Showing posts with label Makalah penelitian. Show all posts
Showing posts with label Makalah penelitian. Show all posts

Makalah Respon Terapetik dan Toksisitas

Posted by Anonymous

Respon Terapetik dan Toksisitas
Dari judul diatas apa yang terlintas di benak kita??? Apa itu respon terapetik dan apa itu toksisitas? Apa kaitan antara tema diatas dengan mata kuliah farmakokinetika klinik?
Untuk menjawab pertanyaan tersebut hendaknya kita paham tentang pengertian dari farmakokinetika klinik, respon terapetik dan toksisitas serta kaitan atau hubungan ketiganya. Farmakokinetika klinik merupakan penerapan prinsip farmakologi dalam penanganan suatu penyakit. Adapun prinsip farmakologi berkaitan dengan farmakokinetik dan farmakodinamik. Farmakokinetik dapat diartikan sebagai nasib obat didalam tubuh atau hal-hal yang dialami obat hingga mencapai cairan plasma, sedangkan farmakodinamik menyatakan pengaruh kerja obat dalam tubuh hingga memberikan efek tertentu. Respon terapeutik dapat diartikan sebagai hasil kerja obat hingga mencapai efek yang diinginkan dari penggunaan obat tersebut. Sedangkan toksisitas dapat diartikan sebagai suatu efek yang tidak diinginkan dari suatu penggunaan obat yang digunakan dengan dosis yang lazim digunakan.
Diketahui bahwa intensitas efek farmakologik suatu obat tergantung pada kadar obat tersebut dalam cairan tubuh yang berada disekitar tempat aksi. Dengan demikian timbul pemikiran bahwa mestinya efek farmakologik dapat dioptimalkan dengan mengatur kadar obat di tempat aksinya, selama periode waktu tertentu. Lebih lanjut, dengan mengetahui tempat aksi obat dan mengetahui perubahan-perubahan yang dilakukan oleh tubuh terhadap obat (absorpsi, distribusi obat ke tempat aksi dan eliminasinya), maka dapat dilakukan penelitian-penelitian untuk mencari dosis optimal, berdasarkan kadar obat yang terukur dalam darah.
Berdasarkan pernyataan diatas dapat diketahui bahwa efek suatu obat (onset dan durasi) sangat dipengaruhi oleh kecepatan untuk mencapai kadar maksimum (Cm) dan waktu obat dieliminasi. Terdapat 4 kemungkinan yang terjadi yaitu, jika :
1. Distribusi cepat dan eliminasi lambat.
2. Distribusi lambat dan eliminasi cepat
3. Distribusi cepat dan eliminasi juga cepat
4. Distribusi lambat dan eliminasi juga lambat
Therapeutic Drug Monitoring (TDR)
Pada penjelasan diatas sangat ditekankan bahwa untuk memberikan suatu efek, obat harus mencapai kadar maksimumnya pada cairan tubuh. Pernyataan ini dapat kita anggap benar, namun kita harus ingat bahwa belum tentu dengan kadar yang maksimum (sangat pekat) dalam darah, suatu obat memberikan efek terapetik (menyembuhkan), ada kemungkinan bahwa kadar yang maksimum tersebut malah dapat memberikan suatu efek yang toksik. Oleh karena itu pada penjelasan selanjutnya penulis akan mencoba menjelaskan rentang efek terapi dan efek toksik suatu obat.
Setiap obat mempunyai batas / range konsentrasi untuk memberikan efek terapi dan efek toksik. Range ini disebut sebagai jendela terapi/therapeutic drug monitoring (TDM). Ada tiga daerah yang harus diperhatikan pada TDM, yaitu:
 KEM (Konsentrasi Efektif Minimum), menyatakan batas terendah suatu obat untuk memberikan efek. Jika konsentrasi obat dalam plasma dibawah KEM maka obat tersebut tidak akan memberikan efek terapi.
 Jendela terapi, merupakan daerah suatu obat untuk memberikan efek terapi
 KTM, menyatakan batas atas penggunaan suatu obat. Jika suatu konsentrasi suatu obat diatas KTM maka yang akan muncul adalah efek toksik.
TDR sangat diperlukan untuk menjamin keamanan penggunaan suatu obat seperti,
a) Bila obat mempunyai lingkup terapi sempit, misalnya aminoglikosida,fenitoin
b) Bila obat dipakai dalam jangka waktu lama sehingga ada kekhawatiran akumulasi, misalnya fenitoin dan fenobarbital pada pasien epilepsi,
c). Bila variasi antar individu dalam proses kinetik besar sekali, sehingga meskipun pada dosis lazim mungkin efek terapetik yang terjadi tidak adekuat, atau mungkin malah terlalu besar. Sebagai contoh adalah teofilin untuk bronkodilator pada asma.
Agar tetap masuk dalam jendela terapi, ada beberapa hal yang harus diperhatikan yaitu pemberian dosis atau konsentrasi obat berdasarkan berat badan dan luas tubuh pasien (farmakokinetika), kondisi patofisiologi pasien dan melihat daftar medis penggunaan obat pasien selain itu juga penting dalam melihat lama waktu pengunaan obat, atau sudah penggunaan dosis ke berapa, ada tidaknya perubahan dosis.
Adapun TDR sangat berperan dalam penentuan “how much ; how often :how long” seperti :
 Pemilihan obat
 Desain aturan pemakaian obat
 Mengevaluasi respon pasien terhadap obat
 Penentuan kadar obat yang dibutuhkan oleh pasien
 Menunjukkan profil farmakokinetika obat

