diobati dengan proton pump inhibitor karena meneruskan pengobatan dengan antagonis H2 reseptor atau dengan menaikkan dosisnya jarang terbukti efektif untuk menghilangkan gejala.
Untuk pasien dengan gejala yang parah dan pasien dengan komplikasi dan keparahan organ tubuh (seperti oesofagitis, oesophageal ulceration, oesophagopharyngeal reflux, barret’s oesophagus) serta untuk pasien yang secara endoskopi terbukti mengalami esofagitis erosif, terapi awal yang optimal adalah dengan proton pump inhibitor. Proton pump inhibitor yang diberikan sekali sehari dapat menghilangkan gejala dan menyembuhkan esofagitis di atas 80% pasien atau di atas 95% pada pemberian 2 xsehari. Oleh karena itu proton pump inhibitor menjadi obat pilihan untuk GERD dengan gejala parah atau mengalami penyakit erosif. Suspect manifestasi atypical (seperti asma dan laringitis) juga diberikan terapi awal dengan proton pump inhibitor.
Untuk pasien dengan gejala yang parah atau pasien komplikasi atau keparahan organ tubuh (seperti esofagitis, oesophageal ulceration, oesophagopharyngeal reflux, barret’s oesophagus), pasien perlu dicek kembali jika gejala tidak hilang selama 4-6 minggu pengobatan dengan proton pump inhibitor. Ketika gejala berkurang, terapi pengobatan dimodifikasi secara perlahan-lahan ke terapi pemeliharaan dengan cara diantaranya menurunkan dosis proton pump inhibitor atau mengganti pengobatan dengan antagonis H2 reseptor. Akan tetapi untuk pasien yang secara endoskopi terbukti mengalami penyakit erosif, ulcerative atau stricturing, pengobatan dengan proton pump inhibitor biasanya perlu dipertahankan pada dosis efektif minimum.

OBAT PILIHAN : PROTON PUMP INHIBITOR
Omeprazole

* Nama generik : Omeprazole
* Nama dagang : Lambuzole, Loklor, Losec, OMZ, Prilos, Protop, Pumpitor, Socid, Contral, Dudencer, Norsec, Opm, Onic, Promezol, Stomacer, Prohibit, Ulzol, Zollocid, Zepral, Lokev, Meisec, Omevell, Ozid
* Indikasi : pengobatan heartburn dan gejala lain yang berhubungan dengan GERD, pengobatan jangka pendek (4-8 minggu) erosive esofagitis yang didiagnosa secara endoskopi, pemeliharaan penyembuhan erosive esofagitis.
* Kontraindikasi : hipersensitif omeprazole, turunan benzimidazole (esomeprazole, lanzoprazole, pantoprazole, rabeprazole), atau terhadap komponen lainnya dalam formula
* Bentuk sediaan : kapsul
* Dosis dan aturan pakai :

* Oral

Anak-anak ≥ 2 tahun :
< 20 kg : 10 mg 1 x sehari
≥ 20 kg : 20 mg 1 x sehari

* Dewasa :

GERD dengan gejala : 20 mg/hari selama 4 minggu
Esofagitis erosif : 20 mg/hari selama 4-8 minggu

* Efek samping : Sakit kepala, pusing, ruam, diare, nyeri perut, mual, muntah, kentut, konstipasi, kehilangan rasa, lemah, nyeri punggung, infeksi saruran pernapasan atas, batuk
* Resiko khusus : Hati-hati pada pasien dengan penyakit hati, kehamilan dan mnyusui. Resiko kehamilan : faktor C. Tidak dianjurkan bagi pasien menyusui.