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI ATURAN DOSIS
Adapun factor yang mempengaruhi pemberian dosis obat, adalah :
1. Potensi ketoksikan, antara lain :
a. Jendela terapi, merupakan range daerah batas aman ( antara KEM dan KTM ). Ada beberapa obat yang memiliki jendela terapi yang sempit, sehingga memiliki potensi ketosikan. Untuk mengatasi permasaahan ini, kita harus mengatur antara dosis dan waktu pemberian, sehingga obat tersebut masuk dalam jendela terapi.
b. Adverse drug reaction (ADR), merupakan efek yang tidak diinginkan, yang timbul pada penggunaan obat pada dosis terapi. Untuk meminimalkan ADR yang muncul, maka perlu mengatur dosis dan lama masa serta frekuensi pemberian obat.
c. Efek toksik, merupakan efek yang tidak diinginkan pada penggunaan obat dengan dosis berlebih ( dosis toksik). Contoh : penggunaan parasetamol, bila digunakan pada dosis berlebih, maka salah satunya akan menimbulkan kanker hati atau kerusakan hati. Maka kita harus menggunakan parasetamol dalam dosis terapi.
d. Hubungan antara konsentrasi dan respon
Pada rentang dosis tertentu hubungan antara konsentrasi dan respon dapat menimbulkan efek terapi, tetapi dapat juga menimbulkan efek toksik. Di mana semakin tinggi konsentrasi, maka respon yang ditimbulkan semakin besar ( respon terapetik dan respo toksik ). Contoh : Loading dose, dengan dosis yang tinggi pada awal pemakaian dapat meingkatkan konsentrasi obat dalam darah dan dapat mempercepat timbulnya respon.
2. Farmakokinetika
a. Absorbsi, merupakan proses penyerapan obat dari tempat pemberian sampai ke system sistemik. Banyak factor yang mempengaruhi absorbsi, salah satunya yaitu kecepatan pengosongan lambung.
Obat yang absorbsinya tidak dipengaruhi oleh makanan maka dosisnya tidak perlu diubah, tetapi obat yang absorbsinya dipengaruhi oleh makanan maka dalam penggunaannya digunakan sebelum makan atau dapat digunakan setelah makan.
b. Distribusi, merupakan perpindahan obat dari saluran sistemik ke tempat aksinya. Apabila suatu obat memilki waktu paruh yang lama, maka kecepatan distribusi obat semakin cepat dan akan semakin cepat terjadi akumulasi (terjadinya efek toksik). Untuk mengatasi hal tersebut, maka dosis dan cara pemakaiannya harus dikurangi.
c. Metabolisme, merupakan proses perubahan obat menjadi metabolitnya ( aktif dan non aktif). Semakin besar dosis suatu obat, maka kemungkinan metaboilit aktif semakin banyak, maka respon yang dihasilkan juga akan semakin besar.
d. Ekskresi, berkaitan dengan eliminasi. Dimana semakin cepat eliminasi suatu obat, maka durasinya juga semakin cepat. Untuk mengatasinya maka frekuensi penggunaan obat perlu ditingkatkan agar tetap masuk dalam jendela terapi.
3. Factor klinik
a. Keadaan pasien
- Umur dan berat badan, pengaturan suatu dosis obat dipengaruhi oleh umur ini berkaitan dengan fungsi organ. Fungsi organ pada bayi belum dapat berfungsi secara optimal, sedangkan pada manula fungsi organnya sudah mengalami penurunan., Berat badan juga mempengaruhi pengaturan dosis, maka sebaiknya pengaturan dosis berdasarkan berat badan pasien.