Lansoprazole

* Nama generik : Lansoprazole
* Nama dagang : Betalans, Laz, Prosogan, Prolanz, Compraz, Digest, Gastrolan, Laproton, Lasgan, Protica, Solans, Sopralan, Ulceran, pysolan, Inhipraz, Loprezol
* Indikasi : pengobatan jangka pendek GERD dengan gejala, pengobatan jangka pendek semua tingkatan esofagitis erosif
* Kontraindikasi : Hipersensitif terhadap lansoprazole, turunan benzimidazole (esomeprazole, omeprazole, pantoprazole, rabeprazole) atau terhadap komponen lainnya dalam formula
* Bentuk sediaan : kapsul
* Dosis dan atuan pakai :

Anak-anak 1- 11 tahun
Pada GERD, esofagitis erosif :
< 30 kg : 15 mg 1 x sehari
≥ 30 kg : 30 mg 1 x sehari
Catatan : dosis dapat ditingkatkan pada pasien jika gejala masih tampak setelah pengobatan 2 minggu atau lebih.(dosis maksimum 30 mg, 2 x sehari)

Anak-anak 12-17 tahun
GERD non-erosif : 15 mg 1x sehari hingga selama 8 minggu
Esofagitis erosif : 30 mg 1 x sehari hingga selama 8 minggu
Dewasa
GERD dengan gejala : pengobatan jangka pendek : 15 mg 1 x sehari hingga selama 8 minggu
Esofagitis erosif : Pengobatan jangka pendek : 30 mg 1 x sehari hingga selama 8 minggu, pengobatan dapat dilanjutkan 8 minggu lagi untuk pengulangan atau untuk pasien yang tidak sembuh setelah pengobatan selama 8 minggu; terapi pemeliharaan : 15 mg 1 x sehari

* Efek samping : Sakit kepala, nyeri perut, konstipasi, diare, mual.
* Resiko khusus : Hati-hati pada pasien dengan penyakit hati, kehamilan dan mnyusui. Resiko kehamilan : faktor B, penggunaan selama kehamilan hanya jika dibutuhkan. Pada kerusakan fingsi hati dianjurkan penurunan dosis, sebaikanya tidak diberikan pada anak-anak < 1 tahun. Tidak dianjurkan bagi pasien menyusui.

Pantoprazole

* Nama generik : Pantoprazole
* Nama dagang : Pantozol
* Indikasi : Pengobatan dan pemeliharaan penyembuhan esofagitis erosif yang berhubungan dengan GERD. Mengurangi tingkat kekambuhan gejala heartburn dalam sehari dan malam hari pada GERD
* Kontraindikasi : Hipersensitif terhadap pantoprazole, turunan benzimidazole (esomeprazole, omeprazole, lansoprazole, rabeprazole) atau terhadap komponen lainnya dalam formula.
* Bentuk sediaan : tablet
* Dosis dan aturan pakai :

Oral
Dewasa :
Pada Esofagitis erosif berhubungan dengan GERD :
Pengobatan : 40 mg 1 x sehari hingga selama 8 minggu , pengobatan dapat dilanjutkan 8 minggu lagi untuk pasien yang tidak sembuh setelah pengobatan selama 8 minggu.
Pemeliharaan penyembuhan : 40 mg 1 x sehari
Catatan : dosis yang lebih rendah (20 mg 1x sehari)telah terbukti sukses digunakan pada pengobatan dan pemeliharaan GERD ringan.

* Efek Samping : Nyeri dada, sakit kepala, insomnia, pusing, migrain, ansietas, ruam, hiperglikemia, hiperlipidemia, diare, kentut, nyeri perut, muntah, mual, konstipasi, dispepsia, gastroenteritis, kerusakan rektal, infeksi saluran kencing, perubahan frekuensi buang air kecil, keabnormalan fungsi hati., athralgia, nyeri punggung, nyeri leher, lemah,hypertonia, bronkitis, batuk, dyspnea, faringitis, rinitis, sinusitis, infeksi saluran pernafasan atas.
* Resiko khusus : Hati-hati pada pasien dengan penyakit hati, kehamilan dan mnyusui. Resiko kehamilan : faktor B, penggunaan selama kehamilan hanya jika dibutuhkan. Tidak dianjurkan bagi anak-anak. Tidak dianjurkan bagi pasien menyusui.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 2006, British National Formulary, edisi 52, 37,48-50,British Medical Association, Royal Pharmaceutical Society of Great Britain, London
Anonim, 2000, Informatorium Obat Nasional Indonesia 2000, 22-23, Penerbit CV. Sagung Seto, Jakarta
Anonim, 2007, MIMS , Volume 8, PT Info Master, Jakarta
Dipiro, J. T., Talbert, R. L., Yee, G. C., Matzke, G. R., Wells, B. G., Posey, L. M., 2005, Pharmacotherapy: A Pathophysiologic Approach, Sixth Edition, The McGraw-Hill Companies, Inc., USA
Lacy, C.F., Armstrong, L.L., Goldman, M.P., and Lance, L.L., 2006, Drug Information Handbook, 14th Ed., 900-902,1172-1174,1209-1211 Lexicomp, Inc., USA
Tierney, L. M., Stephen J.M., Maxine A. P., 2006, Current Medical Diagnosis & Treatment, 45th ed, Mc Graw-Hill Companies, USA


More aboutPENGGUNAAN PROTON PUMP INHIBITOR PADA PENDERITA GASTROESOPHAGEAL REFLUX

PENGGUNAAN PENCAHAR STIMULAN UNTUK MENGOBATI KONSTIPASI

Posted by Anonymous

Makanan yang masuk ke dalam tubuh akan melalui lambung, usus halus, dan akhirnya menuju usus besar/kolon. Di dalam kolon inilah terjadi penyerapan cairan dan pembentukan massa feses. Bila massa feses berada terlalu lama dalam kolon, jumlah cairan yang diserap juga banyak, akibatnya konsistensi feses menjadi keras dan kering sehingga dapat menyulitkan pada saat pengeluaran feses. Konstipasi merupakan suatu kondisi di mana seseorang mengalami kesulitan defekasi akibat tinja yang mengeras, otot polos usus yang lumpuh maupun gangguan refleks defekasi (Arif & Sjamsudin, 1995) yang mengakibatkan frekuensi maupun proses pengeluaran feses terganggu.
Frekuensi defekasi/buang air besar (BAB) yang normal adalah 3 sampai 12 kali dalam seminggu. Namun, seseorang baru dapat dikatakan konstipasi jika ia mengalami frekuensi BAB kurang dari 3 kali dalam seminggu, disertai konsistensi feses yang keras, kesulitan mengeluarkan feses (akibat ukuran feses besar-besar maupun akibat terjadinya gangguan refleks defekasi), serta mengalami sensasi rasa tidak puas pada saat BAB (McQuaid, 2006). Orang yang frekuensi defekasi/BAB-nya kurang dari normal belum tentu menderita konstipasi jika ukuran maupun konsistensi fesesnya masih normal. Konstipasi juga dapat disertai rasa tidak nyaman pada bagian perut dan hilangnya nafsu makan.

Konstipasi sendiri sebenarnya bukanlah suatu penyakit, tetapi lebih tepat disebut gejala yang dapat menandai adanya suatu penyakit atau masalah dalam tubuh (Dipiro, et al, 2005), misalnya terjadi gangguan pada saluran pencernaan (irritable bowel syndrome), gangguan metabolisme (diabetes), maupun gangguan pada sistem endokrin (hipertiroidisme).

TREATMENT KONSTIPASI

Sasaran Terapi Konstipasi yaitu: (1) massa feses, (2) refleks peristaltik dinding kolon. Tujuan Terapinya adalah menghilangkan gejala, artinya pasien tidak lagi mengalami konstipasi atau proses defekasi/BAB (meliputi frekuensi dan konsistensi feses) kembali normal. Strategi Terapi dapat menggunakan terapi farmakologis maupun non-farmakologis. Terapi non-farmakologis digunakan untuk meningkatkan frekuensi BAB pada pasien konstipasi, yaitu dengan menambah asupan serat sebanyak 10-12 gram per hari dan meningkatkan volume cairan yang diminum, serta meningkatkan aktivitas fisik/olah raga. Sumber makanan yang kaya akan serat, antara lain: sayuran, buah, dan gandum. Serat dapat menambah volume feses (karena dalam saluran pencernaan manusia ia tidak dicerna), mengurangi penyerapan air dari feses, dan membantu mempercepat feses melewati usus sehingga frekuensi defekasi/BAB meningkat (Dipiro, et al, 2005).