- Kondisi pasien yang diterapi ,sebagai contoh, pada pasien geriatric dan pediatric, maka pengaturan dosis harus diperhitungkan.
- Adanya penyakit lain, adanya penyakit lain selain penyakit utama berupa kelainan fungsi organ ekskresi. Sebagai contoh: mengobati penyakit DM disertai gangguan ginjal, maka karena obat sukar di ekskresi, penggunaan dosis obat harus diturunkan, tetapi masih dalam dosis terapi.
b. Manajemen terapi
- Multiple drug therapy, berkaitan dengan penggunaan obat yang lebih dari satu. Maka kita harus mengatur banyaknya dosis, frekuensi pemberian selama sehari dan lama penggunaan obat. Hal ini untuk mencegah adanya efek toksik dan untuk mengatur ketaatan pasien dalam penggunaan obat.
- Pemakaian yang praktis, hal ini berkaitan dengan kondisi pasien dan kenyamanan penggunaan. Misalnya pada pasien yang tidak sadar, sebaiknya pemilihan obat disesuaikan, tidak mungkin diberikan secara oral, melainkan secara injeksi. Selain itu, yang berkaitan dengan kenyamanan pasien pada penggunaan sirup lebih nyaman pada anak-anak daripada penggunaan tablet.
- Ketaatan pasien, berkaitan dengan frekuensi dan lama penggunaan obat. Jika frekuensi penggunaan obat terlalu sering dan waktu penggunaannnya sangat lama, maka akan timbul ketidaktaatan pada pasien. Untuk mengatasi hal ini, dipilih obat yang memilki durasi yang lama, untuk meminimalkan frekuensi penggunaan obat.
4. Faktor lain
a. Rute pemberian dan bentuk sediaan, rute pemberian berkaitan dengan besarnya dosis dan seberapa sering penggunaan obat. Dosis pemberian secara i.v lebih kecil dibandingkan p.o. hal ini karena pada i.v tidak terjadi proses absorbsi, karena pada proses absorbsi juga terjadi proses eliminasi, dan frekuensi i.v lebih sedikit. Selain itu frekuensi penggunaan i.v lebih sedikit dibandingkan oral. Hal ini, karena pada pemberian i.v langsung masuk dalam sirkulasi sistemik, sedangkan pada p.o membutuhkan waktu yang lama untuk mencapai tujuan terapi.
b. Toleransi, berkaitan dengan peningkatan dosis untuk mnecapai efek yang diinginkan. Toleransi dilakukan, ketika suatu dosis belum mencapai efek yang diinginkan. Contoh; antibiotik
c. Farmakogenetika-idiosinkrasi, berkaitan dengan pengaruh gen terhadap suatu obat. Sebagai contoh : seseorang yang menderita kelainan gen sitokrom P-450.
d. Interaksi obat, pemberian obat secara bersama, dapat menimbulkan efek yang meningkatkan atau menurunkan. Sebagai contoh penggunaan fenobarbital dan simetidin. Dimana fenobarbtal bila diberikan bersamaan dengan simetidin, maka fenobarbital dapat meningkatkan efek dari simetidin.
e. Biaya, biaya sangat berpengaruh terhadap frekuensi penggunaan obat dan lama penggunaan. Apabila suatu obat harus diberikan dalam jangka waktu yang sangat panjang maka kita harus memperhitungkan faktor sosio-ekonomi pasien. Sebagai contoh pasien dengan penyakit TBC yang harus meminum banyak obat. Jika pasiennya kurang mampu, maka sebaiknya kita menyarankan untuk memberikan obat generik daripada obat paten.