Sedangkan terapi farmakologis dengan obat laksatif/pencahar digunakan untuk meningkatkan frekuensi BAB dan untuk mengurangi konsistensi feses yang kering dan keras. Secara umum, mekanisme kerja obat pencahar meliputi pengurangan absorpsi air dan elektrolit, meningkatkan osmolalitas dalam lumen, dan meningkatkan tekanan hidrostatik dalam usus. Obat pencahar ini mengubah kolon, yang normalnya merupakan organ tempat terjadinya penyerapan cairan menjadi organ yang mensekresikan air dan elektrolit (Dipiro, et al, 2005). Obat pencahar sendiri dapat dibedakan menjadi 3 golongan, yaitu: (1) pencahar yang melunakkan feses dalam waktu 1-3 hari (pencahar bulk-forming, docusates, dan laktulosa); (2) pencahar yang mampu menghasilkan feses yang lunak atau semi-cair dalam waktu 6-12 jam (derivat difenilmetan dan derivat antrakuinon), serta (3) pencahar yang mampu menghasilkan pengluaran feses yang cair dalam waktu 1-6 jam (saline cathartics, minyak castor, larutan elektrolit polietilenglikol).

Pencahar yang melunakkan feses secara umum merupakan senyawa yang tidak diabsorpsi dalam saluran pencernaan dan beraksi dengan meningkatkan volume padatan feses dan melunakkan feses supaya lebih mudah dikeluarkan. Pencahar bulk-forming meningkatkan volume feses dengan menarik air dan membentuk suatu hidrogel sehingga terjadi peregangan dinding saluran cerna dan merangsang gerak peristaltik. Penggunaan obat pencahar ini perlu memperhatikan asupan cairan kedalam tubuh harus mencukupi, jika tidah bahaya terjadi dehidrasi.

Derivat difenilmetan yang biasa digunakan adalah bisakodil dan fenolptalein. Senyawa-senyawa ini merangsang sekresi cairan dan saraf pada mukosa kolon yang mengakibatkan kontraksi kolon sehingga terjadi pergerakan usus (peristaltik) dalam waktu 6-12 jam setelah diminum, atau 15-60 menit setelah diberikan melalui rektal. Namun penggunaan fenilptalein sudah dilarang karena bersifat karsinogen. Senyawa ini tidak direkomendasikan untuk digunakan tiap hari. Jarak antara setiap kali penggunaan harus cukup lama, sekitar beberapa minggu, untuk mengobati konstipasi ataupun untuk mempersiapkan pengosongan kolon jika diperlukan untuk pembedahan.

Saline cathartics merupakan garam anorganik yang mengandung ion-ion seperti Mg, S, P, dan sitrat, yang bekerja dengan mempertahankan air tetap dalam saluran cerna sehingga terjadi peregangan pada dinding usus, yang kemudian merangsang pergerakan usus (peristaltik). Selain itu, Mg juga merangsang sekresi kolesitokinin, suatu hormon yang merangsang pergerakan usus besar dan sekresi cairan. Senyawa ini dapat diminum ataupun diberikan secara rektal. Pencahar saline ini juga dapat digunakan untuk mengosongkan kolon dengan cepat sebagai persiapan sebelum pemeriksaan radiologi, endoskopi, dan pembedahan pada bagian perut (Gangarosa & Seibertin, 2003).

Secara umum, penggunaan pencahar untuk mengatasi konstipasi sebaiknya dihindari. Namun, jika konstipasi yang terjadi dapat menimbulkan keparahan kondisi pasien, misalnya pada pasien wasir atau pasien yang baru menjalani pembedahan perut, penggunaan obat pencahar sangat diperlukan. Berikut adalah obat yang dipilih untuk digunakan mengatasi konstipasi yang tidak cukup jika diatasi hanya dengan fiber:

NAMA GENERIK : Bisacodyl.

NAMA DAGANG DI INDONESIA : Dulcolax®, Bicolax®, Codylax®, Laxacod®, Laxamex®, Melaxan®, Prolaxan®, Stolax®, Toilax®.