DAFTAR PUSTAKA
www.google.com “Bagian Farmakologi Klinik Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada”
diakses tanggal 21 february 2008.
http://en.wikipedia.org/wiki/Adverse_drug_reaction, diakses tanggal 21 februari 2007
Shargel, Leon dkk, 2005, Applied Biopharmaceutics and Pharmacokinetics fifth edition, America, the McGraw-Hill companies.
Lee, Anne, 2006, Adverse Drug Reaction, USA, pharmaceutical press
Anonim, 2003, farmakologi dan terapi edisi 4, bagian farmakologi fakultas kedokteran gigi universitas Indonesia, Jakarta


More about → Makalah Respon Terapetik dan Toksisitas

APLIKASI MODEL HEALTH PROMOTION NOLA J. PENDER PADA KASUS IBU PRIMIPARA TRIMESTER III

Posted by Anonymous

A. Gambaran Kasus
Ny. M (25 th), G1 P0 A0, umur kehamilan 38-39 minggu. Tekanan darah 100/60 mmHg, nadi 90x/menit, pernafasan 24x/menit, suhu 37°C. Keadaan umum baik, penampilan rapi, gaya berjalan lordosis, mudah kelelahan dan kadang-kadang timbul his. Konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik, tidak ada gangguan penglihatan. Nafsu makan baik, 3x sehari diselingi bubur dan susu, BB bertambah 11 kg dari sebelum hamil. BAB 1x sehari, BAK lebih sering terutama malam hari. Tidur 8 jam/hari, lelap dan bangun tampak segar. Riwayat menarche usia 13 th, siklus haid 30 hari selama 5-6 hari.