INDIKASI

Konstipasi; sebelum prosedur radiologi dan bedah. Semua bentuk sembelit, memudahkan buang air besar pada kondisi dengan rasa sakit seperti pada hemorrhoid (wasir), pengosongan lambung-usus sebelum & sesudah operasi.

KONTRA INDIKASI

Obat ini tidak boleh diberikan pada pasien yang mengalami sumbatan pada usus (ileus), kondisi pembedahan perut akut, maupun dalam kondisi dehidrasi berat.

PERHATIAN

Penggunaan senyawa ini dalam jangka lama dapat mengakibatkan kram perut yang parah dan ketidakseimbangan cairan dan elektrolit, juga tidak boleh digunakan untuk pasien hamil dan menyusui.

EFEK SAMPING

Jarang: rasa tidak enak pada perut, diare.

BENTUK SEDIAAN

Tablet 5 mg (Bicolax®, Codylax®, Laxacod®, Laxamex®, Melaxan®, Prolaxan®, Toilax®) dan 10 mg (Dulcolax®, Stolax®).

DOSIS

Untuk konstipasi, dewasa: 5-10 mg malam hari; kadang-kadang perlu dinaikkan menjadi 15-20 mg. Anak kurang dari 10 tahun : 5 mg.

Pemeriksaan radiografik, sebelum dan sesudah operasi :

- dewasa : 2-4 tablet pada malam sebelum pemeriksaan dan 1 suppositoria pada pagi harinya (di hari pemeriksaan).

- anak-anak berusia 4 tahun atau lebih : 1 tablet pada sore hari sebelum pemeriksaan dan 1 suppositoria pada pagi harinya (di hari pemeriksaan).

PUSTAKA

Anonim, 2000, Informatorium Obat Nasional Indonesia, hal. 32-33, Sagung Seto, Jakarta

Arif, A., Sjamsudin, U., 1995, Obat Lokal dalam Farmakologi dan Terapi, Edisi 4, hal. 509, Bagian Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta

Dipiro, J.T., Talbert, R.L., Yee, G.C., Matzke, G.R., Wells, B.G., Posey, L.M. (editors), 2005, Pharmacotherapy: A Phatophysiologic Approach, 6th Edition, p.684-689, McGraw-Hill, United States of America.

Gangarosa, L.M., Seibert, D.G., 2003, E-book: Modern Pharmacology With Clinical Application, 6th Edition, p.474-476

McQuaid, K.R, 2006, E-book: Current Medical Diagnosis & Treatment: Allimentary Tract, 45th Edition, p.541-544, McGraw-Hill, United States of America


More aboutPENGGUNAAN PENCAHAR STIMULAN UNTUK MENGOBATI KONSTIPASI

Penggunaan Obat Golongan Proton Pump Inhibitor (Omeprazol) Pada Terapi Tukak Lambung

Posted by Anonymous

Penggunaan Obat Golongan Proton Pump Inhibitor (Omeprazol)

Pada Terapi Tukak Lambung

Disusun oleh : Renny Yuliani Santoso (068115125)

Tukak lambung merupakan salah satu penyakit yang mengganggu sistem gastrointestinal. Tukak lambung disebabkan oleh adanya ketidak seimbangan antara mekanisme pertahanan dan perbaikan mukosa lambung dengan asam lambung dan pepsin.

Asam lambung disekresi oleh sel parietal lambung. Pepsinogen disekresi oleh sel shief pada fundus lambung.Pertahanan mukosa lambung dimaksudkan untuk melindungi lambung dari bahan dari dalam maupun bahan dari luar tubuh yang berbahaya. Perbaikan mukosa lambung terjadi saat timbul luka pada lambung akibat penggantian sel epitel.

Gangguan pertahanan dan perbaikan mukosa lambung terutama disebabkan oleh infeksi Hellicobacter pylori (HP) dan penggunaan NSAIDs. HP merupakan bakteri gram negatif, berbentuk spiral, sensitif terhadap pH, dan merupakan mikroaerofilik yang terletak antara lapisan mukus dan permukaan sel epitel lambung. HP berpengaruh pada kerusakan langsung mukosa dan perubahan imunitas host.