Pada pemeriksaan abdomen didapatkan data: TFU 3 jari dibawah prosesus xipoideus, bayi tunggal, pada fundus teraba bokong, presentasi kepala, kepala janin sudah masuk pintu atas panggul, punggung janin berada disebelah kanan ibu, DJJ 147x/menit.
Ny. M tinggal di rumah kontrakan bersama dengan suami yaitu Tn. W (27th) dan ibu Tn. W yaitu Ny. T (55th) yang sementara tinggal di rumah Tn. W untuk menemani Ny. W selama proses persalinan dan merawat bayinya. Keluarga Tn. W merupakan pasangan baru menikah dan dalam tahap mempersiapkan kelahiran anak pertama. Pernikahan mereka disetujui oleh kedua belah pihak keluarga dan janin yang dikandung merupakan anak yang sangat diharapkan. Dalam keluarga tidak ada penyakit keturunan. Pembuat keputusan tehadap permasalahan dalam keluarga diambil oleh Tn W, tetapi terdapat diskusi dalam keluarga tersebut.
Norma budaya menganut budaya jawa tetapi tidak diterapkan dalam semua sisi kehidupan. Keluarga saling menyayangi dan komunikasi berjalan dengan baik. Jika ada keluarga yang sakit dibawa berobat ke Puskesmas. Selama kehamilan Ny. W memeriksakan kehamilan di bidan praktek. Stessor yang dialami saat ini adalah menghadapi persalinan, tidak mengetahui tanda-tanda persalinan dan bagaimana melahirkan nanti. Ny. W sering bertanya tentang kehamilannya kepada ibu mertuanya. Ny. W ingin mengetahui kondisi janinnya dan ingin mengetahui cara menghadapi proses persalinan nanti.
B. Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian
Berdasarkan Model Promosi Kesehatan, perawat harus melakukan pengkajian komprehensif agar dapat mengembangkan rencana asuhan keperawatan. Pengkajian yang dilakukan oleh perawat adalah :
a. Pengkajian karakteristik dan pengalaman individual yang meliputi pengkajian perilaku sebelumnya dan pengkajian faktor personal.
Pengkajian perilaku sebelumnya meliputi pengalaman kehamilan sebelumnya. Hasil pengkajian ini menunjukkan ibu hamil pertama dengan usia kehamilan 38-39 minggu, belum ada pengalaman persalinan sebelumnya. Ibu tidak mengetahui tentang tanda-tanda persalinan. Ibu melakukan perawatan antenatal dengan memeriksakan kehamilannya di bidan praktek.
Pengkajian faktor personal meliputi faktor biologis (usia, jenis kelamin, indeks massa tubuh, status pubertas, kapasitas aerobik, kekuatan, kecerdasan, keseimbangan), faktor psikologis (harga diri, motivasi diri, kompetensi personal, status kesehatan sebelumnya, definisi tentang kesehatan) dan faktor sosial budaya (ras, etnik, penyesuaian diri, status sosial ekonomi). Hasil pengkajian ini menunjukkan bahwa usia ibu 25 tahun, Tekanan darah 100/60 mmHg, nadi 90x/menit, pernafasan 24x/menit, suhu 37°C. Keadaan umum baik, penampilan rapi, gaya berjalan lordosis, mudah kelelahan dan kadang-kadang timbul his (braxton hicks). Konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik, tidak ada gangguan penglihatan. Nafsu makan baik, 3x sehari diselingi bubur dan susu, BB bertambah 11 kg dari sebelum hamil. BAB 1x sehari, BAK lebih sering terutama malam hari, ibu sulit untuk memulai tidur. Riwayat menarche usia 13 th, siklus haid 30 hari selama 5-6 hari.
Ibu berasal dari betawi tetapi suami berasal dari jawa. Norma budaya menganut budaya jawa tetapi tidak diterapkan dalam semua sisi kehidupan. Keluarga saling menyayangi dan komunikasi berjalan dengan baik. Suami Ny. M bekerja sebagai pegawai toko keramik dengan penghasilan rata-rata 1 juta perbulan. Keluarga dapat menyisihkan penghasilan untukpersiapan persalinan.
b. Pengkajian perilaku spesifik, pengetahuan dan sikap individu yang meliputi persepsi tentang manfaat tindakan, persepsi tentang hambatan tindakan, persepsi tentang kemampuan diri, aktivitas yang berhubungan dengan sikap, pengaruh interpersonal dan pengaruh situasional. Pengaruh interpersonal meliputi norma, dukungan sosial dan role model. Pengaruh interpersonal terutama berasal dari keluarga,kelompokdan tenaga kesehatan.
Hasil pengkajian area ini menunjukkan bahwa
c. Pengkajian mengenai hasil perilaku yang meliputi komitmen terhadap rencana tindakan, tuntutan yang mendesak dan adanya pilihan-pilihan yang lebih baik serta perilaku promosi kesehatan.
2. Diagnosa Keperawatan
a. Masalah karakteristik dan pengalaman individual
1) Koping individu tidak efektif berhubungan dengan kurang pengetahuan mengenai tanda-tanda persalinan
2) Gangguan pola tidur berhubungan dengan ketidaknyamanan pada akhir kehamilan
3) Intolerans aktivitas berhubungan dengan meningkatnya berat badan dan perubahan pusat gravitasi
4) Nyeri berhubungan dengan kontraksi braxton hicks
b. Masalah perilaku spesifik, pengetahuan dan sikap individu
1) Penerimaan progresif terhadap kehadiran janin
2) Memulai fantasi tentang personality janin
3) Mengembangkan hubungan kerja yang langsung kepada dukungan saling menguntungkan selama kehamilan dan parenting
4) Mengenali saling ketergantungan antar anggota keluarga
c. Masalah hasil perilaku
1) Memulai persiapan lingkungan bagi bayi baru lahir
2) Persiapan progresif terhadap persalinan
3) Membuat rencana persalinan untuk mengkomunikasikan keinginan personal terhadap pengalaman melahirkan
3. Intervensi
a. Karakteristik dan pengalaman individual
1) Koping individu tidak efektif dapat diatasi dengan mendiskusikan tanda-tanda persalinan pasti/palsu (true labor dan false labor) yang meliputi frekuensi, durasi dan intensitas kontraksi, pecahnya ketuban dan bloody show.
2) Gangguan pola tidur dapat diatasi dengan meyakinkan pada ibu bahwa gangguan tidur normal terjadi pada akhir kehamilan, mendiskusikan dan mendemontrasikan teknik relaksasi, effleurage, penggunaan bantal sebagai penyokong, mengajarkan mengenai posisi yang nyaman saat tidur, menganjurkan untuk mandi air hangat dan minum susu sebelum tidur serta mengeksplorasi suasana yang nyaman untuk memulai tidur (seperti kasur yang empuk, lampu dimatikan dan suasana hening).
3) Intolerans aktivitas dapat diatasi dengan mengajarkan postur tubuh yang baik, tidur dengan menggunakan banyak bantal, mengajarkan teknik bernapas, menganjurkan ibu untuk sering istirahat ketika melakukan aktivitas serta penggunaan alat bantu ketika beraktivitas.
4) Nyeri yang berhubungan dengan kontraksi braxton hicks dapat diatasi dengan mengkaji frekuensi, kekuatan dan keteraturan kontraksi untuk mengetahui apakah merupakan tanda persalinan pasti/palsu, meyakinkan ibu bahwa braxton hikcs merupakan kondisi yang normal saat kehamilan, menganjurkan ibu untuk berjalan/beraktivitas ketika braxton hicks, mengajarkan teknik pernapasan dan relaksasi serta menganjurkan ibu untuk miring ke kiri pada saat istirahat/tidur.
b. Perilaku spesifik, pengetahuan dan sikap individu
1) Penerimaan progresif terhadap kehadiran janin dapat ditingkatkan dengan menunjukkan bagian-bagian janin saat pemeriksaan abdomen, mengusahakan agar ibu dapat mendengar denyut jantung janin, reinforce hasil observasi ibu terhadap janin serta memberikan informasi mengenai karakteristik janin sesuai dengan umur kehamilan.
2) Memulai fantasi tentang personality janin dapat diintervensi dengan mengeksplorasi fantasi ibu dan meyakinkan bahwa berfantasi mengenai janin merupakan sesuatu yang normal.
3) Mengembangkan hubungan kerja yang langsung kepada dukungan saling menguntungkan selama kehamilan dan parenting dapat ditingkatkan dengan menganjurkan ibu untuk membagi perasaannya dengan suami, memberikan informasi mengenai kelas prenatal, memberikan reinforcement saat ibu sudah melakukan teknik pernapasan dan relaksasi yang benar serta memberikan informasi mengenai parenting.
4) Mengenali saling ketergantungan antar anggota keluarga dapat ditingkatkan dengan memberikan reinforcemet saat anggota keluarga saling berbagi perasaan dan mengembangkan cara supaya pasangan terlibat dalam kehamilan, persalinan dan bayi.
c. Hasil perilaku
1) Memulai persiapan lingkungan bagi bayi baru lahir dapat ditingkatkan melalui pemberian informasi tentang jenis-jenis perlengkapan yang penting bagi bayi, bagaimana cara merawat bayi dan memberikan reinforcement terhadap persiapan yang telah dilakukan.
2) Persiapan progresif terhadap persalinan dapat ditingkatkan melalui pemberian informasi mengenai metode persalinan, mengajarkan teknik pernapasan dan relaksasi serta meminta ibu untuk mendemontrasikan dan mengoreksi teknik yang kurang benar.
3) Membuat rencana persalinan untuk mengkomunikasikan keinginan personal terhadap pengalaman melahirkan dapat ditingkatkan dengan mengekplorasi alternatif yang realistis terhadap pengalaman persalinan, memberikan reinforcment terhadap pembuatan keputusan dan mengkomunikasikan keinginan ibu kepada petugas kesehatan dimana ibu akan melahirkan.
DAFTAR PUSTAKA
Alligood, M.R. & Tomey, A. M. (2006). Nursing Theorists and Their Work. 6th ed. Missouri : Mosby
Stolte, K.M. (1996). Wellness nursing diagnosis for health promotion. Philadelphia: Lippincott
Wong, D.L., & Perry, S.E. (1998). Maternal child nursing care. Missouri : Mosby