NSAIDs atau obat anti inflamasi non-steroid, menyebabkan kerusakan mukosa dengan 2 mekanisme, yaitu: mengiritasi langsung pada epitel lambung dan menghambat pembentukan prostaglandin. Prostaglandin berguna untuk mempertahankan mukosa gastrointestinal.

Sebelum dilakukan terapi penyembuhan tukak lambung maka perlu ditentukan penatalaksanaan terapi yang meliputi sasaran terapi, tujuan terapi, dan strategi terapi. Dalam terapi tukak lambung yang menjadi sasaran terapi adalah menetralkan asam lambung, melindungi pertahanan mukosa, dan membunuh HP (hal ini dilakukan jika tukak lambung disebabkan oleh infeksi HP). Tujuan terapi tukak lambung adalah menyembuhkan tukak, mencegah tukak kambuh, menghilangkan nyeri tukak, dan menghindari terjadinya komplikasi. Strategi terapi untuk tukak lambung meliputi terapi non-farmakologis dan farmakologis. Terapi non-farmakologis dapat dilakukan dengan menghentikan penggunaan NSAIDs dan obat-obat lain yang memiliki efek samping tukak lambung, menghindari stress yang berlebihan, menghindari makanan dan minuman yang dapat memperburuk gejala tukak lambung dan menjaga sanitas baik diri sendiri maupun lingkungan.

Terapi farmakologi untuk tukak lambung :

1. H2 reseptor antagonis

Mekanisme kerja : mengurangi sekresi asam dengan cara memblok reseptor histamin dalam sel-sel parietal lambung.

Contoh : simetidin, ranitidin.

2. Proton pump inhibitor

Mekanisme kerja : mengontrol sekresi asam lambung dengan cara menghambat pompa proton yang mentranspor ion H+ keluar dari sel parietal lambung.

Contoh : omeprazol, lansoprazol, esomeprazol, pantoprazol, dan rabeprazol.

3. Bismuth chelate

Mekanisme kerja : membasmi organisme karena bersifat racun terhadap HP.

Kombinasi bismuth dengan ranitidin yang dikenal sebagai ranitidin bismuth sitrat jika dikombinasikan dengan 1 atau 2 antibiotik dapat ampuh membasmi HP.

Efek samping obat ini dapat terakumulasi pada pasien yang memiliki gangguan fungsi ginjal.

4. Sukralfat

Mekanisme kerja : melindungi mukosa dengan cara membentuk gel yang sangat lengket dan dapat melekat kuat pada dasar tukak sehingga menutupi tukak.

5. Antasida

Mekanisme kerja : menetralkan asam lambung dengan cara meningkatkan pH lumen lambung.

Obat ini hanya menetralkan asam lambung tetapi tidak dapat menyembuhkan tukak.

Contoh : Natrium bikarbonat, Mg(OH)2, Al(OH)3.

6. Misoprostol

Misoprostol merupakan analog prostaglandin yang mendukung penyembuhan tukak dengan menstimulasi mekanisme proteksi pada mukosa lambung dan menurunkan sekresi asam. Misoprostol digunakan pada pasien yang mengkonsumsi NSAIDs untuk mencegah timbulnya tukak.

7. Antibiotik

Antibiotik digunakan untuk membasmi HP. Dalam pengobatan tukak lambung, antibiotik yang digunakan biasanya kombinasi 2 antibiotik. Hal ini bertujuan untuk menghindari resistensi antibiotik.

Contoh kombinasi antibiotik : klaritomisin-amoksisilin, klaritomisin-metronidazol, metronidazol-amoksisilin, metronidazol-tetrasiklin.