More about → APLIKASI MODEL HEALTH PROMOTION NOLA J. PENDER PADA KASUS IBU PRIMIPARA TRIMESTER III

MAKALAH PENELITIAN MEDICAL, MEDICINE, FACTOR, HOSPITAL

Posted by Anonymous

ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN DENGAN GLOMERULO NEFRITIS
I.Pengertian
Glomerulo nefritis akut adalah istilah yang secara luas digunakan yang mengacu pada sekelompok penyakit ginjal di mana inflamasi terjadi di glamerulus. (Brunner dan Suddarth, 2001).
Glamerulo nefritis adalah peradanga dan kerusakan pada alat penyaring darah sekaligus kapiler ginjal (Glamerulus), (Japaries, willie, 1993).
Glamerulus nefritis adalah sindrom yang ditadai oleh peradangan dari glemerulus diikuti pembentukan beberapa antigen (Engran, Barbara, 1999).

II.Etiologi
Kuman streptococus.
Perhubungan dengan penyakit auto imun lain.
Reaksi obat.
Bakteri.
Virus.

III.Manifestasi Klinik
Faringitis atau tansiktis.
Demam
Sakit kepala
Malaise.
Nyeri panggul
Hipertensi
Anoreksi
Muntah
Edema akut
Oliguri
Proteinuri
Urin berwarna cokelat.

IV.Patofisiologi
Prokferusi seluler (peningkata produksi sel endotel;ialah yag melapisi glomerulus), infilaltrasi lekosit ke glameruus, dan penebalan membran filbtrasi glamerulus atau membran basal menghasilkan jaringan perut dan kehilagan permukaan penyaring. Pada glamerulo nefritis akut ginjal membesar, bengkak dan kongesti.
Pada kenyataan kasus, stimulasi dari reaksi adalah infeksi oleh kuman steeptococus A pada tengorok, yang biasayang mendahului glomerulo nefritis sampai interval 2 – 3 minggu. Produk streptacocus bertindak sebagai antinge, menstimulasi antibodi yang bersirkulasi menyebabkan cidera ginjal.



V.Penatalaksanaan medis
Anti hipertensif
Anti dkurektik
Antibiotik dengan infeksi streptokokal menetap.
Anti biotik profilaktif selama masa pemuliha
Masukkan dan keluaran.
TTV 2 – 4 jam.
Pembatasan Natrium.

VI.Pemeriksaan diagnostik
Urinalisis (UA) menunjukkan hematnya gross, protein dismonfik dan (bentuk tidak serasi) SDm, leusit, dan gips hialin.
Lajur filtrasi glomeruslus (IFG) meurun, klerins kreatinin pada unrin digunakan sebagai pengukur dan LFG spesine urin 24 jam dikumpulkan. Sampel darah untuk kreatinin juga ditampung denga cara arus tegah (midstream).
Nitrogen urea darah (BUN) da kreatinin serum menigkat bila fungsi ginjal mulai menurun.
Albumin serum dan protein total mungkin normal atau agak turun (karena hemodilusi).
Contoh urin acak untuk eletrokoresisi protein mengidenti filaasi jenis protein urin yang dikeluarkan dalam urin.
Elektrolit seru menunjukkan peningkatan natrium dan peningkatan atau normal kadar-kadar kalium dan klorida.

VII.Potensial komplikasi
Hipertensi.
Dekopensasi jantung
GGA (Gagal Ginjal Akut)

VIII.Asuhan Keperawatan
Pengkajian.
1.Identitas pasien.
2.Riwayat penyakit, dahulu, sekarang dan keluarga.
3.Riwayat /adanya faktor resiko.
a.Bagaimana frekuensi miksinya, apakah terdapat :
b.Adakah kelainan waktu miksi seperti :
c.Apakah rasa sakit terdapat pada daerah setempat atau secara unum.
d.Apakah penyakit timbul setelah adanya peyakit yang lain.
e.Apakah terdapat mual dan muntah.
f.Apakah terdapat oedema.
g.Bagaimana keadaan urinnya (volume, warna, bau, berat jenis, jumlah urie dalam 24 jam).
h.Adakah sekret atau darah yang keluar.
i.Adakah hambantan seksual.
j.Bagaimana Riwayat, haid (menache, lamanya, banyaknya, sirkulasinya, keluhannya).
k.Bagaimana Riwayat kehamilan, arbortus, pemakaian alat kontrsepsi.
l.Rasa nyeri (lokasi, identitas, saat timbulnya nyeri).
m.Riwayat Persalinan.
n.Riwayat Pendarahan.
4. Data fisik :
inspeksi :
secara umum dan secara khusus pada daerah genital palpasi :
pada daeraha bdomen, buli-buli, lipat paha.
Auskultasi : darah abdomen.
Perkusi : daerah abdomen, ginjal.
Keadaa umum pasien :
Tingkat kesadaran.
Tinggi vital eliputi tensi, nadi, suhu, pernafasan.


More about → MAKALAH PENELITIAN MEDICAL, MEDICINE, FACTOR, HOSPITAL