Dalam menentukan pilihan obat untuk terapi farmakologis tukak lambung, perlu dilakukan penyesuaian dengan mempertimbangkan sasaran terapi dan faktor-faktor penyebab terjadinya tukak lambung. Misalnya: jika tukak lambung disebabkan karena infeksi HP maka dalam terapi digunakan obat golongan H2 reseptor antagonis atau proton pump inhibitor untuk mengurangi sekresi asam lambung dan perlu ditambahkan antibiotik untuk membasmi HP. Namun jika tukak lambung tidak disebabkan oleh HP maka terapi tukak lambung tidak perlu menggunakan antibiotik, terapi yang diberikan cukup dengan obat yang dapat menetralkan asam lambung atau dengan obat yang dapat mengurangi sekresi asam lambung.

Obat pilihan untuk terapi tukak lambung tanpa infeksi HP salah satunya yaitu omeprazol, yang merupakan obat golongan proton pump inhibitor.

Nama generik : Omeprazol

Nama dagang : Protop®, Pumpitor®, Norsec®, Lambuzole®, Loklor®, Losec®, OMZ®, Prilos®, Socid®, Contral®, Dudencer®, Opm®, Onic®, Promezol®, Stomacer®, Prohibit®, Ulzol®, Zollocid®, Zepral®, Lokev®, Meisec®, Omevell®, Ozid®

Indikasi : Tukak lambung, tukak duodenum, tukak esofagus, refluk esofagus, sindrom Zollinger-Ellison, tukak yang resisten, pembasmian HP saat dikombinasi dengan antibiotik, pendarahan gastrointestinal bagian atas, tukak karena NSAIDs. Omeprazol digunakan untuk terapi jangka pendek dan jangka panjang.

Kontraindikasi : Pasien yang hipersensitif terhadap omeprasol, atau obat turunan benzimidazol seperti lansoprazol, pantoprazol, esomeprazol, dan rabeprazol.

Bentuk sedian dan kekuatan :

· Kapsul lepas lambat berisi granul bersalut enterik (10 mg, 20 mg, 40 mg).

· Tablet lepas lambat (20 mg).

Dosis dan aturan pakai : 20-40 mg sekali sehari selama 4-8 minggu. Omeprazol diminum 15-30 menit sebelum makan pagi. Tablet atau kapsul omeprazol diminum dengan cara langsung ditelan menggunakan air. Jangan menguyah atau menghancurkan tablet omeprazol dan jangan membuka kapsul omeprazol karena obat ini didesain untuk lepas lambat.

Efek samping : Diare, sakit kepala, konstipasi, mual, muntah, nyeri perut, batuk, rasa letih, nyeri punggung, gejala flu, ruam kulit.

Resiko khusus :

· Anak usia < 18 th : nyeri kepala

· Wanita hamil : terdapat laporan omeprazol menyebabkan kelainan kongenital pada bayi yang dilahirkan oleh wanita yang mengkonsumsi omeprazol selama hamil. Omeprazol diberikan pada wanita hamil apabila manfaat lebih besar daripada resiko pada janin.

· Wanita menyusui : omeprazol didistribusikan ke air susu maka sebaiknya omeprazol tidak digunakan pada wanita menyusui, penggunaan omeprazol pada wanita menyusui dapat diganti dengan obat golongan antasida.

· Pasien cirrhosis à : jumlah obat di dalam tubuh akan meningkat jika dibandingkan dengan pasien tanpa penyakit tambahan.

Pustaka

Berardi, R.R., dkk., 2004, Handbook of Nonprescreption Drugs, 14th ed., American Pharmacist Association, Washington.

Dollery, C.,1999, Therapeutic Drugs, 2nd ed., vol. 2 (I-Z), Churcill Livingstone, United Kingdom.

Dipiro, J.T., 1997, Pharmacotherapy : A Pathophysiologic Approach, 3rd ed., 629-646, A Simon and Schuster Company, USA.

Evoy, G.K.M., 2005, AHFS Drug Information, American Society of Health-System Pharmacists, USA.

Neal, M.J., 2005, At A Glance Farmakologi Medis, 5th ed., 30-31, diterjemahkan oleh Juwalita Surapsari, Penerbit Erlangga, Jakarta.

More aboutPenggunaan Obat Golongan Proton Pump Inhibitor (Omeprazol) Pada Terapi Tukak Lambung